Sabtu, Desember 01, 2007

2005 DIALOG KEMANUSIAAN GLOBAL

Oleh : Rasid Rachman

Bencana tsunami akhir Desember 2004 lalu telah mempertemukan manusia dalam rasa senasib dan sepenanggungan. Kaya dan miskin, pejabat dan rakyat biasa, penguasa dan masyarakat, laki dan perempuan, berbagai etnis, suku, dan bangsa menjadi satu. Bahkan pada mulanya yang hidup dan yang mati pun “tinggal bersama” berdekatan karena sama-sama “mengungsi”. Di samping itu, yang juga menarik adalah berbagai bekerjasamanya umat berbeda agama.
Saya termasuk dalam tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia, tim yang berada di bawah “kendaraan” Gereja Kristen Indonesia. Kami berenam, empat laki-laki dan dua perempuan. Di Gunung Sitoli, bergabung pandu kami. Agama kami saling berbeda.
Pandu kami, Akmal, seorang muslim, guru agama Islam di sekolah. Seorang anggota tim kami: Mustopo, sekaligus instruktur (teman-teman memanggilnya: intruktur) para relawan, juga seorang muslim. Yang beragama Kristen, dua perempuan: Tina dan Lucia, itu adalah Guru Sekolah Minggu. Tiga laki-laki Kristen itu, saya dan Satya adalah sarjana teologi. Satu lagi, Gerhard, anak seorang Pendeta BNKP. Di Faekuna’a, kami tinggal rumah keluarga Ama/Ina Vita. Mereka penganut Katolik. Wati, anaknya, aktif di gereja.
Kerja cukup berat, baik secara fisik maupun mental. Berhadapan dengan penduduk yang hendak dibantu pembangunan rumahnya atau pengadaan alat produksinya adalah bukan perkara ringan. Akal sehat dan hati nurani harus dicampur dengan lihai-lihat negosiasi, supaya bantuan tepat guna. Itu sebabnya, kami menjadi “lupa” dan – setelah berhadapan dengan kebutuhan manusiawi – berpegang pada pendapat bahwa memperbedakan agama itu menjadi tidak penting lagi. ¨

Tidak ada komentar: