Senin, Desember 13, 2010

DUKUNGAN DARI JAUH

Oleh: Rasid Rachman

Seorang relawan mengatakan begini kepada saya: “Di beberapa lokasi bencana yang pernah saya kunjungi, Mentawai adalah lokasi tersulit.” Pernyataan tersebut kemudian bukan pernyataan dari hanya seorang relawan. Beberapa relawan, baik medis maupun non-medis, juga mempunyai pendapat yang sama.


Beberapa relawan lain, termasuk yang bukan tim kami, juga mengatakan bahwa yang dibutuhkan bagi setiap relawan ke Mentawai bukan hanya kekuatan fisik, semangat tinggi, dan keberanian, tetapi juga keteguhan hati dan mental. Tentu di atas semua itu adalah ketulusan. Ombak setinggi 4-5 meter bukan kejadian langka di sini. Sehingga, ancaman demikian dapat menyurutkan langkah sebelum relawan berangkat ke lokasi pengungsian. Perubahan cuaca secara ekstrem dan cepat seringkali terjadi di sini. Panas, hujan, kemudian panas lagi bukan hal aneh. Laut tenang, laut tiba-tiba bergelombang, sangat biasa bagi masyarakat Mentawai.


Memang Mentawai penuh tantangan. Namun kami tidak sendiri. Orang-orang lain mendukung pelayanan kami. Selain dukungan beberapa penduduk Mentawai, Tim kami juga didukung oleh banyak doa yang diinfokan kepada kami melalui pesan-pesan singkat. SMS datang dari berbagai pihak: keluarga, teman, rekan pelayanan, jemaat, dan sebagainya. Selama menjadi relawan, mendapat setumpuk SMS inilah yang mendukung, menopang, dan menghibur kami.
Sengaja saya kumpulkan dan pilihkan beberapa SMS yang kiranya mewakili dukungan puluhan SMS lain yang tidak dimasukkan di sini. Kemudian saya susun menjadi sebuah cerita dengan keterangan pada sebelum atau setelah tulisan SMS.

Davidy (Minggu, 31 Okt, 11:33:19)
Untuk pengiriman barang bantuan ke lokasi bencana Mentawai: Untuk dari Padang Bpk Kol Indarto, Astap Lantamal 2, no HP …., untuk dari Jakarta Bpk Yusuf, no HP ….
Sejak sebelum keberangkatan, Sekum BPMSW Jabar membantu kami dalam penyiapan transportasi. Memang tidak ada kepastian bagaimana kami menuju Mentawai saat itu, namun informasi ini menguatkan bahwa kami tidak “dilepas” begitu saja.
Akhirnya memang kami memanfaatkan bantuan TNI AL untuk berangkat ke Mentawai pada 3 November. KRI Teluk Manado mengantar kami bersama 200-an penumpang sipil dan Polri ke Mentawai sejak pukul 08.00 dari Teluk Bayur. Bahkan ketika kembali ke Padang pada 9 November, kami juga memanfaatkan TNI AL dengan KRI Teluk Cirebon. Ikutnya kami di KRI punya kisah sendiri.


Yanti Lazuardi (Senin, 1 Nov, 11:37:55)
Pdt Rasid, ini Yanti Lazuardi …, kami doakan agar Tuhan pakai pelayanan bapak dan tim dengan sangat indah.
Setiba di Padang, saya langsung telepon Lantamal. Mencari info tentang keberangkatan KRI. Jawabnya: “KRI baru berangkat 3 November nanti.” Itu berarti dua malam lagi kami di Padang. Menurut info, feri akan berangkat 2 November malam.

Selasa pagi, 2 November, saya kembali mengontak Lantamal, masih menanyakan hal sama dengan harapan siapa tahu hari ini KRI berangkat. Tetapi jawabannya tetap sama bahwa KRI baru berangkat besok pagi. Saya bilang, “Baik Pak, kalau begitu saya hubungi bapak lagi besok.” Kami berpikir, sore ini feri berangkat, sehingga tidak perlu menumpang KRI besok. Ambil yang berangkat lebih dahulu.
Siang itu kami habiskan dengan berbelanja segala keperluan bantuan. Beras, pakaian dalam, makanan bayi, biskuit, sarung, dsb., selain keperluan kami sendiri. Tengah hari kami menuju Teluk Bayur, dengan 2 kendaraan barang, untuk naik feri. Namun, feri tidak berangkat malam ini – cuaca masih berbahaya.
Gagal berangkat dengan feri menuju Mentawai karena gelombang tinggi, rekan-rekan sepelayanan memberikan kekuatan.


Teguh Putra (Selasa, 2 Nov, 16:04:02)
Teriring salam dan doa bagi rekan-rekan di sana, usahakan memakai kapal yang besar untuk tiba di tempat tujuan. Selamat bertugas dan Tuhan memberkati.
Adijanto Surjadi (2 Nov, 16:06:11)
Doa kami selalu. Dalam acara HUT GKI Surya Utama juga disampaikan bahwa Rasid persiapan menuju Mentawai. Semoga alam sedikit ramah, agar relawan dan bahan makanan dapat dikirim.


Sore itu, kembali saya mengontak Lantamal. Kami memutuskan naik KRI saja besok pagi. Responsnya: “Lho, saya sudah batalkan ketika bapak bilang akan menghubungi besok.”
Saya berusaha: “Tolonglah Pak, kami cuma bertiga.”
Kol Indarto bertanya: “Bawa barang?”
Saya jawab: “Beras, 1 ton dan beberapa barang bantuan.”
Jawabnya: “Saya akan coba usahakan, tetapi tidak bisa membawa barang. Kapal sudah penuh barang. Nanti saya hubungi lagi.”
Sekitar 20 menit kemudian, telepon seluler saya berbunyi. “Besok kapal berangkat pukul 08.00. Bapak temui saya di pelabuhan pukul 07.00. Jangan lupa bawa makan siang sendiri. KRI tidak menyediakan makan.”



Malam itu di hotel, kami menyiapkan barang bawaan. Sebanyak mungkin barang bantuan bisa dimuat di koper-koper dan semampu mungkin kami membawanya sendiri. Jadi harus sesedikit mungkin barang bawaan yang terlihat. Barang-barang besar terpaksa kami tinggalkan dulu di Padang.
Kuntadi (2 Nov, 18:01:27)
Di Sikakap nanti hubungi Ephorus GKPM. Banyak barang bantuan numpuk tak terdistribusi. Tadi saya bicara dengan beliau, Pdt Simanjuntak. Tetap sabar ya, keadaan memang tidak normal.
Setiawati (2 Nov, 19:24:37)
Wah penuh perjuangan nih, tapi pasti pimpinan Tuhan memampukan kamu dan Tim GKI. Selamat berjuang ya. Tuhan Yesus Kristus memberkati.


Rabu, 3 November, pukul 06.00 Tim GKI tiba di pelabuhan TNI AL. Ternyata kami belum terdaftar di Lantamal. Kami malah tidak tahu harus mendaftar dulu, sehingga kami tidak boleh ikut kapal. Saya langsung mengontak Kol Indarto: “Pak, kami tidak boleh ikut kapal, belum terdaftar.”
Kol Indarto menjawab tenang: “Kemarin kan saya bilang, tunggu dan temui saya pukul 07.00, sekarang masih 1 jam lagi.”
Pukul 07.00, peluit di kapal berbunyi, seorang Perwira Tinggi menaiki kapal. Tidak lama kemudian HP saya berbunyi: “Silakan naik sekarang,” kata suara di sana. Kami segera naik, mencari posisi yang baik untuk meletakkan barang. Baru saat itulah kami bertatap langsung dengan Kol Indarto.



Saya dan Kol Indarto sebelum KRI Teluk Manado berangkat ke Mentawai

Setelah barang mendapat tempat, semua calon penumpang diminta turun lagi. Sekarang baru boleh naik kapal setelah dipanggil namanya satu per-satu. Nama kami belum ada didaftar. Ketika pemanggilan nama hampir selesai, dari atas kapal Kol Indarto berseru: ”Pak Rasid, apakah tadi sudah mendaftar?” Pemanggilan nama para calon penumpang berhenti sejenak.
”Belum, pak,”jawab saya.
”Kalau begitu, nanti langsung masuk kapal saja,” katanya. Dialog kami didengar langsung oleh para anak buahnya yang sedang memanggil nama para calon penumpang.




Sebelum berangkat, saya mengirimkan SMS perihal keberangkatan kami. Cuaca di laut masih belum kondusif. Ketika kami terombang-ambing menuju Mentawai dengan KRI Teluk Manado, seorang rekan sempat mengirim SMS sebelum putus kontak telepon dan SMS di tengah laut.
Yolanda (3 Nov, 11:34:32)
Semoga selamat sampai tujuan Pak, semoga dapat melakukan tugas dengan baik, dan semoga selamat kembali ke rumah nanti.
SMS tersebut mengingatkan bahwa Mentawai bukan tujuan, melainkan baru setengah jalan kami, sebab kami harus kembali ke rumah setelah selesai pelayanan.


KRI merapat di Sikakap Pagai Utara pukul 18.00. Perjalanan laut selama 10 jam, kapal agak bergoyang karena gelombang lumayan tinggi, tetapi aman dan kami selamat. Keluarga Pak Celcius menjemput kami: Jeffry ”Anak Nabire” (Jenab), Jeffry ”Panjang” atau ”Jepang” – untuk membedakan dua Jeffry yang selalu bersama sejak mahasiswa, dan saya, dengan boat untuk tinggal di rumahnya di Pagai Selatan, 7 menit dengan boat. Kemudian Tim dari GKI Pangim Polim: Dokter Ricardo, Dokter Uli, Firman, dan Taufik, ikut tinggal di rumah ini juga. Besoknya ada kesepakatan Tim ini menjadi satu Tim di dalam pelayanan.


Kamis, 4 November kami isi dengan mencari informasi tentang kondisi Mentawai pasca tsunami, daerah yang belum banyak dijangkau, barang kebutuhan pengungsi, logistik kami sendiri, mengisi BBM boat, dan berbelanja beberapa barang lagi.
Siang saya berencana ikut dengan Pak Celcius keliling darat sejauh jangkauan mobil (hanya dapat menempuh 21 km dengan mobil; Pagai Selatan pada umumnya dihubungkan dengan laut) untuk melihat perumahan bekas gempa 2007. Nah, ketika kami sedang mengisi BBM, reporter MetroTV dan rombongan dokter dari Bandung memohon untuk mengevakuasi 2 korban luka di dusun yang hendak kami kunjungi. Okelah, kami berdua membantu.


Mengevakuasi korban ternyata tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Perjalanan ke rumah korban lumayan jauh; hujan pula waktu itu. Berliku dan turun naik. Setelah korban dibujuk-bujuk untuk bersedia menjalani perawatan intensif, karena luka dan penyakitnya lumayan serius, korban dipindahkan dari dipan dan tandu. Suasana dramatis, karena rintihan korban. Patah tulang kakinya menyebabkan memindahkannya harus ekstra hati-hati dan penuh perhitungan. Kemudian korban dibawa dengan tandu ke jembatan – untuk masyarakat ikut menandu – menaikkan ke mobil, lalu berkendara sejauh 21 km hingga di boat untuk kemudian diseberangkan ke Sikakap. Hari ini, sepanjang siang ini saya isi dengan pengalaman luar biasa.
Cuaca besok kemungkinan bagus. Kami berencana ke dusun Maonai, 3 jalan dengan boat. Kami siapkan segala barang bantuan, alat kedokteran, dan barang pribadi kalau-kalau kami harus bermalam di Maonai.



Menyiapkan sampan untuk ke Maonai.


Menjelang malam, saya menerima satu SMS lagi.
Gerard (4 Nov, 18:48:48)
Sehat kan, Pak? Keadaan bagaimana? Relawan di tenda juga tidurnya? Selamat bertugas.

Jumat pagi, 5 November, pukul 06.30 kami: 7 relawan Jakarta, Pak Celcius, Pak Takmim, dan Jimmy, telah siap berangkat ke Maonai dengan sampan 10 orang plus barang-barang bantuan. Kunjungan perdana Tim GKI ke dusun bencana ini laksana pasukan khusus menuju medan perang. Kepergian kami diantar oleh Ibu-ibu dari keluarga Celcius, didoakan, dibekali setermos nasi hangat, dan puluhan SMS dukungan dari Jakarta saya terima. Bu Celcius mengatakan: “Ini nasi dari beras lokal Mentawai, hangatnya bisa tahan hingga malam.” Maklum, sebetulnya cuaca Jumat itu belum diramalkan akan lebih baik, melainkan Sabtu. Namun penduduk di tempat kami menumpang, mereka sangat mengenal alam laut dan alam Mentawai, meyakinkan hari ini cukup baik.
Cuaca memang tidak ganas, tetapi kondisi boat pinjaman yang mudah oleng tidak memungkinkan kami banyak bergerak.


Sekitar pukul 10.00 kami tiba di Maonai. Ombak menuju pantai cukup menyulitkan boat merapat. Begitu merapat, 2 penduduk Maonai menyambut kami dengan informasi: “Masih 3 orang lagi belum ketemu.”
Dusun Maonai habis total. Rumah-rumah dan gereja, hewan, dan beberapa penduduk, dan entah apalagi hancur. Kepala dusun kehilangan anggota keluarganya: istri, anak, ibu, dan keponakan. Dia juga, dalam tanggungjawabnya, tetap harus memperhatikan dan mengurus penduduk yang sakit dan membutuhkan bantuan.


Penduduk mengungsi ke bukit. ”Berapa jauh?” tanya kami. ”900 meter,” jawab seorang penduduk. Kami menafsirkan, mungkin 1500 meter. Tidak begitu jauh, pikir kami. ”Kalau begitu,” respons saya, ”kita makan bersama di pantai ini nanti saja, setelah kita kembali dari pengungsian.” Ternyata ketika dijalani dengan turun-naik bukit dan terik matahari dengan membawa barang-barang kesehatan, jaraknya dapat mencapai 2500 meter. Sejauh itu kami tempuh sekitar 1 jam perjalanan.
Setiba di lokasi tengah hari, sudah ada 2 dokter dan 1 perawat dan Tim lain, dan 2 TNI AD dari Padang. Kami juga disambut dengan suguhan makan siang oleh penduduk pengungsi. Mereka serba kekurangan, makan pun mereka dapat dari kiriman beberapa hari sebelumnya, dan masih dalam suasana duka, namun mereka bisa memberikan perhatian kepada para relawan.



Jimmy dan pasien di Maonai

Setelah isitirahat dan makan, Tim mengadakan pelayanan kesehatan.
Kembali ke sampan di pantai pukul 15.00. Baru ingat, dua rekan kami: Jenab dan Pak Takmim, yang menunggu sampan dan menaati kesepakatan ”kita makan setelah kembali dari pengungsian”, belum makan!


Operator boat: Pak Takmim, menyiapkan boat untuk ke Eru Paraboat (kanan) hari ini, dan lebih dahulu akan mengembalikan boat yang kami gunakan ke Maonai (kiri) kemarin.

Kuntadi (6 Nov, 09:32:45)
Catatan kamu kami perhatikan. Komunikasi ini sangat berguna. Uniting terus menunggu berita Tim GKI Mentawai kamu.

Menanti turunnya bantuan dari tengah laut


Wajah2 masyarakat Eru Paraboat

Sabtu pagi, sebagian tim membawa barang bantuan ke Aru Paraboat, 2 jam dengan sampan, setengah perjalanan dibanding ke Maonai kemarin. Hanya kami berlima: Jenab, Dokter Ricardo, Pak Takmim sebagai operator perahu, Firman, dan saya. dengan sampan lebih kecil lagi. Satu jam perjalanan, laut sangat bagus, tenang. Satu jam sebelum tiba, gulungan ombak mencapai 4 meter. Begitu pun pulangnya, sekitar pukul 17.00. Mulai dengan ombak bergulung 1 jam, rasanya lebih dahsyat daripada tadi pagi.

Dokter Ricardo memeriksa telinga di Eru Paraboat

Dokter Ricardo bernyanyi-nyanyi sambil tiduran. Jenab cengir sambil terbanting-banting di bagian depan sampan. Firman sibuk membuangi air dari sampan. Operator, Pak Takmim, dengan tenang mengendalikan kecepatan motor sampan. Saya tidak sempat takut, tidak sempat mabuk, maunya cepat tiba di rumah penampungan.


Relawan juga siap siap menjadi tukan pijat.

Setibanya di rumah, sekitar pukul 19.00 seperti kemarin, Pak Celcius menyambut: ”Tadi ombak agak besar, ya, tetapi tidak berbahaya.”
Segera saya mengirim SMS ke istri dan teman bahwa kami telah tiba di Sikakap.
Kuntadi (6 Nov, 20:17:26)
Rasid yang baik, sori mengganggu di tengah kelelahan. Saya ingin kamu tahu bahwa di Jakarta kami mendoakan keselamatan kalian. Ini bukan hiburan klise. Tetapi ungkapan syukur kalian mewakili kami semua. Saya menerima email dari teman saya, Rev. Ken William, Moderator Uniting West Australia Synod, bahwa dia juga terus mendoakan kalian. Tolong beritahu hal ini kepada para dokter dan relawan bahwa mereka ada di dalam doa kami.
Belum selesai sambutan Pak Celcius. ”Tadi Pendeta kami menanyakan apakah Pendeta dari GKI bisa menggantikannya besok. Dia harus memimpin pembaptisan di Jemaat asuhannya yang lain, sehingga ibadah di gereja ini belum ada Pendetanya.” Saya menjawab: ”Tidak bisa saya bilang ’tidak’, pak, tetapi seadanya ya.”
Setiawati Sucipto (6 Nov, 22:00:20)
Tetap kuat ya, doa kami menyertai seluruh pelayanan kamu dan teman-teman semua.

Minggu, 7 November. Puncak ketegangan telah lewat. Data untuk Tim GKI lanjutan telah terkumpul. Setelah ibadah, Tim hanya membuka pemeriksaan kesehatan di rumah dan di kampung Jimmy; ia adalah relawan dan asisten operator sampan yang luar biasa. Jimmy, sedikit tidur, banyak beraktivitas dan kuat. Tim GKI banyak terbantu oleh karena kehadirannya. Kami menyiapkan dan membeli beberapa barang lagi di pasar Sikakap.

Gracia Simanjuntak (8 Nov, 05:21:21)
Tetap semangat melayani di sana ya Pak. Jaga kesehatan dan hati-hati. Pak Rasid dan teman-teman tetap dalam doa kami.
Senin, 8 November, sebagian Tim membawa beberapa barang lagi ke Maonai. Kali ini dengan sampan 2 mesin, pukul 15 sudah tiba kembali di rumah. Sebagian Tim mencari info untuk menumpang KRI ke Padang. Selasa pagi kami menuju Padang dengan KRI Teluk Cirebon.

Rabu, 10 November, kami di Jakarta dengan selamat.
Syennie (10 Nov, 14:34:18)
Pak Rasid bagaimana kabar di sana? Harapan kami semoga semua berjalan lancar dan seluruh Tim dalam keadaan sehat, walaupun mungkin capai dan lelah.
Syennie (10 Nov, 14:48:45)
Oh Syukurlah kalau semua berjalan lancer, senang mendengarnya Pak, dan sudah mau kembali ke Jakarta ya. Baik Pak, nanti saya sampaikan kepada rekan-rekan semua.
Sulistiani (10 Nov, 15:19:34)
Syukur alhamdulilah pak, kalau semua bisa menjadi berkat bagi warga Mentawai.
Tjutju Mutia (10 Nov, 16:08:48)
Sore Pak RR, tadi siang saya kirim 1 koli buku untuk remaja dan lansia. Mudah2an cepat nyampe.

Beberapa hari kemudian, setelah kami semua telah kembali beraktivitas di Jakarta, Jenab, relawan Tim GKI yang masih melanjutkan pekerjaannya membangun asrama di Mentawai mengirim pesan singkat.
Jenab (13 Nov, 20:31:53)
Pak, Bapak dapat salam dari Ketua Majelis di sini dan Kepala Dusun Maonai. ■

Senin, November 22, 2010

TOLERANSI RELAWAN

Oleh: Rasid Rachman

Toleransi adalah satu kata kunci yang tidak boleh dilupakan oleh setiap relawan “gadungan” macam saya ini. Bekerja dengan beberapa orang yang sebagian besar belum saling kenal namun didesak oleh keadaan dan kepentingan serta prioritas dan di dalam kondisi abnormal, jika tidak berpegang teguh pada kata yang satu ini, bisa-bisa stress dan frustrasi akibatnya. Intinya, toleransi harus dibawa kemana pun dan kapan pun, kecuali soal keselamatan jiwa.
Ada banyak alasan untuk bertoleransi di dalam kondisi-kondisi tertentu. Ada yang wajar, ada yang tidak wajar; mau tidak mau melanggar tatanan normal. Misalnya soal menu makanan yang ala kadarnya. Tentu kita harus menganggapnya dan menerimanya sebagai kewajaran. Dapat makan di tengah bencana saja sudah sangat beruntung dan bersyukur, masakan masih mau milih-milih ini dan itu(?) Fasilitas hidup yang seadanya, semisalnya waktu istirahat, tempat tidur, kamar mandi, jelas tidak bisa bermanja-manja nurutin standar. Hal ini belum termasuk ketepatan waktu dan munculnya perubahan mendadak dari rencana matang. Jangan menjadi orang aneh hanya karena mau mulai dan selesai tepat pada jadwal. Atau tidak usah menjadi relawan saja sekalian, jika hal-hal seperti itu masuk ke dalam kriteria.


Sikakap, ibu kota Kecamatan di Pulau Pagai Utara, pada 4 November 2010, sepekan setelah tsunami melanda bagian lain dari Pulau Pagai Utara dan Pagai Selatan.



Setibanya Tim GKI di rumah keluarga Celcius 3 November 2010; berbincang dan makan malam.


Bagi saya, kondisi semacam itu adalah hal yang lumrah. Bahkan seringkali saya menjadi malu sendiri dan “gak enak ati” ketika keluarga yang menerima kami melayani dengan sepenuh hati. Mereka menyediakan segala keperluan kita, baik tim maupun pribadi, dan melampaui waktu kegiatan rutin mereka. Aktivitas harian dan pekerjaan rutin seringkali terganggu dengan kehadiran tim relawan. Sekali waktu, keluarga yang menerima kami sampai menyembelih hewan piaraannya ketika lokasi kami terisolir dari bahan mentah karena terhambat cuaca laut selama sepekan.
Di pengungsian juga tidak jauh berbeda. Pernah kami menuju lokasi pengungsian yang lumayan berat. Tim harus berjalan mendaki bukit sejauh 2,5 km dengan membawa barang-barang bantuan termasuk makanan. Baru saja kami tiba di lokasi setelah lebih dari 1 jam berjalan, masih terengah-engah, ibu-ibu pengungsi sudah menyediakan makan siang di tenda tamu. “Silakan makan bapak-bapak dan ibu,” sapa mereka. Penuh rasa heran dan haru, kami pun menyambut keramahan mereka dan menyantap makanan yang disediakan.
Soal safety first juga termasuk di dalam kerangka toleransi. Walaupun kami tetap mengutamakan keselamatan diri, namun agak diperlonggar sedikit. Kapasitas maksimum sampan atau tinggi gelombang sejauh masih rasional dan hati-hati, dihadapi. Dalam perjalanan membawa bantuan ke Monai, kapasitas sedikit melampaui maksimum. Masih dapat diakali, berangkat lebih pagi. Alasannya selain supaya berangkat sebelum ombak terlalu besar, juga karena waktu tempuh menjadi lebih lama dengan saratnya muatan di sampan.
Ketika mengantar bantuan ke Eru Paraboat, cuaca tidak terlalu baik sekalipun cuaca di darat baik. Gelombang setinggi 4 meter, walaupun membuat ketar-ketir orang darat namun masih dianggap biasa oleh orang laut, masih ditoleransi karena belum membahayakan keselamatan. Pesannya hanya: “Hati-hati di jalan.”
Namun toleransi yang betul-betul perlu perhatian adalah perokok. Kebanyakan relawan dan penduduk adalah perokok. Yang tidak merokok, menderitalah. Aksi merokok para perokok ini tidak kenal tempat, bisa di dalam ruangan tertutup, waktu ngobrol, di dalam kamar, setelah makan, rapat, bahkan di depan anak-anak. Asap dan bau rokok ada di mana-mana. Yah mau apa lagi, demi kepentingan misi menolong korban dan kerjasama, hal-hal semacam ini harus ditoleransi juga. Yang keberatan tidak dapat menghardik: "No smoking area!"
Ada juga toleransi dalam hal kesehatan. Bukan hanya waktu makan dan waktu istirahat, pakaian yang dipakai pun perlu ditoleransi. Pakaian yang tidak sempat dicuci atau tidak sempat kering, rela juga dikenakan. Hal biasa juga jika pakaian dalam dikenakan AC-DC alias bolak-balik. Memang, relawan seringkali membawa sedikit sekali keperluan pribadi, karena harus berbagi ruang koper dengan barang-barang bawaan sebagai bantuan kepada korban. Belum lagi soal cuci tangan sebelum makan dan cuci kaki sebelum tidur.
Pikir-pikir, menjadi relawan tidak terlalu jauh beda dengan hidup sebagai pengungsi. Namun, guna menghibur hati, begitulah seni menjadi relawan. Relawan memang bukan turis di lokasi bencana. ■

Kamis, Oktober 14, 2010

HEWAN-HEWAN ISTIMEWA

Oleh: Rasid Rachman

Ada tiga hewan yang membuat saya berkesan, yaitu ular laut, gajah, dan komodo. Ketiga hewan tersebut sangat spesial tingkah lakunya dan cara hidupnya. Mungkin dari mereka pula kita mendapat pencerahan.

Ular laut, ular belang dengan warna putih dan hitam bergaris-garis hitam pada seluruh kulitnya, dan kita belajar darinya tentang penguasaan diri. Ular ini sangat berbisa. Walaupun ukuran badannya tidak besar, kualitas bisanya 10 kali lebih dahsyat daripada bisa ular kobra. Kemampuan renangnya di laut, luar bisa. Demikian pula kemampuan menyelamnya. Di darat ia bisa merayap, dan di air ia lincah dan gesit. Mangsa dalam cengkramannya tidak berkutik. Begitu terkena pagutnya, sang korban mati hanya dalam waktu beberapa menit. Jika ia memagut manusia, konon sang korban hanya mampu bertahan hidup tidak lebih daripada 10 menit.
Namun ular ini tampil bersahaja, alias tidak menonjol. Bahwa ia memiliki bisa yang sangat mematikan, tidak banyak orang yang tahu. Ia “jinak” untuk ditangkap dan dipegang. Berbeda dengan memegang ular-ular lain, yakni di leher bagian atas, orang memegang ular ini cukup di badannya. Sementara kepala dan mulutnya, “pintu” mengeluarkan racun ganasnya, bebas berkeliaran. Ular ini tidak pernah atau jarang sekali memagut.


Memang ular ini berkesan tidak berbisa. Bahkan banyak orang tidak mengetahui bahwa ular ini sangat berbisa. Orang merasa ular ini aman-aman saja. Bahkan anak-anak pun berani memegang dan mengangkat sekaligus beberapa ular ini dengan agak sembarangan, hanya dengan dua tangan.
Jadi untuk apa bisanya? Ia hanya menggunakan bisanya untuk memagut mangsanya. Ikan-ikan kecil atau kadal sekitar pantai adalah makanannya. Mempertahankan diri dari ancaman, ia tidak pernah atau jarang sekali merasa terancam. Para nelayan cukup mengangkat badannya dengan lembut, jika hendak menyingkirkan atau menangkap ular ini. Ia tidak memagut. Bisa yang dimilikinya hanya digunakan untuk makanan yang hendak dimakannya. Itulah yang disebut penguasaan diri si ular laut.


Gajah juga istimewa. Bukan hanya badannya yang besar seukuran raksasa, atau tenaganya yang mahakuat, tetapi juga berbudaya. Gajah berbudaya? Ya, hewan yang hidupnya berkelompok ini adalah hewan yang mengenal dan mempraktekkan ritual kematian sesamanya. Banyak hewan besar di dunia ini, yang tentu memiliki lebih banyak unsur emosi juga dibanding hewan-hewan yang lebih kecil, namun tidak sebanding dengan gajah. Ini bukan masalah kecerdasan, tetapi bagian lain dari tubuhnya, yakni rasa beradab.




Kawanan gajah menghentikan perjalanannya sejenak ketika mereka mendapati tulang belulang gajah lain. Tulang belulang itu dapat berasal gajah tetangga yang mati lemas karena terlalu tua, atau sisa-sisa tubuh gajah yang dimangsa predatornya, atau kecelakaan terjebak kubangan lumpur. Kawanan gajah akan mengelilingi tulang belulang tersebut. Kadang-kadang ada gajah yang menyentuh dan mencolek tulang-belulang, sementara gaja-gajah yang lain berkeliling dengan hening. Itulah ritual kematian kawanan gajah – bisa memakan waktu 2 jam untuk ritual itu.
Menurut info pengamat, kadang-kadang kawanan gajah membawa tulang belulang itu untuk mencari dan menyerahkannya kepada keluarga dari si tulang gajah. Bahkan beberapa kali pengamat juga melihat ritual kematian itu dilakukan oleh kawanan gajah kepada mamalia besar lain, seperti kerbau liar.
Singa adalah salah satu predator gajah. Dalam keadaan terpaksa, misalnya musim panas yang lama di sabana, kawanan singa mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan menerkam gajah sebagai santapannya. Melihat serangan kawanan gajah, seekor dari kawanan gajah, biasanya yang merasa paling lemah atau paling tua, akan menghalau kawanan singa. Ia menyerahkan diri diterkam, dikeroyok, dan dijatuhkan untuk kemudian dimangsa oleh para singa. Ia mengorbankan diri bagi kawanannya. Dengan begitu, ia membiarkan kawanan gajah lain menjauhi kawanan singa.


Komodo adalah hewan purba yang sangat percaya diri dan pemberani, selain kuat. Keteguhan komodo membuat hewan ini tidak pernah merasa terancam oleh siapa pun – mereka juga tidak terancam punah. Hewan-hewan liar lain merasa terancam jika berpapasan dengan manusia atau hewan kuat yang lain. Hewan-hewan predator langsung memangsa makanannya jika melihatnya. Komodo bergeming. Bahkan komodo berjalan santai melewati rombongan manusia, atau tetap tidur-tiduran di antara para pemotret sekitarnya, ogah menyingkir sekalipun di sodok-sodok tongkat bercabang.



Komodo memakan apa saja, yang penting daging, baik hidup maupun mati, termasuk manusia dan sesama komodo. Sesamanya adalah sekaligus pemangsanya atau makanannya.
Mungkin komodo adalah hewan tanpa rasa takut, kecuali naluri untuk bertahan hidup. Komodo anak segera memanjat pohon, dan tinggal di atas sana karena menghindari dimangsa oleh komodo besar. Selama 2 tahun komodo anak tinggal di pohon, berjuang sendiri mendapatkan makanan – entah burung, kadal, ular kecil, atau hewan apa pun – yang hinggap di pohonnya. Begitu dewasa, dan siap berburu makanan, komodo anak baru turun ke darat.
Komodo tidak terlalu buru-buru dan bernafsu untuk menyantap makanannya saat ia mengigitnya. Komodo tidak menyiksa hewan besar buruannya dengan makanannya selagi sehat. Kerbau buruannya, “hanya” digigit di sekitar kaki atau pahanya, kemudian dibiarkan kerbau itu menikmati sisa hidupnya. Sekitar 2-3 pekan kemudian, bakteri-bakteri yang masuk ke tubuh kerbau melalui liur komodo yang menempel di luka gigitan komodo mulai menggeroti kesehatan kerbau. Ketika kerbau sekarat itulah, komodo menayntapnya – dengan “mengajak” teman-temannya makan ramai-ramai. °

Senin, Agustus 16, 2010

KEMACETAN DI JAKARTA

Oleh: Rasid Rachman

Di antara banyak hal menyangkut berlalu lintas, busway dan three-in-one adalah topik yang cukup ramai dibicarakan. Sejak sebelum kelahirannya hingga saat ini, hampir setiap saat soal ini ada sebagai berita ibukota. Akhir-akhir ini muncul lagi pembicaraan tentang busway, kali ini menyangkut ketegasan penerapan larangan bagi kendaraan non-Transjakarta memasuki jalur busway. Seperti telah diduga, cetusan dan letusan ketegasan ini hanya berlangsung selama 2-3 hari.

Dasar pengaturan lalu lintas
Bagi masyarakat, hal peraturan berlalu lintas kena mengena pada 3 hal, yaitu: keamanan, kenyamanan, dan ketertiban.
Keamanan. Penempatan tanda-tanda dan rambu-rambu di jalan dibuat dengan salah satu tujuannya adalah untuk menjaga keamanan, baik keamanan pengendara, maupun keamanan pengendara lain dan pejalan kaki. Larangan berhenti di tepi jalan TOL, misalnya, dibuat agar kendaraan yang berhenti tidak tertabrak kendaraan yang sedang melaju.
Kenyamanan. Sikap saling menghargai karena sama-sama membutuhkan jalanan dan waktu, sampai ke tujuan dengan cepat dan selamat, dan kenyamanan berkendara wajib dimiliki oleh setiap pengemudi. Pemerintah memfasilitasi hal tersebut secara adil. Pengaturan lajur dan jalur, penempatan tanda-tanda dan rambu-rambu lalu lintas dibuat dengan dasar kenyamanan tersebut.



Ketertiban. Alasan ketertiban adalah alasan yang paling penting dalam penerapan peraturan lalu lintas. Adanya tanda verboden atau jalan satu arah di jalan selebar 5 meter bertujuan agar lalu lintas lancar, tidak macet, dan tentu hasilnya adalah irit bahan bakar.

Kenapa masih saja macet?
Bahwasanya lalu lintas di Jakarta selalu macet, semua orang sudah tahu penyebabnya klise-nya sejak belasan tahun yang lalu. Jumlah mobil semakin banyak, sementara jumlah panjang jalan tidak mencukupi adalah salah satu alasan. Alasan lain, waktu pergi dan pulang kantor bersamaan di pagi dan sore hari, sehingga jalan-jalan penuh dengan kendaraan.
Sejauh ini pemerintah menerapkan dua hal sebagai, katanya, solusi kemacetan, yaitu three-in-one dan busway. Setelah belasan tahun penerapan area three-in-one dan beberapa tahun busway, semua orang, termasuk polisi lalu-lintas, dengan mudah dapat menjawab bahwa kedua hal itu justru merupapakan “biang” kemacetan – bukan solusi.
Soal yang tidak klise adalah belum adanya dasar yang cukup memuaskan untuk menjawab keberadaan three-in-one dan busway merupakan solusi kemacetan. Setelah ada three-in-one dan busway, kemacetan bukan berkurang malahan bertambah, plus sakit hati pengguna jalan raya.
Lantas, kalau tahu penyebab kemacetan dan pemberian “obat solusi” yang salah masih kepala batu? Kenapa tidak menambah dan membarui jumlah kendaraan umum reguler secara signifikan, baik bus maupun kereta? Kenapa tetap memberlakukan three-in-one di jalan-jalan tertentu demi busway dan kawasan tertentu? Kenapa tidak memperluas jalur-jalur baru ke dan dari pinggiran Jakarta? Termasuk, kenapa busway hanya merupakan Transjakartaway yang jumlah armadanya sangat sedikit itu, sehingga bus-bus non-Transjakarta tetap menggunakan jalur kendaraan lain? Kenapa tidak serius mengamankan dan menyamankan masyarakat dari gangguan preman-preman di kendaraan umum? Kenapa tidak memberlakukan sistem gratis lewat TOL dalam kota, sekalipun hanya pada waktu-waktu tertentu? Kenapa tidak membuka alternatif lain moda transportasi selain bus dan jalan raya? Mulai memanjakan pesepeda, misalnya. Kenapa jumlah masyarakat dan pejabat yang mengambil hak pengguna jalan dengan pengawalan petugas semakin banyak?
Ketimbang polisi sibuk menjaga masuknya kendaraan di area three-in-one dan jalur busway, terutama pada waktu-waktu padat, kan lebih baik mengatur perempatan yang rawan kemacetan, menilang motor-mobil yang melawan arus demi egoism, menjaga keamanan di perberhentian kendaraan umum yang rawan kejahatan.

Mulai dari manusianya
Ada tiga kelompok manusia yang terlibat langsung dalam berlalu lintas yang beradab, yaitu pengendara, pemerintah, dan pengguna. Semuanya saling kait mengait dalam kemacetan atau kenyamanan. Pemerintah seharusnya memfasilitasi penyediaan transportasi yang nyaman dan aman. Misalnya menyediakan area pesepeda dan pejalan kaki yang nyaman, menambah dan membarui moda transportasi, menghapus peraturan three-in-one, busway, dan bayar TOL dalam kota. Masyarakat pengguna seharusnya menjaga kenyamanan; misalnya tidak membuang sampah sembarangan, berani menggempur premanisme, menyeberang pada tempatnya, membayar tiket, dsb. Pengendara seharusnya mematuhi segala aturan berlalu lintas. Misalnya tidak mengendarai kendaraan dengan kecepatan di bawah batas minimum atau di atas batas maksimum, santun mengendarai, – intinya adalah patuh berlalu lintas.
Sumber kemacetan yang sesungguhnya adalah manusianya. Bukan banyaknya jumlah kendaraan atau pendeknya jalan-jalan. Jadi manusianya yang harus membarui sikap berlalu lintas. ♦

Kamis, Juni 03, 2010

TUGAS, JALAN2, MAKAN2

Oleh: Rasid Rachman


T U G A S
Sesekali saya mendapatkan tugas pelayanan yang ber-tumpuk2. Biasanya tanpa sengaja. Pekan lalu, 28-30 Mei 2010, misalnya. Semula, saya dijadwalkan oleh Sinwil Jabar pertukaran ke Kebonjati – itu biasa. Namun beberapa bulan sebelumnya saya juga dijadwalkan memimpin materi teologi liturgi nikah di bina Pranikah di Puri Indah hari Jumat sebelumnya – itu juga masih biasa. Baru menjadi agak luar biasa ketika sebulan sebelumnya panitia Pranikah meminta tambahan materi, yakni Teologi Pernikahan, yang jelas2 bukan bidang saya. Jadi harus menulis lagi materi baru sebagai tambahan. Tidak lama kemudian, GKP Klasis Priangan meminta kesediaan saya membekali para aktivis ibadah di Lembang hari Sabtu pagi. Okelah, tiga2nya (dasar serakah!) saya sanggupi.


Persoalan menjadi agak rumit ketika saya baru tahu bahwa itu adalah hari libur panjang (Waisak), tagihan dari Pranikah bertubi2 padahal makalah belum selesai, dan surat dari GKP baru saya terima beberapa hari sebelumnya. Tambah rumit lagi, sesampainya di Lembang, saya baru tahu bahwa acara tersebut melibatkan saya hingga sore – bukan cuma 2–3 jam. Nah itu, Bandung sedang macet2nya, saya harus selalu bergegas, belum persiapan2 sebelumnya.
Maka jadilah, Jumat pagi meninggalkan rumah menuju GKI Puri Indah. Selesai 2 sesi Pranikah pukul 13.20 cabut menuju Bandung yang macet banget, karena semua orang dari segala ujung bumi plesir dan tumpleg-bleg di Bandung. Sabtu pagi2 bergegas ke GKP Lembang, pimpin hampir 3 sesi. Pukul 16 kurang dari Lembang menuju Bandung, menghabiskan waktu 3 jam lebih – kebayang ga sih – karena macet-cet di Ledeng dan Cihampelas. Minggu pagi2 sudah pimpin 2 ibadah di Kebonjati, tengah hari balik ke Jakarta.
Kalau sudah begini, cara paling afdol mengatasi stres adalah tetap santai dan menggunakan waktu istirahat se-baik2nya, supaya semua berjalan dengan baik dan pikiran tetap segar.

J A L A N2
Salah satu cara bersikap santai adalah berpikir atau anggap saja ini jalan2; wisata di dalam tugas. Kuncinya, pergi menuju ke tempat2 tujuan ketika masih banyak waktu, sehingga tidak buru2, dan masih sempat melihat2 kiri-kanan atau mampir2, dan sambil menikmati pemandangan alam dan mendengarkan musik di mobil.
Pemandangan sepanjang TOL Jakarta-Bandung tetap asik dilihat. Saat ini sudah mulai hijau, jurang2nya dan jembatan2nya tetap sensasi tersendiri bagi pengendara mobil. Nyanyian2 lama pop Indonesia yang terkesan jenaka, alunan musik piano Jaya Suprana yang tenang, dan petikan gitar Jubing yang mengesankan, adalah terapi istimewa di tengah ancaman stres dan ketegangan berkendara di TOL atau di macet.
Yang juga penting adalah motret2 di kemacetan. Memang sangat repot dan berbahaya, tetapi mengasyikan, asal ber-hati2. Tingkah polah orang, baik pengemudi maupun panjaja dagangan, merupakan sasaran bidik kamera. Lokasi2 tertentu, semisal rumah makan, tempat2 nongkrong, bangunan2 menarik, dan alam sekitar dapat menjadi sasaran pemotretan. Hanya sayang, sejauh ini saya belum mendapat objek pemotretan yang pas tersebut.
Bandung-Lembang kini agak berubah. Setelah Ledeng, menuju Lembang, ada tempat2 baru untuk nongkrong. Ada es krim, ada susu murni dan yoghurt, ada taman strawberi, dan ada hotel2 baru. Waktu terakhir ke mari, sekitar 4 tahun lalu, tempat2 tersebut belum ada. Lain kali, saya pasti ke mari untuk liburan dengan keluarga.

M A K A N2
Dalam “kamus” saya, makan2 di tempat di perjalanan adalah wajib hukumnya. Namun untungnya Dewa-Dewi Keberuntungan memang seringkali ga jauh2 dari saya. Tiba di GKP Lembang pukul 8.30, langsung ditawari susu murni, padahal baru 20 menit sebelumnya saya minum yoghurt. Dalam perjalanan ke GKP Lembang, Sabtu pagi, pukul 8 mampir dulu minum yoghurt yang sudah ngangenin.
Yang lebih mantap lagi adalah makan siang. GKP ini menyajikan saksang – B1 men – selain menu2 lain. Di Lapo2 di Jakarta dan Tangerang, saksang B1 sulit ditemui. Saya pernah makan saksang di BSD, Vila Melati Mas, dan Senayan, cuma menyediakan saksang B2. jadi, sudah lama sekali ga makan saksang B1, maka terpuaskanlah seleraku hari itu di GKP Lembang kemarin itu. Lebih mantap lagi, sehabis makan dibungkusin oleh ibu2 di situ sebagai oleh2.


Sesampainya di Bandung, di depan Hotel Trio Gardujadi tempat saya menginap, ada bubur ikan – enak tentu. Apalagi, bubur itu saya campur dengan saksang yang diberikan sebagai oleh2 oleh ibu di GKP Lembang. Rasa agak asin2 bubur dicampur dengan rasa pedas2 saksang, rasanya selangit euy. Saking enaknya makan, sampai lupa memotret menu kombinasi tersebut.
Selain bubur, di Gardujati juga ada nasi campur, bandrek, mi ayam, dan lain-lain. Tetapi, yah harus ingat umur. Tahun 1984 waktu baru lulus SMA, saya pernah jalan2 aja melewati Gardujati dengan aroma makanan2nya. Tapi waktu itu, kantong tidak memenuhi syarat. Sekarang, umur tidak lagi memenuhi syarat.
Tubuh lelah dan perut kenyang, padahal besok masih harus pimpin ibadah hari Minggu di GKI Kebonjati dan kembali ke Jakarta, membawa saya ke alam tidur lebih awal hingga esok pagi.
Bangun pagi2, siap2 pimpin ibadah utama. Selesai ibadah, GKI Kebonjati, tempat saya bertugas memimpin ibadah, menyediakan ngohiang ala Bandung. Hajar ble...eeh, sementara para Penatua menghitung uang kolekte di konsistorium.



Jadi siapa bilang perjalanan tugas ga bisa menyenangkan. Yang penting ada musik di mobil, makan2, dan motret2, maka tugas2 dapat dilakukan dan diselesaikan dengan baik. °

Minggu, Februari 28, 2010

MENGISI LIBURAN DI TZU CHI

Oleh: Rasid Rachman


Banyak acara untuk mengisi cuti atau liburan, selain jalan-jalan dan wisata kuliner. Namun ketika tiba waktunya, keder juga memanfaatkan waktu. Biasa, lagu lama, malas ngerjain apa-apa. Apalagi saat ini saya mengambil cuti di luar waktu libur sekolah anak. Jelas, ga bisa jalan-jalan. Untung, di hari terakhir cuti kami teringat untuk menjadi relawan 2 jam di Depot Daur Ulang Tzu Chi Gading Serpong.



Depot ini buka setiap hari. Urusan depot ini adalah mendaur ulang sampah-sampah kering hasil rumah tangga. Depot mengambil atau menerima sampah-sampah kering dari “para langgaran” sekitar lokasi. Siapa saja boleh bergabung sebagai “pelanggan” depot. Sampah-sampah tersebut kemudian dipilah menurut jenis-jenisnya: kertas, kadus, kertas kekuningan, kaleng, kantong plastik, gelas plastik, botol, dsb. Dari depot ini sampah-sampah tersebut kemudian disalurkan atau dijual ke penyalur. Selain sebagai penyalur pertama setelah rumah tangga, depot ini telah menanamkan pendidikan akan pemanfaatan kembali sampah kepada masyarakat.



Hari ini, para relawan yang jumlahnya 40 orang itu diberi tugas menguliti merk botol dan mengorek mulut gelas air mineral. Untuk botol, tutupnya dan kalungan cincin pada mulut botol dibuka, merknya dilepaskan dan dikumpulkan di suatu tempat. Terhadap botol plastik itu, diinjak-injak sehingga gepeng, lalu dikumpulkan di suatu tempat pula. Untuk gelas mineral, setelah plastik bekas penutup gelas dibuka, sisa penutup yang tertempel rapat di bibir gelas, dikorek-korek dengan gunting hingga lepas. Gelas-gelas tersebut juga dikumpulkan di suatu tempat. Semua barang siap salur tersebut akan ditampung oleh penampung lain di tempat lain untuk kemudian didaur ulang atau digunakan kembali.

Siapa pun dapat menjadi relawan. Hari ini kami bergabung dengan para mahasiswa pendidikan agama Buddhis dari Bumi Serpong Damai. Mereka sudah tiba dan berkerja lebih dahulu – mungkin karena sudah janjian dengan pengurus depot. Dengan bekerja sesuai peran dan penugasan masing-masing, orang-orang muda ini bekerja dengan cekatan dan tidak banyak bicara, tetapi tetap dapat bercengkerama.
Kerjanya sendiri memang mengasyikan. Sambil duduk, relawan mengorek dan menguliti gelas-gelas plastik, lalu melemparkannya ke keranjang. Ketika bekerja itulah, relawan saling mengobrol, ada yang sambil bercanda, namun ada pula yang mengkoordinasi semua pekerjaan atau memotret. Ada pula beberapa relawan yang menyediakan fasilitas, seperti menuangkan sejumlah gelas atau botol ke tempat di mana gelas dan botol hampir habis, mengangkat dan menyesiakan kembali keranjang gelas dan botol. Pembagian tugas tersebut memang memudahkan pekerjaan menjadi lebih cepat diselesaikan.
Sekitar pukul 12, satu persatu relawan berhenti bekerja. Rupanya waktu kerja memang antara pukul 09.00 hingga pukul 12.00. Waktu yang tidak lama, namun hasil yang dicapai lumayan banyak. Berkarung-karung gelas dan botol bekas siap salur telah tersedia.

Sedikit pikiran nyeleneh saya, kapan ya para pemuda gereja berpola pikir bahwa kegiatan pemuda gereja bukan melulu ibadah dan persekutuan, tetapi juga peduli lingkungan? °