Jumat, November 30, 2007

2005 SERATUS TAHUN LALU

Oleh: Rasid Rachman

Tsunami Desember 2004 bukan tsunami pertama bagi penduduk masyarakat Faekuna’a. Seratus tahun lalu (mungkin lebih sedikit) gelombang penghancur yang sama pernah “singgah” ke sana. Konon, korbannya banyak sekali. Sejak itu, orang belajar dari pengalaman. Kami bertanya kepada Ama Vita (60).
Kami: Apakah Ama Vita tahu tentang tsunami seratus tahun lalu?
Ama: Saya tahu, tetapi tidak mengalaminya sendiri. Bapak saya yang mengalaminya waktu dia berumur sepuluh tahun. Dari bapak saya, saya diajarkan. Kalau air laut surut, segeralah berlari ke gunung untuk menyelamatkan diri.

Tsunami Desember 2004 lalu memang menerjang Faekuna’a, tetapi ajaran orang-orang tua tetap diingat oleh generasi sekarang. Pagi sekitar pukul 08.00 pada 26 Desemebr 2004, terjadi gempa. Menjelang tengah hari, air laut surut. Penduduk menyelamatkan diri ke gunung. Jaraknya 3 – 5 kilometer, tetapi jalannya tidak mudah. Seorang penduduk yang sudah lama sakit, terjatuh-jatuh, akhirnya meninggal. Pengajaran orang-orang tua yang pegang telah menyelamatkan mereka dari korban yang lebih besar akibat bencana.
Menjelang penyelesaian tulisan ini akhir Maret 2005, Nias kembali diguncang gempa dahsyat. Kali bukan air laut surut. Sekali gempa, rumah-rumah hancur. Termasuk dua rumah bertingkat Ama-Ina Vita. Keluarga inilah yang menampung Tim Relawan GKI pada Februari lalu di rumahnya untuk menjalankan misi kemanusiaan. ¨

Tidak ada komentar: