Senin, Desember 10, 2007

MENGENALI NYANYIAN JEMAAT

(6)

Pengelola dan para pimpinan gereja perlu memberi perhatian lebih besar kepada liturgi dan nyanyian jemaat. Memang tidak terlalu mudah mengenali jenis dan notasi dari lagu. Namun jauh lebih mudah mengenali sifat nyanyian melalui syair. Untuk membaca syair, orang tidak perlu menjadi ahli musik, bukan? Hanya memerlukan ketelitian dan pengertian.
Oleh karena nyanyian jemaat berfungsi sebagai alat pengajaran, maka pengelola dan pimpinan gereja perlu memperhatikan syair. Pengajaran berada di dalam tanggung jawab Majelis Gereja. Jangan terlalu memboroskan waktu dan pikiran tentang mana lagu yang diperbolehkan dan mana lagu yang dilarang. Dangdut, keroncong, rock, adalah jenis-jenis lagu. Syairlah yang perlu diperhatikan, baik untuk keperluan liturgi maupun demi pengajaran umat dan pemberitaan gereja. Konon, Aurelius Agustinus (354-430), seorang Bapa Gereja pada zaman Patristik, dengan serius tidak mengizinkan melodi yang terlalu ramai dijadikan perhatian utama dalam nyanyian jemaat. Ia mengizinkan lagu boleh dimainkan hanya demi syair yang disampaikan. Iringan harus sederhana.
Seorang Jerman – yang sebenarnya dapat pula disejajarkan dengan para Bapa Gereja yang lain – ialah: Ulrich Zwingli (1484-1531), pun melarang permainan organ yang merajalela menyerupai musik hiburan. Segala keramaian yang dangkal dan kurang khidmat hendaknya dijauhkan dalam ibadah. Demikian pula Johannes Calvin (1509-1564) yang mengajak umat untuk menahan diri dalam beribadah. Ingatlah keberadaan gereja saat ini di dalam perjuangannya. Gereja jangan berlebihan tanpa batas dalam mengungkapkan sukacita melalui nyanyian.[1] Pendapat ini relevan terhadap nyanyian gereja yang terlalu ramai hanya pada segi lagu, tetapi miskin dalam tema-tema pengajaran dan pemberitaan.


Keperluan nyanyian untuk hari raya liturgi
Masalah yang sering kali dijumpai ialah pemilihan nyanyian. Ketidaktepatan dalam memilih nyanyian masih terjadi. Ini menyangkut soal membaca syair. Di samping itu tentu saja penyusun liturgi perlu mengerti tentang tahun liturgi dan arti setiap unsurnya.
Pihak penyusun tata liturgi sering keliru dalam membedakan tentang tema hari raya yang satu dengan hari raya yang lain. Memang, kebanyakan tidak keliru tentang perbedaan antara nyanyian Paska dan Natal. Namun kekeliruan terjadi pada antara Jumat Agung dan Prapaska, Minggu Palem dan Minggu Sengsara, Kenaikan Yesus ke Sorga dan Paska, Adven dan Malam Natal, Natal dan Epifania. Nyanyian bertema salib, Golgota, darah Yesus tercurah, yakni tema-tema Jumat Agung (hari raya kematian Yesus) dinyanyikan pada Prapaska (masa persiapan). Nyanyian “Kepala Yang Berdarah” (Jumat Agung) masih dinyanyian pada Paska (Kebangkitan Yesus).
Tim penyusun buku-buku nyanyian semisal Kidung Jemaat, Nyanyikanlah Kidung Baru, Puji Syukur, telah menyusunkan rubrikasi nyanyian sesuai dengan tahun liturgi. Hal ini dapat menolong penyusun liturgi. Mudahnya, lihat saja rubrikasi untuk hari raya yang bersangkutan, lalu pilihlah nyanyian dari rubrikasi tersebut. Namun, jika ingin menggunakan nyanyian di luar buku-buku tersebut, atau ingin sedikit modifikasi dan variasi, maka kita memerlukan sedikit pedoman.
Tentu, kita tidak ingin amburadul seperti contoh kebiasaan di atas. Keteraturan adalah pokok di dalam kehidupan manusia dan kesaksian iman. Kitab Kejadian pasal 1 dan 2 mempersaksikan bahwa Allah mencipta alam semesta dan menempatkan makhluk-makhluk secara teratur dan terencana. Rasul Paulus banyak berbicara tentang keteraturan dan perencanaan liturgi (1Kor 14:40 tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan tertib).

Berikut ini adalah pedoman susunan hari raya dan tema-temanya:
Hari raya Tema-tema liturgi

Adven penantian, kerinduan, menyambut kedatangan
Tuhan
Natal
malam (24 Desember) nyanyian malaikat
fajar (25 Desember) para gembala
siang terang dunia
Tahun baru zaman lama dan baru, perputaran waktu,
pengharapan, Yesus disunat
Epifania bintang di Timur, orang majus
Yesus dibaptis
Minggu-minggu biasa pengajaran Yesus, mujizat
Prapaska dan sengsara pertobatan, pencobaan
Minggu Palem Hosana, Yesus masuk Yerusalem
Kamis Putih perintah baru, penatalayanan
Jumat Agung Golgota, kematian Yesus, merasa ditinggal
Allah
Paska Haleluya, kebangkitan Yesus, hari yang
dijadikan Tuhan, fajar baru
Minggu-minggu Paska Gembala yang baik, nyanyian baru bagi Tuhan
Kenaikan Yesus ke Sorga Allah sebagai Raja dunia, Yesus dimuliakan
Pentakosta hari kelima puluh, persembahan panen,
ucapan syukur, Roh Kudus, pengutusan,
gereja
Trinitatis Allah Tritunggal
Minggu-minggu biasa Kerajaan Allah


Semoga pedoman singkat sederhana ini memudahkan pemilihan nyanyian. Tetapi yang ideal adalah mempelajari makna tahun liturgis dengan seksama.


Keperluan nyanyian untuk unsur-unsur liturgi
Menentukan nyanyian untuk unsur-unsur liturgi sedikit lebih rumit tetapi lebih bebas daripada untuk hari raya liturgi. Masalahnya terletak pada latar belakang liturgi itu sendiri. Bahwasanya perkumpulan umat Kristen – yang disebut liturgi – muncul lebih dahulu (dan secara wajar) daripada penamaan unsur-unsur liturgi. Unsur-unsur liturgi (votum, salam, Kyrie–Gloria, khotbah, dan seterusnya) adalah nama yang diberikan oleh kaum gerejawan kemudian hari.
Beberapa buku nyanyian yang ada (Kidung Jemaat, Nyanyikanlah Kidung Baru, Puji Syukur) juga telah menyediakan kemudahan melalui rubrikasi nyanyian untuk keperluan ini. Memang kita tidak perlu selalu mengikuti secara ketat dan kaku tanpa kreativitas sama sekali. Namun, kenyataannya, tidak sedikit nyanyian yang disusun secara keliru sama sekali. Masih banyak dijumpai penyusunan yang tidak kreatif dan tidak baik secara liturgis. Nyanyian pagi (KJ 2 “Suci, Suci, Suci,” atau KJ 322 “Terang Matahari”) dinyanyikan untuk kebaktian malam atau senja. Nyanyian penutup (KJ 405 “Kaulah, Ya Tuhan, Surya Hidupku,” terutama pada kalimat Bila saatnya kelak ‘ku menang) dinyanyikan di awal ibadah. Nyanyian yang sama (misalnya untuk persembahan, KJ 287 “Sekarang Bersyukur,” NKB 199 “Sudahkah Yang Terbaik Kuberikan”) digunakan setiap Minggu selama bertahun-tahun.
Berikut ini adalah pedoman susunan nyanyian yang sedapat mungkin sesuai dengan unsur-unsur liturgi:

Unsur-unsur Tema-tema liturgi

Prosesi dan introitus penantian, persiapan, hari Minggu
(sesuaikan tahun liturgi)
Tata waktu
Pagi surya bersinar, hari baru
Siang terang dunia
Malam siang telah berlalu, hari telah berakhir,
istirahat, tidur, menantikan fajar, berjaga-
jaga, perlindungan Tuhan
Pengakuan dosa penyesalan
Berita anugerah ucapan syukur, pengampunan dari Tuhan
Kyrie dan Gloria Tuhan kasihanilah, Tuhan ampunilah,
kemuliaan bagi Allah
Mazmur antar pembacaan sesuaikan dengan hari raya dan pembacaan
Perjanjian Lama
Litani Kyrie Tuhan kasihanilah
Persembahan syukur bersyukur, berkat Tuhan
Sanctus kudus, suci
Anakdomba Allah Anakdomba Allah
Pengutusan dan penutup penginjilan, kabar baik, tuaian dan pekerja,
tiba di seberang, berlabuh, akhir kerja dunia


Perlu diperhatikan bahwa antara setiap unsur tidak perlu selalu diselingi oleh nyanyian jemaat. Namun pada pihak lain, ada pula yang hampir-hampir tidak memberikan pilihan lain daripada menyanyikan yang sama. Menurut kebiasaan liturgis, ada nyanyian jemaat yang bersifat proprium, dan ada pula yang bersifat ordinarium.
Proprium adalah nyanyian yang selalu berlainan dinyanyikan dari satu ibadah ke ibadah berikut. Bagian ini selalu menyesuaikan dengan masa atau hari raya. Juga dimungkinkan jika tidak ada nyanyian di sana. Nyanyian-nyanyian pengakuan dosa, persembahan, penghiburan, litani Kyrie, berada di sini. Hampir semua nyanyian di liturgi Gereja-gereja Protestan adalah proprium.
Ordinarium merupakan keharusan menyanyikan nyanyian yang sama (atau hampir tanpa pilihan) pada setiap ibadah. Kyrie-Gloria pada liturgi pembuka. Graduale, haleluya, amin untuk menyambut pembacaan Injil atau menyambut Berkat. Sanctus, Agnus Dei (Anakdomba Allah) pada perjamuan kudus. Doksologi menyambut berkat, berada di sini.
Dengan demikian kita tidak perlu mati-matian mempertahankan proprium (atau disebut pula: unsur sekunder) hanya karena kebiasaan sehingga terjadi embel-embel. Atau seenaknya mengacak-acak ordinarium (atau disebut pula: unsur utama) karena ketidakmengertian, sehingga liturgi menjadi tidak normal.

Catatan
[1] Menurut Chupungco, h 107. dan H.A. Pandopo, h 28-30.

Tidak ada komentar: