Tampilkan postingan dengan label refleksi ekologi (environment). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label refleksi ekologi (environment). Tampilkan semua postingan

Kamis, Oktober 14, 2010

HEWAN-HEWAN ISTIMEWA

Oleh: Rasid Rachman

Ada tiga hewan yang membuat saya berkesan, yaitu ular laut, gajah, dan komodo. Ketiga hewan tersebut sangat spesial tingkah lakunya dan cara hidupnya. Mungkin dari mereka pula kita mendapat pencerahan.

Ular laut, ular belang dengan warna putih dan hitam bergaris-garis hitam pada seluruh kulitnya, dan kita belajar darinya tentang penguasaan diri. Ular ini sangat berbisa. Walaupun ukuran badannya tidak besar, kualitas bisanya 10 kali lebih dahsyat daripada bisa ular kobra. Kemampuan renangnya di laut, luar bisa. Demikian pula kemampuan menyelamnya. Di darat ia bisa merayap, dan di air ia lincah dan gesit. Mangsa dalam cengkramannya tidak berkutik. Begitu terkena pagutnya, sang korban mati hanya dalam waktu beberapa menit. Jika ia memagut manusia, konon sang korban hanya mampu bertahan hidup tidak lebih daripada 10 menit.
Namun ular ini tampil bersahaja, alias tidak menonjol. Bahwa ia memiliki bisa yang sangat mematikan, tidak banyak orang yang tahu. Ia “jinak” untuk ditangkap dan dipegang. Berbeda dengan memegang ular-ular lain, yakni di leher bagian atas, orang memegang ular ini cukup di badannya. Sementara kepala dan mulutnya, “pintu” mengeluarkan racun ganasnya, bebas berkeliaran. Ular ini tidak pernah atau jarang sekali memagut.


Memang ular ini berkesan tidak berbisa. Bahkan banyak orang tidak mengetahui bahwa ular ini sangat berbisa. Orang merasa ular ini aman-aman saja. Bahkan anak-anak pun berani memegang dan mengangkat sekaligus beberapa ular ini dengan agak sembarangan, hanya dengan dua tangan.
Jadi untuk apa bisanya? Ia hanya menggunakan bisanya untuk memagut mangsanya. Ikan-ikan kecil atau kadal sekitar pantai adalah makanannya. Mempertahankan diri dari ancaman, ia tidak pernah atau jarang sekali merasa terancam. Para nelayan cukup mengangkat badannya dengan lembut, jika hendak menyingkirkan atau menangkap ular ini. Ia tidak memagut. Bisa yang dimilikinya hanya digunakan untuk makanan yang hendak dimakannya. Itulah yang disebut penguasaan diri si ular laut.


Gajah juga istimewa. Bukan hanya badannya yang besar seukuran raksasa, atau tenaganya yang mahakuat, tetapi juga berbudaya. Gajah berbudaya? Ya, hewan yang hidupnya berkelompok ini adalah hewan yang mengenal dan mempraktekkan ritual kematian sesamanya. Banyak hewan besar di dunia ini, yang tentu memiliki lebih banyak unsur emosi juga dibanding hewan-hewan yang lebih kecil, namun tidak sebanding dengan gajah. Ini bukan masalah kecerdasan, tetapi bagian lain dari tubuhnya, yakni rasa beradab.




Kawanan gajah menghentikan perjalanannya sejenak ketika mereka mendapati tulang belulang gajah lain. Tulang belulang itu dapat berasal gajah tetangga yang mati lemas karena terlalu tua, atau sisa-sisa tubuh gajah yang dimangsa predatornya, atau kecelakaan terjebak kubangan lumpur. Kawanan gajah akan mengelilingi tulang belulang tersebut. Kadang-kadang ada gajah yang menyentuh dan mencolek tulang-belulang, sementara gaja-gajah yang lain berkeliling dengan hening. Itulah ritual kematian kawanan gajah – bisa memakan waktu 2 jam untuk ritual itu.
Menurut info pengamat, kadang-kadang kawanan gajah membawa tulang belulang itu untuk mencari dan menyerahkannya kepada keluarga dari si tulang gajah. Bahkan beberapa kali pengamat juga melihat ritual kematian itu dilakukan oleh kawanan gajah kepada mamalia besar lain, seperti kerbau liar.
Singa adalah salah satu predator gajah. Dalam keadaan terpaksa, misalnya musim panas yang lama di sabana, kawanan singa mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan menerkam gajah sebagai santapannya. Melihat serangan kawanan gajah, seekor dari kawanan gajah, biasanya yang merasa paling lemah atau paling tua, akan menghalau kawanan singa. Ia menyerahkan diri diterkam, dikeroyok, dan dijatuhkan untuk kemudian dimangsa oleh para singa. Ia mengorbankan diri bagi kawanannya. Dengan begitu, ia membiarkan kawanan gajah lain menjauhi kawanan singa.


Komodo adalah hewan purba yang sangat percaya diri dan pemberani, selain kuat. Keteguhan komodo membuat hewan ini tidak pernah merasa terancam oleh siapa pun – mereka juga tidak terancam punah. Hewan-hewan liar lain merasa terancam jika berpapasan dengan manusia atau hewan kuat yang lain. Hewan-hewan predator langsung memangsa makanannya jika melihatnya. Komodo bergeming. Bahkan komodo berjalan santai melewati rombongan manusia, atau tetap tidur-tiduran di antara para pemotret sekitarnya, ogah menyingkir sekalipun di sodok-sodok tongkat bercabang.



Komodo memakan apa saja, yang penting daging, baik hidup maupun mati, termasuk manusia dan sesama komodo. Sesamanya adalah sekaligus pemangsanya atau makanannya.
Mungkin komodo adalah hewan tanpa rasa takut, kecuali naluri untuk bertahan hidup. Komodo anak segera memanjat pohon, dan tinggal di atas sana karena menghindari dimangsa oleh komodo besar. Selama 2 tahun komodo anak tinggal di pohon, berjuang sendiri mendapatkan makanan – entah burung, kadal, ular kecil, atau hewan apa pun – yang hinggap di pohonnya. Begitu dewasa, dan siap berburu makanan, komodo anak baru turun ke darat.
Komodo tidak terlalu buru-buru dan bernafsu untuk menyantap makanannya saat ia mengigitnya. Komodo tidak menyiksa hewan besar buruannya dengan makanannya selagi sehat. Kerbau buruannya, “hanya” digigit di sekitar kaki atau pahanya, kemudian dibiarkan kerbau itu menikmati sisa hidupnya. Sekitar 2-3 pekan kemudian, bakteri-bakteri yang masuk ke tubuh kerbau melalui liur komodo yang menempel di luka gigitan komodo mulai menggeroti kesehatan kerbau. Ketika kerbau sekarat itulah, komodo menayntapnya – dengan “mengajak” teman-temannya makan ramai-ramai. °

Senin, Agustus 16, 2010

KEMACETAN DI JAKARTA

Oleh: Rasid Rachman

Di antara banyak hal menyangkut berlalu lintas, busway dan three-in-one adalah topik yang cukup ramai dibicarakan. Sejak sebelum kelahirannya hingga saat ini, hampir setiap saat soal ini ada sebagai berita ibukota. Akhir-akhir ini muncul lagi pembicaraan tentang busway, kali ini menyangkut ketegasan penerapan larangan bagi kendaraan non-Transjakarta memasuki jalur busway. Seperti telah diduga, cetusan dan letusan ketegasan ini hanya berlangsung selama 2-3 hari.

Dasar pengaturan lalu lintas
Bagi masyarakat, hal peraturan berlalu lintas kena mengena pada 3 hal, yaitu: keamanan, kenyamanan, dan ketertiban.
Keamanan. Penempatan tanda-tanda dan rambu-rambu di jalan dibuat dengan salah satu tujuannya adalah untuk menjaga keamanan, baik keamanan pengendara, maupun keamanan pengendara lain dan pejalan kaki. Larangan berhenti di tepi jalan TOL, misalnya, dibuat agar kendaraan yang berhenti tidak tertabrak kendaraan yang sedang melaju.
Kenyamanan. Sikap saling menghargai karena sama-sama membutuhkan jalanan dan waktu, sampai ke tujuan dengan cepat dan selamat, dan kenyamanan berkendara wajib dimiliki oleh setiap pengemudi. Pemerintah memfasilitasi hal tersebut secara adil. Pengaturan lajur dan jalur, penempatan tanda-tanda dan rambu-rambu lalu lintas dibuat dengan dasar kenyamanan tersebut.



Ketertiban. Alasan ketertiban adalah alasan yang paling penting dalam penerapan peraturan lalu lintas. Adanya tanda verboden atau jalan satu arah di jalan selebar 5 meter bertujuan agar lalu lintas lancar, tidak macet, dan tentu hasilnya adalah irit bahan bakar.

Kenapa masih saja macet?
Bahwasanya lalu lintas di Jakarta selalu macet, semua orang sudah tahu penyebabnya klise-nya sejak belasan tahun yang lalu. Jumlah mobil semakin banyak, sementara jumlah panjang jalan tidak mencukupi adalah salah satu alasan. Alasan lain, waktu pergi dan pulang kantor bersamaan di pagi dan sore hari, sehingga jalan-jalan penuh dengan kendaraan.
Sejauh ini pemerintah menerapkan dua hal sebagai, katanya, solusi kemacetan, yaitu three-in-one dan busway. Setelah belasan tahun penerapan area three-in-one dan beberapa tahun busway, semua orang, termasuk polisi lalu-lintas, dengan mudah dapat menjawab bahwa kedua hal itu justru merupapakan “biang” kemacetan – bukan solusi.
Soal yang tidak klise adalah belum adanya dasar yang cukup memuaskan untuk menjawab keberadaan three-in-one dan busway merupakan solusi kemacetan. Setelah ada three-in-one dan busway, kemacetan bukan berkurang malahan bertambah, plus sakit hati pengguna jalan raya.
Lantas, kalau tahu penyebab kemacetan dan pemberian “obat solusi” yang salah masih kepala batu? Kenapa tidak menambah dan membarui jumlah kendaraan umum reguler secara signifikan, baik bus maupun kereta? Kenapa tetap memberlakukan three-in-one di jalan-jalan tertentu demi busway dan kawasan tertentu? Kenapa tidak memperluas jalur-jalur baru ke dan dari pinggiran Jakarta? Termasuk, kenapa busway hanya merupakan Transjakartaway yang jumlah armadanya sangat sedikit itu, sehingga bus-bus non-Transjakarta tetap menggunakan jalur kendaraan lain? Kenapa tidak serius mengamankan dan menyamankan masyarakat dari gangguan preman-preman di kendaraan umum? Kenapa tidak memberlakukan sistem gratis lewat TOL dalam kota, sekalipun hanya pada waktu-waktu tertentu? Kenapa tidak membuka alternatif lain moda transportasi selain bus dan jalan raya? Mulai memanjakan pesepeda, misalnya. Kenapa jumlah masyarakat dan pejabat yang mengambil hak pengguna jalan dengan pengawalan petugas semakin banyak?
Ketimbang polisi sibuk menjaga masuknya kendaraan di area three-in-one dan jalur busway, terutama pada waktu-waktu padat, kan lebih baik mengatur perempatan yang rawan kemacetan, menilang motor-mobil yang melawan arus demi egoism, menjaga keamanan di perberhentian kendaraan umum yang rawan kejahatan.

Mulai dari manusianya
Ada tiga kelompok manusia yang terlibat langsung dalam berlalu lintas yang beradab, yaitu pengendara, pemerintah, dan pengguna. Semuanya saling kait mengait dalam kemacetan atau kenyamanan. Pemerintah seharusnya memfasilitasi penyediaan transportasi yang nyaman dan aman. Misalnya menyediakan area pesepeda dan pejalan kaki yang nyaman, menambah dan membarui moda transportasi, menghapus peraturan three-in-one, busway, dan bayar TOL dalam kota. Masyarakat pengguna seharusnya menjaga kenyamanan; misalnya tidak membuang sampah sembarangan, berani menggempur premanisme, menyeberang pada tempatnya, membayar tiket, dsb. Pengendara seharusnya mematuhi segala aturan berlalu lintas. Misalnya tidak mengendarai kendaraan dengan kecepatan di bawah batas minimum atau di atas batas maksimum, santun mengendarai, – intinya adalah patuh berlalu lintas.
Sumber kemacetan yang sesungguhnya adalah manusianya. Bukan banyaknya jumlah kendaraan atau pendeknya jalan-jalan. Jadi manusianya yang harus membarui sikap berlalu lintas. ♦

Minggu, Februari 28, 2010

MENGISI LIBURAN DI TZU CHI

Oleh: Rasid Rachman


Banyak acara untuk mengisi cuti atau liburan, selain jalan-jalan dan wisata kuliner. Namun ketika tiba waktunya, keder juga memanfaatkan waktu. Biasa, lagu lama, malas ngerjain apa-apa. Apalagi saat ini saya mengambil cuti di luar waktu libur sekolah anak. Jelas, ga bisa jalan-jalan. Untung, di hari terakhir cuti kami teringat untuk menjadi relawan 2 jam di Depot Daur Ulang Tzu Chi Gading Serpong.



Depot ini buka setiap hari. Urusan depot ini adalah mendaur ulang sampah-sampah kering hasil rumah tangga. Depot mengambil atau menerima sampah-sampah kering dari “para langgaran” sekitar lokasi. Siapa saja boleh bergabung sebagai “pelanggan” depot. Sampah-sampah tersebut kemudian dipilah menurut jenis-jenisnya: kertas, kadus, kertas kekuningan, kaleng, kantong plastik, gelas plastik, botol, dsb. Dari depot ini sampah-sampah tersebut kemudian disalurkan atau dijual ke penyalur. Selain sebagai penyalur pertama setelah rumah tangga, depot ini telah menanamkan pendidikan akan pemanfaatan kembali sampah kepada masyarakat.



Hari ini, para relawan yang jumlahnya 40 orang itu diberi tugas menguliti merk botol dan mengorek mulut gelas air mineral. Untuk botol, tutupnya dan kalungan cincin pada mulut botol dibuka, merknya dilepaskan dan dikumpulkan di suatu tempat. Terhadap botol plastik itu, diinjak-injak sehingga gepeng, lalu dikumpulkan di suatu tempat pula. Untuk gelas mineral, setelah plastik bekas penutup gelas dibuka, sisa penutup yang tertempel rapat di bibir gelas, dikorek-korek dengan gunting hingga lepas. Gelas-gelas tersebut juga dikumpulkan di suatu tempat. Semua barang siap salur tersebut akan ditampung oleh penampung lain di tempat lain untuk kemudian didaur ulang atau digunakan kembali.

Siapa pun dapat menjadi relawan. Hari ini kami bergabung dengan para mahasiswa pendidikan agama Buddhis dari Bumi Serpong Damai. Mereka sudah tiba dan berkerja lebih dahulu – mungkin karena sudah janjian dengan pengurus depot. Dengan bekerja sesuai peran dan penugasan masing-masing, orang-orang muda ini bekerja dengan cekatan dan tidak banyak bicara, tetapi tetap dapat bercengkerama.
Kerjanya sendiri memang mengasyikan. Sambil duduk, relawan mengorek dan menguliti gelas-gelas plastik, lalu melemparkannya ke keranjang. Ketika bekerja itulah, relawan saling mengobrol, ada yang sambil bercanda, namun ada pula yang mengkoordinasi semua pekerjaan atau memotret. Ada pula beberapa relawan yang menyediakan fasilitas, seperti menuangkan sejumlah gelas atau botol ke tempat di mana gelas dan botol hampir habis, mengangkat dan menyesiakan kembali keranjang gelas dan botol. Pembagian tugas tersebut memang memudahkan pekerjaan menjadi lebih cepat diselesaikan.
Sekitar pukul 12, satu persatu relawan berhenti bekerja. Rupanya waktu kerja memang antara pukul 09.00 hingga pukul 12.00. Waktu yang tidak lama, namun hasil yang dicapai lumayan banyak. Berkarung-karung gelas dan botol bekas siap salur telah tersedia.

Sedikit pikiran nyeleneh saya, kapan ya para pemuda gereja berpola pikir bahwa kegiatan pemuda gereja bukan melulu ibadah dan persekutuan, tetapi juga peduli lingkungan? °

Minggu, Desember 06, 2009

KEARIFAN LOKAL

Oleh : Rasid Rachman

BENGAWAN SOLO
Baru-baru ini, November 2008, Penerbit KOMPAS menerbitkan buku tentang penelusuran sungai Bengawan Solo. Buku “Ekspedisi Bengawan Solo” tersebut berisi laporan jurnalistik penelusuran Tim Bengawan Solo yang diprakarsai oleh KOMPAS pada pertengahan tahun 2007. Saya telah membaca buku tersebut hingga selesai; itu awal tahun 2009. Itu pun salah satu buku yang saya idam-idamkan membacanya (sekaligus memilikinya) begitu ia diterbitkan.



Tulisan dengan gaya bahasa ringan dan dalam bentuk pendek-pendek ini: 2-5 halaman per-tulisan, memotivasi saya untuk terus-menerus membacanya. Bukan hanya di kala sekadar menunggu waktu berjalan, tetapi saya sengaja juga membaca bagian demi bagian tentang kehancuran peradaban sungai besar. Sungai sepanjang 527 kilometer (kira2 setengah dari jarak antara ujung Jawa Barat dan Jawa Timur) tersebut merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa sekaligus sungai tua.
Sungai yang (pernah) menyulam peradaban manusia, baik melalui transportasi, kehidupan prasejarah, maupun kerajaan itu, kini dalam kondisi memprihatinkan. Pendangkalan, air sungai terkontaminasi limbah pabrik, dan tempat pembuangan sampah turut andil menjatuhkan peradaban manusia dalam hal pencemaran sungai. Sungai ini tidak lagi diperlakukan sebagai bagian dari sejarah bumi dan manusia, tetapi sebagai bulan-bulanan manusia menata masa depannya.
Slogan yang membuat saya terhenyak ketika membaca buku ini adalah “kearifan lokal”. Yang dimaksud kira-kira adalah kearifan mandiri dari masyarakat sekitar sungai Bengawan Solo dalam menjaga sungai agar lestari. Lestarinya sungai adalah memberi kehidupan dan keseimbangan ekosistem. Muara dari kelestarian sungai tersebut adalah hidup manusia sendiri. Oleh karena itu, kelestarian sungai harus dijaga, pertama2 oleh masyarakat sekitar sungai sendiri.

JAKARTE
Tadi siang di pintu TOL Kebonjeruk Jakarta, di depan stasiun RCTI, saya memperhatikan pedagang makanan dan minuman. Ia sedang melepas bungkus plastik sedotan minuman mineral. Plastik2nya dibuang begitu saja di bawah kakinya - lantas tertiup angin atau tergerus air jika hujan kemudian masuk got di dekat situ. PADAHAL, tepat di sebelah lapaknya terdapat tong sampah besar. Jelas, contoh orang seperti ini memerlukan kearifan lokal.
Di beberapa tempat di Jakarta, kita dapat menjumnpai spanduk2 dengan slogan: JAKARTE, KALO BUKAN KITE2 YANG JAGE, SIAPE LAGI ...? Begitu kira2 slogan dan kampanye kearifan lokal.

PENUTUP
Kearifan lokal. Bukan hanya untuk mengelola Bengawan Solo atau kota2 besar semacam Jakarta, tetapi juga untuk kehidupan bergereja dan berjemaat, saya kira kita membutuhkan kearifan lokal. Sebagaimana masa depan Bengawan Solo dan Jakarta terletak di tangan masyarakat sekitar, demikian pula pembangunan jemaat terletak di tangan umat dan pengelolanya. °

Sabtu, Maret 14, 2009

MARDI GRAS

olwh: Rasid Rachman

Le Mardi Gras (ucapkan gras tanpa melafalkan “s”) semakin dikenal. Bukan hanya Perancis, tetapi juga di negeri Paman Sam. Di Italia, ia disebut dengan nama Il Martedi Grasso. Cafe atau Bistro di Jakarta, dan iklan-iklan, bahkan nama cluster perumahan di Tangerang atau Bogor juga memperkenalkan dan menyebarkanluaskan Mardi Gras ini. Sebenarnya, apakah Mardi Gras?
Secara harfiah, le Mardi Gras adalah Selasa Daging. Setiap tahun sebelum Rabu Abu memasuki masa Prapaska, masyarakat di negara-negara Kristen tradisional merayakan hari terakhir mereka boleh makan daging. Hari terakhir tersebut adalah Selasa. Rabu keesokan harinya adalah masa Prapaska di mana gereja mempermaklumkan masa berpuasa selama 40 hari hingga Paska.
Pada masa puasa itu, orang berhenti atau membatasi diri dari makan daging dan telur. Maka hari Selasa sebelum Rabu Abu, yakni hari pertama berpuasa dalam Prapaska, orang puas-puaskan diri makan daging.
Dalam bahasa Latin, Mardi Gras disebut Carnivalle. Di dalam kata tersebut, ada kata carni. Kalau ingat carnivora atau karnivora maka tahulah bahwa carni adalah daging. Jadi arti dasar dari carnivalle adalah pesta daging sebelum berpuasa. Pesta masyarakat itulah yang di zaman modern kemudian disebut dengan karnaval – tentu saja arti harfiah ini tidak lagi tergambar di dalam bentuk pesta karnaval dewasa ini.
Dalam karnaval ada pawai, demo tarian massal, gemerlap lampu di jalan-jalan, kostum, kegembiraan, dsb. sebagaimana terjadi di Brazilia setiap akhir musim semi sebelum Prapaska. Beberapa negara yang bertradisi kuat pada kekristenan juga merayakan karnaval sebelum Rabu Abu. Bahkan karnaval ini juga dirayakan oleh masyarakat Amerika Serikat.
Selain pawai keliling kota, orang dengan kostum menarik menari dan berdansa. Ada kostum Indian, burung, ayam, Asterix,Obelix, atau bahkan kostum tak berbusana sekalipun, dsb. Film-film di televisi seringkali memasukan karnaval ini sebagai bagian dari ceritanya.
Tahun 2009 ini, Rabu Abu jatuh pada 25 Februari, maka Mardi Gras pada 24 Februari 2009. Apakah kita orang Kristen di Indonesia perlu mengadakan Mardi Gras seperti halnya masyarakat Indonesia merayapakan Happy Valentine 14 Februari? Saya kira tidak terlalu perlu dengan alasan sebagai berikut:
1. Mardi Gras, sekalipun bersifat sekuler, berhubungan dengan Rabu Abu dan masa berpuasa. Aneh rasanya, jika tidak berpuasa, tetapi merayakan makan daging terakhir kali.
2. Mardi Gras di negara-negara tersebut dewasa ini lebih dirayakan sebagai festival rakyat yang tidak berhubungan dengan Prapaska dan makan daging. Kalau hanya festival semacam itu, saya kira pawai 17 Agustusan juga sudah lama di Indonesia.

Tulisan ini bukan sebagai anjuran meniru mengadakan hal serupa di Indonesia. Namun kita dapat belajar bagaimana masyarakat menyelenggarakan sebuah perhelatan akbar. Semua pihak: tua-muda, perempuan-lelaki, kaya-miskin berbaur dalam Mardi Gras. Memang riskan tentang masalah keamanan di dalam kerumunan puluhan atau ratusan ribu manusia, tetapi selalu aman. Pencopetan kecil-kecilan tentu ada, tetapi itu juga karena keteledoran si korban. Juga menarik bahwa manajemen kebersihan kota selama berlangsungnya karnaval. Di belakang, sekitar 10 meter setelah barisan pawai terakhir, sepasukan penyapu jalan menyapu jalan. Sehingga, sekalipun puluhan atau bahwa ratusan ribu orang tumpah ruah di jalan, lingkungan tetap aman dan jalan-jalan tetap bersih. Masyarakat sendiri yang menjaga agar karnaval tersebut terus berlangsung setiap tahun.
Perhelatan besar, apa pun nama dan peristiwanya, membutuhkan bukan hanya manajemen yang canggih, tetapi juga kearifan massal.

Rabu, Januari 07, 2009

BEBAS FISKAL


TANTANGAN TAMBAHAN BAGI PARIWISATA INDONESIA

Oleh: Rasid Rachman

Tahun 2009 dibuka dengan kegembiraan berimbang yakni pembebasan fiskal sebagai konsekuensi dai wajib NPWP. Ini kabar baik yang berimbang - tak perlu dibesar-besarkan - namun sebuah tantangan tambahan bagi pariwisata di Indonesia.

Keberadaan objek wisata
Area tujuan wisata di Indonesia semakin hari semakin kecil lingkupnya, padahal negeri yang sangat luas ini menyimpan beribu dan beragam potensi pariwisata. Dibanding 10 tahun yang lalu, tujuan wisata semakin "berfokus" pada Bali dan Bunaken (Sulawesi Utara). Memang ada beberapa tujuan wisata yang bertahan, semisal Pulau Komodo, Gunung Anak Krakatau, Bromo, Tana Toraja, Lombok, Flores, dan Yogyakarya. Juga ada yang "baru" bangkit, semisal Raja Ampat (Papua) dan Karimun Jawa. Namun tidak sedikit objek wisata tanah air yang "mati suri", semisal: Carita, Danau Toba, Sumatera Barat, dan Pangandaran.

Bersamaan dengan itu, Lombok dan Tana Toraja dapat dikatakan mulai menyepi dalam 10 tahun terakhir ini. Kalimantan, Aceh, dan Nias sudah hampir tidak terdengar lagi geliat wisatanya. Jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke daerah-daerah tersebut semakin sedikit jumlahnya. Sebagai gambaran, Tana Toraja hanya dikunjungi oleh sekitar 200 ribu wisatawan asing sepanjang tahun; kurang lebih hanya 500 wisatawan perhari.

Beberapa objek wisata yang masih berpeluang dibangkitkan, misalnya cruise menyusurui Sungai Bengawan Solo, Musi, atau Mahakam. Jelajah Garut, Kuningan, dan Madura juga berpotensi pariwisata. Namun jangan dulu merencanakan untuk melahirkan objek-objek baru, karena objek-objek yang ada saja seringkali “dibunuh”.
Apa pasal pariwisata di Indonesia kian terpuruk?

Ada kendala intern mengenai sikap dan perilaku tuan rumah dalam menyambut wisatawan. Ada pula pola pikir “berat sebelah” tentang wisatawan hanya pada kelas berbintang.

Kendala intern
Tiada biang keladi yang pertama-tama patut dipersalahkan dalam mengelola industri pariwisata kecuali diri sendiri. Beberapa pihak mengeluhkan soal “ganasnya” para pedagang asongan dan vandalisme tangan-tangan jahil yang merusak keindahan objek wisata.

Orang berjualan tidak dapat dilepaskan dari pariwisata. Industri ini bukan hanya menjual objek wisata, semisal situs sejarah, festival atau perayaan, tetapi juga suvenir, makanan, dan minuman. Hal ini berlaku dalam pengelolaan pariwisata di mana pun di dunia ini. Hanya yang berbeda adalah cara menjajakannya. Kasus pedagang asong yang agak mendesak atau bahkan sedikit memaksa wisatawan di sekitar Candi Borobudur atau Kintamani-Bali, membuat perkunjungan wisata menjadi tidak nyaman.

Ketidaknyamanan bukan hanya dengan menempel terus wisatawan, tetapi juga dengan seloroh atau sapaan-sapaan yang membuat pengunjung sakit telinga, baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Semisal, “Koh, beli barang ini koh” (tidak semua orang bermata sipit dan berkulit kuning suka disapa dengan koh atau ci); “Bule, ini barang bagus dengan good price.” Seloroh dan sapaan-sapaan tersebut membuat kenyamanan pengunjung terganggu.

Keluhan wisatawan telah lama didengar oleh pengelola. Pembinaan kepada pengasong juga katanya selalu dilakukan. Namun kalau hal tersebut terus-menerus berulang setelah masa “jinak” beberapa saat, maka ini sudah menjadi masalah besar.

Sikap vandalisme di sini mulai dari tangan-tangan jahil dan kurang kerjaan yang mencorat-coret objek-objek wisata hingga pencurian. Kepada orang yang melakukan vadalisme seharusnya sudah dikenakan sanksi yang berat mulai dari perilaku vadalistis yang ringan. Memang ada pula pelaku vadalisme adalah wisatawan iseng. Mereka bukan murni wisatawan, tidak menjiwai akan arti berwisata, maka kelakuannya merugikan banyak orang dan objek itu sendiri.

Vandalisme juga menyangkut penghancurkan – alih-alih peremajaan – bangunan-bangunan lama atau kawasan tertentu. Alasan bahwa bangunan bergaya arsitektur Belanda atau Cina di Indonesia harus dihancurkan untuk diganti dengan bangunan yang baru sama sekali, semacam Mal atau perkantoran adalah tindakan naïve. Banyak negara yang memperoleh banyak keuntungan pariwisata dengan mempertahankan dan memelihara terus bangunan-bangunan atau kawasan kuno (old quarter), semisal Hoi-An di Vietnam atau Roma di Italia.

Masalah yang juga krusial adalah premanisme dan sikap memusuhi orang asing. Premanisme berkaitan dengan sikap liar masyarakat sekitar objek wisata yang terkena langsung dampak positif dari pariwisata di daerahnya. Sikap memusuhi atau sekadar tidak senang muncul dari masyarakat sekitar terhadap orang asing yang masuk ke daerahnya; masyarakat ini biasanya tidak terkena dampak positif langsung pengadaan pariwisata di daerahnya.

Premanisme berkaitan dengan pemerasan, pencurian, memanfaatkan dengan jahat ketidaktahuan wisatawan akan informasi, dsb. Ironisnya, para preman ini seringkali adalah mereka yang justru berada di dalam pengelolaan pariwisata. Semisal, sopir taksi yang menipu atau mengelabui penumpangnya, petugas parkir yang merusak kendaraan, pedagang yang mengganggu kenyamanan wisatawan, dan penjual makanan yang menaikan harga sehingga menjadi sangat tidak wajar. Premanisme bukan hanya membuat wisatawan tidak berkutik, tetapi juga kapok datang lagi. Bagi wisatawan domestik, kapok mereka bisa berlangsung belasan tahun. Kapoknya wisatawan mancanegara bisa berlangsung sangat lama karena info di buku-buku wisata mereka menuliskan Indonesia sebagai wilayah “merah” untuk pariwisata.

Tidak ada pariwisata yang tidak melibatkan banyak orang atau aspek lain dalam perekonomian, baik langsung maupun tidak langsung. Sikap tidak ramah atau bahkan memusuhi wisatawan dengan memandangnya sebagai mangsa akan merugikan masyarakat sendiri. Sikap sebagian masyarakat di Puncak, Bogor-Cianjur dan perbatasan Tawangmangu-Sarangan terhadap pengendara adalah contoh paling gamblang. Mobil wisatawan dirusak atau “dituduh” rusak akan membuat wisatawan berpikir dua kali untuk melewati kembali jalur tersebut.

Memasuki kompleks hotel di area Candi Borobudur sungguh tidak nyaman. Pihak manajemen membiarkan kamar-kamar hotel dikuasai oleh Satpam dan calo. Setiap pengunjung yang masuk halaman, bukan dibukakan pintu gerbang supaya calon tamu hotel dapat langsung berhubungan dengan Receptionist hotel, tetapi justru diinterogasi oleh Satpam atau calo: “Apakah sudah pesan kamar,” atau “kamarnya harus di-booking dulu, kalau tidak booking tidak ada kamar,” dsb. Ini bukan cara baik menyambut tamu.

Sepatutnya sikap tidak welcome ini dikikis karena sangat merugikan pariwisata. Merugikan pariwisata adalah kerugian bagi devisa negara. Padahal masuknya wisatawan akan melancarkan ekonomi rumah makan, penginapan, transportasi, dan oleh-oleh. Ketimbang menggangu mobil-mobil wisatawan, lebih baik memanjakan wisatawan dengan membuka tempat istirahat yang ramah.

Mengapa hanya kelas berbintang?
Garapan pariwisata hanya melirik wisatawan kelas berbintang. Memang wisatawan kelas berbintang adalah wisatawan yang tidak terlalu perduli dengan perbedaan harga, memajukan hotel-hotel bintang 4 dan 5, dan meningkatkan pendapatan restaurant mewah. Namun wisatawan kelas berbintang terkendala pada keamanan yang sangat rapuh di negeri ini dan masa tinggal yang tidak terlalu lama di suatu daerah.

Lantas, mengapa tidak melirik wisatawan kelas melati alias backpacker? Wisatawan ranselan ini “tahan banting”. Mereka mampu tinggal lama di suatu daerah, asal daerah tersebut menyediakan sarana pariwisata yang menarik. Dengan harga kamar sekitar 80-200 ribu rupiah, mereka bisa menghabiskan waktu 1 bulan di Indonesia. Hitunglah berapa rupiah sehari yang wisatawan ranselan ini berikan untuk roda perekonomian kita.

Keuntungan meningkatkan pariwisata
Slogan bahwa hidupnya parisawata adalah hidupnya masyarakat perlu terus didengungkan. Oleh karena karena ini, beberapa sikap perlu diambil oleh semua pihak di negara ini. Yaitu:

1. Pemerintah harus bersikap menahan dan mengendalikan tujuan wisata yang mengrucut pada Bali. Daerah-daerah lain harus tetap dipertahankan, dikembangkan, dan bahkan dilahirkan sebagai tujuan wisata di tanah air.
2. Tertibkan dan jinakan setiap pengganggu wisatawan. Mereka adalah virus kemajuan ekonomi dan pembangunan bangsa.
3. Manjakan secara proposional para wisatawan dengan menyediakan fasilitas murah-mudah-meriah dalam transportasi, akomodasi, dan informasi.
4. Berlakukan perekonomian pariwisata yang jujur.

Hal-hal ini niscaya dapat menarik wisatawan domestik dan mancanegara agar tidak melulu mencari tujuan wisata di luar Indonesia. Bebasnya fiskal seharusnya semakin mempergiat semua pihak di negara ini untuk memanjakan setiap wisatawan berwisata di dalam negeri. Karena “pariwisata maju, rakyat dapat hidup.”

Jumat, Oktober 03, 2008

IMITASI

Sebuah Karya Kreatif Anak-anak Manusia di Muka Bumi

Oleh: Rasid Rachman

Tentu saja, manusia modern memerlukan banyak hal yang imitasi, sekalipun tidak mutlak untuk semua hal. Yang penting harus jelas, mana yang asli dan mana yang imitasi, sekalipun barang imitasi seringkali “memperlihatkan sendiri” keimitasiannya. Katakanlah: mata imitasi, gigi imitasi, rambut imitasi, tulang imitasi, kaki imitasi, jantung imitasi. Sesehari, benda-benda imitasi yang banyak gunanya tersebut selalu disebut palsu: mata palsu, gigi palsu, tulang palsu, kaki palsu, jantung palsu, padahal benda-benda tersebut jelas adalah imitasi.
Imitasi (imitatio) artinya tiruan atau contoh. Dalam fungsinya, imitasi seringkali menjadi pengganti. Sesuatu diimitasi karena yang asli tidak lagi berfungsi, hilang, atau rusak. Imitasi jelas berbeda dengan palsu. Imitasi adalah hasil karya kreatif manusia, dan banyak yang berguna bagi manusia. Bayangkan apabila tidak ada kaki imitasi atau gigi imitasi (toothlike), atau manusia tidak menciptakan kuda imitasi yang bernama sepeda motor. Setiap calon pilot membutuhkan latihan dengan menggunakan kokpit imitasi atau pesawat simulasi sebelum menerbangkan pesawat sesungguhnya ke angkasa. Demikian pula siswa sekolah menengah yang mengenal dan mempelajari anatomi tubuh manusia melalui alat peraga di kelas, yakni imitasi tubuh manusia. Rambut imitasi berguna bukan hanya bagi penampilan, tetapi juga bagi mereka yang karena sakitnya menjadi tidak berambut. Jelas, imitasi sangat berguna bagi kehidupan manusia, teknologi, dan ilmu pengetahuan.
Imitasi akan menjadi persoalan besar jika diselewengkan fungsinya. Semisal istri atau suami imitasi sementara istri atau suami tidak lagi berfungsi atau hilang atau meninggal dunia. Istilahnya, selingkuh tidak setia pun tidak.
Imitasi juga akan menjadi persoalan jika barang imitasi diperlakukan sebagai barang tulen. Misal, kaki imitasi digunakan dengan tuntutan secanggih kaki tulen tentu dapat membuat pemiliknya frustrasi. Klep jantung imitasi tentu harus digunakan terbatas pada kemampuannya sebagai imitasi. Mata imitasi tidak secantik mata asli, tentu. Selama benda-benda imitasi itu diperlakukan secara proporsional, niscaya langgeng.
Imitasi diberlakukan dalam beberapa tingkat, dari terendah hingga tercanggih. Pada tingkat sesehari, imitasi suara binatang atau alam kerap digunakan untuk kepentingan musik, drama, atau film. Dalam tingkat yang tinggi, imitasi dapat berupa kloning, baik kloning hewan maupun mungkin akan menjadi kloning manusia. Soal berterimanya kloning manusia, menurut beberapa pendapat, adalah hanya soal waktu saja.

Rabu, September 24, 2008

DI NEGERI KITA: INDONESIA

NYAWA MANUSIA SETARA BARANG PALSU

Oleh: Rasid Rachman

Barang-barang palsu kembali mencuat di negeri ini. Akibatnya, ia juga mencoreng wajah indah nan elok permai negeri jambrut di khatulistiwa ini. Daging sapi palsu karena digelondong sebelum mati dan daging ayam palsu karena digelondong setelah mati meramaikan pasar-pasar kita.
Negara kita memang negara yang kaya akan kepalsuan. Lihat saja beberapa istilah yang menunjukkan kepalsuan: “aspal” untuk asli tapi palsu, “sepanyol” (bukan Spanyol) untuk separoh nyolong, barang haram (bukan makanan), asbun untuk asal bunyi, membohongi publik, plagiat, nyontek, oplos, dsb. Semua istilah dan terminologi tersebut berkaitan dengan hasil karya tipu menipu, mengelabui, bicara asal nyecplos, dan kerja asal-asalan. Hal-hal tersebut berhubungan dengan dunia pendidikan: ijazah aspal, gelar aspal, doktor plagiat, disertasi hasil plagiat; makanan: daging gelondongan, makanan kadaluarsa, tanggal kadaluarsa palsu, zat pengawet, zat pewarna pakaian, sampah daging, telur asin palsu; obat: obat kadaluarsa; minyak: solar oplosan, oli oplosan; moneter dan dokumen: uang palsu, SIM palsu, SUPERSEMAR beda versi, manipulasi data; orang: dukun palsu, dokter palsu, polisi gadungan; dsb. Ini belum termasuk para tukang tipu yang memberi janji palsu di iklan berhadiah palsu, penipu di telepon selular, berita palsu tentang ramalan atau nubuat, janji kampanye palsu, dsb. hal ini dapat dibandingkan dengan kisah di Alkitab, ada nabi palsu di Perjanjian Lama dan pengajar palsu di Perjanjian Baru; tetapi memang tidak ada barang palsu.
Memalsukan tampaknya soal main lihai-lihaian semata, namun ujung atau akibat dari berbagai kepalsuan tersebut adalah nyawa manusia. Oleh karenanya, menciptakan suatu yang palsu jelas bukan kreativitas dan bukan seni, tetapi kriminalitas. Bayangkan saja, jika orang batuk kemudian menelan obat kadaluarsa. Bukannya sembuh, dia malah menjadi lebih parah karena keracunan obat kadaluarsa tersebut. Atau, orang dengan dana pas-pasan ingin mengadakan sedikit pesta dengan membeli daging yang memakai label murah padahal daging itu mengandung bahan kimia berbahaya bagi tubuh. Korbannya adalah sekian banyak orang yang berpesta dan makan daging tersebut. Jelas, memalsukan sesuatu adalah sebuah kejahatan. Atau, bagaimana jika dokter yang akan mengoperasi Anda adalah dokter palsu, padahal Anda baru saja tahu ketika sudah mulai dibius di kamar operasi. Belum lagi yang “kecil-kecilan”, tetapi jelas merugikan seperti dalam kasus uang palsu yang sangat besar jumlah kasusnya di negara kita.
Pada sisi lain, pemalsuan yang dibuat oleh ulah bangsa sendiri mengingatkan betapa sangat tidak berharganya nyawa manusia di negeri ini. Ternyata, negeri yang katanya ramah tamah ini sangat meremehkan manusia dan kemanusiaan. Ancaman bagi Indonesia saat ini adalah bukan serangan militer, ekonomi, dan kebudayaan dari negara luar, tetapi bunuh membunuh di antara sesama anak bangsa sendiri. Tragis! Bagi saya, membuat kepalsuan adalah laksana aborsi bagi Bunda Teresa. Bunda Teresa dari Kolkata berkata: “Banyak orang prihatin dengan anak-anak India dan Afrika yang mati karena malnutrisi, kelaparan, dsb., tetapi jutaan anak mati karena keinginan orangtuanya. Jika orangtua dapat membuang dan membunuh bayinya sendiri, apa lagi yang tersisa?” Di tempat lain ia mengatakan: “Kita takut akan perang nuklir dan penyakit baru: AIDS, tetapi kita tidak pernah takut akan pembunuhan bayi-bayi yang tak bersalah. Saya berpikir bahwa masalah terbesar adalah aborsi yang telah menjadi perusak perdamaian terbesar dewasa ini.” Jika kepalsuan terus menerus diberlakukan, niscaya bangsa kita ini akan hancur oleh ulah kita sendiri.

Jumat, April 04, 2008

DI TENGAH KEMACETAN JAKARTA, SAYA MEMILIH



NAIK MOBIL SAJA!



Oleh: Rasid Rachman



"Saya memilih naik mobil saja." Begitu jawab saya apabila saat ini saya diminta memutuskan untuk bepergian ke atau di Jakarta. Saya memilih naik mobil pribadi. Alat transportasi yang dapat digunakan di Jakarta dan milik orang Jakarta dan sekitarnya memang cukup beragam, dari yang paling murah dan malu-maluin kalau ditumpangi sampai yang paling bergengsi. Ada sepeda, becak, sepeda motor, bajaj, mobil, bis dan kereta. Ada kendaraan priabdi, ada kendaraan umum. Pertanyaan, seberapakah memuaskannya atau mengecewakannya alat-alat transportasi tersebut bagi pengguna dan pemiliknya?

1. Sepeda
Ada dua jenis alat transportasi bersepeda di Jakarta, yaitu: ojek sepeda dan sepeda pribadi. Semua orang tahu bahwa sepeda adalah alat transportasi paling ramah lingkungan, nir-BBM, dan menyehatkan. Untuk jarak lebih daripada 3 km, bersepeda memang melelahkan, tetapi menyegarkan badan karena ada unsur rekreasi dan olahraga. Dengan bersepeda, kita dapat berolahraga sekaligus menuju tempat kerja. Olah raga selesai, kita pun tiba di kantor. Hanya sayangnya, tata kota dan akses antar kota di Jabodetabek tidak menyediakan sarana untuk berkendara sepeda. Para pengelola perkantoran pun tidak menyediakan parkiran sepeda yang nyaman dan aman; hingga awal tahun 1970-an, masih banyak sekolah dan perkantoran yang menyediakan sarana parkir sepeda. Para pengendaraan kendaraan bermotor pun tidak memperdulikan sepeda. Kampanye bike to work yang dilakukan oleh segelintir orang rupanya masih jauh dari penerapan masyarakat yang bersepeda untuk pergi ke tempat kerja. Sebenarnya, udara kota akan menjadi bersih apabila mayoritas masyarakatnya banyak bersepeda untuk bekerja.

2. Becak
Dalam beberapa hal, becak lebih memadai daripada sepeda. Becak dapat dimuati oleh 2 orang dewasa atau 3 anak, berpelindung panas dan hujan, transportasi yang cocok juga bagi kaum lanjut usia, anak, orang sakit, hewan, dan barang. Pada waktu banjir, becak sangat efektif untuk alat mengungsikan manusia dan sepeda motor. Bandingkan dengan ojek sepeda yang hanya dapat mengangkut 1 orang dewasa (umumnya laki-laki) di bawah ketidaknyamanan karena panas dan hujan. Sayangnya, pemerintah telah melarang becak beroperasi di Jakarta. Alasannya, tidak manusiawi.
Tanah Jakarta yang datar sangat cocok untuk sepeda dan becak, selain menjaga kebersihan kota dan mengurangi kecelakaan lalu lintas. Ketimbang angkong (ricksha), atau menutup satu lagi kesempatan masyarakat untuk mencari nafkah, becak masih jauh lebih manusiawi dan demi hajat hidup orang banyak karena nir-BBM (tanpa bahan bakar minyak). Untuk menempuh jarak 1-4 km dengan 2-3 orang, becak merupakan sarana transportasi efektif, sekalipun agak mahal.



Angkong di Kolkata, India (2003)


3. Sepeda motor
Seperti halnya sepeda di atas, alat transportasi ini pun terbagi dalam dua jenis, antara lain: ojek motor dan motor pribadi. Kelebihan kendaraan ini dibanding dengan yang lain adalah kegesitannya dan kecepatannya dibanding sepeda atau becak. Sekalipun tidak terlalu murah dan tergantung pada BBM, namun kendaraan ini jauh lebih praktis. Lalu lintas di Jakarta akan lebih lengang, namun sedikit semrawut apabila sepeda motor terlalu banyak. Juga harus dipikirkan suara knalpot motor yang nyaring yang tentu menjadi polusi tersendiri bagi masyarakat. Bagi masyarakat, harga sepeda motor relatif terjangkau bagi masyarakat menengah bawah.
Namun kendaraan ini memiliki banyak kelemahan. Pada cuaca: panas, kepanasan dan hujan, kehujanan. Selain itu, resiko celaka bagi pengemudi dan pembonceng cukup besar dan resiko kehilangan bagi pemilik motor cukup besar. Suspensi sepeda motor cukup keras, sehingga pengendaranya harus siap dibanting-banting selama berkendara dan menyebabkan badan menjadi lelah dan konsentasi melemah. Untuk menempuh jarah lebih jauh daripada 15 km, pengemudi menjadi lebih lelah. Belum lagi, pengemudi sepeda motor selalu terancam masuk angin, tersengat sinar matahari, dan kemasukkan asap knalpot kendaraan.

4. Bajaj, bemo, dan kancil
Sedikit perbadaan sarana angkutan ini dengan becak adalah kecepatannya. Namun bemo (becak-motor) lebih murah karena dapat mengangkut 7 penumpang selain supir sekaligus. Namun berbeda dengan negara tetangga: Filipina, yang melestarikan jeepney dan menjadikannya salah satu ikon kendaraan nasional, pemerintah kita justru meniadakan bemo sejak beberapa puluh tahun lalu. Hingga kini masih ada bemo untuk jarak dan rute yang sangat terbatas di Jakarta, namun jumlahnya semakin berkurang. Bemo pun semakin tidak laik jalan, karena sulitnya mencari suku cadang kendaraan tua ini sehingga terjadi kanibalisme di sana-sini.
Bajaj dan kancil sebetulnya cukup efeksif dan efisien, walaupun agak mahal dan kurang nyaman karena suaranya yang nyaring. Tahun 1970-an ada pula beberapa “saudara” bajaj yaitu: helicak, minicar, dan mobed. Namun semuanya lenyap dari bumi Jakarta. Hanya saja bajaj menjadi kendaraan terlalu besar jika hanya dimuati oleh 1 penumpang. Berbeda dengan di kota Kolkata-India, bajaj dimuati oleh 3-4 orang dengan tujuan sama dan mereka yang tidak saling kenal satu sama lain.

5. Mobil
Yang termasuk jenis ini adalah: mobil pribadi, taksi, dan mikrolet. Taksi adalah angkutan yang selalu ada, tetapi mahal. Naik mobil pribadi, apalagi jika hanya dimuati oleh 1-2 orang, juga mahal. Harga bensin yang tidak murah lagi, belum resiko terjebak macet dan lagi apes tertangkap polisi di jalur 3 in 1. Mikrolet memang murah, namun ada resiko kecopetan, kehabisan mobil tumpangan, dan keterbatasan trayek. Lagipula, penumpang tidak bebas membawa banyak barang bawaan.
Memang naik mobil pribadi mahal, tetapi masih lebih murah daripada ongkos taksi. Kendalanya: ongkosnya menjadi lebih mahal lagi jika mobil diparkir di lahan parkir seharga Rp 3 ribu/jam. Kendala lain, pengemudi ikut stres jika terjebak macet.


Taxi dan trem di Kolkata, India (2003)
6. Bis
Angkutan massal yang mudah pengadaannya adalah bis. Dibanding trem di zaman Belanda dahulu, bis lebih “praktis” karena mudah dan cepat diatur ulang trayeknya. Naik bis untuk kondisi Jabodetak saat ini adalah ideal, asal tertib berhentinya, teratur jadwalnya, aman dan nyaman di dalam tanpa copet dan pengamen, jumlah tempat duduk cukup untuk semua penumpang ke dan di Jakarta. Artinya, asal ada penambahan jumlah armada dan kendaraan yang laik jalan.
Naik bis adalah ideal, karena murah. Namun kondisi bis – kecuali Transjakarta saat ini – di Jabodetabek sangat memprihatinkan. Bukan hanya bisnya yang tidak laik jalan, kadang-kadang pengemudinya pun tidak layak mengendarai karena menjadi ancaman tersendiri baik bagi penumpang maupun pengguna jalan yang lain.
Untuk sementara Transjakarta masih menjadi primadona bis, namun ia tidak menampilkan seperti idealnya bis kota. Jumlah armadanya sedikit, jalannya mulai diserobot kendaraan-kendaraan lain, fasilitas pendukungnya pun mulai rusak dan membahayakan.

7. Kereta
Semua orang tahu bahwa alat transportasi massal dan paling murah adalah kereta. Ratusan penumpang dapat diangkut sekaligus dan cepat. Di negara-negara lain yang pemerintahnya bertindak demi masyarakat luas, kelebihan moda angkutan ini ditambah dengan lebih cepat, lebih aman, lebih nyaman, dan dijamin tersedia hingga hampir tengah malam. Sayangnya di Jabodetabek penumpang kereta ditempatkan di atas hewan ternak dalam arti sebenarnya; hewan di dalam gerbong, sementara orang di atap gerbong. Hal ini menggambarkan bahwa pemerintah tidak memedulikan kereta sebagai moda angkutan massal yang efisien. Pemerintah juga tidak memperlakukan masyakat pengguna sebagai “raja”, penambah beban. Akibatnya, jalur dan stasiun kereta tidak dimanfaatkan secara efektif. Setelah waktu pergi-pulang kerja, jalur kereta dalam kota lebih banyak kosongnya, padahal jalan-jalan lain macet dengan aktivitas masyarakat berlalu-lintas.

Pilihan masyarakat
Hasil othak-athik-athuk, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan sebelum memutuskan. Pertama, masyarakat Jakarta cenderung mempertaruhkan hidup manusia secara hierarkis. Misalnya: sepeda adalah kendaraan yang paling tidak dianggap; mobil pribadi adalah kendaraan yang harus selalu difasilitasi dengan berbagai kemudahan akses; di wilayah tertentu ada raja jalanan; atau naik kendaraan yang satu lebih bergengsi ketimbang kendaraan yang lain. Hierarki ini bukan sekadar gengsi, tetapi masalah keselamatan berkendara. Artinya, mobil menyenggol sepeda atau sepeda motor masih dianggap lumrah ketimbang mobil menyenggol mobil atau bis. Oleh karenanya, nyawa pengemudi motor “lebih murah” ketimbang nyawa si pengemudi sedan.
Kedua, ada pilihan antara kendaraan pribadi dan kendaraan umum. Naik kendaraan umum, sangat tergantung pada trayek, ongkos yang lebih besar, waktu-waktu operasional kendaraan, siap membuang waktu karena kendaraan ngetem, siap berganti kendaraan beberapa kali sebelum tiba di tujuan, belum termasuk resiko kecopetan, diturunkan jauh sebelum terminal, atau tidak mendapat tempat duduk. Naik kendaraan pribadi, harus membelinya. Ada yang murah tetapi terbatas jarak tempuhnya seperti sepeda, atau yang mahal asal punya cukup uang. Selain harus merawat kendaraan pribadi, kita akan susah “hati” kalau sampai kehilangan kendaraan kesayangan. Jadi kendaraan jarak jauh untuk melakukan aktivitas ke dan di Jabodetabek adalah tidak termasuk sepeda. Yang lain, oke atau masih dianggap bisa.
Pencantuman judul tulisan ini tadinya membuat saya jengah. Masak sih saya egois memilih naik mobil pribadi, sementara orang-orang lain bersusah payah naik kendaraan umum. Namun setelah saya berpikir, ternyata yang egois itu bukan hanya saya. Para pejabat dan orang-orang di atas saya juga memilih naik mobil pribadi ketimbang kendaraan umum. Apalagi, naik mobil pribadi lantas dengan pengawalan pembuka jalan sehingga bisa kebut di jalan-jalan Jakarta. Orang-orang itu bahkan tidak pernah percaya pada laporan masyarakat bahwa Jakarta itu macet, karena bagi mereka Jakarta selalu lengang.
Anehnya, orang-orang yang tidak atau belum memiliki mobil pribadi pun maunya naik mobil pribadi untuk melakukan aktivitas di Jakarta. Kalau selama ini mereka naik kendaraan umum atau sepeda motor, hal itu hanya karena keterpaksaan dan tidak ada pilihan. Kalau boleh memilih, saya sangat yakin bahwa mereka memilih naik mobil pribadi, atau minilai motor pribadi.
Dalam kondisi Jabodetabek masih seperti saat ini, saya memiih naik mobil pribadi. Enak! Tak perlu ganti-ganti kendaraan, bebas waktu untuk berjalan dan berhenti, tidak ada tukang mengamen – kecuali masalah kecil di lampu-lampu lalu lintas – nyaman dan aman sejauh tidak mogok. Memang dengan mobil pribadi, ongkos menjadi lebih mahal, tetapi naik taksi jauh lebih mahal lagi. Bahkan jika dengan naik bajaj, ongkos naik mobil tidak terlalu jauh selisihnya. Maka sangat beralasan bahwa Jakarta selalu macet, bahkan di hari libur. ©

Jumat, Februari 08, 2008

BIOPORE






By : Rasid Rachman

We just made biopore-hole at home. Biopore-hole is a trying to make soil fertile by digging a ten centimetre middle line of hole. People make biopore-holes on land or in garden around habitat or city garden. You could make the distance among one hole to another each 100 centimetre. The aim of making biopore-hole is to loosen soil in order that rain-water could easily get into soil. Yes, this is about environment.
We are concerning to the flood problem around Jakarta nowadays and nature damage, we are concerning to recycle the organic rubbish to be a compost, and we are gardening as well. We are satisfied that from our small house and small garden could make ourselves involve in green campaign.





We are really aware with the benefit of biopore. That’s why we encourage digging some holes. Not only my wife and I, but our mother employee also love drill some new holes by our biopore-drill. She even has finished more holes than we have had. After finished one hundred centimetre of biopore-hole, we put one small chamber plantation at top of the hole to just in case nobody accident.
The biopore-hole are contented by us with organic rubbish every day. After three weeks, the rubbish will become compost. You could use compost to fertilize your plantation. Some other people even create compost to be their rice-winner. We get some benefits of biopore-holes, such as decrease rubbish from our kitchen, green environment, fertilizer soil, and hopefully no more flooding. ®

Jumat, Januari 11, 2008

STOP MEMBUAT SAMPAH!

Oleh: Rasid Rachman

Bagi beberapa masyarakat modern, sampah tetap menjadi momok. Hal ini dialami oleh masyarakat yang tinggal di negara yang belum dapat memanfaatkan sampah menjadi energi atau potensi besar bagi negara. Namun bagi masyarakat yang tinggal di negara yang telah dapat mengolah sampah, momok nenek moyang akan bencana sampah telah lama ditinggalkan. Sampah justru menjadi berkah tersendiri.
Sayangnya, kita tinggal di jenis negara pertama. Beberapa kali dalam waktu yang tidak berselang lama kita mengalami momok sampah tersebut. Masalah-masalah sampah yang terjadi di Surabaya, Jakarta, dan Bandung masih lekat dalam ingatan kita. Padahal beberapa pengamat mengatakan bahwa hal tersebut tidak seharusnya terjadi di negara besar seperti Indonesia ini. Artinya, timbulnya masalah tersebut bukan keteledoran atau human error, melainkan kekeliruan pola pikir, gaya hidup, dan metode kerja masyarakat kita.

Membuat sampah
Sangat berbeda dengan segala makhluk lain, manusia adalah makhluk pembuat sampah. Manusia membuat sampah melalui alat dan perlengkapan makanan yang dikonsumsi, pakaian yang digunakannya, tempat tinggal, alat produksi, dsb. Untuk bepergian, manusia membuat sampah bahan buangan kendaraan bermotor. Pokoknya, sangat sulit membuktikan bahwa manusia bukan makhluk pembuat sampah.
Sifat rakus, mau enak, dan tak terpuaskan menyebabkan manusia menjadi pembuat sampah dalam hidupnya. Banyak perusahaan dan perkantoran modern yang dengan mudah membuang kertas hanya untuk mengirim memo sesehari kepada karyawan, menggandakan berlembar-lembar kertas hanya untuk membuat koreksi notulen, dan menggunakan amplop baru untuk mengirim kwitansi ke rekannya di ruang sebelah. Restoran dan super market terlalu banyak menggunakan bahan plastik tanpa membiasakan konsumen membawa sendiri kantong plastik bekasnya. Bahkan ke pasar tradisional, sudah kurang lazim orang membawa keranjang belanjaannya sendiri. Sepuluh tahun lalu orang masih terbiasa menjinjing belanjaannya ke pasar tradisional.
Apakah urgensinya membahas sampah rumah tangga dan sesehari? Tampaknya hal-hal tersebut tidak besar; kenapa harus dipermasalahkan? Notulen rapat 4 lembar hanya digandakan 4 kali, baru 16 lembar. Pulang berbelanja, seseorang hanya membawa 4 kantong plastik baru; tidak banyak. Namun coba saja menghitung dengan seksama jumlah itu berdasarkan jumlah perusahaan dan pengunjung pasar. Kalau 10 ribu perusahaan dan perkantoran di Jakarta menggandakan notulen rapatnya, maka 160 ribu lembar atau kira-kira 400 rim kertas terpakai. Kalau 3 juta orang di Jakarta yang berpendudukan sekitar 10 juta ini berbelanja dalam sehari, maka 12 juta kantong plastik terpakai. Itu baru koreksi notulen dan kantong belanjaan, belum makanan dari restoran, akta-akta, katabelece, amplop, dll. Dalam sehari, akan kita dapatkan jumlah yang sangat fantantis.
Pembuatan sampah oleh manusia belum lagi termasuk sampah-sampah dari perangkat tekhnologi zaman ini. Barang-barang elektronik, baik yang bersifat hiburan maupun pembantu kebutuhan rumah tangga, akan menjadi sampah dalam 5-10 tahun. Dampak dari menurunnya barang-barang mewah atau tertier menjadi kebutuhan sekunder di zaman ini adalah terciptanya sampah-sampah baru bagi dunia.

Akibatnya
Untuk jangka panjang, membuat sampah berakibat jauh lebih besar ketimbang membuang sampah. Potensi bumi diambil untuk membuat suatu barang kebutuhan manusia. Setelah digunakan, barang itu dibuang ke tempat sampah. Sampah itu, jika tidak dapat diolah, menjadi beban baru bagi bumi. Jadi, sudah berapa potensi bumi yang dikuras untuk kebutuhan manusia, dan baru berapa potensi sampah yang diproduksi untuk hidup manusia?
Pada gilirannya, manusia sendiri yang mendapatkan akibat dari membuat sampah tersebut. Banjir, bau busuk, dan rusaknya pemandangan alam menjadi salah satu bukti akibat sampah. Munculnya bibit-bibit penyakit baru di dunia juga perlu diperhitungkan. Belum lagi lahan besar yang harus disediakan untuk “menyimpan” sampah produk manusia. Juga harus dimasukkan dalam kalkulasi dana membersihkan dan membasmi akibat-akibat sampah tersebut. Kerugian yang ditanggung – termasuk dana untuk pengobatan dan perawatan pasien sakit karena sampah – cukup besar. Roda perekonomian negara bisa-bisa cuma untuk memelihara “kelangsungan sampah” dan akibatnya tanpa timbal balik pemasukan.
Padahal naluri manusia untuk mengolah sampah sangat kecil dibandingkan makhluk-makhluk lain di planet ini. Di alam semula jadi, tidak ada makanan yang menyisakan sampah. Pada hewan tidak ada sifat rakus, sehingga hewan tidak membuat sampah. Singa dan dubuk (hyena) dapat makan satu kerbau bersama-sama; sisa kerbau dimakan oleh burung pemakan bangkai dan ulat. Sementara tidak sedikit manusia yang tidak mau secukupnya; kalau bisa makan dan menimbun sebanyak-banyaknya, mengapa menyisakannya. Oleh karenanya perlu kesadaran dari manusia untuk mengurangi kebiasaan membuat sampah.
Mungkin hewan adalah makhluk pembuang sampah sembarangan, tetapi hewan tidak membuat sampah. Kulit atau kotoran yang dibuangnya merupakan hukum alam sebagai pupuk untuk menyuburkan tanah dan penyebaran biji tanaman buah-buahan. Sementara manusia, karena budayanya, belum tentu pembuang sampah sembarangan, namun jelas ia adalah pembuat sampah. Apalagi manusia yang tidak berbudaya: pembuang dan pembuat sampah sekaligus.

Membuang dan mengolah sampah
Selain mendaur ulang sampah, sikap yang sangat perlu diterapkan adalah mengurangi kebiasaan atau mengatur naluri membuat sampat. Pendaur ulang, jasa pemulung dan tukang loak, tidak banyak membantu mengurangi timbunan sampah. Selain karena tingginya harga yang digunakan, juga akan pola pikir masyarakat yang masih jauh untuk menjaga kondisi sampah agar tetap “baik”. Yang dimaksud, misalnya memilah sampah basah dari sampah kering, tidak membakar sampah, tidak membakar ban bekas hanya untuk unjuk rasa, dsb. Sampah yang dapat didaur ulang masih sangat sedikit dibanding sampah yang menjadi rusak sama sekali. Oleh karena itu, mengurangi kebiasaan membuat sampah adalah hal terpenting dan mendesak dewasa ini.
Mengurangi kebiasaan membuat sampah melibatkan beberapa pihak, antara lain: pemerintah, masyarakat industri, dan masyarakat pemakai. Ini bukan hanya tugas satu pihak, melainkan semua pihak, sebab sampah merupakan kelangsungan hidup manusia.
Pemerintah, selain sebagai pemberi teladan, juga harus terus menerus mengampanyekan STOP MEMBUAT SAMPAH. Melalui Undang-undang Anti Sampah, pemerintah dapat mendukung usaha swasta yang memproduksi barang-barang elektronik daur ulang. Masyarakat yang pandai memanfaatkan sampah dengan membuat kompos, menciptakan barang berpotensi, dan barang produksi, harus sangat dihargai; kalau perlu berikan bintang dan piala semacam kalpataru. Masyarakat kreatif yang memanfaatkan sampah – dari TV bekas menjadi TV rekondisi, misalnya – jangan cuma dituding ilegal, tetapi sebaliknya, mereka harus dilindungi dari para pesaingnya. Setelah publikasi menarik di harian-harian tentang sekelompok masyarakat pengendara sepeda pergi ke kantor, sepantasnyalah pemerintah lebih mendukungnya dengan menyediakan jalan khusus sepeda di kota-kota besar. Becak seharusnya diizinkan untuk daerah perumahan karena sampah yang dibuatnya jauh lebih kecil ketimbang kendaraan bermotor. Tanpa peran pemerintah sebagai motivator dan pelindung kampanye STOP MEMBUAT SAMPAH, kelangsungan hidup manusia tidak akan terjamin dalam dua dekade mendatang.
Masyakat industri yang seringkali dituding sebagai pembuat sampah dan pencipta polusi terbesar harus disertai dengan sikap tegas, baik dalam hal mengolah bakal sampah maupun terhadap aparat yang bermain-main dengan Undang-undang Lingkungan Hidup. Perusahaan dan industri harus membuat anggaran daur ulang dan sedapat mungkin mengurangi membuat sampah industri termasuk pemakaian listrik dan bahan bakar. Terhadap tangan-tangan jahil yang terbiasa meminta sebagian anggaran, laporkan saja kepada yang berwajib. Lebih baik gunakan angaran tersebut untuk mengolah sampah dan membina kerja sama dengan industri rumahan atau kecil dalam memanfaatkan bakal sampah.
Selain orang kebanyakan atau rakyat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan Lembaga Agama juga termasuk masyarakat pemakai barang konsumsi dan penghasil sampah. Pada mereka, atau pada kita, harus ada tanggung jawab terhadap tak terkendalinya terciptanya sampah. Ketimbang sensor paha dan dada, lebih baik kampanye stop menjadi pembuat sampah. Film atau iklan yang aktornya merokok sudah dilarang, kini film dan iklan yang aktornya dalam aksinya “rajin” membuat dan membuang sampah sembarangan juga sudah harus dilarang. Kita masih menunggu perang dan unjuk rasa para LSM yang tidak cuma pandai membakar ban, foto, dan bendera.
Lembaga Agama juga harus mewartakan hal-hal horinsontal ini. Agama jangan cuma perduli pada akhlak dan prilaku seksual, tetapi mengabaikan akhlak seenaknya pembuat sampah. Surat-menyurat, publikasi, notulensi, lembar pendidikan umat, dsb. – pokoknya masih dalam taraf sebelum final – dapat menggunakan kertas bekas. Ingat, kertas berasal dari pohon, bukan dari sorga. Pasti, ada ayat-ayat Kitab Suci dari tiap agama yang mendukung kampanye lingkungan hidup, tinggal bagaimana para agamawan menafsirkannya.
Masyarakat rumahan juga layak ikut menjaga barang: kertas, plastik, karet, dan bahan bakar. Selain listrik dan gas atau minyak serta sisa makanan yang – bagi orang-orang tertentu terbiasa melakukannya - membiasakan diri menggunakan satu kertas untuk berbagai keperluan sebelum menjadi sampah sejati adalah pembiasaan yang perlu diterapkan dalam rumah tangga. Tampaknya sepele, namun ada sekitar 4 juta rumah tangga di Jakarta saja. Pemborosan 100 watt listrik saja berarti pemborosan 400 juta watt hanya untuk listrik – betapa besar! Harus ada kampanye “Hemat Membeli, Hemat Membuat Sampah”. Pemborosan itu dimulai dari hal-hal yang terlihat kecil, semisal sampah dari rumah-rumah tangga.

Tugas bersama
Pada kita semua terletak tanggung jawab majunya negara yang telah memproklamasikan kemerdekaannya hampir 63 tahun lalu. Usia proklamasi Republik Indonesia ini kira-kira tidak jauh berbeda dengan Filipina, Taiwan, Singapura, India, bahkan Jepang sendiri. Masyarakat di negara-negara itu sudah sadar akan perlunya mengendalikan diri untuk membuat sampah. Masakan kita belum dapat mengurus sampah sendiri, padahal kita memiliki banyak ahli di bidang lingkungan hidup.
Memang tidak mungkin menghentikan sama sekali membuat sampah. Bukankah kita setuju bahwa manusia adalah makhluk pembuat sampah. Namun kesadaran untuk mengurangi membuat sampah adalah perlu. Dengan mengurangi naluri dan kebiasaan membuat sampah, kita turut menjaga kelangsungan planet bumi melalui hidup sejahtera tanpa banjir, bau busuk, dan bibit penyakit baru. Di samping itu, dampak buruk ekonomis karena sampah dapat ditekan dan dialihkan menjadi berkat karena menjaga lingkungan. °