Tampilkan postingan dengan label musafir jemaat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label musafir jemaat. Tampilkan semua postingan

Senin, Februari 14, 2011

KITA ADALAH MATA RANTAI DI DALAM SEJARAH GEREJA TUHAN

Oleh: Rasid Rachman

Orang Yahudi biasa merayakan Paska dengan mengadakan perjamuan malam. Perjamuan di meja rumah tersebut hanya dihadiri oleh keluarga dekat atau kerabat. Sementara ritus perjamuan berlangsung – bisa selama 4 jam – mereka mengadakan percakapan tentang awal masuknya para bapa leluhur ke tanah Mesir dan Israel. Sebagian ritual tersebut adalah sebagai berikut:

Seorang anak terkecil dalam komunitas bertanya kepada bapaknya, begini: “Pada malam lain kita makan roti beragi atau roti tak beragi, tetapi malam ini mengapa hanya roti tak beragi? Pada malam lain kita makan semua jenis sayuran, tetapi malam ini mengapa hanya sayur pahit? Pada malam lain kita makan makanan yang dimasak, dipanggang, atau direbus, tetapi mengapa malam ini hanya makanan yang dipanggang? Pada malam lain kita mencelup satu kali, tetapi mengapa malam ini mencelup dua kali?”
Semua pertanyaan ini merupakan isyarat bagi sang bapak untuk menjelaskannya dengan haggadah (= kisah, mengisahkan cerita dengan cara melantunkannya) Paska.

Haggadah adalah pengisahan untuk mengenang sejarah Israel, sehingga yang hadir terlibat kembali di dalamnya seperti yang dialami oleh nenek moyang mereka. Lazimnya, sang bapak membuka kisahnya dengan kalimat: “Bapakku dahulu seorang Aram, seorang pengembara. Ia pergi ke Mesir dengan sedikit orang saja dan tinggal di sana ” (dan seterusnya seperti tertulis dalam Ul 26:5-6). Pengisahan tersebut begitu menarik bagi yang hadir, sehingga semua orang terlibat di dalamnya. Itulah sebabnya, haggadah adalah ritus tetap dalam perjamuan Paska orang Yahudi.
Kita dapat belajar dari umat Israel akan momen memperingati, yakni dengan Haggadah. Berefleksi dari masa kini dengan berangkat dari masa lalu untuk mengarah ke masa depan. Masa lalu dikisahkan demi masa kini dan masa sehingga menjadi hidup. Masa lalu bukan sekadar menjadi nostalgia semata.
Tahun 1994 – 1999 di Delima adalah masa orang-orang tertentu bermemori dan bernostalgia. Lihat saja cerita-cerita dan foto-foto ulang tahun di masa itu. Semuanya adalah tentang orang-orang tahun 1980, yakni ketika Jemaat ini berdiri. Ceritanya bagus-bagus, lucu-lucu, dan temanya tiada lain adalah tentang “dulu kita selalu akrab, semua kenal semua.” Maklum, itu semua adalah memori dan nostalgia, bukan haggadah. Memori atau nostalgia selalu dilihat secara lebih baik, dan semuanya demi masa lalu – bukan masa kini dan masa depan.
Pada waktu umat Israel ber-haggadah, mereka menyadari bahwa kejayaan masa lalu sama sekali tidak akan berarti tanpa guliran masa kini. Bahkan mereka menyadari bahwa pahlawan atau tokoh-tokoh mereka dulu hanya merupakan satu dari rangkaian mata rantai. Peran mata-mata rantai lain di setiap masa juga sama pentingnya, sebab jika bukan karena peran penerus, peran pendiri menjadi tidak ada artinya sama sekali. Itulah sebabnya, Israel bukan hanya menyebut Abraham, Ishak, dan Yakub, tetapi juga Yusuf, Musa, Yosua, Gideon, Rut, Samuel, Saul, Daud, Salomo, dan seterusnya. Israel juga melihat para pendahulu mereka dari segala sisi. Semua leluhur mereka pernah melakukan yang baik dan pernah juga melakukan kesalahan. Mereka semua dan satu persatu adalah mata-mata rantai sejarah umat Allah hingga hari ini. Satu saja mata rantai itu ditiadakan, maka tidak akan jalinan rantai umat Allah.
Setelah 25 tahun berjemaat, hendaknya kita mensyukuri karya Tuhan yang telah memberikan setiap orang kesempatan menjadi satu mata rantai.

*) Tulisan ini ditulis berdasarkan permintaan Panitia HUT GKI Delima. Katanya akan dimuat di dalam buku HUT ke-25.

Kamis, Juni 03, 2010

TUGAS, JALAN2, MAKAN2

Oleh: Rasid Rachman


T U G A S
Sesekali saya mendapatkan tugas pelayanan yang ber-tumpuk2. Biasanya tanpa sengaja. Pekan lalu, 28-30 Mei 2010, misalnya. Semula, saya dijadwalkan oleh Sinwil Jabar pertukaran ke Kebonjati – itu biasa. Namun beberapa bulan sebelumnya saya juga dijadwalkan memimpin materi teologi liturgi nikah di bina Pranikah di Puri Indah hari Jumat sebelumnya – itu juga masih biasa. Baru menjadi agak luar biasa ketika sebulan sebelumnya panitia Pranikah meminta tambahan materi, yakni Teologi Pernikahan, yang jelas2 bukan bidang saya. Jadi harus menulis lagi materi baru sebagai tambahan. Tidak lama kemudian, GKP Klasis Priangan meminta kesediaan saya membekali para aktivis ibadah di Lembang hari Sabtu pagi. Okelah, tiga2nya (dasar serakah!) saya sanggupi.


Persoalan menjadi agak rumit ketika saya baru tahu bahwa itu adalah hari libur panjang (Waisak), tagihan dari Pranikah bertubi2 padahal makalah belum selesai, dan surat dari GKP baru saya terima beberapa hari sebelumnya. Tambah rumit lagi, sesampainya di Lembang, saya baru tahu bahwa acara tersebut melibatkan saya hingga sore – bukan cuma 2–3 jam. Nah itu, Bandung sedang macet2nya, saya harus selalu bergegas, belum persiapan2 sebelumnya.
Maka jadilah, Jumat pagi meninggalkan rumah menuju GKI Puri Indah. Selesai 2 sesi Pranikah pukul 13.20 cabut menuju Bandung yang macet banget, karena semua orang dari segala ujung bumi plesir dan tumpleg-bleg di Bandung. Sabtu pagi2 bergegas ke GKP Lembang, pimpin hampir 3 sesi. Pukul 16 kurang dari Lembang menuju Bandung, menghabiskan waktu 3 jam lebih – kebayang ga sih – karena macet-cet di Ledeng dan Cihampelas. Minggu pagi2 sudah pimpin 2 ibadah di Kebonjati, tengah hari balik ke Jakarta.
Kalau sudah begini, cara paling afdol mengatasi stres adalah tetap santai dan menggunakan waktu istirahat se-baik2nya, supaya semua berjalan dengan baik dan pikiran tetap segar.

J A L A N2
Salah satu cara bersikap santai adalah berpikir atau anggap saja ini jalan2; wisata di dalam tugas. Kuncinya, pergi menuju ke tempat2 tujuan ketika masih banyak waktu, sehingga tidak buru2, dan masih sempat melihat2 kiri-kanan atau mampir2, dan sambil menikmati pemandangan alam dan mendengarkan musik di mobil.
Pemandangan sepanjang TOL Jakarta-Bandung tetap asik dilihat. Saat ini sudah mulai hijau, jurang2nya dan jembatan2nya tetap sensasi tersendiri bagi pengendara mobil. Nyanyian2 lama pop Indonesia yang terkesan jenaka, alunan musik piano Jaya Suprana yang tenang, dan petikan gitar Jubing yang mengesankan, adalah terapi istimewa di tengah ancaman stres dan ketegangan berkendara di TOL atau di macet.
Yang juga penting adalah motret2 di kemacetan. Memang sangat repot dan berbahaya, tetapi mengasyikan, asal ber-hati2. Tingkah polah orang, baik pengemudi maupun panjaja dagangan, merupakan sasaran bidik kamera. Lokasi2 tertentu, semisal rumah makan, tempat2 nongkrong, bangunan2 menarik, dan alam sekitar dapat menjadi sasaran pemotretan. Hanya sayang, sejauh ini saya belum mendapat objek pemotretan yang pas tersebut.
Bandung-Lembang kini agak berubah. Setelah Ledeng, menuju Lembang, ada tempat2 baru untuk nongkrong. Ada es krim, ada susu murni dan yoghurt, ada taman strawberi, dan ada hotel2 baru. Waktu terakhir ke mari, sekitar 4 tahun lalu, tempat2 tersebut belum ada. Lain kali, saya pasti ke mari untuk liburan dengan keluarga.

M A K A N2
Dalam “kamus” saya, makan2 di tempat di perjalanan adalah wajib hukumnya. Namun untungnya Dewa-Dewi Keberuntungan memang seringkali ga jauh2 dari saya. Tiba di GKP Lembang pukul 8.30, langsung ditawari susu murni, padahal baru 20 menit sebelumnya saya minum yoghurt. Dalam perjalanan ke GKP Lembang, Sabtu pagi, pukul 8 mampir dulu minum yoghurt yang sudah ngangenin.
Yang lebih mantap lagi adalah makan siang. GKP ini menyajikan saksang – B1 men – selain menu2 lain. Di Lapo2 di Jakarta dan Tangerang, saksang B1 sulit ditemui. Saya pernah makan saksang di BSD, Vila Melati Mas, dan Senayan, cuma menyediakan saksang B2. jadi, sudah lama sekali ga makan saksang B1, maka terpuaskanlah seleraku hari itu di GKP Lembang kemarin itu. Lebih mantap lagi, sehabis makan dibungkusin oleh ibu2 di situ sebagai oleh2.


Sesampainya di Bandung, di depan Hotel Trio Gardujadi tempat saya menginap, ada bubur ikan – enak tentu. Apalagi, bubur itu saya campur dengan saksang yang diberikan sebagai oleh2 oleh ibu di GKP Lembang. Rasa agak asin2 bubur dicampur dengan rasa pedas2 saksang, rasanya selangit euy. Saking enaknya makan, sampai lupa memotret menu kombinasi tersebut.
Selain bubur, di Gardujati juga ada nasi campur, bandrek, mi ayam, dan lain-lain. Tetapi, yah harus ingat umur. Tahun 1984 waktu baru lulus SMA, saya pernah jalan2 aja melewati Gardujati dengan aroma makanan2nya. Tapi waktu itu, kantong tidak memenuhi syarat. Sekarang, umur tidak lagi memenuhi syarat.
Tubuh lelah dan perut kenyang, padahal besok masih harus pimpin ibadah hari Minggu di GKI Kebonjati dan kembali ke Jakarta, membawa saya ke alam tidur lebih awal hingga esok pagi.
Bangun pagi2, siap2 pimpin ibadah utama. Selesai ibadah, GKI Kebonjati, tempat saya bertugas memimpin ibadah, menyediakan ngohiang ala Bandung. Hajar ble...eeh, sementara para Penatua menghitung uang kolekte di konsistorium.



Jadi siapa bilang perjalanan tugas ga bisa menyenangkan. Yang penting ada musik di mobil, makan2, dan motret2, maka tugas2 dapat dilakukan dan diselesaikan dengan baik. °

Kamis, Mei 29, 2008

ANTARA PERUMNAS DAN SURYA UTAMA

oleh: Rasid Rachman

Baru sekitar dua bulan saya di GKI Jemaat Surya Utama. Kata orang-orang, dibandingkan dengan GKI Perumnas-Tangerang, Jemaat saya tahun 1997 sampai 2008, GKI Surya Utama bagai bumi dan langit. Maksudnya, kedua Jemaat tersebut sangat berbeda.
Memang, beberapa hal mereka saling sangat berbeda.

Dari segi lahan:
yang satu sempit, sementara yang lain luas.
Dari segi lokasi:
yang satu di Tangerang, sementara yang lain di Jakarta Barat.
Dari segi potensi:
yang satu kaya akan kebersamaan, sementara yang lain kaya akan aktivitas.
Dari segi kekurangan:
yang satu kurang dana, sementara yang lain kurang bernyanyi.
Dari segi usia:
yang satu baru 13 tahun, sementara yang lain baru 25 tahun.
Dari segi ... ups ... tanggal pendewasaan:
mereka sama-sama didewasakan sebagai Jemaat pada 31 Oktober!

Jelas, tanggal tersebut bukan hanya tanggal yang dipilih oleh Sinode GKI Jabar (waktu itu dan tanpa disengaja) sebagai tanggal pendewasaan. Tanggal 31 Oktober juga diakui oleh dunia sebagai hari lahirnya Reformasi, sehari sebelum All Saints' Day pada 1 November; tangga; bersejarah bagi pembaruan gereja.
Kemudian saya melihat beberapa kesamaan lain di kedua Jemaat ini. Kehangatan dalam pelayanan, kebersamaan antar Pendeta, kesulitan-kesulitan dalam membina dan menjaga kawanan domba Allah, mengatur "domba-domba" yang jalan maunya sendiri, sulitnya mencari program inovatif, ringan untuk memberi perhatian dan bantuan, dsb. merupakan sebagian kesamaan yang saya jumpai.

Begitulah dinamika berjemaat:

di dalam perbedaan, kita memperoleh keragaman
di dalam persamaan, kita mengalami kebersamaan

Semoga semangat membarui terus diupayakan, dipelihara, dan ditampakkan baik oleh Jemaat Perumnas maupun oleh Jemaat Surya Utama.

Senin, Mei 19, 2008

"SELAMAT," DARI PARA EMERITUS

oleh: Rasid Rachman

Pagi ini saya bangun sebelum pukul 5. Akhir-akhir ini memang saya sering terbangun sebelum surya terbit. Mungkin karena terlalu banyak kerja dan dikejar oleh tugas-tugas yang menumpuk, dan pikiran penuh terus untuk merancang kerangka makalah, maka tanda fisik mengingatkan "cukuplah kau tidur 4 - 5 jam" malam ini. Kebetulan, karena banyak tugas-tugas membuat makalah. Saya langsung buka komputer dan mulai menulis. Saya juga diingatkan bahwa tar malam saya diteguhkan sebagai Majelis Jemaat di GKI Surya Utama.
Surprisingly, beberapa Pendeta Emeritus mengontak saya. Mereka menyatakan "selamat" atas peneguhan nanti malam. Satu dari Bandung mengucapkannya melalui SMS, dua dari Jakarta melalui telepon. Sekalian mereka menyatakan tidak akan datang nanti malam, karena satu dan lain hal. Jujur saja, sekalipun ini peneguhan saya ketiga, keiniginan untuk dilihat oleh rekan dan teman tetap ada.
"Oke Pak, oke Bu, yang penting doa-doanya," respons saya.
"Pasti, saya doakan," begitu mereka mengatakannya - satu-persatu.
Bahkan satu mendoakan saya via telepon. Menyenangkan rasanya mendapatkan ucapan selamat secara istimewa dari orang-orang yang dituakan dan telah mencapai kehormatan emeritus.
Usia pelayanan saya baru mencapai 16 tahun. Masih 14-16 tahun lagi ke depan. Sekarang baru setengah jalan, walaupun Surya Utama adalah Jemaat saya yang ketiga. Bagi saya, emeritus adalah gelar kehormatan yang luar biasa. Susah mencapainya, bahkan "apakah kelak saya dapat mencapainya?" Bukan untuk gagah-gagahan, tetapi untuk menyatakan tanda kesetiaan bahwa perziarahan sebagai Pendeta diakhiri dengan baik, agar seimbang bahwa dahulu dimulai dengan perjuangan berat. Semakin lama menjalani perziarahan ini, rasanya semakin jauh dari tanda kesetiaan tersebut.
Seandainya saya mencapai emeritus seperti mereka, lantas hikmat apakah yang dapat saya tunjukkan kepada gereja dan rekan Pengerja? Para emeritus ada yang tekun dan tak jemu mengucapkan selamat ulang tahun, selamat penahbisan, selamat perkawinan, selamat ulang tahun pernikahan - itu memerlukan kesediaan yang besar.

Sabtu, Februari 09, 2008

SELALU (ADA HAL) UNIK



Oleh: Rasid Rachman

Di tengah hal-hal biasa, selalu saja ada hal-hal unik di dalam hidup berjemaat. Terutama menyangkut manusia, tetap ada inspirasi, gugahan, ide-ide, gejolak, atau bahkan konflik yang ujung-ujungnya menghantar saya sampai ke refleksi: hari ini saya memperoleh satu lagi hal baru. Hal tersebut dimungkinkan karena perjumpaan dengan berbagai macam orang.
Ada yang tidak bisa (alih-alih: tidak mau) beribadah hanya karena gereja kami panas, tidak ada AC-nya. Anak atau bayinya selalu gelisah selama kebaktian karena gerah, katanya. Tetapi untuk syukuran, ia selalu meminta gereja kamilah yang melayaninya. Ketika anggota keluarganya sakit, pertama dan tercepat pihak yang dihubungi adalah gereja, minta dilawat.
Ada yang datang ke gereja bukan kebaktian hari Minggu, melainkan hari-hari kerja biasa. Kebaktian hari Minggunya di gereja lain, tetapi untuk berdoa ketika bergumul atau hendak bertemu klien “numpang” di gereja kami.
Ada yang jarang sekali datang ke gereja kami, padahal ia adalah anggota. Mungkin hanya 1 kali setahun atau dua tahun. Kami tahu dia selalu beribadah di satu gereja. Kalau datang ke tempat kami, dia mengeluh bahwa gereja kami itu adalah gereja yang paling cocok dengan dia: dekat, waktunya pas, tidak bertele. Sementara gereja yang dikunjunginya secara rutin itu sama sekali tidak baik untuk dirinya: jauh, harus naik ke lantai 3 dengan tangga, dan tidak saling kenal. Ajaibnya, dia tetap menjadi pengunjung gereja itu selama hidupnya.
Ada juga yang “hobi” keliling gereja di wilayah kami. Minggu ini ke gereja A, Minggu depan ke gereja B, Minggu lain ke gereja C, begitu seterusnya sepanjang tahun. Semua gereja dikunjunginya. Dengan demikian, ia menjadikan dirinya tamu di gereja mana pun, termasuk di gereja kami di mana ia menjadi anggota. Apakah kriteria ia ke gereja-gereja itu? Kriterianya: asal menguntungkannya. Istilah saya: ngelaba. Ia datang ke suatu gereja di mana sedang berlangsung acara, termasuk kebaktian hari Minggu, yang menguntungkan dirinya.
Dalam kehidupan berjemaat, unik dan menyebalkan itu berada pada wilayah abu-abu. ®

Jumat, Februari 08, 2008

“T” VERSI SATU

Oleh : Rasid Rachman

“T” itu berwajah “ga enakeun”, kata orang Bandung. Wajah tertekuk, badan besar-bulat, berkacamata, dan tidak pernah senyum. Dia orang tua, pensiunan. Saya melihatnya pertama kali waktu saya pimpin ibadah; dia di bangku umat. Langsung saya terkesan dengan “ga enakeun” dipandang itu. Seperti wajah cantik itu enak dipandang, wajah sebaliknya pun menarik untuk terus dipandang. Yang biasa-biasa saja malah ga enak dipandangi. Saudara “T” ini termasuk yang kedua.
Kesan saya, orang ini tidak asik untuk diajak bicara, suka menekan, sadis, dan banyak usul. Apalagi untuk menjadi teman di Jemaat, akan menimbulkan siksaan. Mulitnya yang kecil, bibirnya tipis, kepalanya bundar, berkaca mata dengan gagang hitam. Bukan tipe ideal untuk curahan hati. Juga bukan tipe orang baik-baik. Pokoknya, saya berusaha untuk tidak bicara dan berkenalan dengannya.
Sebagai pensiunan, ia memiliki banyak waktu luang. Saya sering melihatnya di kantor gereja kalau siang hari. Tetapi saya tidak pernah melihatnya menghadiri acara-acara resmi gereja pada malam hari. Untung juga, saya akan jarang berkesempatan berkenalan dengannya.
Sekali waktu saya berpapasan dengan “T” di pintu kantor gereja; saya baru masuk, “T” hendak keluar. “Syukurlah,” pikir saya. “T” melihat saya, saya cukup mengangguk saja, terus menyelinap masuk ke dalam, berpura-pura sibuk dengan urusan lain. “T” pasti tahu saya, tetapi saya pura-pura tidak kenal dia. Memang saya tidak mengenalnya.
Beberapa waktu kemudian kami berpapasan lagi di tempat yang sama. Kali ini dia menyapa: “Apa kabar, Sid.” Sungguh, baru sekali itu saya mendengar suaranya. Halus, menyejukkan, penuh simpati. Namun saya bergetar disapanya. Bukan karena suaranya yang menyeramkan, namun karena prapaham saya tentang dia yang menyeramkan itu ternyata sangat berbeda dengan aslinya. Kata orang-orang, “T” itu orang yang baik, simpatik, suka menolong, dan tidak membuat-buat kalau memberi perhatian. Itulah yang membuat saya bergetar. °

Kamis, Februari 07, 2008

“E” VERSI SATU

Oleh : Rasid Rachman

Pemuda "E" (21) yang biasa-biasa ini memberikan kesan istimewa bagi saya, dan membekaskan pengalaman mendalam dalam hidup menggembala jemaat. Hal itu dimulai pada akhir Desember 2001 dan awal Januari 2002. Atau tepatnya, pada menjelang akhir hidupnya, “E” memberi kesan sangat mendalam.
Sakitnya sudah beberapa bulan sebelumnya. Dari perawatan di Tangerang, Jakarta, akhirnya dibawa ke Yogyakarta. Awal Desember, saya terdorong sekali untuk menghubunginya via SMS. Jawabnya: “Pak, saya sudah baikan, akan pulang menjelang Natal.” Legalah hati saya.
Natal ia tidak pulang. Malam, 30 Desember, SMS masuk dari beberapa umat. “Pak, segera ke Yogya atau utus jemaat supaya berdoa bagi “E”,” inti SMS beberapa umat itu. Malam itu saya tidak tenang tidur. Sejak pagi saya mulai atur supaya saya bisa pergi ke Yogya besok, 1 Januari, setelah ibadah Tahun Baru. Namun akhirnya, saya dimungkinkan berangkat 1 Januari pukul 04.0; MJ mendapat pengganti saya untuk memimpin ibadah.
Sebelum malam, saya siapkan tas untuk ke Yogya, termasuk kemeja yang biasa saya gunakan untuk ibadah. Semuanya masuk ke mobil. Setibanya di gereja untuk ibadah Tutup Tahun, Yoseph mengatakan bahwa mereka siap berangkat setelah ibadah malam ini. “Lho, bukankah tadi pagi kita sepakat berangkat besok subuh? sanggah saya. Memang, sebetulnya malam ini pun saya sudah siap berangkat. Yoseph, Bowo, Sukardi, dan saya, berangkat pukul 22.00 itu. Saya merasakan: didorong berangkat lebih cepat.
Tiba di Manisrenggo pukul 10.30 pada 1 Januari 2002. Kami berbincang sebentar dengan “E”, nyanyi-nyanyi lagu Natal dengan 10 eksemplar Kidung Jemaat yang sengaja kami bawa, berdoa, lalu pamit untuk pulang ke Tangerang.
Namun kami (harus!) tidak langsung pulang, karena diminta mampir di Wonosari dan Yogyakarta. Beberapa keluarga meminta kami untuk mampir ke rumah mereka. Akibatnya, kami bermalam di Yogya. Saya merasakan: ditahan lebih lama di Yogyakarta untuk tidak segera kembali ke Tangerang.
Ketika kami di Magelang dalam perjalanan pulang, 2 Januari pagi, masuk telepon dari Tangerang. Kami diminta kembali ke Manisrenggo. Tiba, “E” sudah berpulang. Saya merasakan: Tuhan telah memberikan kesempatan pada kami untuk berjumpa “E” di saat terakhirnya kemarin. ©

Minggu, Februari 03, 2008

SUSUNAN PM-GKI


Oleh : Rasid Rachman

Hingga 2-3 tahun setelah dilembagakan, susunan program dalam organisasi Majelis Jemaat adalah sebagai berikut:
1. Sarana-Prasarana
2. Pembinaan
3. Oikumene-Masyarakat
4. Kebersamaan

Susunan tersebut berbeda dengan prinsip Program Menyeluruh Gereja Kristen Indonesia (PM-GKI) yang menelurkan kegiatan Jemaat menurut bidang-bidang. Menurut buku PM-GKI, urutannya adalah sebagai berikut:
1. Oikumene-Masyarakat
2. Kebersamaan
3. Pembinaan
4. Sarana-Prasarana


Dengan penasaran saya bertanya-tanya. Eh, ternyata dasar pembidangan tersebut adalah berdasarkan inisial huruf S-P-O-K. Apakah dasar S-P-O-K tersebut? Mengapa bukan K-O-P-S supaya alfabetis?
Saya mengetahui S-P-O-K sewaktu mendapat pelajaran Bahasa Indonesia di SMP dahulu kala. Dugaan saya, jangan-jangan Jemaat Perumnas memang terpengaruh dengan sistem Subjek-Predikat-Objek-Keterangan dalam bahasa Indonesia itu. Dugaan ini meleset, sebab seingat saya tidak ada lagi yang ingat pelajaran Bahasa Indonesia waktu SMP. Hingga kini, kecuali karena warisan, saya tidak tahu dari mana datangnya SPOK-nya GKI Perumnas-Tangerang tersebut. Wahahualam. ©

JANGAN DUDUK DEKAT PENDETA


Oleh : Rasid Rachman

Entah siapa yang memulai dan mengajarkan dengan menakut-nakutkan, umat di GKI Perumnas-Tangerang tidak mau duduk dekat saya. Hal ini berlaku juga bahkan bagi anak-anak. Ibu-ibu mereka akan menyuruh mereka pergi menjauh kalau saya duduk dengan mereka dalam satu acara, sekalipun anak-anak itu sudah duduk di situ lebih dahulu daripada saya.
Menurut mereka, hal tidak duduk dekat Pendeta itu menunjukkan sikap segan dan hormat. Tetapi menurut saya, hal itu merupakan bentuk penindasan kepada anak, tidak mendidik, dan menimbulkan ketidaknyamanan bagi saya. Mirip-mirip pelecehan. Seolah-olah saya sedang mengidap penyakit yang mahaberbahaya karena muda sekali menulari orang-orang sekitar, sehingga harus dijauhi.

Terutama untuk anak. Kita harus mengatakan bahwa tidaklah benar anak-anak diteror dengan ketakutan pada seseorang atau sesuatu yang jelas tidak berbahaya. Apabila nakal, anak sering diteror “ditangkap polisi” atau “disuntik dokter atau “dipelototin pendeta”. Penanaman ancaman tanpa dasar tersebut jelas tidak sehat. Jelas, orang tua telah berbohong kepada anak. Selain itu, orangtua akan kesulitan sendiri apabila sekali waktu anaknya perlu berurusan dengan dokter, misalnya.
Untuk kasus saya, tindakan menjauhi saya menimbulkan kesepian di tengah keramaian. ©

Jumat, Februari 01, 2008

NAMA SUAMI-ISTRI

Oleh : Rasid Rachman

Percaya tidak percaya bahwa sebagian besar umat GKI Perumnas Tangerang menikah dengan pasangan yang bernama ”sama”. Pak Agus menikah dengan Bu Agus, Pak Budi menikah dengan Bu Budi, Pak Santi menikah dengan Bu Santi. Eee...h, contoh yang terakhir itu memang tidak ada di Perumnas. Semua nama mereka berjenis maskulin. Sekalipun senang karena meringankan 50% “beban” mengingat nama-nama umat, saya tetap berusaha mengingat dan mencari tahu nama kecil dari istri-istri tersebut.
Ternyata nama kecil ibu-ibu itu cukup baik dan keren. Ada Santi, Vony, Yulia, Sri (ini yang paling banyak di Perumnas-Tangerang), Monika, dsb. Namun di gereja, nama-nama bagus itu “tertutup” oleh nama suami mereka. Hal itu berlaku bukan hanya di dalam penyebutan, tetapi juga dalam tulisan atau cantuman nama di papan. Hanya ajaibnya, ketika memperkenalkan diri ke Jemaat-jemaat lain – waktu itu masih ada program pertukaran KW ke kebaktian-kebaktian wanita se-Klasis – ibu-ibu itu memperkenalkan diri dengan nama kecilnya sendiri, bukan nama suami. "Saya Ibu Sri," atau "Saya Ibu Yulia dari GKI Perumnas-Tangerang."
Sewaktu kami baru tiba di Jemaat Perumnas tahun 1997, istri saya diminta memperkenalkan diri.
“Silahkan Ibu Pendeta perkenalkan diri,” undang personalia Komisi Wanita waktu itu.
Istri saya berdiri, maju. “Nama saya Melinda; saya bukan Ibu Pendeta.” kata istri saya mengawali perkenalannya di persekutuan wanita itu.
Sejak itu semakin lazim ibu-ibu menyebut nama kecilnya. Namun ada juga pihak-pihak yang tetap tidak rela menerima itu, yakni beberapa suami. Kadang-kadang terdengar gumam mereka: “Istri saya koq masih menggunakan nama kecilnya, padahal sudah kawin sama saya lho” atau “Istri Pendeta memelopori para ibu menggunakan kembali nama kecil,” dan sebagainya.

Untung waktu itu, Presiden kita tidak disebut Ibu Taufik, melainkan Ibu Megawati. ©

JAM NGARET




Oleh : Rasid Rachman

Entah karena namanya: GKI Karet, entah memang “dari sononya”, Jemaat ini memang Jemaat ngaret. Hal ini telah terjadi sejak sebelum saya masuk pada tahun 1997. Sekali waktu saya pernah melayani persekutuan pemuda tahun 1996. Undangan untuk pukul 18.30, saya tiba pukul 18.00, mulai pukul 19.00 – itu pun setelah didesak dan diancam “saya pulang”. Pokoknya, jika dalam warta tertulis pukul 18.00, itu berarti acara dimulai pukul 18.30 atau bahkan pukul 19.00. Kebaktian remaja tertulis pukul 15.00, mulai pukul 15.30 setelah para remajanya dipanggil dan diingatkan.
Pada awal saya masuk, dan ketika beberapa aktivis tahu bahwa saya adalah orang yang tepat waktu, mereka membuat akal-akalan baru. Waktu di warta dibuat berbeda dengan waktu di surat permintaan kepada saya. Misalnya, di warta tertulis pukul 09.00, surat konfirmasi kepada saya pukul 09.30. “Yang penting, bapak tidak menunggu,” kilah mereka. Namun saya tidak menerima taktik semacam itu, karena jangan-jangan jemaat tahunya sayalah yang terlambat tiba di gereja sehingga acara terlambat dimulai. “Saya mengikuti waktu yang tertulis di warta,” begitu saya bilang.
Lambat laun keadaan ini berubah menjadi lebih baik. Acara dimulai sesuai dengan yang diwartakan dan tepat waktu. Hasilnya, beberapa orang yang dulunya agak segan mengikuti acara di gereja karena ngaret, kemudian mulai datang kembali. Acara apa pun dimulai dengan seberapa pun orang yang telah hadir. “Setiap orang yang terlambat datang ke gereja, punya alasannya sendiri. Kita tidak perlu menunggu mereka. Tetapi kita harus lebih menghargai mereka yang datang sebelum waktunya,” begitu penjelasan saya.
Disiplin pada waktu bukan hanya soal kerapihan organisasi dan kematangan spiritualitas, tetapi juga merupakan penghargaan terhadap manusia. ©

GKI KARET?



Oleh : Rasid Rachman

Baru saya ketahui bahwa surat pelembagaan (dh pendewasaan) Jemaat ini adalah GKI Perumnas-Tangerang. Namun selama ini, sejak saya masuk tahun 1997 hingga kini, nama yang populer adalah GKI Karet. Dahulu, saya juga terbiasa menyebutnya GKI Karet. Namun nama itu selalu menimbulkan masalah. Banyak orang keliru bahwa saya adalah Pendeta GKI Karet Belakang (Sudirman) yang kebetulan usia pelembagaannya cuma berbeda seminggu dengan GKI Perumnas-Tangerang. Oleh karena itu, saya selalu menyebut Jemaat ini dengan GKI Perumnas-Tangerang.
Soal nama GKI Karet itu, seseorang anggota jemaat menyadarkan saya. Ceritanya begini. Jemaat ini punya “tradisi” memperlambat hampir setiap waktu acara. Kalau tertulis di warta jemaat pukul 18.00, maka itu berarti acara dimulai pukul 18.30 atau bahkan 19.00. Suatu saat seorang anggota jemaat berkata: “Namanya sih GKI karet, makanya ngaret terus.” Sejak itu saya berusaha mengkonsistensikan waktu acara dengan pewartaan.
Sekarang, baik anggota jemaat maupun klasis dan sinode tahunya Jemaat ini adalah GKI Karet. Karet adalah nama jalan untuk Jemaat ini. Orang-orang berpegang pada ketentuan Tata Gereja GKI bahwa nama Jemaat diambil sesuai dengan nama jalan, bukan wilayah. Kalau sebut GKI Perumnas-Tangerang, malah didengar asing karena tidak lazim. Selain itu, nama GKI Perumnas-Tangerang juga kurang resmi bagi GKI. Rasanya hanya saya yang bertahan menyebut GKI Perumnas-Tangarang, bukan GKI Karet. Alasan saya: ketimbang menjadi momok jam ngaret terus alias ga tepat waktu, lebih baik memperbaiki citra dengan mengubah nama. ©