Buku (biasa, bukan E-book):
"Berdoa dan Bekerja Bersama Santo Benediktus dari Nursia" karangan Rasid Rachman
hanya dijual via internet. Bagi peminat, silakan klik: http://nulisbuku.com/books/view/berdoa-dan-bekerja-bersama-santo-benediktus-dari-nursia
Senin, Agustus 22, 2011
Buku baru
Kamis, Juni 09, 2011
SIMPOSIUM IBADAH DI AMERIKA
Oleh : Rasid Rachman
Kronologi yang menjadi histori
Di usia saya yang ”tidak lagi” muda – padahal sejak 20 tahun lalu pun sudah merasa tua – saya masih dapat lagi kesempatan untuk mengikuti seminar liturgi di luar negeri. Kalau dihitung sejak tahun 1992, ini adalah seminar internasional liturgi ke-4 yang saya ikuti. Pada keempat seminar ini, keikutsertaan saya adalah bukan inisiatif sendiri; jadi mirip ”kejatuhan duren”-lah. Bahkan sebenarnya saya tidak tahu akan diadakannya seminar-seminar tersebut.
Seminar pertama di Manila tahun 1992, diadakan oleh WCC dan AILM. Menjelang akhir 1991, saya ke kantor Sinode GKI Jabar di jalan Garuda-Kemayoran untuk satu urusan. Urusan seleai, saya melihat Pdt Kuntadi (Sekum) mendapat telepon dari Pdt Ferdy (Ketum) – rupanya mereka sedang menbicarakan saya. Di tengah percakapan itu, Pak Kuntadi menyela dan bertanya kepada saya apakah bisa dan mau ikut seminar di Manila selama sebulan Februari 1992. Langsung saya jawab: ”Boleh.” Sejak itu, GKI Delima, Sinode GKI Jabar, dan AILM membantu pemberangkatan saya, baik surat menyurat maupun tiket dan finansial. Itu adalah pengalaman pertama ke luar negeri.
Materi yang saya peroleh sangat baru dan membuka wawasan saya tentang musik gereja Asia dan Pasifik. Buku Sound the Bamboo menjadi makanan kami selama sebulan itu.
Tahun 1997, dengan sisa masa berlaku Paspor yang tetap kosong sejak Manila, saya diberi kesempatan untuk ke Tainan. Yamuger melalui Ibu Aida Swenson sekonyong-konyong menelepon ke rumah dan bicara dengan istri saya. Waktu itu saya sedang perjamuan kudus rumahan Jemaat Delima. ”Pekan depan ada seminar selama 2 minggu,” begitu tawarannya. Tinggal seminggu untuk urus visa dan izin Majelis Jemaat, tetapi semua hal diurus oleh Yamuger.
Sekalipun tidak terlalu baru sebagaimana Manila 5 tahun lalu, namun bagi saya tetap saja istimewa. Nyanyian-nyanyian jemaat Asia dan Pasifik menjadi porsi utama. Kami juga berkenalan dengan nyanyian Ortodoks Yunani, Afrika, Amerika Latin, dan spiritual. Beberapa pelajaran baru, sempat menambah bekal saya.
Seminar ini dan seminar pertama telah saya sharing-kan ke Sinode GKI Jabar dan ke Kairos tidak lama setelah selesai.
Seminar ketiga adalah seminar yang tidak di-harap2, namun datang juga tawaran. Waktu PMSW GKI SW Jabar tahun 2002, siang2 waktu bete karena pembahasan bakal Liturgi GKI dianggap angin lalu saja oleh peserta dan pimpinan PMSW dan ketemu orang2 ”bermuka-dua”, Pdt van Dop menelepon ke HP (kali ini sudah punya) untuk mengajak saya ke Manila. Kali ini dengan rombongan 9 orang dari Indonesia, bergabung dengan murid KMG dan mahasiswa STT, selama 2 pekan. Pak Anis Pua turut membantu keberangkatan kami.
Materinya hampir tidak ada yang baru, namun baru pada organisasi dan ketemu teman-teman lama dari Manila dan Tainan. Bill yang tua itu masih ada, Janet Faller, dan beberapa lagi. Ngomong2, ada tenggat waktu keramat: setiap 5 tahun saya seminar ke luar negeri dan cuma untuk kesempatan itu saja ke luar negeri.Untung istri saya membantu mengurus pengisian formulir visa sementara saya masih di Mentawai. Baru 27 Desember saya dapat kepastian visa, dan 13 Januari 2011 paspor dan visa di tangan saya.
Munculnya kesempatan2 tersebut, bagi saya, merupakan tanda untuk terus berkecimpung di dalam medan liturgi.
Mendarat di Grand Rapids
Waktu keramat itu ternyata tidak konsisten. Lima tahun setelah 2002, tidak ada berkat yang sama. Baru tahun 2011 saya kembali dapat seminar liturgi, kali ini ke Grand Rapids, Michigan. Ibu Ruth Kadarmanto yang nego dengan pihak Calvin College supaya beberapa orang Indonesia, termasuk saya, ikut simposium tahunan mereka; atas nama STT Jakarta dan Christina Mandang yang setiap tahun ikut seminar itu. Waktu masih di Mentawai sebagai relawan awal November 2010, Ibu Ruth mengirim SMS itu. Harus buru2, karena visa ke AS sulit dan waktu saya tidak sampai 2 bulan lagi.
GKI Surya Utama dan jemaat menyiapkan segala sesuatu: doa, ongkos, dan izin. Perjalanan sejak 24 Januari itu terjadi dengan rasa aman dan kesan mendalam. Sekalipun tidak pernah berharap akan masuk ke AS, kecuali untuk urusan seminar dan studi, kali ini terjadi juga.
Ketiga seminar terdahulu adalah tentang musik gereja Asia, kali ini tentang musik gereja Amerika. Ada juga Eropa, namun saya mengambil kuliah2 Mazmur selama beberapa hari itu. Ditarik secara kronologis, topik-topik Mazmur pilihan saya itu cukup menarik. Keberbagaian tradisi dan cara menyanyikan Mazmur dipaparkan oleh setiap nara sumber. Dari Mazmur Jenewa – kata orang sudah jadul namun tetap menarik bagi saya – ditampilkan dengan sangat memperhatikan kekhasannya. Kekhasannya itulah yang membuat Mazmur ini tetap elok dinyanyikan atau sekadar didengarkan. Baik gaya asli maupun modifikasi dengan beberapa keistimewaan Mazmur-mazmur dipaparkan dan dinyanyikan.
Ada juga Mazmur-mazmur modern dengan beragam pola Amerika, semisal Spiritual, Katolik, atau Rap. Beberapa memang tidak bisa saya nyanyikan, namun setidaknya membuka wawasan baru tentang perkembangan Mazmur dewasa ini. Paparan tersebut cukup membuktikan bahwa Mazmur tetap menjadi jantung peribadahan. Hal itu dibuktikan oleh sekelompok pemazmur Rusia, yang berpola Byzantine lama dengan gaya baru.
Ibadah2 harian diselenggarakan tiga kali: pagi, senja, dan malam. Banyaknya jumlah peserta membuat ibadah2 tersebut dibagi menjadi 3 tempat dengan gaya dan model berbeda. Manajemen pengaturan yang baik menjadi fasilitasi bagi peserta sehingga setiap peserta dapat mengikuti semua model dan gaya ibadah tersebut satu-per-satu. Modelnya memang bermacam2. Dari model yang sangat tidak kreatif hingga yang inovatif, dari iringan segala alat musik hingga yang meditatif dan etnik, dari yang biasa2 saja hingga sangat indah. Warna Amerika memang: menerima segala model, termasuk ibadah. Jadi, kecuali rendahnya nada dan cukup banyak bermain dengan irama, pola liturginya, aransemen musik, tata ruang, dan khotbah2 yang disampaikan sangat baik.
Pemazmur dari Rusia menyanyikan Mazmur2 Rusia modern dengan pola konvensional dalam ibadah pembuka
Umumnya, Amerika serba besar. Ruang-ruang dan aula besar, jumlah peserta sekitar 1500 orang, jumlah kelas ratusan dalam seluruh 4 hari simposium atau puluhan dalam satu jadwal acara sehingga peserta harus sangat tepat memilih kelas, instrumen musik yang beragam, selalu tersedia organ pipa di setiap kapel dan ruang ibadah, dan jumlah makanan yang berlimpah menjadi hal yang lazim.
Beberapa kesan
Tentang kesan2, tetap saja ada yang baru, baik karena waktu melihat ke luar yang telah cukup lama tidak saya lakukan, maupun karena melihat yang berbeda di tempat yang jauh.
Pertama, penggunaan teknologi modern digunakan secara tepat guna dan cantik. Tidak ada yang terkesan OKB (orang kaya baru) karena norak. LCD, misalnya, tidak digunakan sebagai pengganti buku nyanyian, melainkan menampilkan ilustrasi2 pendukung. Umat tidak tergiring untuk menatap layar LCD, cukup melirik sesekali saja, ketika ada tayangan baru. Tempatnya pun tidak menonjol di dekat mimbar dengan ukuran sebesar gunung, namun isinya artistik. Kadang layar LCD ditempatkan di atas sekali, sehingga umat tidak terdorong untuk melulu dan terus2an menatapnya.
Kedua, keempat seminar internasional, berbeda dengan seminar2 serupa di dalam negeri, baik yang saya ikuti maupun tidak, selalu bermuara pada ibadah. Peran paduan suara dan musik tidak berdiri sendiri, sehingga tidak lebih menonjol daripada ibadah jemaat. Banyak pemusik hebat dan tidak sedikit paduan suara istimewa, namun semuanya ”patuh” pada liturgi. Mereka tidak merebut ”hak” umat untuk berperan penuh dalam liturgi. Umat tetap bernyanyi dengan baik – tidak mengeluh sekalipun banyak nyanyian baru.
Ketiga, peserta tua-muda antusias mengikutinya. Ada sejumlah 1500-an beserta: 160-an internasional dan selebihnya peserta Amerika sendiri. Nah, para peserta Amerika ini beragam. Bukan hanya orang usia produktif dan mahasiswa, tetapi juga para pensiunan. Bahkan tidak sedikit peserta disable. Untuk mereka, panitia menyediakan fasilitas, semisal penyampai bahasa isyarat untuk kaum tuna rungu dan sarana pintu dan toilet bagi para penyandang kursi roda.
Keempat, para peserta tidak anti-nyanyian baru. Di antara nyanyian konvensional, terdapat sejumlah nyanyian jemaat baru. Nyanyian2 tersebut digunakan, baik dalam ibadah maupun dalam kelas2 simposium. ■
Senin, Februari 14, 2011
KITA ADALAH MATA RANTAI DI DALAM SEJARAH GEREJA TUHAN
Oleh: Rasid Rachman
Orang Yahudi biasa merayakan Paska dengan mengadakan perjamuan malam. Perjamuan di meja rumah tersebut hanya dihadiri oleh keluarga dekat atau kerabat. Sementara ritus perjamuan berlangsung – bisa selama 4 jam – mereka mengadakan percakapan tentang awal masuknya para bapa leluhur ke tanah Mesir dan Israel. Sebagian ritual tersebut adalah sebagai berikut:
Seorang anak terkecil dalam komunitas bertanya kepada bapaknya, begini: “Pada malam lain kita makan roti beragi atau roti tak beragi, tetapi malam ini mengapa hanya roti tak beragi? Pada malam lain kita makan semua jenis sayuran, tetapi malam ini mengapa hanya sayur pahit? Pada malam lain kita makan makanan yang dimasak, dipanggang, atau direbus, tetapi mengapa malam ini hanya makanan yang dipanggang? Pada malam lain kita mencelup satu kali, tetapi mengapa malam ini mencelup dua kali?”
Semua pertanyaan ini merupakan isyarat bagi sang bapak untuk menjelaskannya dengan haggadah (= kisah, mengisahkan cerita dengan cara melantunkannya) Paska.
Haggadah adalah pengisahan untuk mengenang sejarah Israel, sehingga yang hadir terlibat kembali di dalamnya seperti yang dialami oleh nenek moyang mereka. Lazimnya, sang bapak membuka kisahnya dengan kalimat: “Bapakku dahulu seorang Aram, seorang pengembara. Ia pergi ke Mesir dengan sedikit orang saja dan tinggal di sana ” (dan seterusnya seperti tertulis dalam Ul 26:5-6). Pengisahan tersebut begitu menarik bagi yang hadir, sehingga semua orang terlibat di dalamnya. Itulah sebabnya, haggadah adalah ritus tetap dalam perjamuan Paska orang Yahudi.
Kita dapat belajar dari umat Israel akan momen memperingati, yakni dengan Haggadah. Berefleksi dari masa kini dengan berangkat dari masa lalu untuk mengarah ke masa depan. Masa lalu dikisahkan demi masa kini dan masa sehingga menjadi hidup. Masa lalu bukan sekadar menjadi nostalgia semata.
Tahun 1994 – 1999 di Delima adalah masa orang-orang tertentu bermemori dan bernostalgia. Lihat saja cerita-cerita dan foto-foto ulang tahun di masa itu. Semuanya adalah tentang orang-orang tahun 1980, yakni ketika Jemaat ini berdiri. Ceritanya bagus-bagus, lucu-lucu, dan temanya tiada lain adalah tentang “dulu kita selalu akrab, semua kenal semua.” Maklum, itu semua adalah memori dan nostalgia, bukan haggadah. Memori atau nostalgia selalu dilihat secara lebih baik, dan semuanya demi masa lalu – bukan masa kini dan masa depan.
Pada waktu umat Israel ber-haggadah, mereka menyadari bahwa kejayaan masa lalu sama sekali tidak akan berarti tanpa guliran masa kini. Bahkan mereka menyadari bahwa pahlawan atau tokoh-tokoh mereka dulu hanya merupakan satu dari rangkaian mata rantai. Peran mata-mata rantai lain di setiap masa juga sama pentingnya, sebab jika bukan karena peran penerus, peran pendiri menjadi tidak ada artinya sama sekali. Itulah sebabnya, Israel bukan hanya menyebut Abraham, Ishak, dan Yakub, tetapi juga Yusuf, Musa, Yosua, Gideon, Rut, Samuel, Saul, Daud, Salomo, dan seterusnya. Israel juga melihat para pendahulu mereka dari segala sisi. Semua leluhur mereka pernah melakukan yang baik dan pernah juga melakukan kesalahan. Mereka semua dan satu persatu adalah mata-mata rantai sejarah umat Allah hingga hari ini. Satu saja mata rantai itu ditiadakan, maka tidak akan jalinan rantai umat Allah.
Setelah 25 tahun berjemaat, hendaknya kita mensyukuri karya Tuhan yang telah memberikan setiap orang kesempatan menjadi satu mata rantai.
*) Tulisan ini ditulis berdasarkan permintaan Panitia HUT GKI Delima. Katanya akan dimuat di dalam buku HUT ke-25.
Senin, Desember 13, 2010
DUKUNGAN DARI JAUH
Oleh: Rasid Rachman
Seorang relawan mengatakan begini kepada saya: “Di beberapa lokasi bencana yang pernah saya kunjungi, Mentawai adalah lokasi tersulit.” Pernyataan tersebut kemudian bukan pernyataan dari hanya seorang relawan. Beberapa relawan, baik medis maupun non-medis, juga mempunyai pendapat yang sama.
Beberapa relawan lain, termasuk yang bukan tim kami, juga mengatakan bahwa yang dibutuhkan bagi setiap relawan ke Mentawai bukan hanya kekuatan fisik, semangat tinggi, dan keberanian, tetapi juga keteguhan hati dan mental. Tentu di atas semua itu adalah ketulusan. Ombak setinggi 4-5 meter bukan kejadian langka di sini. Sehingga, ancaman demikian dapat menyurutkan langkah sebelum relawan berangkat ke lokasi pengungsian. Perubahan cuaca secara ekstrem dan cepat seringkali terjadi di sini. Panas, hujan, kemudian panas lagi bukan hal aneh. Laut tenang, laut tiba-tiba bergelombang, sangat biasa bagi masyarakat Mentawai.
Memang Mentawai penuh tantangan. Namun kami tidak sendiri. Orang-orang lain mendukung pelayanan kami. Selain dukungan beberapa penduduk Mentawai, Tim kami juga didukung oleh banyak doa yang diinfokan kepada kami melalui pesan-pesan singkat. SMS datang dari berbagai pihak: keluarga, teman, rekan pelayanan, jemaat, dan sebagainya. Selama menjadi relawan, mendapat setumpuk SMS inilah yang mendukung, menopang, dan menghibur kami.
Sengaja saya kumpulkan dan pilihkan beberapa SMS yang kiranya mewakili dukungan puluhan SMS lain yang tidak dimasukkan di sini. Kemudian saya susun menjadi sebuah cerita dengan keterangan pada sebelum atau setelah tulisan SMS.
Davidy (Minggu, 31 Okt, 11:33:19)
Untuk pengiriman barang bantuan ke lokasi bencana Mentawai: Untuk dari Padang Bpk Kol Indarto, Astap Lantamal 2, no HP …., untuk dari Jakarta Bpk Yusuf, no HP ….
Sejak sebelum keberangkatan, Sekum BPMSW Jabar membantu kami dalam penyiapan transportasi. Memang tidak ada kepastian bagaimana kami menuju Mentawai saat itu, namun informasi ini menguatkan bahwa kami tidak “dilepas” begitu saja.
Akhirnya memang kami memanfaatkan bantuan TNI AL untuk berangkat ke Mentawai pada 3 November. KRI Teluk Manado mengantar kami bersama 200-an penumpang sipil dan Polri ke Mentawai sejak pukul 08.00 dari Teluk Bayur. Bahkan ketika kembali ke Padang pada 9 November, kami juga memanfaatkan TNI AL dengan KRI Teluk Cirebon. Ikutnya kami di KRI punya kisah sendiri.
Yanti Lazuardi (Senin, 1 Nov, 11:37:55)
Pdt Rasid, ini Yanti Lazuardi …, kami doakan agar Tuhan pakai pelayanan bapak dan tim dengan sangat indah.
Setiba di Padang, saya langsung telepon Lantamal. Mencari info tentang keberangkatan KRI. Jawabnya: “KRI baru berangkat 3 November nanti.” Itu berarti dua malam lagi kami di Padang. Menurut info, feri akan berangkat 2 November malam.
Selasa pagi, 2 November, saya kembali mengontak Lantamal, masih menanyakan hal sama dengan harapan siapa tahu hari ini KRI berangkat. Tetapi jawabannya tetap sama bahwa KRI baru berangkat besok pagi. Saya bilang, “Baik Pak, kalau begitu saya hubungi bapak lagi besok.” Kami berpikir, sore ini feri berangkat, sehingga tidak perlu menumpang KRI besok. Ambil yang berangkat lebih dahulu.
Siang itu kami habiskan dengan berbelanja segala keperluan bantuan. Beras, pakaian dalam, makanan bayi, biskuit, sarung, dsb., selain keperluan kami sendiri. Tengah hari kami menuju Teluk Bayur, dengan 2 kendaraan barang, untuk naik feri. Namun, feri tidak berangkat malam ini – cuaca masih berbahaya.
Gagal berangkat dengan feri menuju Mentawai karena gelombang tinggi, rekan-rekan sepelayanan memberikan kekuatan.
Teguh Putra (Selasa, 2 Nov, 16:04:02)
Teriring salam dan doa bagi rekan-rekan di sana, usahakan memakai kapal yang besar untuk tiba di tempat tujuan. Selamat bertugas dan Tuhan memberkati.
Adijanto Surjadi (2 Nov, 16:06:11)
Doa kami selalu. Dalam acara HUT GKI Surya Utama juga disampaikan bahwa Rasid persiapan menuju Mentawai. Semoga alam sedikit ramah, agar relawan dan bahan makanan dapat dikirim.
Sore itu, kembali saya mengontak Lantamal. Kami memutuskan naik KRI saja besok pagi. Responsnya: “Lho, saya sudah batalkan ketika bapak bilang akan menghubungi besok.”
Saya berusaha: “Tolonglah Pak, kami cuma bertiga.”
Kol Indarto bertanya: “Bawa barang?”
Saya jawab: “Beras, 1 ton dan beberapa barang bantuan.”
Jawabnya: “Saya akan coba usahakan, tetapi tidak bisa membawa barang. Kapal sudah penuh barang. Nanti saya hubungi lagi.”
Sekitar 20 menit kemudian, telepon seluler saya berbunyi. “Besok kapal berangkat pukul 08.00. Bapak temui saya di pelabuhan pukul 07.00. Jangan lupa bawa makan siang sendiri. KRI tidak menyediakan makan.”
Malam itu di hotel, kami menyiapkan barang bawaan. Sebanyak mungkin barang bantuan bisa dimuat di koper-koper dan semampu mungkin kami membawanya sendiri. Jadi harus sesedikit mungkin barang bawaan yang terlihat. Barang-barang besar terpaksa kami tinggalkan dulu di Padang.
Kuntadi (2 Nov, 18:01:27)
Di Sikakap nanti hubungi Ephorus GKPM. Banyak barang bantuan numpuk tak terdistribusi. Tadi saya bicara dengan beliau, Pdt Simanjuntak. Tetap sabar ya, keadaan memang tidak normal.
Setiawati (2 Nov, 19:24:37)
Wah penuh perjuangan nih, tapi pasti pimpinan Tuhan memampukan kamu dan Tim GKI. Selamat berjuang ya. Tuhan Yesus Kristus memberkati.
Rabu, 3 November, pukul 06.00 Tim GKI tiba di pelabuhan TNI AL. Ternyata kami belum terdaftar di Lantamal. Kami malah tidak tahu harus mendaftar dulu, sehingga kami tidak boleh ikut kapal. Saya langsung mengontak Kol Indarto: “Pak, kami tidak boleh ikut kapal, belum terdaftar.”
Kol Indarto menjawab tenang: “Kemarin kan saya bilang, tunggu dan temui saya pukul 07.00, sekarang masih 1 jam lagi.”
Pukul 07.00, peluit di kapal berbunyi, seorang Perwira Tinggi menaiki kapal. Tidak lama kemudian HP saya berbunyi: “Silakan naik sekarang,” kata suara di sana. Kami segera naik, mencari posisi yang baik untuk meletakkan barang. Baru saat itulah kami bertatap langsung dengan Kol Indarto.
Saya dan Kol Indarto sebelum KRI Teluk Manado berangkat ke Mentawai
Setelah barang mendapat tempat, semua calon penumpang diminta turun lagi. Sekarang baru boleh naik kapal setelah dipanggil namanya satu per-satu. Nama kami belum ada didaftar. Ketika pemanggilan nama hampir selesai, dari atas kapal Kol Indarto berseru: ”Pak Rasid, apakah tadi sudah mendaftar?” Pemanggilan nama para calon penumpang berhenti sejenak.
”Belum, pak,”jawab saya.
”Kalau begitu, nanti langsung masuk kapal saja,” katanya. Dialog kami didengar langsung oleh para anak buahnya yang sedang memanggil nama para calon penumpang.
Sebelum berangkat, saya mengirimkan SMS perihal keberangkatan kami. Cuaca di laut masih belum kondusif. Ketika kami terombang-ambing menuju Mentawai dengan KRI Teluk Manado, seorang rekan sempat mengirim SMS sebelum putus kontak telepon dan SMS di tengah laut.
Yolanda (3 Nov, 11:34:32)
Semoga selamat sampai tujuan Pak, semoga dapat melakukan tugas dengan baik, dan semoga selamat kembali ke rumah nanti.
SMS tersebut mengingatkan bahwa Mentawai bukan tujuan, melainkan baru setengah jalan kami, sebab kami harus kembali ke rumah setelah selesai pelayanan.
KRI merapat di Sikakap Pagai Utara pukul 18.00. Perjalanan laut selama 10 jam, kapal agak bergoyang karena gelombang lumayan tinggi, tetapi aman dan kami selamat. Keluarga Pak Celcius menjemput kami: Jeffry ”Anak Nabire” (Jenab), Jeffry ”Panjang” atau ”Jepang” – untuk membedakan dua Jeffry yang selalu bersama sejak mahasiswa, dan saya, dengan boat untuk tinggal di rumahnya di Pagai Selatan, 7 menit dengan boat. Kemudian Tim dari GKI Pangim Polim: Dokter Ricardo, Dokter Uli, Firman, dan Taufik, ikut tinggal di rumah ini juga. Besoknya ada kesepakatan Tim ini menjadi satu Tim di dalam pelayanan.
Kamis, 4 November kami isi dengan mencari informasi tentang kondisi Mentawai pasca tsunami, daerah yang belum banyak dijangkau, barang kebutuhan pengungsi, logistik kami sendiri, mengisi BBM boat, dan berbelanja beberapa barang lagi.
Siang saya berencana ikut dengan Pak Celcius keliling darat sejauh jangkauan mobil (hanya dapat menempuh 21 km dengan mobil; Pagai Selatan pada umumnya dihubungkan dengan laut) untuk melihat perumahan bekas gempa 2007. Nah, ketika kami sedang mengisi BBM, reporter MetroTV dan rombongan dokter dari Bandung memohon untuk mengevakuasi 2 korban luka di dusun yang hendak kami kunjungi. Okelah, kami berdua membantu.
Mengevakuasi korban ternyata tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Perjalanan ke rumah korban lumayan jauh; hujan pula waktu itu. Berliku dan turun naik. Setelah korban dibujuk-bujuk untuk bersedia menjalani perawatan intensif, karena luka dan penyakitnya lumayan serius, korban dipindahkan dari dipan dan tandu. Suasana dramatis, karena rintihan korban. Patah tulang kakinya menyebabkan memindahkannya harus ekstra hati-hati dan penuh perhitungan. Kemudian korban dibawa dengan tandu ke jembatan – untuk masyarakat ikut menandu – menaikkan ke mobil, lalu berkendara sejauh 21 km hingga di boat untuk kemudian diseberangkan ke Sikakap. Hari ini, sepanjang siang ini saya isi dengan pengalaman luar biasa.
Cuaca besok kemungkinan bagus. Kami berencana ke dusun Maonai, 3 jalan dengan boat. Kami siapkan segala barang bantuan, alat kedokteran, dan barang pribadi kalau-kalau kami harus bermalam di Maonai.
Menyiapkan sampan untuk ke Maonai.
Menjelang malam, saya menerima satu SMS lagi.
Gerard (4 Nov, 18:48:48)
Sehat kan, Pak? Keadaan bagaimana? Relawan di tenda juga tidurnya? Selamat bertugas.
Jumat pagi, 5 November, pukul 06.30 kami: 7 relawan Jakarta, Pak Celcius, Pak Takmim, dan Jimmy, telah siap berangkat ke Maonai dengan sampan 10 orang plus barang-barang bantuan. Kunjungan perdana Tim GKI ke dusun bencana ini laksana pasukan khusus menuju medan perang. Kepergian kami diantar oleh Ibu-ibu dari keluarga Celcius, didoakan, dibekali setermos nasi hangat, dan puluhan SMS dukungan dari Jakarta saya terima. Bu Celcius mengatakan: “Ini nasi dari beras lokal Mentawai, hangatnya bisa tahan hingga malam.” Maklum, sebetulnya cuaca Jumat itu belum diramalkan akan lebih baik, melainkan Sabtu. Namun penduduk di tempat kami menumpang, mereka sangat mengenal alam laut dan alam Mentawai, meyakinkan hari ini cukup baik.
Cuaca memang tidak ganas, tetapi kondisi boat pinjaman yang mudah oleng tidak memungkinkan kami banyak bergerak.
Sekitar pukul 10.00 kami tiba di Maonai. Ombak menuju pantai cukup menyulitkan boat merapat. Begitu merapat, 2 penduduk Maonai menyambut kami dengan informasi: “Masih 3 orang lagi belum ketemu.”
Dusun Maonai habis total. Rumah-rumah dan gereja, hewan, dan beberapa penduduk, dan entah apalagi hancur. Kepala dusun kehilangan anggota keluarganya: istri, anak, ibu, dan keponakan. Dia juga, dalam tanggungjawabnya, tetap harus memperhatikan dan mengurus penduduk yang sakit dan membutuhkan bantuan.
Penduduk mengungsi ke bukit. ”Berapa jauh?” tanya kami. ”900 meter,” jawab seorang penduduk. Kami menafsirkan, mungkin 1500 meter. Tidak begitu jauh, pikir kami. ”Kalau begitu,” respons saya, ”kita makan bersama di pantai ini nanti saja, setelah kita kembali dari pengungsian.” Ternyata ketika dijalani dengan turun-naik bukit dan terik matahari dengan membawa barang-barang kesehatan, jaraknya dapat mencapai 2500 meter. Sejauh itu kami tempuh sekitar 1 jam perjalanan.
Setiba di lokasi tengah hari, sudah ada 2 dokter dan 1 perawat dan Tim lain, dan 2 TNI AD dari Padang. Kami juga disambut dengan suguhan makan siang oleh penduduk pengungsi. Mereka serba kekurangan, makan pun mereka dapat dari kiriman beberapa hari sebelumnya, dan masih dalam suasana duka, namun mereka bisa memberikan perhatian kepada para relawan.
Jimmy dan pasien di Maonai
Setelah isitirahat dan makan, Tim mengadakan pelayanan kesehatan.
Kembali ke sampan di pantai pukul 15.00. Baru ingat, dua rekan kami: Jenab dan Pak Takmim, yang menunggu sampan dan menaati kesepakatan ”kita makan setelah kembali dari pengungsian”, belum makan!
Operator boat: Pak Takmim, menyiapkan boat untuk ke Eru Paraboat (kanan) hari ini, dan lebih dahulu akan mengembalikan boat yang kami gunakan ke Maonai (kiri) kemarin.
Kuntadi (6 Nov, 09:32:45)
Catatan kamu kami perhatikan. Komunikasi ini sangat berguna. Uniting terus menunggu berita Tim GKI Mentawai kamu.
Menanti turunnya bantuan dari tengah laut
Wajah2 masyarakat Eru Paraboat
Sabtu pagi, sebagian tim membawa barang bantuan ke Aru Paraboat, 2 jam dengan sampan, setengah perjalanan dibanding ke Maonai kemarin. Hanya kami berlima: Jenab, Dokter Ricardo, Pak Takmim sebagai operator perahu, Firman, dan saya. dengan sampan lebih kecil lagi. Satu jam perjalanan, laut sangat bagus, tenang. Satu jam sebelum tiba, gulungan ombak mencapai 4 meter. Begitu pun pulangnya, sekitar pukul 17.00. Mulai dengan ombak bergulung 1 jam, rasanya lebih dahsyat daripada tadi pagi.
Dokter Ricardo memeriksa telinga di Eru Paraboat
Dokter Ricardo bernyanyi-nyanyi sambil tiduran. Jenab cengir sambil terbanting-banting di bagian depan sampan. Firman sibuk membuangi air dari sampan. Operator, Pak Takmim, dengan tenang mengendalikan kecepatan motor sampan. Saya tidak sempat takut, tidak sempat mabuk, maunya cepat tiba di rumah penampungan.
Relawan juga siap siap menjadi tukan pijat.
Setibanya di rumah, sekitar pukul 19.00 seperti kemarin, Pak Celcius menyambut: ”Tadi ombak agak besar, ya, tetapi tidak berbahaya.”
Segera saya mengirim SMS ke istri dan teman bahwa kami telah tiba di Sikakap.
Kuntadi (6 Nov, 20:17:26)
Rasid yang baik, sori mengganggu di tengah kelelahan. Saya ingin kamu tahu bahwa di Jakarta kami mendoakan keselamatan kalian. Ini bukan hiburan klise. Tetapi ungkapan syukur kalian mewakili kami semua. Saya menerima email dari teman saya, Rev. Ken William, Moderator Uniting West Australia Synod, bahwa dia juga terus mendoakan kalian. Tolong beritahu hal ini kepada para dokter dan relawan bahwa mereka ada di dalam doa kami.
Belum selesai sambutan Pak Celcius. ”Tadi Pendeta kami menanyakan apakah Pendeta dari GKI bisa menggantikannya besok. Dia harus memimpin pembaptisan di Jemaat asuhannya yang lain, sehingga ibadah di gereja ini belum ada Pendetanya.” Saya menjawab: ”Tidak bisa saya bilang ’tidak’, pak, tetapi seadanya ya.”
Setiawati Sucipto (6 Nov, 22:00:20)
Tetap kuat ya, doa kami menyertai seluruh pelayanan kamu dan teman-teman semua.
Minggu, 7 November. Puncak ketegangan telah lewat. Data untuk Tim GKI lanjutan telah terkumpul. Setelah ibadah, Tim hanya membuka pemeriksaan kesehatan di rumah dan di kampung Jimmy; ia adalah relawan dan asisten operator sampan yang luar biasa. Jimmy, sedikit tidur, banyak beraktivitas dan kuat. Tim GKI banyak terbantu oleh karena kehadirannya. Kami menyiapkan dan membeli beberapa barang lagi di pasar Sikakap.
Gracia Simanjuntak (8 Nov, 05:21:21)
Tetap semangat melayani di sana ya Pak. Jaga kesehatan dan hati-hati. Pak Rasid dan teman-teman tetap dalam doa kami.
Senin, 8 November, sebagian Tim membawa beberapa barang lagi ke Maonai. Kali ini dengan sampan 2 mesin, pukul 15 sudah tiba kembali di rumah. Sebagian Tim mencari info untuk menumpang KRI ke Padang. Selasa pagi kami menuju Padang dengan KRI Teluk Cirebon.
Rabu, 10 November, kami di Jakarta dengan selamat.
Syennie (10 Nov, 14:34:18)
Pak Rasid bagaimana kabar di sana? Harapan kami semoga semua berjalan lancar dan seluruh Tim dalam keadaan sehat, walaupun mungkin capai dan lelah.
Syennie (10 Nov, 14:48:45)
Oh Syukurlah kalau semua berjalan lancer, senang mendengarnya Pak, dan sudah mau kembali ke Jakarta ya. Baik Pak, nanti saya sampaikan kepada rekan-rekan semua.
Sulistiani (10 Nov, 15:19:34)
Syukur alhamdulilah pak, kalau semua bisa menjadi berkat bagi warga Mentawai.
Tjutju Mutia (10 Nov, 16:08:48)
Sore Pak RR, tadi siang saya kirim 1 koli buku untuk remaja dan lansia. Mudah2an cepat nyampe.
Beberapa hari kemudian, setelah kami semua telah kembali beraktivitas di Jakarta, Jenab, relawan Tim GKI yang masih melanjutkan pekerjaannya membangun asrama di Mentawai mengirim pesan singkat.
Jenab (13 Nov, 20:31:53)
Pak, Bapak dapat salam dari Ketua Majelis di sini dan Kepala Dusun Maonai. ■
Senin, November 22, 2010
TOLERANSI RELAWAN
Oleh: Rasid Rachman
Toleransi adalah satu kata kunci yang tidak boleh dilupakan oleh setiap relawan “gadungan” macam saya ini. Bekerja dengan beberapa orang yang sebagian besar belum saling kenal namun didesak oleh keadaan dan kepentingan serta prioritas dan di dalam kondisi abnormal, jika tidak berpegang teguh pada kata yang satu ini, bisa-bisa stress dan frustrasi akibatnya. Intinya, toleransi harus dibawa kemana pun dan kapan pun, kecuali soal keselamatan jiwa.
Ada banyak alasan untuk bertoleransi di dalam kondisi-kondisi tertentu. Ada yang wajar, ada yang tidak wajar; mau tidak mau melanggar tatanan normal. Misalnya soal menu makanan yang ala kadarnya. Tentu kita harus menganggapnya dan menerimanya sebagai kewajaran. Dapat makan di tengah bencana saja sudah sangat beruntung dan bersyukur, masakan masih mau milih-milih ini dan itu(?) Fasilitas hidup yang seadanya, semisalnya waktu istirahat, tempat tidur, kamar mandi, jelas tidak bisa bermanja-manja nurutin standar. Hal ini belum termasuk ketepatan waktu dan munculnya perubahan mendadak dari rencana matang. Jangan menjadi orang aneh hanya karena mau mulai dan selesai tepat pada jadwal. Atau tidak usah menjadi relawan saja sekalian, jika hal-hal seperti itu masuk ke dalam kriteria.
Sikakap, ibu kota Kecamatan di Pulau Pagai Utara, pada 4 November 2010, sepekan setelah tsunami melanda bagian lain dari Pulau Pagai Utara dan Pagai Selatan.
Setibanya Tim GKI di rumah keluarga Celcius 3 November 2010; berbincang dan makan malam.
Bagi saya, kondisi semacam itu adalah hal yang lumrah. Bahkan seringkali saya menjadi malu sendiri dan “gak enak ati” ketika keluarga yang menerima kami melayani dengan sepenuh hati. Mereka menyediakan segala keperluan kita, baik tim maupun pribadi, dan melampaui waktu kegiatan rutin mereka. Aktivitas harian dan pekerjaan rutin seringkali terganggu dengan kehadiran tim relawan. Sekali waktu, keluarga yang menerima kami sampai menyembelih hewan piaraannya ketika lokasi kami terisolir dari bahan mentah karena terhambat cuaca laut selama sepekan.
Di pengungsian juga tidak jauh berbeda. Pernah kami menuju lokasi pengungsian yang lumayan berat. Tim harus berjalan mendaki bukit sejauh 2,5 km dengan membawa barang-barang bantuan termasuk makanan. Baru saja kami tiba di lokasi setelah lebih dari 1 jam berjalan, masih terengah-engah, ibu-ibu pengungsi sudah menyediakan makan siang di tenda tamu. “Silakan makan bapak-bapak dan ibu,” sapa mereka. Penuh rasa heran dan haru, kami pun menyambut keramahan mereka dan menyantap makanan yang disediakan.
Soal safety first juga termasuk di dalam kerangka toleransi. Walaupun kami tetap mengutamakan keselamatan diri, namun agak diperlonggar sedikit. Kapasitas maksimum sampan atau tinggi gelombang sejauh masih rasional dan hati-hati, dihadapi. Dalam perjalanan membawa bantuan ke Monai, kapasitas sedikit melampaui maksimum. Masih dapat diakali, berangkat lebih pagi. Alasannya selain supaya berangkat sebelum ombak terlalu besar, juga karena waktu tempuh menjadi lebih lama dengan saratnya muatan di sampan.
Ketika mengantar bantuan ke Eru Paraboat, cuaca tidak terlalu baik sekalipun cuaca di darat baik. Gelombang setinggi 4 meter, walaupun membuat ketar-ketir orang darat namun masih dianggap biasa oleh orang laut, masih ditoleransi karena belum membahayakan keselamatan. Pesannya hanya: “Hati-hati di jalan.”
Namun toleransi yang betul-betul perlu perhatian adalah perokok. Kebanyakan relawan dan penduduk adalah perokok. Yang tidak merokok, menderitalah. Aksi merokok para perokok ini tidak kenal tempat, bisa di dalam ruangan tertutup, waktu ngobrol, di dalam kamar, setelah makan, rapat, bahkan di depan anak-anak. Asap dan bau rokok ada di mana-mana. Yah mau apa lagi, demi kepentingan misi menolong korban dan kerjasama, hal-hal semacam ini harus ditoleransi juga. Yang keberatan tidak dapat menghardik: "No smoking area!"
Ada juga toleransi dalam hal kesehatan. Bukan hanya waktu makan dan waktu istirahat, pakaian yang dipakai pun perlu ditoleransi. Pakaian yang tidak sempat dicuci atau tidak sempat kering, rela juga dikenakan. Hal biasa juga jika pakaian dalam dikenakan AC-DC alias bolak-balik. Memang, relawan seringkali membawa sedikit sekali keperluan pribadi, karena harus berbagi ruang koper dengan barang-barang bawaan sebagai bantuan kepada korban. Belum lagi soal cuci tangan sebelum makan dan cuci kaki sebelum tidur.
Pikir-pikir, menjadi relawan tidak terlalu jauh beda dengan hidup sebagai pengungsi. Namun, guna menghibur hati, begitulah seni menjadi relawan. Relawan memang bukan turis di lokasi bencana. ■
Kamis, Oktober 14, 2010
HEWAN-HEWAN ISTIMEWA
Oleh: Rasid Rachman
Ada tiga hewan yang membuat saya berkesan, yaitu ular laut, gajah, dan komodo. Ketiga hewan tersebut sangat spesial tingkah lakunya dan cara hidupnya. Mungkin dari mereka pula kita mendapat pencerahan.
Ular laut, ular belang dengan warna putih dan hitam bergaris-garis hitam pada seluruh kulitnya, dan kita belajar darinya tentang penguasaan diri. Ular ini sangat berbisa. Walaupun ukuran badannya tidak besar, kualitas bisanya 10 kali lebih dahsyat daripada bisa ular kobra. Kemampuan renangnya di laut, luar bisa. Demikian pula kemampuan menyelamnya. Di darat ia bisa merayap, dan di air ia lincah dan gesit. Mangsa dalam cengkramannya tidak berkutik. Begitu terkena pagutnya, sang korban mati hanya dalam waktu beberapa menit. Jika ia memagut manusia, konon sang korban hanya mampu bertahan hidup tidak lebih daripada 10 menit.
Namun ular ini tampil bersahaja, alias tidak menonjol. Bahwa ia memiliki bisa yang sangat mematikan, tidak banyak orang yang tahu. Ia “jinak” untuk ditangkap dan dipegang. Berbeda dengan memegang ular-ular lain, yakni di leher bagian atas, orang memegang ular ini cukup di badannya. Sementara kepala dan mulutnya, “pintu” mengeluarkan racun ganasnya, bebas berkeliaran. Ular ini tidak pernah atau jarang sekali memagut.
Memang ular ini berkesan tidak berbisa. Bahkan banyak orang tidak mengetahui bahwa ular ini sangat berbisa. Orang merasa ular ini aman-aman saja. Bahkan anak-anak pun berani memegang dan mengangkat sekaligus beberapa ular ini dengan agak sembarangan, hanya dengan dua tangan.
Jadi untuk apa bisanya? Ia hanya menggunakan bisanya untuk memagut mangsanya. Ikan-ikan kecil atau kadal sekitar pantai adalah makanannya. Mempertahankan diri dari ancaman, ia tidak pernah atau jarang sekali merasa terancam. Para nelayan cukup mengangkat badannya dengan lembut, jika hendak menyingkirkan atau menangkap ular ini. Ia tidak memagut. Bisa yang dimilikinya hanya digunakan untuk makanan yang hendak dimakannya. Itulah yang disebut penguasaan diri si ular laut.
Gajah juga istimewa. Bukan hanya badannya yang besar seukuran raksasa, atau tenaganya yang mahakuat, tetapi juga berbudaya. Gajah berbudaya? Ya, hewan yang hidupnya berkelompok ini adalah hewan yang mengenal dan mempraktekkan ritual kematian sesamanya. Banyak hewan besar di dunia ini, yang tentu memiliki lebih banyak unsur emosi juga dibanding hewan-hewan yang lebih kecil, namun tidak sebanding dengan gajah. Ini bukan masalah kecerdasan, tetapi bagian lain dari tubuhnya, yakni rasa beradab.
Kawanan gajah menghentikan perjalanannya sejenak ketika mereka mendapati tulang belulang gajah lain. Tulang belulang itu dapat berasal gajah tetangga yang mati lemas karena terlalu tua, atau sisa-sisa tubuh gajah yang dimangsa predatornya, atau kecelakaan terjebak kubangan lumpur. Kawanan gajah akan mengelilingi tulang belulang tersebut. Kadang-kadang ada gajah yang menyentuh dan mencolek tulang-belulang, sementara gaja-gajah yang lain berkeliling dengan hening. Itulah ritual kematian kawanan gajah – bisa memakan waktu 2 jam untuk ritual itu.
Menurut info pengamat, kadang-kadang kawanan gajah membawa tulang belulang itu untuk mencari dan menyerahkannya kepada keluarga dari si tulang gajah. Bahkan beberapa kali pengamat juga melihat ritual kematian itu dilakukan oleh kawanan gajah kepada mamalia besar lain, seperti kerbau liar.
Singa adalah salah satu predator gajah. Dalam keadaan terpaksa, misalnya musim panas yang lama di sabana, kawanan singa mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan menerkam gajah sebagai santapannya. Melihat serangan kawanan gajah, seekor dari kawanan gajah, biasanya yang merasa paling lemah atau paling tua, akan menghalau kawanan singa. Ia menyerahkan diri diterkam, dikeroyok, dan dijatuhkan untuk kemudian dimangsa oleh para singa. Ia mengorbankan diri bagi kawanannya. Dengan begitu, ia membiarkan kawanan gajah lain menjauhi kawanan singa.
Komodo adalah hewan purba yang sangat percaya diri dan pemberani, selain kuat. Keteguhan komodo membuat hewan ini tidak pernah merasa terancam oleh siapa pun – mereka juga tidak terancam punah. Hewan-hewan liar lain merasa terancam jika berpapasan dengan manusia atau hewan kuat yang lain. Hewan-hewan predator langsung memangsa makanannya jika melihatnya. Komodo bergeming. Bahkan komodo berjalan santai melewati rombongan manusia, atau tetap tidur-tiduran di antara para pemotret sekitarnya, ogah menyingkir sekalipun di sodok-sodok tongkat bercabang.
Komodo memakan apa saja, yang penting daging, baik hidup maupun mati, termasuk manusia dan sesama komodo. Sesamanya adalah sekaligus pemangsanya atau makanannya.
Mungkin komodo adalah hewan tanpa rasa takut, kecuali naluri untuk bertahan hidup. Komodo anak segera memanjat pohon, dan tinggal di atas sana karena menghindari dimangsa oleh komodo besar. Selama 2 tahun komodo anak tinggal di pohon, berjuang sendiri mendapatkan makanan – entah burung, kadal, ular kecil, atau hewan apa pun – yang hinggap di pohonnya. Begitu dewasa, dan siap berburu makanan, komodo anak baru turun ke darat.
Komodo tidak terlalu buru-buru dan bernafsu untuk menyantap makanannya saat ia mengigitnya. Komodo tidak menyiksa hewan besar buruannya dengan makanannya selagi sehat. Kerbau buruannya, “hanya” digigit di sekitar kaki atau pahanya, kemudian dibiarkan kerbau itu menikmati sisa hidupnya. Sekitar 2-3 pekan kemudian, bakteri-bakteri yang masuk ke tubuh kerbau melalui liur komodo yang menempel di luka gigitan komodo mulai menggeroti kesehatan kerbau. Ketika kerbau sekarat itulah, komodo menayntapnya – dengan “mengajak” teman-temannya makan ramai-ramai. °
Senin, Agustus 16, 2010
KEMACETAN DI JAKARTA
Oleh: Rasid Rachman
Di antara banyak hal menyangkut berlalu lintas, busway dan three-in-one adalah topik yang cukup ramai dibicarakan. Sejak sebelum kelahirannya hingga saat ini, hampir setiap saat soal ini ada sebagai berita ibukota. Akhir-akhir ini muncul lagi pembicaraan tentang busway, kali ini menyangkut ketegasan penerapan larangan bagi kendaraan non-Transjakarta memasuki jalur busway. Seperti telah diduga, cetusan dan letusan ketegasan ini hanya berlangsung selama 2-3 hari.
Dasar pengaturan lalu lintas
Bagi masyarakat, hal peraturan berlalu lintas kena mengena pada 3 hal, yaitu: keamanan, kenyamanan, dan ketertiban.
Keamanan. Penempatan tanda-tanda dan rambu-rambu di jalan dibuat dengan salah satu tujuannya adalah untuk menjaga keamanan, baik keamanan pengendara, maupun keamanan pengendara lain dan pejalan kaki. Larangan berhenti di tepi jalan TOL, misalnya, dibuat agar kendaraan yang berhenti tidak tertabrak kendaraan yang sedang melaju.
Kenyamanan. Sikap saling menghargai karena sama-sama membutuhkan jalanan dan waktu, sampai ke tujuan dengan cepat dan selamat, dan kenyamanan berkendara wajib dimiliki oleh setiap pengemudi. Pemerintah memfasilitasi hal tersebut secara adil. Pengaturan lajur dan jalur, penempatan tanda-tanda dan rambu-rambu lalu lintas dibuat dengan dasar kenyamanan tersebut.
Ketertiban. Alasan ketertiban adalah alasan yang paling penting dalam penerapan peraturan lalu lintas. Adanya tanda verboden atau jalan satu arah di jalan selebar 5 meter bertujuan agar lalu lintas lancar, tidak macet, dan tentu hasilnya adalah irit bahan bakar.
Kenapa masih saja macet?
Bahwasanya lalu lintas di Jakarta selalu macet, semua orang sudah tahu penyebabnya klise-nya sejak belasan tahun yang lalu. Jumlah mobil semakin banyak, sementara jumlah panjang jalan tidak mencukupi adalah salah satu alasan. Alasan lain, waktu pergi dan pulang kantor bersamaan di pagi dan sore hari, sehingga jalan-jalan penuh dengan kendaraan.
Sejauh ini pemerintah menerapkan dua hal sebagai, katanya, solusi kemacetan, yaitu three-in-one dan busway. Setelah belasan tahun penerapan area three-in-one dan beberapa tahun busway, semua orang, termasuk polisi lalu-lintas, dengan mudah dapat menjawab bahwa kedua hal itu justru merupapakan “biang” kemacetan – bukan solusi.
Soal yang tidak klise adalah belum adanya dasar yang cukup memuaskan untuk menjawab keberadaan three-in-one dan busway merupakan solusi kemacetan. Setelah ada three-in-one dan busway, kemacetan bukan berkurang malahan bertambah, plus sakit hati pengguna jalan raya.
Lantas, kalau tahu penyebab kemacetan dan pemberian “obat solusi” yang salah masih kepala batu? Kenapa tidak menambah dan membarui jumlah kendaraan umum reguler secara signifikan, baik bus maupun kereta? Kenapa tetap memberlakukan three-in-one di jalan-jalan tertentu demi busway dan kawasan tertentu? Kenapa tidak memperluas jalur-jalur baru ke dan dari pinggiran Jakarta? Termasuk, kenapa busway hanya merupakan Transjakartaway yang jumlah armadanya sangat sedikit itu, sehingga bus-bus non-Transjakarta tetap menggunakan jalur kendaraan lain? Kenapa tidak serius mengamankan dan menyamankan masyarakat dari gangguan preman-preman di kendaraan umum? Kenapa tidak memberlakukan sistem gratis lewat TOL dalam kota, sekalipun hanya pada waktu-waktu tertentu? Kenapa tidak membuka alternatif lain moda transportasi selain bus dan jalan raya? Mulai memanjakan pesepeda, misalnya. Kenapa jumlah masyarakat dan pejabat yang mengambil hak pengguna jalan dengan pengawalan petugas semakin banyak?
Ketimbang polisi sibuk menjaga masuknya kendaraan di area three-in-one dan jalur busway, terutama pada waktu-waktu padat, kan lebih baik mengatur perempatan yang rawan kemacetan, menilang motor-mobil yang melawan arus demi egoism, menjaga keamanan di perberhentian kendaraan umum yang rawan kejahatan.
Mulai dari manusianya
Ada tiga kelompok manusia yang terlibat langsung dalam berlalu lintas yang beradab, yaitu pengendara, pemerintah, dan pengguna. Semuanya saling kait mengait dalam kemacetan atau kenyamanan. Pemerintah seharusnya memfasilitasi penyediaan transportasi yang nyaman dan aman. Misalnya menyediakan area pesepeda dan pejalan kaki yang nyaman, menambah dan membarui moda transportasi, menghapus peraturan three-in-one, busway, dan bayar TOL dalam kota. Masyarakat pengguna seharusnya menjaga kenyamanan; misalnya tidak membuang sampah sembarangan, berani menggempur premanisme, menyeberang pada tempatnya, membayar tiket, dsb. Pengendara seharusnya mematuhi segala aturan berlalu lintas. Misalnya tidak mengendarai kendaraan dengan kecepatan di bawah batas minimum atau di atas batas maksimum, santun mengendarai, – intinya adalah patuh berlalu lintas.
Sumber kemacetan yang sesungguhnya adalah manusianya. Bukan banyaknya jumlah kendaraan atau pendeknya jalan-jalan. Jadi manusianya yang harus membarui sikap berlalu lintas. ♦
Kamis, Juni 03, 2010
TUGAS, JALAN2, MAKAN2
Oleh: Rasid Rachman
T U G A S
Sesekali saya mendapatkan tugas pelayanan yang ber-tumpuk2. Biasanya tanpa sengaja. Pekan lalu, 28-30 Mei 2010, misalnya. Semula, saya dijadwalkan oleh Sinwil Jabar pertukaran ke Kebonjati – itu biasa. Namun beberapa bulan sebelumnya saya juga dijadwalkan memimpin materi teologi liturgi nikah di bina Pranikah di Puri Indah hari Jumat sebelumnya – itu juga masih biasa. Baru menjadi agak luar biasa ketika sebulan sebelumnya panitia Pranikah meminta tambahan materi, yakni Teologi Pernikahan, yang jelas2 bukan bidang saya. Jadi harus menulis lagi materi baru sebagai tambahan. Tidak lama kemudian, GKP Klasis Priangan meminta kesediaan saya membekali para aktivis ibadah di Lembang hari Sabtu pagi. Okelah, tiga2nya (dasar serakah!) saya sanggupi.
Persoalan menjadi agak rumit ketika saya baru tahu bahwa itu adalah hari libur panjang (Waisak), tagihan dari Pranikah bertubi2 padahal makalah belum selesai, dan surat dari GKP baru saya terima beberapa hari sebelumnya. Tambah rumit lagi, sesampainya di Lembang, saya baru tahu bahwa acara tersebut melibatkan saya hingga sore – bukan cuma 2–3 jam. Nah itu, Bandung sedang macet2nya, saya harus selalu bergegas, belum persiapan2 sebelumnya.
Maka jadilah, Jumat pagi meninggalkan rumah menuju GKI Puri Indah. Selesai 2 sesi Pranikah pukul 13.20 cabut menuju Bandung yang macet banget, karena semua orang dari segala ujung bumi plesir dan tumpleg-bleg di Bandung. Sabtu pagi2 bergegas ke GKP Lembang, pimpin hampir 3 sesi. Pukul 16 kurang dari Lembang menuju Bandung, menghabiskan waktu 3 jam lebih – kebayang ga sih – karena macet-cet di Ledeng dan Cihampelas. Minggu pagi2 sudah pimpin 2 ibadah di Kebonjati, tengah hari balik ke Jakarta.
Kalau sudah begini, cara paling afdol mengatasi stres adalah tetap santai dan menggunakan waktu istirahat se-baik2nya, supaya semua berjalan dengan baik dan pikiran tetap segar.
J A L A N2
Salah satu cara bersikap santai adalah berpikir atau anggap saja ini jalan2; wisata di dalam tugas. Kuncinya, pergi menuju ke tempat2 tujuan ketika masih banyak waktu, sehingga tidak buru2, dan masih sempat melihat2 kiri-kanan atau mampir2, dan sambil menikmati pemandangan alam dan mendengarkan musik di mobil.
Pemandangan sepanjang TOL Jakarta-Bandung tetap asik dilihat. Saat ini sudah mulai hijau, jurang2nya dan jembatan2nya tetap sensasi tersendiri bagi pengendara mobil. Nyanyian2 lama pop Indonesia yang terkesan jenaka, alunan musik piano Jaya Suprana yang tenang, dan petikan gitar Jubing yang mengesankan, adalah terapi istimewa di tengah ancaman stres dan ketegangan berkendara di TOL atau di macet.
Yang juga penting adalah motret2 di kemacetan. Memang sangat repot dan berbahaya, tetapi mengasyikan, asal ber-hati2. Tingkah polah orang, baik pengemudi maupun panjaja dagangan, merupakan sasaran bidik kamera. Lokasi2 tertentu, semisal rumah makan, tempat2 nongkrong, bangunan2 menarik, dan alam sekitar dapat menjadi sasaran pemotretan. Hanya sayang, sejauh ini saya belum mendapat objek pemotretan yang pas tersebut.
Bandung-Lembang kini agak berubah. Setelah Ledeng, menuju Lembang, ada tempat2 baru untuk nongkrong. Ada es krim, ada susu murni dan yoghurt, ada taman strawberi, dan ada hotel2 baru. Waktu terakhir ke mari, sekitar 4 tahun lalu, tempat2 tersebut belum ada. Lain kali, saya pasti ke mari untuk liburan dengan keluarga.
M A K A N2
Dalam “kamus” saya, makan2 di tempat di perjalanan adalah wajib hukumnya. Namun untungnya Dewa-Dewi Keberuntungan memang seringkali ga jauh2 dari saya. Tiba di GKP Lembang pukul 8.30, langsung ditawari susu murni, padahal baru 20 menit sebelumnya saya minum yoghurt. Dalam perjalanan ke GKP Lembang, Sabtu pagi, pukul 8 mampir dulu minum yoghurt yang sudah ngangenin.
Yang lebih mantap lagi adalah makan siang. GKP ini menyajikan saksang – B1 men – selain menu2 lain. Di Lapo2 di Jakarta dan Tangerang, saksang B1 sulit ditemui. Saya pernah makan saksang di BSD, Vila Melati Mas, dan Senayan, cuma menyediakan saksang B2. jadi, sudah lama sekali ga makan saksang B1, maka terpuaskanlah seleraku hari itu di GKP Lembang kemarin itu. Lebih mantap lagi, sehabis makan dibungkusin oleh ibu2 di situ sebagai oleh2.
Sesampainya di Bandung, di depan Hotel Trio Gardujadi tempat saya menginap, ada bubur ikan – enak tentu. Apalagi, bubur itu saya campur dengan saksang yang diberikan sebagai oleh2 oleh ibu di GKP Lembang. Rasa agak asin2 bubur dicampur dengan rasa pedas2 saksang, rasanya selangit euy. Saking enaknya makan, sampai lupa memotret menu kombinasi tersebut.
Selain bubur, di Gardujati juga ada nasi campur, bandrek, mi ayam, dan lain-lain. Tetapi, yah harus ingat umur. Tahun 1984 waktu baru lulus SMA, saya pernah jalan2 aja melewati Gardujati dengan aroma makanan2nya. Tapi waktu itu, kantong tidak memenuhi syarat. Sekarang, umur tidak lagi memenuhi syarat.
Tubuh lelah dan perut kenyang, padahal besok masih harus pimpin ibadah hari Minggu di GKI Kebonjati dan kembali ke Jakarta, membawa saya ke alam tidur lebih awal hingga esok pagi.
Bangun pagi2, siap2 pimpin ibadah utama. Selesai ibadah, GKI Kebonjati, tempat saya bertugas memimpin ibadah, menyediakan ngohiang ala Bandung. Hajar ble...eeh, sementara para Penatua menghitung uang kolekte di konsistorium.
Jadi siapa bilang perjalanan tugas ga bisa menyenangkan. Yang penting ada musik di mobil, makan2, dan motret2, maka tugas2 dapat dilakukan dan diselesaikan dengan baik. °
Minggu, Februari 28, 2010
MENGISI LIBURAN DI TZU CHI
Oleh: Rasid Rachman
Banyak acara untuk mengisi cuti atau liburan, selain jalan-jalan dan wisata kuliner. Namun ketika tiba waktunya, keder juga memanfaatkan waktu. Biasa, lagu lama, malas ngerjain apa-apa. Apalagi saat ini saya mengambil cuti di luar waktu libur sekolah anak. Jelas, ga bisa jalan-jalan. Untung, di hari terakhir cuti kami teringat untuk menjadi relawan 2 jam di Depot Daur Ulang Tzu Chi Gading Serpong.
Depot ini buka setiap hari. Urusan depot ini adalah mendaur ulang sampah-sampah kering hasil rumah tangga. Depot mengambil atau menerima sampah-sampah kering dari “para langgaran” sekitar lokasi. Siapa saja boleh bergabung sebagai “pelanggan” depot. Sampah-sampah tersebut kemudian dipilah menurut jenis-jenisnya: kertas, kadus, kertas kekuningan, kaleng, kantong plastik, gelas plastik, botol, dsb. Dari depot ini sampah-sampah tersebut kemudian disalurkan atau dijual ke penyalur. Selain sebagai penyalur pertama setelah rumah tangga, depot ini telah menanamkan pendidikan akan pemanfaatan kembali sampah kepada masyarakat.
Hari ini, para relawan yang jumlahnya 40 orang itu diberi tugas menguliti merk botol dan mengorek mulut gelas air mineral. Untuk botol, tutupnya dan kalungan cincin pada mulut botol dibuka, merknya dilepaskan dan dikumpulkan di suatu tempat. Terhadap botol plastik itu, diinjak-injak sehingga gepeng, lalu dikumpulkan di suatu tempat pula. Untuk gelas mineral, setelah plastik bekas penutup gelas dibuka, sisa penutup yang tertempel rapat di bibir gelas, dikorek-korek dengan gunting hingga lepas. Gelas-gelas tersebut juga dikumpulkan di suatu tempat. Semua barang siap salur tersebut akan ditampung oleh penampung lain di tempat lain untuk kemudian didaur ulang atau digunakan kembali.
Siapa pun dapat menjadi relawan. Hari ini kami bergabung dengan para mahasiswa pendidikan agama Buddhis dari Bumi Serpong Damai. Mereka sudah tiba dan berkerja lebih dahulu – mungkin karena sudah janjian dengan pengurus depot. Dengan bekerja sesuai peran dan penugasan masing-masing, orang-orang muda ini bekerja dengan cekatan dan tidak banyak bicara, tetapi tetap dapat bercengkerama.
Kerjanya sendiri memang mengasyikan. Sambil duduk, relawan mengorek dan menguliti gelas-gelas plastik, lalu melemparkannya ke keranjang. Ketika bekerja itulah, relawan saling mengobrol, ada yang sambil bercanda, namun ada pula yang mengkoordinasi semua pekerjaan atau memotret. Ada pula beberapa relawan yang menyediakan fasilitas, seperti menuangkan sejumlah gelas atau botol ke tempat di mana gelas dan botol hampir habis, mengangkat dan menyesiakan kembali keranjang gelas dan botol. Pembagian tugas tersebut memang memudahkan pekerjaan menjadi lebih cepat diselesaikan.
Sekitar pukul 12, satu persatu relawan berhenti bekerja. Rupanya waktu kerja memang antara pukul 09.00 hingga pukul 12.00. Waktu yang tidak lama, namun hasil yang dicapai lumayan banyak. Berkarung-karung gelas dan botol bekas siap salur telah tersedia.
Sedikit pikiran nyeleneh saya, kapan ya para pemuda gereja berpola pikir bahwa kegiatan pemuda gereja bukan melulu ibadah dan persekutuan, tetapi juga peduli lingkungan? °
Minggu, Desember 06, 2009
KEARIFAN LOKAL
Oleh : Rasid Rachman
BENGAWAN SOLO
Baru-baru ini, November 2008, Penerbit KOMPAS menerbitkan buku tentang penelusuran sungai Bengawan Solo. Buku “Ekspedisi Bengawan Solo” tersebut berisi laporan jurnalistik penelusuran Tim Bengawan Solo yang diprakarsai oleh KOMPAS pada pertengahan tahun 2007. Saya telah membaca buku tersebut hingga selesai; itu awal tahun 2009. Itu pun salah satu buku yang saya idam-idamkan membacanya (sekaligus memilikinya) begitu ia diterbitkan.
Tulisan dengan gaya bahasa ringan dan dalam bentuk pendek-pendek ini: 2-5 halaman per-tulisan, memotivasi saya untuk terus-menerus membacanya. Bukan hanya di kala sekadar menunggu waktu berjalan, tetapi saya sengaja juga membaca bagian demi bagian tentang kehancuran peradaban sungai besar. Sungai sepanjang 527 kilometer (kira2 setengah dari jarak antara ujung Jawa Barat dan Jawa Timur) tersebut merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa sekaligus sungai tua.
Sungai yang (pernah) menyulam peradaban manusia, baik melalui transportasi, kehidupan prasejarah, maupun kerajaan itu, kini dalam kondisi memprihatinkan. Pendangkalan, air sungai terkontaminasi limbah pabrik, dan tempat pembuangan sampah turut andil menjatuhkan peradaban manusia dalam hal pencemaran sungai. Sungai ini tidak lagi diperlakukan sebagai bagian dari sejarah bumi dan manusia, tetapi sebagai bulan-bulanan manusia menata masa depannya.
Slogan yang membuat saya terhenyak ketika membaca buku ini adalah “kearifan lokal”. Yang dimaksud kira-kira adalah kearifan mandiri dari masyarakat sekitar sungai Bengawan Solo dalam menjaga sungai agar lestari. Lestarinya sungai adalah memberi kehidupan dan keseimbangan ekosistem. Muara dari kelestarian sungai tersebut adalah hidup manusia sendiri. Oleh karena itu, kelestarian sungai harus dijaga, pertama2 oleh masyarakat sekitar sungai sendiri.
JAKARTE
Tadi siang di pintu TOL Kebonjeruk Jakarta, di depan stasiun RCTI, saya memperhatikan pedagang makanan dan minuman. Ia sedang melepas bungkus plastik sedotan minuman mineral. Plastik2nya dibuang begitu saja di bawah kakinya - lantas tertiup angin atau tergerus air jika hujan kemudian masuk got di dekat situ. PADAHAL, tepat di sebelah lapaknya terdapat tong sampah besar. Jelas, contoh orang seperti ini memerlukan kearifan lokal.
Di beberapa tempat di Jakarta, kita dapat menjumnpai spanduk2 dengan slogan: JAKARTE, KALO BUKAN KITE2 YANG JAGE, SIAPE LAGI ...? Begitu kira2 slogan dan kampanye kearifan lokal.
PENUTUP
Kearifan lokal. Bukan hanya untuk mengelola Bengawan Solo atau kota2 besar semacam Jakarta, tetapi juga untuk kehidupan bergereja dan berjemaat, saya kira kita membutuhkan kearifan lokal. Sebagaimana masa depan Bengawan Solo dan Jakarta terletak di tangan masyarakat sekitar, demikian pula pembangunan jemaat terletak di tangan umat dan pengelolanya. °
Jumat, Oktober 23, 2009
MANCUNG DAN PANCUNG
Oleh : Rasid Rachman
Saya terperangah ketika membaca di Intisari edisi Agustus 2009 halaman 23 tentang Michael Jackson yang melakukan “pemancungan hidung”. Setelah berpikir agak lama, baru saya mengerti maksud kalimat tersebut. Sumber persoalanya adalah saya terancu antara kata-kata dasar mancung dan pancung.
Lema “mancung” (kata sifat) dan lema “pancung” (kata kerja) memang tidak saling berkaitan, karena mempunyai arti yang sangat berbeda. KKBI terbitan 1996, demikian pula KUBI terbitan 1986, menuliskan bahwa mancung berarti makin ke ujung makin kecil, runcing, lancip. Dalam praksis di masyarakat, kata “mancung” hampir pasti dikonotasikan pada hidung seseorang. “Hidung si A mancung,” untuk menyatakan hidung si A itu lancip sehingga terlihat agak panjang. Untuk yang bukan hidung, kata mancung agak janggal dikenakan. Orang mengatakan “jalan setapak itu menyempit,” tetapi bukan “jalan setapak itu mancung.” Atau “ujung pensil runcing,” bukan “ujung pensil mancung.” Untuk yang bukan orang, kata “mancung” juga jarang dikenakan. Hidung gajah atau anoa tidak disebut mancung, melainkan panjang atau agak menonjol keluar. Tetapi memang ada kera berhidung mancung.
Untuk kata pancung, kedua kamus tersebut menuliskan artinya, yaitu: menetak atau memenggal. Dalam praksis, pancung lazim dikonotasikan untuk memancung anggota tubuh baik manusia maupun hewan. Penjahat yang divonis hukum pancung, kepadanya akan dikenakan pemancungan oleh algojo.
Dalam kasus artikel Michael Jackson di atas, yang dimaksud “pemancungan hidung” pasti dalam arti membuat hidung Jackson menjadi mancung laksana Petruk atau Pinokio – bukan pemenggalan hidung. Hanya, pemakaian kata “pemancungan hidung” tidak segera dimengerti oleh pembaca semacam saya begitu kata tersebut terbaca. Lantas, bagaimana solusinya?
Sebaiknya pemancungan digunakan sebagai pembendaan dari kata kerja pancung. Mancung sendiri adalah kata sifat, sehingga sulit dimengerti jika dijadikan kata benda menjadi pemancungan. Atau sebagaimana halnya bagus (kata sifat) dapat menjadi membaguskan, mancung dapat menjadi memancungkan hidung. Tidak ada kata pembagusan, percantikan, perjelekan, demikian pula pemancungan dari kata dasar mancung.
Memancungkan hidung jelas berbeda arti dengan memancung hidung. Yang pertama berarti meruncingkan dan sedikit memperpanjang hidung, sedangkan yang kedua berarti memotong atau memesekkan hidung. Jadi kalimat dalam artikel tersebut sebaiknya: “Belum lagi jika ikut dibahas usaha yang kelewat maksa’ seperti memancungkan hidung, ....” °
*) tulisan ini telah dimuat di Intiasi terbitan Juni 2010.
Jumat, Oktober 02, 2009
ORANG INDONESIA DAN BAHASA INDONESIA
Oleh: Rasid Rachman
Usia penetapan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi, bahasa rakyat, dan bahasa sesehari di republik ini hampir mendekati satu abad. Dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain di sekitarnya, semisal Cina, Jepang, Thailand, dan Melayu, bahasa Indonesia tergolong bahasa muda. Oleh karena muda, maka wajarlah apabila susunan bahasa Indonesia masih berubah-ubah. Beberapa pendapat menyatakan bahwa seringnya perubahan tersebut mengindikasikan kelabilan, namun penulis sendiri cenderung mengatakan hal tersebut sebagai fleksibilitas bahasa Indonesia. Mungkin pemakainya memang labil, tetapi bahasanya sendiri fleksibel.
Sangat jelas pembuktiannya bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang fleksibel. Kalimat baku, semisal: “Badu membeli sekilo jeruk di toko swalayan tadi siang,” dapat diucapkan dengan berbagai bentuk kalimat tak baku, dan tetap dapat dimengerti, semisal: “Di toko swalayan tadi siang Badu membeli jeruk sekilo.” Bahkan kalau diucapkan “Beli jeruk di toko swalayan sekilo, Badu tadi siang” pun, orang masih mengerti, dan tidak menjadi masalah. Sekalipun “tadi siang” ditukar menjadi “siang tadi”, masih dapat pula dimengerti.
Hal perubahan susunan kalimat tersebut: dari S-P-O-K menjadi K-S-P-O atau P-O-K-S-K, tak dapat dilakukan terhadap bahasa-bahasa Eropa yang sangat terikat pada struktur baku. Jika tidak tetap pada struktur bahasa baku, maka tidak ada orang yang dapat mengerti perkataan anda. Penulis mempunyai pengalaman bercakap-cakap dengan dua orang asing di sebuah kota di Jawa Tengah. Salah seorang asing tersebut – dari Eropa – fasih berbahasa Indonesia, dan yang seorang lain – dari Amerika – masih dalam tingkat belajar. Si Amerika yang masih dalam tingkat belajar bahasa Indonesia tersebut bercakap-cakap dengan penulis dalam bahasa Inggris. Sebenarnya waktu itu penulis sendiri lebih suka menggunakan bahasa Indonesia, tetapi dia “memaksa” penulis berbahasa Inggris. Kepada orang-orang Indonesia yang lain pun, dia berbahasa Inggris. Anehnya, kepada si Eropa yang fasih berbahasa Indonesia tersebut (mereka saling berbeda bangsa dan bahasa ibu) dia bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia, bukan bahasa Inggris! Heran campur mangkel (bukankah kalau mau belajar bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia, penulis jauh lebih fasih ketimbang si Eropa itu?), penulis mencari tahu alasannya. Rupanya, bukan karena penulis tidak fasih berbahasa Indonesia yang menjadi pokok alasannya, melainkan karena terlalu “fleksibel”nya bahasa Indonesia orang Indonesia, sehingga dia merasakan sulitnya berbahasa Indonesia dengan orang Indonesia. Dengan si Eropa, dia dapat memahami bahasa Indonesia, sebab keduanya menggunakan struktur bahasa baku.
Pada satu pihak, fleksibilitas tersebut merupakan salah satu keindahan bahasa Indonesia. Bahkan berbahasa Indonesia dengan bunga-bunganya dan gayanya pun dapat menjadi daya tarik tersendiri. Pengaruh bahasa kesusasteraan dalam bahasa Indonesia begitu kuat dalam bahasa sesehari.
Namun pada pihak lain, fleksibilitas tersebut bukan tanpa masalah. Banyak orang kemudian tidak merasa perlu memperhatikan bentuk-bentuk baku dalam berbahasa Indonesia, sebab pikirnya: “Tokh orang lain dapat mengerti apa yang saya bicarakan,” sekalipun susunannya sangat ngawur menurut kaidah. Tidak mengherankan apabila orang memandang enteng dan rendah bahasa Indonesia. Oleh karena begitu “mudahnya” bahasa Indonesia, menyebabkan orang cenderung tidak berhati-hati dalam bercakap-cakap. Selain pelajaran sejarah, rasanya pelajaran Bahasa Indonesia adalah mata ajar yang sangat tidak disukai oleh kebanyakan siswa sekolah. Oleh karena fleksibelnya, banyak orang Indonesia tidak bersikap teliti sehingga mengganggap bahwa telor hanya kesalahan pengucapan dari telur. Yang benar adalah telor berbeda sama sekali dengan telur, ubi berbeda sama sekali dengan obi, dan batak berbeda sama sekali dengan Batak, bang berbeda sama sekali dengan bank; sebagaimana khas berbeda dengan kas. Lomba memasak dan tanding memasak jelas berbeda, namun masih sering orang tidak memperhatikan perbedaan tersebut.
Sejauh masih di dalam aktivitas percakapan, bahasa Indonesia nyaris tidak bermasalah. Namun, hidup manusia tidak selamanya berada dalam “lingkungan” bercakap-cakap. Akibatnya, dalam hal tulis menulis, orang Indonesia sangat miskin dalam penguasaan bahasanya sendiri. Jangankan tulisan dalam buku atau naskah-naskah tebal, bahkan menulis dalam spanduk, undangan, atau vandel sekalipun (yang hanya menggunakan 10-20 kata) dijumpai begitu banyak kesalahan penulisan menurut kaidah bahasa Indonesia. Hal tersebut sungguh memprihatinkan, sebab mengakibatkan pembaca tidak mengerti atau salah mengerti. Terlebih lagi bahkan masih banyak masyakarat intelektual, pejabat pemerintah, public figure, kaum profesional, sarjana, bahkan penyiar televisi dan radio yang belum mampu menunjukkan penguasaannya akan bahasa Indonesia. Banyak karya tulis dan bahan kuliah yang menggunakan bahasa amburadul. Banyak pidato, wawancara, dan percakapan pembawa acara yang justru merusak bahasa Indonesia. Beberapa pihak dari kalangan eksekutif merasa lebih “terhormat” jika menggunakan bahasa Indonesia berlepotan dengan bahasa asing ketimbang berbahasa Indonesia secara benar dan murni. Sekadar contoh, rasanya hanya manusia langka yang mengucapkan teve ketimbang tivi untuk mengucapkan TVRI, MetroTV, TV7, GlobalTV, nonton TV, dan sebagainya. Hanya sedikit yang menyadari adanya perbedaan arti antara sanksi (ganjaran, akibat) dan sangsi (ragu-ragu), khidmat (khusyuk) dan hikmat (bijak), amin dan amen. Masih sering orang menulis M.P.R., R.R.I., atau R.I. untuk MPR, RRI, atau RI.
Campur aduknya penggunaan bahasa tersebut meluas (atau bermuara) juga pada pengenalan akan bahasa Indonesia yang baku dan benar. Orang Indonesia sendiri tidak begitu mengenal kosakata bahasa Indonesia. Pemborosan kata sering digunakan yang justru mengaburkan arti, semisal pasangan ganda dari seharusnya pemain ganda, anak remaja dari seharusnya remaja, semua buku-buku dari seharusnya semua buku, atau kota metropolitan dari seharusnya ibu kota (mater = ibu; polis = kota) atau metropolitan saja. Ada juga pemborosan kata yang paling konyol tetapi banyak orang menggunakannya akhir-akhir ini, semisal: mereka-mereka, kami-kami, kita-kita, padahal cukup mengatakan mereka, kami, atau kita. Parahnya, yang biasa “memperkenalkan” bahasa rusak tersebut adalah public figure atau tokoh masyarakat yang ucapannya bukan haya dianut tetapi juga ditiru seratus persen.
Tulisan atau pengucapan kata-kata secara keliru, semisal: tidak acuh, merubah, dan rubah, masih lazim terjadi di kehidupan sesehari untuk mengatakan acuh, mengubah, ubah. Dua kata bertentangan sering digunakan, semisal ”Hingga kini, dia masih belum menyelesaikan skripsinya.” Bagaimana mungkin kata masih dan belum berdampingan. Ada kalanya, kita juga dibingungkan sendiri dengan kata-kata: kualitas dan kwalitas, sualayan dan swalayan, jadual dan jadwal. Kata-kata tersebut bukan hafalan, melainkan harus dimengerti berdasarkan pemilahan suku-suku kata. Suku kata adalah salah satu yang khas dalam bahasa Indonesia. Bukan wang, mulya, dan iang, melainkan uang, mulia, dan yang, sebab pemilahannya adalah u-ang untuk uang, mu-li-a untuk mulia, dan bukan i-ang untuk yang. Demikian pula ku-a-li-tas bukan kwa-li-tas, swa-la-yan bukan su-a-la-yan, jad-wal bukan ja-du-al, kelapa pu-an bukan kelapa pwan, per-em-pu-an bukan per-em-pwan. Di pinggir jalan, masih lazim kita jumpai tulisan ganti oil, maksudnya adalah pasti ganti oli. Namun di surat kabar dan media eletronik pun masih digunakan secara rancu kata-kata jam, waktu, dan pukul. Perubahan jam tayang adalah berbeda arti dengan perubahan waktu tayang. Dalam kehidupan sehari-hari, sering dijumpai rancunya masyarakat menyebut foto, potret, dan kamera, atau masa dan massa.
Ketidakmampuan menulis menurut kaidah bahasa Indonesia bukan hanya menyangkut hal penulisan kalimat, tetapi juga penggunaan tanda baca, termasuk penempatan tanda titik, koma, titik-koma, imbuhan, dan sebagainya. Pemakaian istilah “tidak mampu” bagi orang Indonesia yang tidak menguasai bahasa Indonesia mungkin kurang tepat digunakan di sini. Jika mempertimbangkan waktu mempelajari bahasa Indonesia di sekolah, maka akan dijumpai masa belajar yang cukup lama. Sementara durasi orang asing belajar berbahasa Indonesia adalah sekitar 6 – 12 bulan, orang Indonesia mempelajari bahasanya sendiri sejak di bangku Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah, bahkan hingga Perguruan Tinggi.
Mengapa bahasa Indonesia tidak populer bagi orang Indonesia sendiri? Mungkin orang Indonesia adalah orang yang malu menggunakan bahasanya sendiri. Bukan hanya malu bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia di negeri asing, tetapi juga malu dalam hal memperkenalkan bahasa Indonesia di negeri-negeri asing. Berbeda dengan banyak negara lainnya, bahkan dibanding dengan negeri-negeri kecil, pemerintah Indonesia ketinggalan dalam mendirikan pusat kebudayaan dan bahasa Indonesia di luar negeri. Ironisnya, setiap perwakilan Indonesia di luar negeri memiliki Atase Kebudayaan, dan sering mengadakan pergelaran budaya dan seni.
Di samping itu, bukan rahasia umum lagi bahwa orang Indonesia seringkali tidak menyukai bahasanya sendiri. Pengaruh bahasa daerah dan bahasa suku yang begitu banyak dan beragam di Indonesia menyebabkan orang mempertimbangkan beberapa kali sebelum mempelajari satu bahasa lagi, yakni bahasa Indonesia. Padahal banyaknya dan beragamnya bahasa suku dapat merupakan salah satu sumber konflik. Oleh karena itu bahasa-bahasa rakyat didamaikan dengan lingua franca, satu bahasa untuk berkomunikasi. Ironisnya, bahasa pemersatu itu justru tidak dikenal, dikuasai, dan disukai oleh pemakainya. Dalam percakapan sesehari sering dijumpai orang-orang berputar-putar membahas persoalan: “apa yang dimaksud olehnya”, padahal semuanya menggunakan bahasa Indonesia. Slogan kampanye untuk Pemilihan Umum yang adil, bebas dan rahasia saja dapat menimbulkan konflik karena “adil, bebas dan rahasia” ditafsirkan secara tidak baku. Bahkan istilah-istilah bebas dipahami dengan liar, reformasi dipahami dengan bebas, merdeka dipahami dengan menguasai, disiplin dipahami dengan keterikatan. Instruksi dan penjelasan dalam bahasa Indonesia seringkali harus dijelaskan ulang dan berulang-ulang karena pendengar belum memahami kalimatnya. Di dalam banyak penulisan pun, pembaca masih sering dibuat tidak mengerti dengan tulisan yang berkepanjangan, kesalahan dalam memberi tanda baca, kalimat beranak-cucu kalimat sehingga mengaburkan pokok pikiran yang hendak disampaikan. Tak mengherankan bahwa konflik sosial membesar oleh karena persoalan pembahasaan yang tidak dapat saling dimengerti sehingga disalahartikan oleh lawan bicara. Menyalahartikan kata terlihat dengan penggunaan kata penjarahan mengganti pencurian atau perampokan massal, mengadili mengganti mencari kemenangan di pengadilan, haram mengganti najis.
Rupanya kekeliruan pembahasaan menjadi persoalan penting di republik ini. Namun karena tidak dipermasalahkan, sehingga tidak ada perbaikan. Media tidak memberi ketegasan tentang penggunaan arti kata Fraksi (factio = memecahkan) di MPR, mengapa bukan Faksi (factio = partai, pertalian). Juga mengapa menulis paguyuban dan pagelaran, padahal seharusnya peguyuban dan pergelaran; tidak ada awalan pa- dalam bahasa Indonesia. Mengapa ditulis bus – bukan bis – padahal menyebutnya bis; bandingkan dengan orang Malaysia yang menulis minit untuk minute dan polis untuk police sesuai pengucapannya. Banyak tulisan resmi masih menulis penasehat tetapi bukan penasihat, hakekat tetapi bukan hakikat. Karena kebiasaan, semua orang merasa tidak mempunyai masalah menyebut tukang pos, sebab diterjemahkan dari bahasa Inggris postman, padahal seharusnya tukang giro (gyro = berkeliling, berputar), menyebut Senin sebagai hari pertama ketimbang hari kedua (sebab Minggu atau Ahad-lah hari pertama), Rumah Sakit ketimbang Rumah Rawat yang lebih dekat dengan pengertian hospital (hospitality = keramahan, hal menerima tamu), sekolahan dan jalanan ketimbang mengucapkan sekolah dan jalan, mengkilap ketimbang mengilap.
Seorang pakar bahasa Indonesia mensinyalir bahwa ada kemungkinan suatu saat timbul ketegasan arti antara seluruh, semua, dan segala, dapat dan bisa, secara dan dengan, usia dan umur, awal dan mula. Saat ini media mulai memilah antara tukang dan petugas, sehingga suatu saat bukan lagi tukang pos atau tukang giro, melainkan petugas giro. Sekarang saja dalam percakapan sesehari orang bingung dalam menggunakan ubin dan lantai, dinding dan tembok, atap dan genteng. Dalam penulisan, kamus tidak menginformasikan dengan tegas ejaan untuk kata-kata: praktek atau praktik, objektif atau obyektif. Dalam penulisan sesehari, masyarakat tetap menggunakan secara rancu kata-kata sistem dan sistim, konkret, konkrit, dan kongkrit, apotik dan apotek, Prancis dan Perancis, zaman dan jaman, azas dan asas, berkilap dan berkilat, musium dan museum, copilot atau kopilot, sebab ada koordinasi bukan coordinasi. Mengapa digunakan fundamental bukan fondamen, padahal ada kata fondasi yang akar katanya mempunyai arti yang sama, yakni dasar.
Kalangan agamawan belum sepakat dengan pemakaian kata-kata mujizat atau mukjizat, Paska atau Paskah, Adven atau Advent, mesjid atau masjid, Jumat atau Jum’at, doa atau do’a, setan atau syaitan, amin atau amien, surga atau sorga, jemaat atau jemaah. Kata-kata tersebut merupakan contoh adanya perbedaan antara Kamus Besar Bahasa Indonesia dan praktek sesehari di masyarakat.
Lantas, bagaimana solusi terhadap masalah yang memprihatinkan tersebut? Tentu, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa harus lebih mempopulerkan kosakata bahasa Indonesia yang baku. Sosialisasi bukan hanya soal frekuensi publikasi, tetapi juga soal metode yang lebih merakyat. Muara dari kerja keras lembaga tersebut – salah satunya – adalah memandang pentingnya keberadaan lembaga tersebut di tanah air ini. Sehingga, setiap perusahaan, organisasi sosial, pedagang, dan tim kerja apa pun selalu memanfaatkan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa untuk menanyakan kosakata yang belum dikenal padanannya dalam bahasa Indonesia. Timbal baliknya, lembaga ini pun lebih proaktif mensosialisasikan padanan kata-kata, semisal: tracking, fun rafting, climbing, diving, master of ceremony (MC), door prize, miss universe, time zone, dsb.
Namun, urusan bahasa Indonesia bukan melulu urusan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Bahasa Indonesia adalah urusan semua orang Indonesia. Bukan rahasia lagi bahwa pandangan masyarakat terhadap pendidikan bahasa adalah rendah. Jarang orangtua menganjurkan anaknya menempuhkan jurusan bahasa, apalagi di tingkat menengah. Banyak pengajar yang tidak mengindahkan penerapan bahasa Indonesia untuk bidang ampunya, dengan alasan “Ah, bahasa Indonesia adalah urusan guru bahasa Indonesia, bukan urusan guru kimia, matematika, sejarah dan pendidikan agama.” Padahal banyak orang tidak tahu bahwa kerapian kerangka berpikir logis, sebagaimana diupayakan dalam matematika, berawal dari pembahasan. Logis tidaknya kerangka berpikir dapat dilihat dari rapi tidaknya atau sistematis tidaknya seseorang berbahasa. Demikian pula di kehidupan sesehari, bahasa menandakan siapa seseorang itu. Jadi, solusinya ada pada orang Indonesia sendiri untuk memiliki dan menghargai bahasanya sendiri. Semua pihak wajib menyadari bahwa mencintai bahasa Indonesia adalah tanggungjawab bersama.
Mencintai bahasa Indonesia dimulai dari mencintai Indonesia sendiri. Orangtua memberikan nama anak-anaknya dengan nama Indonesia, bukan jiplakan utuh dari bahasa asing sebagaimana menjadi kecenderungan masyarakat di kota-kota dewasa ini. Apalagi, di beberapa daerah nama keluarga seorang anak ditiadakan dalam pencantuman nama resmi, maka jadilah Robert dari keluarga Sihotang, atau Sherly dari keluarga Lawalata menjadi Robert dan Sherly saja; Indonesia tidak, Barat pun tidak. Padahal ada begitu banyak nama Indonesia yang terdengar anggun dan tidak terikat pada nama suku, semisal: Satria, Wati, Budiman, Manda, dsb. •
Kamis, April 30, 2009
ADA PASKA, ADA TELUR
ADA PASKA, ADA TELUR
Oleh: Rasid Rachman
Jika Natal identik dengan hadiah, maka Paska identik dengan telur. Waktu masih kanak-kanak, setiap awal tahun saya membayangkan ingin cepat-cepat Paska supaya dapat makan telur rebus sampai puas. Sesudah dewasa, saya makan telur tetapi tak terasa hari itu adalah hari Paska.
Saya dapat makan telur hingga dua kali waktu kanak-kanak: di sekolah dan di gereja. Telurnya sama, tetapi jumlahnya berbeda. Saya bisa makan hingga 2-3 telur di sekolah karena telur adalah hasil menang lomba telur hias atau hasil perolehan mencari telur di kebun sekolah. Semakin banyak menang, semakin banyak telur yang diperoleh oleh seorang murid. Sementara di gereja, saya hanya bisa makan 1 telur karena semua murid Sekolah Minggu mendapat telur dari jatah anggaran gereja; 1 telur untuk 1 orang.
Kenapa ada telur di hari Paska? Jawaban umum biasanya sekadar merohanikan telur dengan Paska kebangkitan Kristus, sehingga penjelasannya seringkali tidak memuaskan orang dewasa.
Paska adalah perayaan menyambut musim semi di negara-negara empat musim. Musim semi mengingatkan orang akan mulainya kehidupan baru setelah “mati” di musim dingin. Bunga-bunga bermekaran, suhu udara sejuk, suasana alam cerah, suasana hati manusia pun menjadi ceria. Bagi sebagian orang, musim semi adalah masa romantis untuk saling memadu kasih. Beberapa orang memadu kasih hingga lupa diri – ujung-ujungnya bikin anak. Nah, sampai di sini semoga pembaca tahu hubungan antara telur (bakal anak) dan musim bencinta ini.
Ketika gereja berperan dalam perayaan musim semi dengan mengadopsi dan mengadaptasi Paska sebagai kebangkitan Kristus, telur diberikan arti tambahan. Sebelum Paska, yakni selama masa Prapaska, umat dianjurkan berpuasa. Telur adalah salah satu menu yang dianjurkan untuk tidak dimakan waktu puasa Prapaska. Ketika tiba hari Paska, orang mulai makan telur sebagai terbebasnya masa berpuasa.
Dengan demikian munculnya telur pada waktu Paska adalah sebagai penggembira suasana hati manusia di musim semi. Sebagai pelengkap musim bercinta itu, Paska juga dimeriahkan denan kelinci, selain telur. Maka korelasinya, semoga, menjadi semakin jelas. Ada telur Paska, ada pula kelinci Paska. Telur adalah bakal anak, sementara kelinci adalah lambang banyak anak; kelinci adalah hewan yang mampu memperanakan banyak anak dalam sekali beranak.
Mengapa hal ini tidak diketahui oleh sebagian kita? Pertama, kita adalah masyarakat yang tidak hidup di negara empat musim. Kita tidak memiliki perayaan musim semi yang dengan meriah dirayakan terutama di Eropa. Kedua, penjelasan telur dan kelinci tersebut bagi masyakarat kita adalah urusan “orang dewasa”, bukan anak. Padahal pesta telur Paska di Indonesia hanya dikenakan kepada anak-anak, bukan orang dewasa. Hingga dewasa, bekal pengetahuan kita tentang telur Paska adalah informasi yang diberikan pada waktu kita kanak-kanak – tentu bukan penjelasan dewasa. ˚
Sabtu, Maret 14, 2009
MARDI GRAS
olwh: Rasid Rachman
Le Mardi Gras (ucapkan gras tanpa melafalkan “s”) semakin dikenal. Bukan hanya Perancis, tetapi juga di negeri Paman Sam. Di Italia, ia disebut dengan nama Il Martedi Grasso. Cafe atau Bistro di Jakarta, dan iklan-iklan, bahkan nama cluster perumahan di Tangerang atau Bogor juga memperkenalkan dan menyebarkanluaskan Mardi Gras ini. Sebenarnya, apakah Mardi Gras?
Secara harfiah, le Mardi Gras adalah Selasa Daging. Setiap tahun sebelum Rabu Abu memasuki masa Prapaska, masyarakat di negara-negara Kristen tradisional merayakan hari terakhir mereka boleh makan daging. Hari terakhir tersebut adalah Selasa. Rabu keesokan harinya adalah masa Prapaska di mana gereja mempermaklumkan masa berpuasa selama 40 hari hingga Paska.
Pada masa puasa itu, orang berhenti atau membatasi diri dari makan daging dan telur. Maka hari Selasa sebelum Rabu Abu, yakni hari pertama berpuasa dalam Prapaska, orang puas-puaskan diri makan daging.
Dalam bahasa Latin, Mardi Gras disebut Carnivalle. Di dalam kata tersebut, ada kata carni. Kalau ingat carnivora atau karnivora maka tahulah bahwa carni adalah daging. Jadi arti dasar dari carnivalle adalah pesta daging sebelum berpuasa. Pesta masyarakat itulah yang di zaman modern kemudian disebut dengan karnaval – tentu saja arti harfiah ini tidak lagi tergambar di dalam bentuk pesta karnaval dewasa ini.
Dalam karnaval ada pawai, demo tarian massal, gemerlap lampu di jalan-jalan, kostum, kegembiraan, dsb. sebagaimana terjadi di Brazilia setiap akhir musim semi sebelum Prapaska. Beberapa negara yang bertradisi kuat pada kekristenan juga merayakan karnaval sebelum Rabu Abu. Bahkan karnaval ini juga dirayakan oleh masyarakat Amerika Serikat.
Selain pawai keliling kota, orang dengan kostum menarik menari dan berdansa. Ada kostum Indian, burung, ayam, Asterix,Obelix, atau bahkan kostum tak berbusana sekalipun, dsb. Film-film di televisi seringkali memasukan karnaval ini sebagai bagian dari ceritanya.
Tahun 2009 ini, Rabu Abu jatuh pada 25 Februari, maka Mardi Gras pada 24 Februari 2009. Apakah kita orang Kristen di Indonesia perlu mengadakan Mardi Gras seperti halnya masyarakat Indonesia merayapakan Happy Valentine 14 Februari? Saya kira tidak terlalu perlu dengan alasan sebagai berikut:
1. Mardi Gras, sekalipun bersifat sekuler, berhubungan dengan Rabu Abu dan masa berpuasa. Aneh rasanya, jika tidak berpuasa, tetapi merayakan makan daging terakhir kali.
2. Mardi Gras di negara-negara tersebut dewasa ini lebih dirayakan sebagai festival rakyat yang tidak berhubungan dengan Prapaska dan makan daging. Kalau hanya festival semacam itu, saya kira pawai 17 Agustusan juga sudah lama di Indonesia.
Tulisan ini bukan sebagai anjuran meniru mengadakan hal serupa di Indonesia. Namun kita dapat belajar bagaimana masyarakat menyelenggarakan sebuah perhelatan akbar. Semua pihak: tua-muda, perempuan-lelaki, kaya-miskin berbaur dalam Mardi Gras. Memang riskan tentang masalah keamanan di dalam kerumunan puluhan atau ratusan ribu manusia, tetapi selalu aman. Pencopetan kecil-kecilan tentu ada, tetapi itu juga karena keteledoran si korban. Juga menarik bahwa manajemen kebersihan kota selama berlangsungnya karnaval. Di belakang, sekitar 10 meter setelah barisan pawai terakhir, sepasukan penyapu jalan menyapu jalan. Sehingga, sekalipun puluhan atau bahwa ratusan ribu orang tumpah ruah di jalan, lingkungan tetap aman dan jalan-jalan tetap bersih. Masyarakat sendiri yang menjaga agar karnaval tersebut terus berlangsung setiap tahun.
Perhelatan besar, apa pun nama dan peristiwanya, membutuhkan bukan hanya manajemen yang canggih, tetapi juga kearifan massal.
Rabu, Januari 07, 2009
BEBAS FISKAL
TANTANGAN TAMBAHAN BAGI PARIWISATA INDONESIA
Oleh: Rasid Rachman
Tahun 2009 dibuka dengan kegembiraan berimbang yakni pembebasan fiskal sebagai konsekuensi dai wajib NPWP. Ini kabar baik yang berimbang - tak perlu dibesar-besarkan - namun sebuah tantangan tambahan bagi pariwisata di Indonesia.
Keberadaan objek wisata
Area tujuan wisata di Indonesia semakin hari semakin kecil lingkupnya, padahal negeri yang sangat luas ini menyimpan beribu dan beragam potensi pariwisata. Dibanding 10 tahun yang lalu, tujuan wisata semakin "berfokus" pada Bali dan Bunaken (Sulawesi Utara). Memang ada beberapa tujuan wisata yang bertahan, semisal Pulau Komodo, Gunung Anak Krakatau, Bromo, Tana Toraja, Lombok, Flores, dan Yogyakarya. Juga ada yang "baru" bangkit, semisal Raja Ampat (Papua) dan Karimun Jawa. Namun tidak sedikit objek wisata tanah air yang "mati suri", semisal: Carita, Danau Toba, Sumatera Barat, dan Pangandaran.
Bersamaan dengan itu, Lombok dan Tana Toraja dapat dikatakan mulai menyepi dalam 10 tahun terakhir ini. Kalimantan, Aceh, dan Nias sudah hampir tidak terdengar lagi geliat wisatanya. Jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke daerah-daerah tersebut semakin sedikit jumlahnya. Sebagai gambaran, Tana Toraja hanya dikunjungi oleh sekitar 200 ribu wisatawan asing sepanjang tahun; kurang lebih hanya 500 wisatawan perhari.
Beberapa objek wisata yang masih berpeluang dibangkitkan, misalnya cruise menyusurui Sungai Bengawan Solo, Musi, atau Mahakam. Jelajah Garut, Kuningan, dan Madura juga berpotensi pariwisata. Namun jangan dulu merencanakan untuk melahirkan objek-objek baru, karena objek-objek yang ada saja seringkali “dibunuh”.
Apa pasal pariwisata di Indonesia kian terpuruk?
Ada kendala intern mengenai sikap dan perilaku tuan rumah dalam menyambut wisatawan. Ada pula pola pikir “berat sebelah” tentang wisatawan hanya pada kelas berbintang.
Kendala intern
Tiada biang keladi yang pertama-tama patut dipersalahkan dalam mengelola industri pariwisata kecuali diri sendiri. Beberapa pihak mengeluhkan soal “ganasnya” para pedagang asongan dan vandalisme tangan-tangan jahil yang merusak keindahan objek wisata.
Orang berjualan tidak dapat dilepaskan dari pariwisata. Industri ini bukan hanya menjual objek wisata, semisal situs sejarah, festival atau perayaan, tetapi juga suvenir, makanan, dan minuman. Hal ini berlaku dalam pengelolaan pariwisata di mana pun di dunia ini. Hanya yang berbeda adalah cara menjajakannya. Kasus pedagang asong yang agak mendesak atau bahkan sedikit memaksa wisatawan di sekitar Candi Borobudur atau Kintamani-Bali, membuat perkunjungan wisata menjadi tidak nyaman.
Ketidaknyamanan bukan hanya dengan menempel terus wisatawan, tetapi juga dengan seloroh atau sapaan-sapaan yang membuat pengunjung sakit telinga, baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Semisal, “Koh, beli barang ini koh” (tidak semua orang bermata sipit dan berkulit kuning suka disapa dengan koh atau ci); “Bule, ini barang bagus dengan good price.” Seloroh dan sapaan-sapaan tersebut membuat kenyamanan pengunjung terganggu.
Keluhan wisatawan telah lama didengar oleh pengelola. Pembinaan kepada pengasong juga katanya selalu dilakukan. Namun kalau hal tersebut terus-menerus berulang setelah masa “jinak” beberapa saat, maka ini sudah menjadi masalah besar.
Sikap vandalisme di sini mulai dari tangan-tangan jahil dan kurang kerjaan yang mencorat-coret objek-objek wisata hingga pencurian. Kepada orang yang melakukan vadalisme seharusnya sudah dikenakan sanksi yang berat mulai dari perilaku vadalistis yang ringan. Memang ada pula pelaku vadalisme adalah wisatawan iseng. Mereka bukan murni wisatawan, tidak menjiwai akan arti berwisata, maka kelakuannya merugikan banyak orang dan objek itu sendiri.
Vandalisme juga menyangkut penghancurkan – alih-alih peremajaan – bangunan-bangunan lama atau kawasan tertentu. Alasan bahwa bangunan bergaya arsitektur Belanda atau Cina di Indonesia harus dihancurkan untuk diganti dengan bangunan yang baru sama sekali, semacam Mal atau perkantoran adalah tindakan naïve. Banyak negara yang memperoleh banyak keuntungan pariwisata dengan mempertahankan dan memelihara terus bangunan-bangunan atau kawasan kuno (old quarter), semisal Hoi-An di Vietnam atau Roma di Italia.
Masalah yang juga krusial adalah premanisme dan sikap memusuhi orang asing. Premanisme berkaitan dengan sikap liar masyarakat sekitar objek wisata yang terkena langsung dampak positif dari pariwisata di daerahnya. Sikap memusuhi atau sekadar tidak senang muncul dari masyarakat sekitar terhadap orang asing yang masuk ke daerahnya; masyarakat ini biasanya tidak terkena dampak positif langsung pengadaan pariwisata di daerahnya.
Premanisme berkaitan dengan pemerasan, pencurian, memanfaatkan dengan jahat ketidaktahuan wisatawan akan informasi, dsb. Ironisnya, para preman ini seringkali adalah mereka yang justru berada di dalam pengelolaan pariwisata. Semisal, sopir taksi yang menipu atau mengelabui penumpangnya, petugas parkir yang merusak kendaraan, pedagang yang mengganggu kenyamanan wisatawan, dan penjual makanan yang menaikan harga sehingga menjadi sangat tidak wajar. Premanisme bukan hanya membuat wisatawan tidak berkutik, tetapi juga kapok datang lagi. Bagi wisatawan domestik, kapok mereka bisa berlangsung belasan tahun. Kapoknya wisatawan mancanegara bisa berlangsung sangat lama karena info di buku-buku wisata mereka menuliskan Indonesia sebagai wilayah “merah” untuk pariwisata.
Tidak ada pariwisata yang tidak melibatkan banyak orang atau aspek lain dalam perekonomian, baik langsung maupun tidak langsung. Sikap tidak ramah atau bahkan memusuhi wisatawan dengan memandangnya sebagai mangsa akan merugikan masyarakat sendiri. Sikap sebagian masyarakat di Puncak, Bogor-Cianjur dan perbatasan Tawangmangu-Sarangan terhadap pengendara adalah contoh paling gamblang. Mobil wisatawan dirusak atau “dituduh” rusak akan membuat wisatawan berpikir dua kali untuk melewati kembali jalur tersebut.
Memasuki kompleks hotel di area Candi Borobudur sungguh tidak nyaman. Pihak manajemen membiarkan kamar-kamar hotel dikuasai oleh Satpam dan calo. Setiap pengunjung yang masuk halaman, bukan dibukakan pintu gerbang supaya calon tamu hotel dapat langsung berhubungan dengan Receptionist hotel, tetapi justru diinterogasi oleh Satpam atau calo: “Apakah sudah pesan kamar,” atau “kamarnya harus di-booking dulu, kalau tidak booking tidak ada kamar,” dsb. Ini bukan cara baik menyambut tamu.
Sepatutnya sikap tidak welcome ini dikikis karena sangat merugikan pariwisata. Merugikan pariwisata adalah kerugian bagi devisa negara. Padahal masuknya wisatawan akan melancarkan ekonomi rumah makan, penginapan, transportasi, dan oleh-oleh. Ketimbang menggangu mobil-mobil wisatawan, lebih baik memanjakan wisatawan dengan membuka tempat istirahat yang ramah.
Mengapa hanya kelas berbintang?
Garapan pariwisata hanya melirik wisatawan kelas berbintang. Memang wisatawan kelas berbintang adalah wisatawan yang tidak terlalu perduli dengan perbedaan harga, memajukan hotel-hotel bintang 4 dan 5, dan meningkatkan pendapatan restaurant mewah. Namun wisatawan kelas berbintang terkendala pada keamanan yang sangat rapuh di negeri ini dan masa tinggal yang tidak terlalu lama di suatu daerah.
Lantas, mengapa tidak melirik wisatawan kelas melati alias backpacker? Wisatawan ranselan ini “tahan banting”. Mereka mampu tinggal lama di suatu daerah, asal daerah tersebut menyediakan sarana pariwisata yang menarik. Dengan harga kamar sekitar 80-200 ribu rupiah, mereka bisa menghabiskan waktu 1 bulan di Indonesia. Hitunglah berapa rupiah sehari yang wisatawan ranselan ini berikan untuk roda perekonomian kita.
Keuntungan meningkatkan pariwisata
Slogan bahwa hidupnya parisawata adalah hidupnya masyarakat perlu terus didengungkan. Oleh karena karena ini, beberapa sikap perlu diambil oleh semua pihak di negara ini. Yaitu:
1. Pemerintah harus bersikap menahan dan mengendalikan tujuan wisata yang mengrucut pada Bali. Daerah-daerah lain harus tetap dipertahankan, dikembangkan, dan bahkan dilahirkan sebagai tujuan wisata di tanah air.
2. Tertibkan dan jinakan setiap pengganggu wisatawan. Mereka adalah virus kemajuan ekonomi dan pembangunan bangsa.
3. Manjakan secara proposional para wisatawan dengan menyediakan fasilitas murah-mudah-meriah dalam transportasi, akomodasi, dan informasi.
4. Berlakukan perekonomian pariwisata yang jujur.
Hal-hal ini niscaya dapat menarik wisatawan domestik dan mancanegara agar tidak melulu mencari tujuan wisata di luar Indonesia. Bebasnya fiskal seharusnya semakin mempergiat semua pihak di negara ini untuk memanjakan setiap wisatawan berwisata di dalam negeri. Karena “pariwisata maju, rakyat dapat hidup.”