<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396</id><updated>2012-02-17T07:18:09.878+07:00</updated><category term='relawan nias'/><category term='nyanyian jemaat'/><category term='musafir monastik'/><category term='refleksi gerejawi'/><category term='disiplin spiritualitas (spirituality exercise)'/><category term='komunitas'/><category term='bahasa'/><category term='culture'/><category term='pekan doa'/><category term='musafir jemaat'/><category term='kontekstualisasi liturgi'/><category term='perjamuan kudus'/><category term='liturgi kontemporer'/><category term='leksionari'/><category term='liturgical year'/><category term='relawan kolkata'/><category term='relawan mentawai'/><category term='musafir seminari'/><category term='refleksi ekologi (environment)'/><title type='text'>ZIARAH KEHIDUPAN</title><subtitle type='html'>Hidup adalah sebuah ziarah dan manusia adalah musafir, bukan alat ambisi. Dengan berziarah, manusia memaknai hidup.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>104</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-4415056424337511158</id><published>2011-08-22T09:01:00.000+07:00</published><updated>2011-08-22T09:02:01.654+07:00</updated><title type='text'>Buku baru</title><content type='html'>Buku (biasa, bukan E-book):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berdoa dan Bekerja Bersama Santo Benediktus dari Nursia" karangan Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanya dijual via internet. Bagi peminat, silakan klik: http://nulisbuku.com/books/view/berdoa-dan-bekerja-bersama-santo-benediktus-dari-nursia&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-4415056424337511158?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/4415056424337511158/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=4415056424337511158&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/4415056424337511158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/4415056424337511158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2011/08/buku-baru.html' title='Buku baru'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-1712899936163317994</id><published>2011-06-09T16:31:00.004+07:00</published><updated>2011-06-09T16:50:11.010+07:00</updated><title type='text'>SIMPOSIUM IBADAH DI AMERIKA</title><content type='html'>Oleh : Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kronologi yang menjadi histori&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di usia saya yang ”tidak lagi” muda – padahal sejak 20 tahun lalu pun sudah merasa tua – saya masih dapat lagi kesempatan untuk mengikuti seminar liturgi di luar negeri. Kalau dihitung sejak tahun 1992, ini adalah seminar internasional liturgi ke-4 yang saya ikuti. Pada keempat seminar ini, keikutsertaan saya adalah bukan inisiatif sendiri; jadi mirip ”kejatuhan duren”-lah. Bahkan sebenarnya saya tidak tahu akan diadakannya seminar-seminar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminar pertama di Manila tahun 1992, diadakan oleh WCC dan AILM. Menjelang akhir 1991, saya ke kantor Sinode GKI Jabar di jalan Garuda-Kemayoran untuk satu urusan. Urusan seleai, saya melihat Pdt Kuntadi (Sekum) mendapat telepon dari Pdt Ferdy (Ketum) – rupanya mereka sedang menbicarakan saya. Di tengah percakapan itu, Pak Kuntadi menyela dan bertanya kepada saya apakah bisa dan mau ikut seminar di Manila selama sebulan Februari 1992. Langsung saya jawab: ”Boleh.” Sejak itu, GKI Delima, Sinode GKI Jabar, dan AILM membantu pemberangkatan saya, baik surat menyurat maupun tiket dan finansial. Itu adalah pengalaman pertama ke luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materi yang saya peroleh sangat baru dan membuka wawasan saya tentang musik gereja Asia dan Pasifik. Buku Sound the Bamboo menjadi makanan kami selama sebulan itu.&lt;br /&gt;Tahun 1997, dengan sisa masa berlaku Paspor yang tetap kosong sejak Manila, saya diberi kesempatan untuk ke Tainan. Yamuger melalui Ibu Aida Swenson sekonyong-konyong menelepon ke rumah dan  bicara dengan istri saya. Waktu itu saya sedang perjamuan kudus rumahan Jemaat Delima. ”Pekan depan ada seminar selama 2 minggu,” begitu tawarannya. Tinggal seminggu untuk urus visa dan izin Majelis Jemaat, tetapi semua hal diurus oleh Yamuger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun tidak terlalu baru sebagaimana Manila 5 tahun lalu, namun bagi saya tetap saja istimewa. Nyanyian-nyanyian jemaat Asia dan Pasifik menjadi porsi utama. Kami juga berkenalan dengan nyanyian Ortodoks Yunani, Afrika, Amerika Latin, dan spiritual. Beberapa pelajaran baru, sempat menambah bekal saya.&lt;br /&gt;Seminar ini dan seminar pertama telah saya sharing-kan ke Sinode GKI Jabar dan ke Kairos tidak lama setelah selesai.&lt;br /&gt;Seminar ketiga adalah seminar yang tidak di-harap2, namun datang juga tawaran. Waktu PMSW GKI SW Jabar tahun 2002, siang2 waktu bete karena pembahasan bakal Liturgi GKI dianggap angin lalu saja oleh peserta dan pimpinan PMSW dan ketemu orang2 ”bermuka-dua”, Pdt van Dop menelepon ke HP (kali ini sudah punya) untuk mengajak saya ke Manila. Kali ini dengan rombongan 9 orang dari Indonesia, bergabung dengan murid KMG dan mahasiswa STT, selama 2 pekan. Pak Anis Pua turut membantu keberangkatan kami.&lt;br /&gt;Materinya hampir tidak ada yang baru, namun baru pada organisasi dan ketemu teman-teman lama dari Manila dan Tainan. Bill yang tua itu masih ada, Janet Faller, dan beberapa lagi. Ngomong2, ada tenggat waktu keramat: setiap 5 tahun saya seminar ke luar negeri dan cuma untuk kesempatan itu saja ke luar negeri.Untung istri saya membantu mengurus pengisian formulir visa sementara saya masih di Mentawai. Baru 27 Desember saya dapat kepastian visa, dan 13 Januari 2011 paspor dan visa di tangan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya kesempatan2 tersebut, bagi saya, merupakan tanda untuk terus berkecimpung di dalam medan liturgi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendarat di Grand Rapids&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Waktu keramat itu ternyata tidak konsisten. Lima tahun setelah 2002, tidak ada berkat yang sama. Baru tahun 2011 saya kembali dapat seminar liturgi, kali ini ke Grand Rapids, Michigan. Ibu Ruth Kadarmanto yang nego dengan pihak Calvin College supaya beberapa orang Indonesia, termasuk saya, ikut simposium tahunan mereka; atas nama STT Jakarta dan Christina Mandang yang setiap tahun ikut seminar itu. Waktu masih di Mentawai sebagai relawan awal November 2010, Ibu Ruth mengirim SMS itu. Harus buru2, karena visa ke AS sulit dan waktu saya tidak sampai 2 bulan lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GKI Surya Utama dan jemaat menyiapkan segala sesuatu: doa, ongkos, dan izin. Perjalanan sejak 24 Januari itu terjadi dengan rasa aman dan kesan mendalam. Sekalipun tidak pernah berharap akan masuk ke AS, kecuali untuk urusan seminar dan studi, kali ini terjadi juga. &lt;br /&gt;Ketiga seminar terdahulu adalah tentang musik gereja Asia, kali ini tentang musik gereja Amerika. Ada juga Eropa, namun saya mengambil kuliah2 Mazmur selama beberapa hari itu. Ditarik secara kronologis, topik-topik Mazmur pilihan saya itu cukup menarik. Keberbagaian tradisi dan cara menyanyikan Mazmur dipaparkan oleh setiap nara sumber. Dari Mazmur Jenewa – kata orang sudah jadul namun tetap menarik bagi saya – ditampilkan dengan sangat memperhatikan kekhasannya. Kekhasannya itulah yang membuat Mazmur ini tetap elok dinyanyikan atau sekadar didengarkan. Baik gaya asli maupun modifikasi dengan beberapa keistimewaan Mazmur-mazmur dipaparkan dan dinyanyikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga Mazmur-mazmur modern dengan beragam pola Amerika, semisal Spiritual, Katolik, atau Rap. Beberapa memang tidak bisa saya nyanyikan, namun setidaknya membuka wawasan baru tentang perkembangan Mazmur dewasa ini. Paparan tersebut cukup membuktikan bahwa Mazmur tetap menjadi jantung peribadahan. Hal itu dibuktikan oleh sekelompok pemazmur Rusia, yang berpola Byzantine lama dengan gaya baru.&lt;br /&gt;Ibadah2 harian diselenggarakan tiga kali: pagi, senja, dan malam. Banyaknya jumlah peserta membuat ibadah2 tersebut dibagi menjadi 3 tempat dengan gaya dan model berbeda. Manajemen pengaturan yang baik menjadi fasilitasi bagi peserta sehingga setiap peserta dapat mengikuti semua model dan gaya ibadah tersebut satu-per-satu. Modelnya memang bermacam2. Dari model yang sangat tidak kreatif hingga yang inovatif, dari iringan segala alat musik hingga yang meditatif dan etnik, dari yang biasa2 saja hingga sangat indah. Warna Amerika memang: menerima segala model, termasuk ibadah. Jadi, kecuali rendahnya nada dan cukup banyak bermain dengan irama, pola liturginya, aransemen musik, tata ruang, dan khotbah2 yang disampaikan sangat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-VDb6m5Qe0h4/TfCVz9f3ULI/AAAAAAAAAbg/-o6M5mUjyEk/s1600/Picture%2B054.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-VDb6m5Qe0h4/TfCVz9f3ULI/AAAAAAAAAbg/-o6M5mUjyEk/s200/Picture%2B054.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5616153455245086898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pemazmur dari Rusia menyanyikan Mazmur2 Rusia modern dengan pola konvensional dalam ibadah pembuka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya, Amerika serba besar. Ruang-ruang dan aula besar, jumlah peserta sekitar 1500 orang, jumlah kelas ratusan dalam seluruh 4 hari simposium atau puluhan dalam satu jadwal acara sehingga peserta harus sangat tepat memilih kelas, instrumen musik yang beragam, selalu tersedia organ pipa di setiap kapel dan ruang ibadah, dan jumlah makanan yang berlimpah menjadi hal yang lazim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kesan&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tentang kesan2, tetap saja ada yang baru, baik karena waktu melihat ke luar yang telah cukup lama tidak saya lakukan, maupun karena melihat yang berbeda di tempat yang jauh.&lt;br /&gt;Pertama, penggunaan teknologi modern digunakan secara tepat guna dan cantik. Tidak ada yang terkesan OKB (orang kaya baru) karena norak. LCD, misalnya, tidak digunakan sebagai pengganti buku nyanyian, melainkan menampilkan ilustrasi2 pendukung. Umat tidak tergiring untuk menatap layar LCD, cukup melirik sesekali saja, ketika ada tayangan baru. Tempatnya pun tidak menonjol di dekat mimbar dengan ukuran sebesar gunung, namun isinya artistik. Kadang layar LCD ditempatkan di atas sekali, sehingga umat tidak terdorong untuk melulu dan terus2an menatapnya.&lt;br /&gt;Kedua, keempat seminar internasional, berbeda dengan seminar2 serupa di dalam negeri, baik yang saya ikuti maupun tidak, selalu bermuara pada ibadah. Peran paduan suara dan musik tidak berdiri sendiri, sehingga tidak lebih menonjol daripada ibadah jemaat. Banyak pemusik hebat dan tidak sedikit paduan suara istimewa, namun semuanya ”patuh” pada liturgi. Mereka tidak merebut ”hak” umat untuk berperan penuh dalam liturgi. Umat tetap bernyanyi dengan baik – tidak mengeluh sekalipun banyak nyanyian baru.&lt;br /&gt;Ketiga, peserta tua-muda antusias mengikutinya. Ada sejumlah 1500-an beserta: 160-an internasional dan selebihnya peserta Amerika sendiri. Nah, para peserta Amerika ini beragam. Bukan hanya orang usia produktif dan mahasiswa, tetapi juga para pensiunan. Bahkan tidak sedikit peserta disable. Untuk mereka, panitia menyediakan fasilitas, semisal penyampai bahasa isyarat untuk kaum tuna rungu dan sarana pintu dan toilet bagi para penyandang kursi roda.&lt;br /&gt;Keempat, para peserta tidak anti-nyanyian baru. Di antara nyanyian konvensional, terdapat sejumlah nyanyian jemaat baru. Nyanyian2 tersebut digunakan, baik dalam ibadah maupun dalam kelas2 simposium.  ■&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-1712899936163317994?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/1712899936163317994/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=1712899936163317994&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/1712899936163317994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/1712899936163317994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2011/06/simposium-ibadah-di-amerika.html' title='SIMPOSIUM IBADAH DI AMERIKA'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-VDb6m5Qe0h4/TfCVz9f3ULI/AAAAAAAAAbg/-o6M5mUjyEk/s72-c/Picture%2B054.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-4618585784350731329</id><published>2011-02-14T20:00:00.001+07:00</published><updated>2011-02-14T20:02:10.310+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musafir jemaat'/><title type='text'>KITA ADALAH MATA RANTAI  DI DALAM SEJARAH GEREJA TUHAN</title><content type='html'>Oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Yahudi biasa merayakan Paska dengan mengadakan perjamuan malam. Perjamuan di meja rumah tersebut hanya dihadiri oleh keluarga dekat atau kerabat. Sementara ritus perjamuan berlangsung – bisa selama 4 jam – mereka mengadakan percakapan tentang awal masuknya para bapa leluhur ke tanah Mesir dan Israel. Sebagian ritual tersebut adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak terkecil dalam komunitas bertanya kepada bapaknya, begini: “Pada malam lain kita makan roti beragi atau roti tak beragi, tetapi malam ini mengapa hanya roti tak beragi? Pada malam lain kita makan semua jenis sayuran, tetapi malam ini mengapa hanya sayur pahit? Pada malam lain kita makan makanan yang dimasak, dipanggang, atau direbus, tetapi mengapa malam ini hanya makanan yang dipanggang? Pada malam lain kita mencelup satu kali, tetapi mengapa malam ini mencelup dua kali?”&lt;br /&gt;Semua pertanyaan ini merupakan isyarat bagi sang bapak untuk menjelaskannya dengan haggadah (= kisah, mengisahkan cerita dengan cara melantunkannya) Paska.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haggadah adalah pengisahan untuk mengenang sejarah Israel, sehingga yang hadir terlibat kembali di dalamnya seperti yang dialami oleh nenek moyang mereka. Lazimnya, sang bapak membuka kisahnya dengan kalimat: “Bapakku dahulu seorang Aram, seorang pengembara. Ia pergi ke Mesir dengan sedikit orang saja dan tinggal di sana ” (dan seterusnya seperti tertulis dalam Ul 26:5-6). Pengisahan tersebut begitu menarik bagi yang hadir, sehingga semua orang terlibat di dalamnya. Itulah sebabnya, haggadah adalah ritus tetap dalam perjamuan Paska orang Yahudi.&lt;br /&gt;Kita dapat belajar dari umat Israel akan momen memperingati, yakni dengan Haggadah. Berefleksi dari masa kini dengan berangkat dari masa lalu untuk mengarah ke masa depan. Masa lalu dikisahkan demi masa kini dan masa sehingga menjadi hidup. Masa lalu bukan sekadar menjadi nostalgia semata.&lt;br /&gt;Tahun 1994 – 1999 di Delima adalah masa orang-orang tertentu bermemori dan bernostalgia. Lihat saja cerita-cerita dan foto-foto ulang tahun di masa itu. Semuanya adalah tentang orang-orang tahun 1980, yakni ketika Jemaat ini berdiri. Ceritanya bagus-bagus, lucu-lucu, dan temanya tiada lain adalah  tentang “dulu kita selalu akrab, semua kenal semua.” Maklum, itu semua adalah memori dan nostalgia, bukan haggadah. Memori atau nostalgia selalu dilihat secara lebih baik, dan semuanya demi masa lalu – bukan masa kini dan masa depan.&lt;br /&gt;Pada waktu umat Israel ber-haggadah, mereka menyadari bahwa kejayaan masa lalu sama sekali tidak akan berarti tanpa guliran masa kini. Bahkan mereka menyadari bahwa pahlawan atau tokoh-tokoh mereka dulu hanya merupakan satu dari rangkaian mata rantai. Peran mata-mata rantai lain di setiap masa juga sama pentingnya, sebab jika bukan karena peran penerus, peran pendiri menjadi tidak ada artinya sama sekali. Itulah sebabnya, Israel bukan hanya menyebut Abraham, Ishak, dan Yakub, tetapi juga Yusuf, Musa, Yosua, Gideon, Rut, Samuel, Saul, Daud, Salomo, dan seterusnya. Israel juga melihat para pendahulu mereka dari segala sisi. Semua leluhur mereka pernah melakukan yang baik dan pernah juga melakukan kesalahan. Mereka semua dan satu persatu adalah mata-mata rantai sejarah umat Allah hingga hari ini. Satu saja mata rantai itu ditiadakan, maka tidak akan jalinan rantai umat Allah.&lt;br /&gt;Setelah 25 tahun berjemaat, hendaknya kita mensyukuri karya Tuhan yang telah memberikan setiap orang kesempatan menjadi satu mata rantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Tulisan ini ditulis berdasarkan permintaan Panitia HUT GKI Delima. Katanya akan dimuat di dalam buku HUT ke-25.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-4618585784350731329?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/4618585784350731329/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=4618585784350731329&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/4618585784350731329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/4618585784350731329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2011/02/kita-adalah-mata-rantai-di-dalam.html' title='KITA ADALAH MATA RANTAI  DI DALAM SEJARAH GEREJA TUHAN'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-3531998824622666201</id><published>2010-12-13T21:09:00.011+07:00</published><updated>2010-12-23T20:07:08.689+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='relawan mentawai'/><title type='text'>DUKUNGAN DARI JAUH</title><content type='html'>Oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Seorang relawan mengatakan begini kepada saya: “Di beberapa lokasi bencana yang pernah saya kunjungi, Mentawai adalah lokasi tersulit.” Pernyataan tersebut kemudian bukan pernyataan dari hanya seorang relawan. Beberapa relawan, baik medis maupun non-medis, juga mempunyai pendapat yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Beberapa relawan lain, termasuk yang bukan tim kami, juga mengatakan bahwa yang dibutuhkan bagi setiap relawan ke Mentawai bukan hanya kekuatan fisik, semangat tinggi, dan keberanian, tetapi juga keteguhan hati dan mental. Tentu di atas semua itu adalah ketulusan. Ombak setinggi 4-5 meter bukan kejadian langka di sini. Sehingga, ancaman demikian dapat menyurutkan langkah sebelum relawan berangkat ke lokasi pengungsian. Perubahan cuaca secara ekstrem dan cepat seringkali terjadi di sini. Panas, hujan, kemudian panas lagi bukan hal aneh. Laut tenang, laut tiba-tiba bergelombang, sangat biasa bagi masyarakat Mentawai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Memang Mentawai penuh tantangan. Namun kami tidak sendiri. Orang-orang lain mendukung pelayanan kami. Selain dukungan beberapa penduduk Mentawai, Tim kami juga didukung oleh banyak doa yang diinfokan kepada kami melalui pesan-pesan singkat. SMS datang dari berbagai pihak: keluarga, teman, rekan pelayanan, jemaat, dan sebagainya. Selama menjadi relawan, mendapat setumpuk SMS inilah yang mendukung, menopang, dan menghibur kami.&lt;br /&gt;    Sengaja saya kumpulkan dan pilihkan beberapa SMS yang kiranya mewakili dukungan puluhan SMS lain yang tidak dimasukkan di sini. Kemudian saya susun menjadi sebuah cerita dengan keterangan pada sebelum atau setelah tulisan SMS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Davidy (Minggu, 31 Okt, 11:33:19)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk pengiriman barang bantuan ke lokasi bencana Mentawai: Untuk dari Padang Bpk Kol Indarto, Astap Lantamal 2, no HP …., untuk dari Jakarta Bpk Yusuf, no HP ….&lt;br /&gt;    Sejak sebelum keberangkatan, Sekum BPMSW Jabar membantu kami dalam penyiapan transportasi. Memang tidak ada kepastian bagaimana kami menuju Mentawai saat itu, namun informasi ini menguatkan bahwa kami tidak “dilepas” begitu saja.&lt;br /&gt;Akhirnya memang kami memanfaatkan bantuan TNI AL untuk berangkat ke Mentawai pada 3 November. KRI Teluk Manado mengantar kami bersama 200-an penumpang sipil dan Polri ke Mentawai sejak pukul 08.00 dari Teluk Bayur. Bahkan ketika kembali ke Padang pada 9 November, kami juga memanfaatkan TNI AL dengan KRI Teluk Cirebon. Ikutnya kami di KRI punya kisah sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yanti Lazuardi (Senin, 1 Nov, 11:37:55)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pdt Rasid, ini Yanti Lazuardi …, kami doakan agar Tuhan pakai pelayanan bapak dan tim dengan sangat indah.&lt;br /&gt;    Setiba di Padang, saya langsung telepon Lantamal. Mencari info tentang keberangkatan KRI. Jawabnya: “KRI baru berangkat 3 November nanti.” Itu berarti dua malam lagi kami di Padang. Menurut info, feri akan berangkat 2 November malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Selasa pagi, 2 November, saya kembali mengontak Lantamal, masih menanyakan hal sama dengan harapan siapa tahu hari ini KRI berangkat. Tetapi jawabannya tetap sama bahwa KRI baru berangkat besok pagi. Saya bilang, “Baik Pak, kalau begitu saya hubungi bapak lagi besok.” Kami berpikir, sore ini feri berangkat, sehingga tidak perlu menumpang KRI besok. Ambil yang berangkat lebih dahulu.&lt;br /&gt;    Siang itu kami habiskan dengan berbelanja segala keperluan bantuan. Beras, pakaian dalam, makanan bayi, biskuit, sarung, dsb., selain keperluan kami sendiri. Tengah hari kami menuju Teluk Bayur, dengan 2 kendaraan barang, untuk naik feri. Namun, feri tidak berangkat malam ini – cuaca masih berbahaya.&lt;br /&gt;Gagal berangkat dengan feri menuju Mentawai karena gelombang tinggi, rekan-rekan sepelayanan memberikan kekuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Teguh Putra (Selasa, 2 Nov, 16:04:02)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teriring salam dan doa bagi rekan-rekan di sana, usahakan memakai kapal yang besar untuk tiba di tempat tujuan. Selamat bertugas dan Tuhan memberkati.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Adijanto Surjadi (2 Nov, 16:06:11)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Doa kami selalu. Dalam acara HUT GKI Surya Utama juga disampaikan bahwa Rasid persiapan menuju Mentawai. Semoga alam sedikit ramah, agar relawan dan bahan makanan dapat dikirim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sore itu, kembali saya mengontak Lantamal. Kami memutuskan naik KRI saja besok pagi. Responsnya: “Lho, saya sudah batalkan ketika bapak bilang akan menghubungi besok.”&lt;br /&gt;Saya berusaha: “Tolonglah Pak, kami cuma bertiga.”&lt;br /&gt;Kol Indarto bertanya: “Bawa barang?”&lt;br /&gt;Saya jawab: “Beras, 1 ton dan beberapa barang bantuan.”&lt;br /&gt;Jawabnya: “Saya akan coba usahakan, tetapi tidak bisa membawa barang. Kapal sudah penuh barang. Nanti saya hubungi lagi.”&lt;br /&gt;    Sekitar 20 menit kemudian, telepon seluler saya berbunyi. “Besok kapal berangkat pukul 08.00. Bapak temui saya di pelabuhan pukul 07.00. Jangan lupa bawa makan siang sendiri. KRI tidak menyediakan makan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Malam itu di hotel, kami menyiapkan barang bawaan. Sebanyak mungkin barang bantuan bisa dimuat di koper-koper dan semampu mungkin kami membawanya sendiri. Jadi harus sesedikit mungkin barang bawaan yang terlihat. Barang-barang besar terpaksa kami tinggalkan dulu di Padang.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kuntadi (2 Nov, 18:01:27)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di Sikakap nanti hubungi Ephorus GKPM. Banyak barang bantuan numpuk tak terdistribusi. Tadi saya bicara dengan beliau, Pdt Simanjuntak. Tetap sabar ya, keadaan memang tidak normal.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Setiawati (2 Nov, 19:24:37)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wah penuh perjuangan nih, tapi pasti pimpinan Tuhan memampukan kamu dan Tim GKI. Selamat berjuang ya. Tuhan Yesus Kristus memberkati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Rabu, 3 November, pukul 06.00 Tim GKI tiba di pelabuhan TNI AL. Ternyata kami belum terdaftar di Lantamal. Kami malah tidak tahu harus mendaftar dulu, sehingga kami tidak boleh ikut kapal. Saya langsung mengontak Kol Indarto: “Pak, kami tidak boleh ikut kapal, belum terdaftar.”&lt;br /&gt;    Kol Indarto menjawab tenang: “Kemarin kan saya bilang, tunggu dan temui saya pukul 07.00, sekarang masih 1 jam lagi.”&lt;br /&gt;    Pukul 07.00, peluit di kapal berbunyi, seorang Perwira Tinggi menaiki kapal. Tidak lama kemudian HP saya berbunyi: “Silakan naik sekarang,” kata suara di sana. Kami segera naik, mencari posisi yang baik untuk meletakkan barang. Baru saat itulah kami bertatap langsung dengan Kol Indarto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TQdeusFMUxI/AAAAAAAAAZo/LHzE42XUqrk/s1600/DSCF8050.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TQdeusFMUxI/AAAAAAAAAZo/LHzE42XUqrk/s200/DSCF8050.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5550509221957358354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya dan Kol Indarto sebelum KRI Teluk Manado berangkat ke Mentawai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Setelah barang mendapat tempat, semua calon penumpang diminta turun lagi. Sekarang baru boleh naik kapal setelah dipanggil namanya satu per-satu. Nama kami belum ada didaftar. Ketika pemanggilan nama hampir selesai, dari atas kapal Kol Indarto berseru: ”Pak Rasid, apakah tadi sudah mendaftar?” Pemanggilan nama para calon penumpang berhenti sejenak.&lt;br /&gt;    ”Belum, pak,”jawab saya.&lt;br /&gt;    ”Kalau begitu, nanti langsung masuk kapal saja,” katanya. Dialog kami didengar langsung oleh para anak buahnya yang sedang memanggil nama para calon penumpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sebelum berangkat, saya mengirimkan SMS perihal keberangkatan kami. Cuaca di laut masih belum kondusif. Ketika kami terombang-ambing menuju Mentawai dengan KRI Teluk Manado, seorang rekan sempat mengirim SMS sebelum putus kontak telepon dan SMS di tengah laut.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yolanda (3 Nov, 11:34:32)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semoga selamat sampai tujuan Pak, semoga dapat melakukan tugas dengan  baik, dan semoga selamat kembali ke rumah nanti.&lt;br /&gt;    SMS tersebut mengingatkan bahwa Mentawai bukan tujuan, melainkan baru setengah jalan kami, sebab kami harus kembali ke rumah setelah selesai pelayanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    KRI merapat di Sikakap Pagai Utara pukul 18.00. Perjalanan laut selama 10 jam, kapal agak bergoyang karena gelombang lumayan tinggi, tetapi aman dan kami selamat. Keluarga Pak Celcius menjemput kami: Jeffry ”Anak Nabire” (Jenab), Jeffry ”Panjang” atau ”Jepang” – untuk membedakan dua Jeffry yang selalu bersama sejak mahasiswa, dan saya, dengan boat untuk tinggal di rumahnya di Pagai Selatan, 7 menit dengan boat. Kemudian Tim dari GKI Pangim Polim: Dokter Ricardo, Dokter Uli, Firman, dan Taufik, ikut tinggal di rumah ini juga. Besoknya ada kesepakatan Tim ini menjadi satu Tim di dalam pelayanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kamis, 4 November kami isi dengan mencari informasi tentang kondisi Mentawai pasca tsunami, daerah yang belum banyak dijangkau, barang kebutuhan pengungsi, logistik kami sendiri, mengisi BBM boat, dan berbelanja beberapa barang lagi.&lt;br /&gt;Siang saya berencana ikut dengan Pak Celcius keliling darat sejauh jangkauan mobil (hanya dapat menempuh 21 km dengan mobil; Pagai Selatan pada umumnya dihubungkan dengan laut) untuk melihat perumahan bekas gempa 2007. Nah, ketika kami sedang mengisi BBM, reporter MetroTV dan rombongan dokter dari Bandung memohon untuk mengevakuasi 2 korban luka di dusun yang hendak kami kunjungi. Okelah, kami berdua membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mengevakuasi korban ternyata tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Perjalanan ke rumah korban lumayan jauh; hujan pula waktu itu. Berliku dan turun naik. Setelah korban dibujuk-bujuk untuk bersedia menjalani perawatan intensif, karena luka dan penyakitnya lumayan serius, korban dipindahkan dari dipan dan tandu. Suasana dramatis, karena rintihan korban. Patah tulang kakinya menyebabkan memindahkannya harus ekstra hati-hati dan penuh perhitungan. Kemudian korban dibawa dengan tandu ke jembatan – untuk masyarakat ikut menandu – menaikkan ke mobil, lalu berkendara sejauh 21 km hingga di boat untuk kemudian diseberangkan ke Sikakap. Hari ini, sepanjang siang ini saya isi dengan pengalaman luar biasa.&lt;br /&gt;    Cuaca besok kemungkinan bagus. Kami berencana ke dusun Maonai, 3 jalan dengan boat. Kami siapkan segala barang bantuan, alat kedokteran, dan barang pribadi kalau-kalau kami harus bermalam di Maonai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TQdhaULmqWI/AAAAAAAAAZw/La1Sw3RE30Y/s1600/DSCF8086.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TQdhaULmqWI/AAAAAAAAAZw/La1Sw3RE30Y/s200/DSCF8086.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5550512170479298914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menyiapkan sampan untuk ke Maonai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang malam, saya menerima satu SMS lagi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Gerard (4 Nov, 18:48:48)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sehat kan, Pak? Keadaan bagaimana? Relawan di tenda juga tidurnya? Selamat bertugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jumat pagi, 5 November, pukul 06.30 kami: 7 relawan Jakarta, Pak Celcius, Pak Takmim, dan Jimmy, telah siap berangkat ke Maonai dengan sampan 10 orang plus barang-barang bantuan. Kunjungan perdana Tim GKI ke dusun bencana ini laksana pasukan khusus menuju medan perang. Kepergian kami diantar oleh Ibu-ibu dari keluarga Celcius, didoakan, dibekali setermos nasi hangat, dan puluhan SMS dukungan dari Jakarta saya terima. Bu Celcius mengatakan: “Ini nasi dari beras lokal Mentawai, hangatnya bisa tahan hingga malam.” Maklum, sebetulnya cuaca Jumat itu belum diramalkan akan lebih baik, melainkan Sabtu. Namun penduduk di tempat kami menumpang, mereka sangat mengenal alam laut dan alam Mentawai, meyakinkan hari ini cukup baik.&lt;br /&gt;    Cuaca memang tidak ganas, tetapi kondisi boat pinjaman yang mudah oleng tidak memungkinkan kami banyak bergerak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sekitar pukul 10.00 kami tiba di Maonai. Ombak menuju pantai cukup menyulitkan boat merapat. Begitu merapat, 2 penduduk Maonai menyambut kami dengan informasi: “Masih 3 orang lagi belum ketemu.”&lt;br /&gt;    Dusun Maonai habis total. Rumah-rumah dan gereja, hewan, dan beberapa penduduk, dan entah apalagi hancur. Kepala dusun kehilangan anggota keluarganya: istri, anak, ibu, dan keponakan. Dia juga, dalam tanggungjawabnya, tetap harus memperhatikan dan mengurus penduduk yang sakit dan membutuhkan bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Penduduk mengungsi ke bukit. ”Berapa jauh?” tanya kami. ”900 meter,” jawab seorang penduduk. Kami menafsirkan, mungkin 1500 meter. Tidak begitu jauh, pikir kami. ”Kalau begitu,” respons saya, ”kita makan bersama di pantai ini nanti saja, setelah kita kembali dari pengungsian.” Ternyata ketika dijalani dengan turun-naik bukit dan terik matahari dengan membawa barang-barang kesehatan, jaraknya dapat mencapai 2500 meter. Sejauh itu kami tempuh sekitar 1 jam perjalanan.&lt;br /&gt;    Setiba di lokasi tengah hari, sudah ada 2 dokter dan 1 perawat dan Tim lain, dan 2 TNI AD dari Padang. Kami juga disambut dengan suguhan makan siang oleh penduduk pengungsi. Mereka serba kekurangan, makan pun mereka dapat dari kiriman beberapa hari sebelumnya, dan masih dalam  suasana duka, namun mereka bisa memberikan perhatian kepada para relawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TQg4kY8w_jI/AAAAAAAAAaA/82Fh7W_L4D8/s1600/Jimmy%2Bn%2Bpasien%2BMaonai.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 120px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TQg4kY8w_jI/AAAAAAAAAaA/82Fh7W_L4D8/s200/Jimmy%2Bn%2Bpasien%2BMaonai.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5550748738557902386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jimmy dan pasien di Maonai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Setelah isitirahat dan makan, Tim mengadakan pelayanan kesehatan.&lt;br /&gt;Kembali ke sampan di pantai pukul 15.00. Baru ingat, dua rekan kami: Jenab dan Pak Takmim, yang menunggu sampan dan menaati kesepakatan ”kita makan setelah kembali dari pengungsian”, belum makan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TRNIWc4OkfI/AAAAAAAAAbI/G3fHA-EmHT4/s1600/Takmim%2Bn%2B2%2Bsampan.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TRNIWc4OkfI/AAAAAAAAAbI/G3fHA-EmHT4/s200/Takmim%2Bn%2B2%2Bsampan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5553862316024304114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Operator &lt;span style="font-style:italic;"&gt;boat&lt;/span&gt;: Pak Takmim, menyiapkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;boat &lt;/span&gt;untuk ke Eru Paraboat (kanan) hari ini, dan lebih dahulu akan mengembalikan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;boat &lt;/span&gt;yang kami gunakan ke Maonai (kiri) kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kuntadi (6 Nov, 09:32:45)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Catatan kamu kami perhatikan. Komunikasi ini sangat berguna. Uniting terus menunggu berita Tim GKI Mentawai kamu.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TQg_CWkSt-I/AAAAAAAAAaY/3O8eZ5prpno/s1600/Menanti%2Bbantuan%2BEru%2BParaboat.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TQg_CWkSt-I/AAAAAAAAAaY/3O8eZ5prpno/s200/Menanti%2Bbantuan%2BEru%2BParaboat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5550755850384226274" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menanti turunnya bantuan dari tengah laut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TQg0Yyfu2fI/AAAAAAAAAZ4/ecNvf6PY8pQ/s1600/wajah2%2BEru%2BParaboat.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TQg0Yyfu2fI/AAAAAAAAAZ4/ecNvf6PY8pQ/s200/wajah2%2BEru%2BParaboat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5550744141210507762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Wajah2 masyarakat Eru Paraboat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sabtu pagi, sebagian tim membawa barang bantuan ke Aru Paraboat, 2 jam dengan sampan, setengah perjalanan dibanding ke Maonai kemarin. Hanya kami berlima: Jenab, Dokter Ricardo, Pak Takmim sebagai operator perahu, Firman, dan saya. dengan sampan lebih kecil lagi. Satu jam perjalanan, laut sangat bagus, tenang. Satu jam sebelum tiba, gulungan ombak mencapai 4 meter. Begitu pun pulangnya, sekitar pukul 17.00. Mulai dengan ombak bergulung 1 jam, rasanya lebih dahsyat daripada tadi pagi.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TQg7gi9sCUI/AAAAAAAAAaQ/aOwURQ7Kw_Y/s1600/Periksa%2Btelinga%2BEru%2BParaboat.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TQg7gi9sCUI/AAAAAAAAAaQ/aOwURQ7Kw_Y/s200/Periksa%2Btelinga%2BEru%2BParaboat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5550751971061532994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dokter Ricardo memeriksa telinga di Eru Paraboat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter Ricardo bernyanyi-nyanyi sambil tiduran. Jenab cengir sambil terbanting-banting di bagian depan sampan. Firman sibuk membuangi air dari sampan. Operator, Pak Takmim, dengan tenang mengendalikan kecepatan motor sampan. Saya tidak sempat takut, tidak sempat mabuk, maunya cepat tiba di rumah penampungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TQg6TgQyhWI/AAAAAAAAAaI/wixyLYTBfaI/s1600/Mijit%2Bdi%2BEru%2BParaboat.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TQg6TgQyhWI/AAAAAAAAAaI/wixyLYTBfaI/s200/Mijit%2Bdi%2BEru%2BParaboat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5550750647486416226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Relawan juga siap siap menjadi tukan pijat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Setibanya di  rumah, sekitar pukul 19.00 seperti kemarin, Pak Celcius menyambut: ”Tadi ombak agak besar, ya, tetapi tidak berbahaya.”&lt;br /&gt;Segera saya mengirim SMS ke istri dan teman bahwa kami telah tiba di Sikakap.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kuntadi (6 Nov, 20:17:26)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rasid yang baik, sori mengganggu di tengah kelelahan. Saya ingin kamu tahu bahwa di Jakarta kami mendoakan keselamatan kalian. Ini bukan hiburan klise. Tetapi ungkapan syukur kalian mewakili kami semua. Saya menerima email dari teman saya, Rev. Ken William, Moderator &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Uniting West Australia Synod&lt;/span&gt;, bahwa dia juga terus mendoakan kalian. Tolong beritahu hal ini kepada para dokter dan relawan bahwa mereka ada di dalam doa kami.&lt;br /&gt;    Belum selesai sambutan Pak Celcius. ”Tadi Pendeta kami menanyakan apakah Pendeta dari GKI bisa menggantikannya besok. Dia harus memimpin pembaptisan di Jemaat asuhannya yang lain, sehingga ibadah di gereja ini belum ada Pendetanya.” Saya menjawab: ”Tidak bisa saya bilang ’tidak’, pak, tetapi seadanya ya.”&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Setiawati Sucipto (6 Nov, 22:00:20)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tetap kuat ya, doa kami menyertai seluruh pelayanan kamu dan teman-teman semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Minggu, 7 November. Puncak ketegangan telah lewat. Data untuk Tim GKI lanjutan telah terkumpul. Setelah ibadah, Tim hanya membuka pemeriksaan kesehatan di rumah dan di kampung Jimmy; ia adalah relawan dan asisten operator sampan yang luar biasa. Jimmy, sedikit tidur, banyak beraktivitas dan kuat. Tim GKI banyak terbantu oleh karena kehadirannya. Kami menyiapkan dan membeli beberapa barang lagi di pasar Sikakap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Gracia Simanjuntak (8 Nov, 05:21:21)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tetap semangat melayani di sana ya Pak. Jaga kesehatan dan hati-hati. Pak Rasid dan teman-teman tetap dalam doa kami.&lt;br /&gt;    Senin, 8 November, sebagian Tim membawa beberapa barang lagi ke Maonai. Kali ini dengan sampan 2 mesin, pukul 15 sudah tiba kembali di rumah. Sebagian Tim mencari info untuk menumpang KRI ke Padang. Selasa pagi kami menuju Padang dengan KRI Teluk Cirebon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Rabu, 10 November, kami di Jakarta dengan selamat.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Syennie (10 Nov, 14:34:18)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pak Rasid bagaimana kabar di sana? Harapan kami semoga semua berjalan lancar dan seluruh Tim dalam keadaan sehat, walaupun mungkin capai dan lelah.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Syennie (10 Nov, 14:48:45)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oh Syukurlah kalau semua berjalan lancer, senang mendengarnya Pak, dan sudah mau kembali ke Jakarta ya. Baik Pak, nanti saya sampaikan kepada rekan-rekan semua.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sulistiani (10 Nov, 15:19:34)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Syukur alhamdulilah pak, kalau semua bisa menjadi berkat bagi warga Mentawai.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tjutju Mutia (10 Nov, 16:08:48)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sore Pak RR, tadi siang saya kirim 1 koli buku untuk remaja dan lansia. Mudah2an cepat nyampe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Beberapa hari kemudian, setelah kami semua telah kembali beraktivitas di Jakarta, Jenab, relawan Tim GKI yang masih melanjutkan pekerjaannya membangun asrama di Mentawai mengirim pesan singkat.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jenab (13 Nov, 20:31:53)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pak, Bapak dapat salam dari Ketua Majelis di sini dan Kepala Dusun Maonai.  ■&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-3531998824622666201?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/3531998824622666201/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=3531998824622666201&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/3531998824622666201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/3531998824622666201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2010/12/dukungan-dari-jauh.html' title='DUKUNGAN DARI JAUH'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TQdeusFMUxI/AAAAAAAAAZo/LHzE42XUqrk/s72-c/DSCF8050.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-4700266988510672995</id><published>2010-11-22T10:37:00.003+07:00</published><updated>2010-11-22T12:00:06.428+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='relawan mentawai'/><title type='text'>TOLERANSI RELAWAN</title><content type='html'>Oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toleransi adalah satu kata kunci yang tidak boleh dilupakan oleh setiap relawan “gadungan” macam saya ini. Bekerja dengan beberapa orang yang sebagian besar belum saling kenal namun didesak oleh keadaan dan kepentingan serta prioritas dan di dalam kondisi abnormal, jika tidak berpegang teguh pada kata yang satu ini, bisa-bisa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;stress &lt;/span&gt;dan frustrasi akibatnya. Intinya, toleransi harus dibawa kemana pun dan kapan pun, kecuali soal keselamatan jiwa.&lt;br /&gt;Ada banyak alasan untuk bertoleransi di dalam kondisi-kondisi tertentu. Ada yang wajar, ada yang tidak wajar; mau tidak mau melanggar tatanan normal. Misalnya soal menu makanan yang ala kadarnya. Tentu kita harus menganggapnya dan menerimanya sebagai kewajaran. Dapat makan di tengah bencana saja sudah sangat beruntung dan bersyukur, masakan masih mau milih-milih ini dan itu(?) Fasilitas hidup yang seadanya, semisalnya waktu istirahat, tempat tidur, kamar mandi, jelas tidak bisa bermanja-manja nurutin standar. Hal ini belum termasuk ketepatan waktu dan munculnya perubahan mendadak dari rencana matang. Jangan menjadi orang aneh hanya karena mau mulai dan selesai tepat pada jadwal. Atau tidak usah menjadi relawan saja sekalian, jika hal-hal seperti itu masuk ke dalam kriteria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TOn4HN7GPtI/AAAAAAAAAZg/vERIHr8NL2o/s1600/DSCF8095.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TOn4HN7GPtI/AAAAAAAAAZg/vERIHr8NL2o/s200/DSCF8095.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5542233619336412882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sikakap, ibu kota Kecamatan di Pulau Pagai Utara, pada 4 November 2010, sepekan setelah tsunami melanda bagian lain dari Pulau Pagai Utara dan Pagai Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TOn0hBPGckI/AAAAAAAAAZY/MBOA6BphjZg/s1600/DSCF8082.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TOn0hBPGckI/AAAAAAAAAZY/MBOA6BphjZg/s200/DSCF8082.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5542229664560738882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya Tim GKI di rumah keluarga Celcius 3 November 2010; berbincang dan makan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, kondisi semacam itu adalah hal yang lumrah. Bahkan seringkali saya menjadi malu sendiri dan “gak enak ati” ketika keluarga yang menerima kami melayani dengan sepenuh hati. Mereka menyediakan segala keperluan kita, baik tim maupun pribadi, dan melampaui waktu kegiatan rutin mereka. Aktivitas harian dan pekerjaan rutin seringkali terganggu dengan kehadiran tim relawan. Sekali waktu, keluarga yang menerima kami sampai menyembelih hewan piaraannya ketika lokasi kami terisolir dari bahan mentah karena terhambat cuaca laut selama sepekan.&lt;br /&gt;Di pengungsian juga tidak jauh berbeda. Pernah kami menuju lokasi pengungsian yang lumayan berat. Tim harus berjalan mendaki bukit sejauh 2,5 km dengan membawa barang-barang bantuan termasuk makanan. Baru saja kami tiba di lokasi setelah lebih dari 1 jam berjalan, masih terengah-engah, ibu-ibu pengungsi sudah menyediakan makan siang di tenda tamu. “Silakan makan bapak-bapak dan ibu,” sapa mereka. Penuh rasa heran dan haru, kami pun menyambut keramahan mereka dan menyantap makanan yang disediakan.&lt;br /&gt;Soal &lt;span style="font-style:italic;"&gt;safety first&lt;/span&gt; juga termasuk di dalam kerangka toleransi. Walaupun kami tetap mengutamakan keselamatan diri, namun agak diperlonggar sedikit. Kapasitas maksimum sampan atau tinggi gelombang sejauh masih rasional dan hati-hati, dihadapi. Dalam perjalanan membawa bantuan ke Monai, kapasitas sedikit melampaui maksimum. Masih dapat diakali, berangkat lebih pagi. Alasannya selain supaya berangkat sebelum ombak terlalu besar, juga karena waktu tempuh menjadi lebih lama dengan saratnya muatan di sampan.&lt;br /&gt;Ketika mengantar bantuan ke Eru Paraboat, cuaca tidak terlalu baik sekalipun cuaca di darat baik. Gelombang setinggi 4 meter, walaupun membuat ketar-ketir orang darat namun masih dianggap biasa oleh orang laut, masih ditoleransi karena belum membahayakan keselamatan. Pesannya hanya: “Hati-hati di jalan.”&lt;br /&gt;Namun toleransi yang betul-betul perlu perhatian adalah perokok. Kebanyakan relawan dan penduduk adalah perokok. Yang tidak merokok, menderitalah. Aksi merokok para perokok ini tidak kenal tempat, bisa di dalam ruangan tertutup, waktu ngobrol, di dalam kamar, setelah makan, rapat, bahkan di depan anak-anak. Asap dan bau rokok ada di mana-mana. Yah mau apa lagi, demi kepentingan misi menolong korban dan kerjasama, hal-hal semacam ini harus ditoleransi juga. Yang keberatan tidak dapat menghardik: "No smoking area!"&lt;br /&gt;Ada juga toleransi dalam hal kesehatan. Bukan hanya waktu makan dan waktu istirahat, pakaian yang dipakai pun perlu ditoleransi. Pakaian yang tidak sempat dicuci atau tidak sempat kering, rela juga dikenakan. Hal biasa juga jika pakaian dalam dikenakan AC-DC alias bolak-balik. Memang, relawan seringkali membawa sedikit sekali keperluan pribadi, karena harus berbagi ruang koper dengan barang-barang bawaan sebagai bantuan kepada korban. Belum lagi soal cuci tangan sebelum makan dan cuci kaki sebelum tidur.&lt;br /&gt;Pikir-pikir, menjadi relawan tidak terlalu jauh beda dengan hidup sebagai pengungsi. Namun, guna menghibur hati, begitulah seni menjadi relawan. Relawan memang bukan turis di lokasi bencana.   ■&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-4700266988510672995?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/4700266988510672995/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=4700266988510672995&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/4700266988510672995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/4700266988510672995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2010/11/toleransi-relawan.html' title='TOLERANSI RELAWAN'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TOn4HN7GPtI/AAAAAAAAAZg/vERIHr8NL2o/s72-c/DSCF8095.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-7814910938825674631</id><published>2010-10-14T18:57:00.002+07:00</published><updated>2010-10-14T19:13:47.337+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='refleksi ekologi (environment)'/><title type='text'>HEWAN-HEWAN ISTIMEWA</title><content type='html'>Oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga hewan yang membuat saya berkesan, yaitu ular laut, gajah, dan komodo. Ketiga hewan tersebut sangat spesial tingkah lakunya dan cara hidupnya. Mungkin dari mereka pula kita mendapat pencerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ular laut&lt;/span&gt;, ular belang dengan warna putih dan hitam bergaris-garis hitam pada seluruh kulitnya, dan kita belajar darinya tentang penguasaan diri. Ular ini sangat berbisa. Walaupun ukuran badannya tidak besar, kualitas bisanya 10 kali lebih dahsyat daripada bisa ular kobra. Kemampuan renangnya di laut, luar bisa. Demikian pula kemampuan menyelamnya. Di darat ia bisa merayap, dan di air ia lincah dan gesit. Mangsa dalam cengkramannya tidak berkutik. Begitu terkena pagutnya, sang korban mati hanya dalam waktu beberapa menit. Jika ia memagut manusia, konon sang korban hanya mampu bertahan hidup tidak lebih daripada 10 menit.&lt;br /&gt;Namun ular ini tampil bersahaja, alias tidak menonjol. Bahwa ia memiliki bisa yang sangat mematikan, tidak banyak orang yang tahu. Ia “jinak” untuk ditangkap dan dipegang. Berbeda dengan memegang ular-ular lain, yakni di leher bagian atas, orang memegang ular ini cukup di badannya. Sementara kepala dan mulutnya, “pintu” mengeluarkan racun ganasnya, bebas berkeliaran. Ular ini tidak pernah atau jarang sekali memagut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ular ini berkesan tidak berbisa. Bahkan banyak orang tidak mengetahui bahwa ular ini sangat berbisa. Orang merasa ular ini aman-aman saja. Bahkan anak-anak pun berani memegang dan mengangkat sekaligus beberapa ular ini dengan agak sembarangan, hanya dengan dua tangan.&lt;br /&gt;Jadi untuk apa bisanya? Ia hanya menggunakan bisanya untuk memagut mangsanya. Ikan-ikan kecil atau kadal sekitar pantai adalah makanannya. Mempertahankan diri dari ancaman, ia tidak pernah atau jarang sekali merasa terancam. Para nelayan cukup mengangkat badannya dengan lembut, jika hendak menyingkirkan atau menangkap ular ini. Ia tidak memagut. Bisa yang dimilikinya hanya digunakan untuk makanan yang hendak dimakannya. Itulah yang disebut penguasaan diri si ular laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Gajah &lt;/span&gt;juga istimewa. Bukan hanya badannya yang besar seukuran raksasa, atau tenaganya yang mahakuat, tetapi juga berbudaya. Gajah berbudaya? Ya, hewan yang hidupnya berkelompok ini adalah hewan yang mengenal dan mempraktekkan ritual kematian sesamanya. Banyak hewan besar di dunia ini, yang tentu memiliki lebih banyak unsur emosi juga dibanding hewan-hewan yang lebih kecil, namun tidak sebanding dengan gajah. Ini bukan masalah kecerdasan, tetapi bagian lain dari tubuhnya, yakni rasa beradab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TLbxzllV-dI/AAAAAAAAAX8/u1DLcv7GbvY/s1600/100_6035.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TLbxzllV-dI/AAAAAAAAAX8/u1DLcv7GbvY/s200/100_6035.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5527871461208226258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawanan gajah menghentikan perjalanannya sejenak ketika mereka mendapati tulang belulang gajah lain. Tulang belulang itu dapat berasal gajah tetangga yang mati lemas karena terlalu tua, atau sisa-sisa tubuh gajah yang dimangsa predatornya, atau kecelakaan terjebak kubangan lumpur. Kawanan gajah akan mengelilingi tulang belulang tersebut. Kadang-kadang ada gajah yang menyentuh dan mencolek tulang-belulang, sementara gaja-gajah yang lain berkeliling dengan hening. Itulah ritual kematian kawanan gajah – bisa memakan waktu 2 jam untuk ritual itu.&lt;br /&gt;Menurut info pengamat, kadang-kadang kawanan gajah membawa tulang belulang itu untuk mencari dan menyerahkannya kepada keluarga dari si tulang gajah. Bahkan beberapa kali pengamat juga melihat ritual kematian itu dilakukan oleh kawanan gajah kepada mamalia besar lain, seperti kerbau liar.&lt;br /&gt;Singa adalah salah satu predator gajah. Dalam keadaan terpaksa, misalnya musim panas yang lama di sabana, kawanan singa mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan menerkam gajah sebagai santapannya. Melihat serangan kawanan gajah, seekor dari kawanan gajah, biasanya yang merasa paling lemah atau paling tua, akan menghalau kawanan singa. Ia menyerahkan diri diterkam, dikeroyok, dan dijatuhkan untuk kemudian dimangsa oleh para singa. Ia mengorbankan diri bagi kawanannya. Dengan begitu, ia membiarkan kawanan gajah lain menjauhi kawanan singa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Komodo &lt;/span&gt;adalah hewan purba yang sangat percaya diri dan pemberani, selain kuat. Keteguhan komodo membuat hewan ini tidak pernah merasa terancam oleh siapa pun – mereka juga tidak terancam punah. Hewan-hewan liar lain merasa terancam jika berpapasan dengan manusia atau hewan kuat yang lain. Hewan-hewan predator langsung memangsa makanannya jika melihatnya. Komodo bergeming. Bahkan komodo berjalan santai melewati rombongan manusia, atau tetap tidur-tiduran di antara para pemotret sekitarnya, ogah menyingkir sekalipun di sodok-sodok tongkat bercabang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TLbzdZy8vwI/AAAAAAAAAYE/20w8SrRM7jY/s1600/PIC_0647.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TLbzdZy8vwI/AAAAAAAAAYE/20w8SrRM7jY/s200/PIC_0647.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5527873279110201090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komodo memakan apa saja, yang penting daging, baik hidup maupun mati, termasuk manusia dan sesama komodo. Sesamanya adalah sekaligus pemangsanya atau makanannya.&lt;br /&gt;Mungkin komodo adalah hewan tanpa rasa takut, kecuali naluri untuk bertahan hidup. Komodo anak segera memanjat pohon, dan tinggal di atas sana karena menghindari dimangsa oleh komodo besar. Selama 2 tahun komodo anak tinggal di pohon, berjuang sendiri mendapatkan makanan – entah burung, kadal, ular kecil, atau hewan apa pun – yang hinggap di pohonnya. Begitu dewasa, dan siap berburu makanan, komodo anak baru turun ke darat.&lt;br /&gt;Komodo tidak terlalu buru-buru dan bernafsu untuk menyantap makanannya saat ia mengigitnya. Komodo tidak menyiksa hewan besar buruannya dengan makanannya selagi sehat. Kerbau buruannya, “hanya” digigit di sekitar kaki atau pahanya, kemudian dibiarkan kerbau itu menikmati sisa hidupnya. Sekitar 2-3 pekan kemudian, bakteri-bakteri yang masuk ke tubuh kerbau melalui liur komodo yang menempel di luka gigitan komodo mulai menggeroti kesehatan kerbau. Ketika kerbau sekarat itulah, komodo menayntapnya – dengan “mengajak” teman-temannya makan ramai-ramai.  °&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-7814910938825674631?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/7814910938825674631/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=7814910938825674631&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/7814910938825674631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/7814910938825674631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2010/10/hewan-hewan-istimewa.html' title='HEWAN-HEWAN ISTIMEWA'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TLbxzllV-dI/AAAAAAAAAX8/u1DLcv7GbvY/s72-c/100_6035.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-7910671550755152569</id><published>2010-08-16T11:10:00.003+07:00</published><updated>2010-08-16T11:19:27.558+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='refleksi ekologi (environment)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture'/><title type='text'>KEMACETAN DI JAKARTA</title><content type='html'>Oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara banyak hal menyangkut berlalu lintas, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;busway &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;three-in-one&lt;/span&gt; adalah topik yang cukup ramai dibicarakan. Sejak sebelum kelahirannya hingga saat ini, hampir setiap saat soal ini ada sebagai berita ibukota. Akhir-akhir ini muncul lagi pembicaraan tentang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;busway&lt;/span&gt;, kali ini menyangkut ketegasan penerapan larangan bagi kendaraan non-Transjakarta memasuki jalur &lt;span style="font-style:italic;"&gt;busway&lt;/span&gt;. Seperti telah diduga, cetusan dan letusan ketegasan ini hanya berlangsung selama 2-3 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dasar pengaturan lalu lintas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagi masyarakat, hal peraturan berlalu lintas kena mengena pada 3 hal, yaitu: keamanan, kenyamanan, dan ketertiban.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keamanan&lt;/span&gt;. Penempatan tanda-tanda dan rambu-rambu di jalan dibuat dengan salah satu tujuannya adalah untuk menjaga keamanan, baik keamanan pengendara, maupun keamanan pengendara lain dan pejalan kaki. Larangan berhenti di tepi jalan TOL, misalnya, dibuat agar kendaraan yang berhenti tidak tertabrak kendaraan yang sedang melaju.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kenyamanan&lt;/span&gt;. Sikap saling menghargai karena sama-sama membutuhkan jalanan dan waktu, sampai ke tujuan dengan cepat dan selamat, dan kenyamanan berkendara wajib dimiliki oleh setiap pengemudi. Pemerintah memfasilitasi hal tersebut secara adil. Pengaturan lajur dan jalur, penempatan tanda-tanda dan rambu-rambu lalu lintas dibuat dengan dasar kenyamanan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TGi7ComA8DI/AAAAAAAAAWk/7YHd74ElvXo/s1600/100_7555.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TGi7ComA8DI/AAAAAAAAAWk/7YHd74ElvXo/s200/100_7555.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5505856198391427122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketertiban&lt;/span&gt;. Alasan ketertiban adalah alasan yang paling penting dalam penerapan peraturan lalu lintas. Adanya tanda verboden atau jalan satu arah di jalan selebar 5 meter bertujuan agar lalu lintas lancar, tidak macet, dan tentu hasilnya adalah irit bahan bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kenapa masih saja macet?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bahwasanya lalu lintas di Jakarta selalu macet, semua orang sudah tahu penyebabnya klise-nya sejak belasan tahun yang lalu. Jumlah mobil semakin banyak, sementara jumlah panjang jalan tidak mencukupi adalah salah satu alasan. Alasan lain, waktu pergi dan pulang kantor bersamaan di pagi dan sore hari, sehingga jalan-jalan penuh dengan kendaraan.&lt;br /&gt;Sejauh ini pemerintah menerapkan dua hal sebagai, katanya, solusi kemacetan, yaitu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;three-in-one&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;busway&lt;/span&gt;. Setelah belasan tahun penerapan area &lt;span style="font-style:italic;"&gt;three-in-one&lt;/span&gt; dan beberapa tahun &lt;span style="font-style:italic;"&gt;busway&lt;/span&gt;, semua orang, termasuk polisi lalu-lintas, dengan mudah dapat menjawab bahwa kedua hal itu justru merupapakan “biang” kemacetan – bukan solusi. &lt;br /&gt;Soal yang tidak klise adalah belum adanya dasar yang cukup memuaskan untuk menjawab keberadaan three-in-one dan busway merupakan solusi kemacetan. Setelah ada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;three-in-one&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;busway&lt;/span&gt;, kemacetan bukan berkurang malahan bertambah, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;plus &lt;/span&gt;sakit hati pengguna jalan raya.&lt;br /&gt;Lantas, kalau tahu penyebab kemacetan dan pemberian “obat solusi” yang salah masih kepala batu? Kenapa tidak menambah dan membarui jumlah kendaraan umum reguler secara signifikan, baik bus maupun kereta? Kenapa tetap memberlakukan three-in-one di jalan-jalan tertentu demi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;busway &lt;/span&gt;dan kawasan tertentu? Kenapa tidak memperluas jalur-jalur baru ke dan dari pinggiran Jakarta? Termasuk, kenapa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;busway &lt;/span&gt;hanya merupakan Transjakartaway yang jumlah armadanya sangat sedikit itu, sehingga bus-bus non-Transjakarta tetap menggunakan jalur kendaraan lain? Kenapa tidak serius mengamankan dan menyamankan masyarakat dari gangguan preman-preman di kendaraan umum? Kenapa tidak memberlakukan sistem gratis lewat TOL dalam kota, sekalipun hanya pada waktu-waktu tertentu? Kenapa tidak membuka alternatif lain moda transportasi selain bus dan jalan raya? Mulai memanjakan pesepeda, misalnya. Kenapa jumlah masyarakat dan pejabat yang mengambil hak pengguna jalan dengan pengawalan petugas semakin banyak?&lt;br /&gt;Ketimbang polisi sibuk menjaga masuknya kendaraan di area &lt;span style="font-style:italic;"&gt;three-in-one&lt;/span&gt; dan jalur &lt;span style="font-style:italic;"&gt;busway&lt;/span&gt;, terutama pada waktu-waktu padat, kan lebih baik mengatur perempatan yang rawan kemacetan, menilang motor-mobil yang melawan arus demi egoism, menjaga keamanan di perberhentian kendaraan umum yang rawan kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mulai dari manusianya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga kelompok manusia yang terlibat langsung dalam berlalu lintas yang beradab, yaitu pengendara, pemerintah, dan pengguna. Semuanya saling kait mengait dalam kemacetan atau kenyamanan. Pemerintah seharusnya memfasilitasi penyediaan transportasi yang nyaman dan aman. Misalnya menyediakan area pesepeda dan pejalan kaki yang nyaman, menambah dan membarui moda transportasi, menghapus peraturan three-in-one, busway, dan bayar TOL dalam kota. Masyarakat pengguna seharusnya menjaga kenyamanan; misalnya tidak membuang sampah sembarangan, berani menggempur premanisme, menyeberang pada tempatnya, membayar tiket, dsb. Pengendara seharusnya mematuhi segala aturan berlalu lintas. Misalnya tidak mengendarai kendaraan dengan kecepatan di bawah batas minimum atau di atas batas maksimum, santun mengendarai, – intinya adalah patuh berlalu lintas.&lt;br /&gt;Sumber kemacetan yang sesungguhnya adalah manusianya. Bukan banyaknya jumlah kendaraan atau pendeknya jalan-jalan. Jadi manusianya yang harus membarui sikap berlalu lintas.  ♦&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-7910671550755152569?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/7910671550755152569/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=7910671550755152569&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/7910671550755152569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/7910671550755152569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2010/08/kemacetan-di-jakarta.html' title='KEMACETAN DI JAKARTA'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TGi7ComA8DI/AAAAAAAAAWk/7YHd74ElvXo/s72-c/100_7555.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-7730396289882152031</id><published>2010-06-03T10:47:00.005+07:00</published><updated>2010-06-03T11:13:32.194+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musafir jemaat'/><title type='text'>TUGAS, JALAN2, MAKAN2</title><content type='html'>Oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;T  U  G  A  S&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sesekali saya mendapatkan tugas pelayanan yang ber-tumpuk2. Biasanya tanpa sengaja. Pekan lalu, 28-30 Mei 2010, misalnya. Semula, saya dijadwalkan oleh Sinwil Jabar pertukaran ke Kebonjati – itu biasa. Namun beberapa bulan sebelumnya saya juga dijadwalkan memimpin materi teologi liturgi nikah di bina Pranikah di Puri Indah hari Jumat sebelumnya – itu juga masih biasa. Baru menjadi agak luar biasa ketika sebulan sebelumnya panitia Pranikah meminta tambahan materi, yakni Teologi Pernikahan, yang jelas2 bukan bidang saya. Jadi harus menulis lagi materi baru sebagai tambahan. Tidak lama kemudian, GKP Klasis Priangan meminta kesediaan saya membekali para aktivis ibadah di Lembang hari Sabtu pagi. Okelah, tiga2nya (dasar serakah!) saya sanggupi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan menjadi agak rumit ketika saya baru tahu bahwa itu adalah hari libur panjang (Waisak), tagihan dari Pranikah bertubi2 padahal makalah belum selesai, dan surat dari GKP baru saya terima beberapa hari sebelumnya. Tambah rumit lagi, sesampainya di Lembang, saya baru tahu bahwa acara tersebut melibatkan saya hingga sore – bukan cuma 2–3 jam. Nah itu, Bandung sedang macet2nya, saya harus selalu bergegas, belum persiapan2 sebelumnya.&lt;br /&gt;Maka jadilah, Jumat pagi meninggalkan rumah menuju GKI Puri Indah. Selesai 2 sesi Pranikah pukul 13.20 cabut menuju Bandung yang macet banget, karena semua orang dari segala ujung bumi plesir dan tumpleg-bleg di Bandung. Sabtu pagi2 bergegas ke GKP Lembang, pimpin hampir 3 sesi. Pukul 16 kurang dari Lembang menuju Bandung, menghabiskan waktu 3 jam lebih – kebayang ga sih – karena macet-cet di Ledeng dan Cihampelas. Minggu pagi2 sudah pimpin 2 ibadah di Kebonjati, tengah hari balik ke Jakarta.&lt;br /&gt;Kalau sudah begini, cara paling afdol mengatasi stres adalah tetap santai dan menggunakan waktu istirahat se-baik2nya, supaya semua berjalan dengan baik dan pikiran tetap segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;J  A  L  A  N2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara bersikap santai adalah berpikir atau anggap saja ini jalan2; wisata di dalam tugas. Kuncinya, pergi menuju ke tempat2 tujuan ketika masih banyak waktu, sehingga tidak buru2, dan masih sempat melihat2 kiri-kanan atau mampir2, dan sambil menikmati pemandangan alam dan mendengarkan musik di mobil.&lt;br /&gt;Pemandangan sepanjang TOL Jakarta-Bandung tetap asik dilihat. Saat ini sudah mulai hijau, jurang2nya dan jembatan2nya tetap sensasi tersendiri bagi pengendara mobil. Nyanyian2 lama pop Indonesia yang terkesan jenaka, alunan musik piano Jaya Suprana yang tenang, dan petikan gitar Jubing yang mengesankan, adalah terapi istimewa di tengah ancaman stres dan ketegangan berkendara di TOL atau di macet.&lt;br /&gt;Yang juga penting adalah motret2 di kemacetan. Memang sangat repot dan berbahaya, tetapi mengasyikan, asal ber-hati2. Tingkah polah orang, baik pengemudi maupun panjaja dagangan, merupakan sasaran bidik kamera. Lokasi2 tertentu, semisal rumah makan, tempat2 nongkrong, bangunan2 menarik, dan alam sekitar dapat menjadi sasaran pemotretan. Hanya sayang, sejauh ini saya belum mendapat objek pemotretan yang pas tersebut.&lt;br /&gt;Bandung-Lembang kini agak berubah. Setelah Ledeng, menuju Lembang, ada tempat2 baru untuk nongkrong. Ada es krim, ada susu murni dan yoghurt, ada taman strawberi, dan ada hotel2 baru. Waktu terakhir ke mari, sekitar 4 tahun lalu, tempat2 tersebut belum ada. Lain kali, saya pasti ke mari untuk liburan dengan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;M  A  K  A  N2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam “kamus” saya, makan2 di tempat di perjalanan adalah wajib hukumnya. Namun untungnya Dewa-Dewi Keberuntungan memang seringkali ga jauh2 dari saya. Tiba di GKP Lembang pukul 8.30, langsung ditawari susu murni, padahal baru 20 menit sebelumnya saya minum yoghurt. Dalam perjalanan ke GKP Lembang, Sabtu pagi, pukul 8 mampir dulu minum yoghurt yang sudah ngangenin.&lt;br /&gt;Yang lebih mantap lagi adalah makan siang. GKP ini menyajikan saksang – B1 men – selain menu2 lain. Di Lapo2 di Jakarta dan Tangerang, saksang B1 sulit ditemui.  &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TAcq5-fG7xI/AAAAAAAAAU8/53JLOqd1kj0/s1600/PIC_0209.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TAcq5-fG7xI/AAAAAAAAAU8/53JLOqd1kj0/s200/PIC_0209.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5478394647233883922" /&gt;&lt;/a&gt; Saya pernah makan saksang di BSD, Vila Melati Mas, dan Senayan, cuma menyediakan saksang B2.  jadi, sudah lama sekali ga makan saksang B1, maka terpuaskanlah seleraku hari itu di GKP Lembang kemarin itu. Lebih mantap lagi, sehabis makan dibungkusin oleh ibu2 di situ sebagai oleh2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di Bandung, di depan Hotel Trio Gardujadi tempat saya menginap, ada bubur ikan – enak tentu. Apalagi, bubur itu saya campur dengan saksang yang diberikan sebagai oleh2 oleh ibu di GKP Lembang. Rasa agak asin2 bubur dicampur dengan rasa pedas2 saksang, rasanya selangit &lt;span style="font-style:italic;"&gt;euy&lt;/span&gt;. Saking enaknya makan, sampai lupa memotret menu kombinasi tersebut.&lt;br /&gt;Selain bubur, di Gardujati juga ada nasi campur, bandrek, mi ayam, dan lain-lain. Tetapi, yah harus ingat umur. Tahun 1984 waktu baru lulus SMA, saya pernah jalan2 aja melewati Gardujati dengan aroma makanan2nya. Tapi waktu itu, kantong tidak memenuhi syarat. Sekarang, umur tidak lagi memenuhi syarat.&lt;br /&gt;Tubuh lelah dan perut kenyang, padahal besok masih harus pimpin ibadah hari Minggu di GKI Kebonjati dan kembali ke Jakarta, membawa saya ke alam tidur lebih awal hingga esok pagi.&lt;br /&gt;Bangun pagi2, siap2 pimpin ibadah utama. Selesai ibadah, GKI Kebonjati, tempat saya bertugas memimpin ibadah, menyediakan ngohiang ala Bandung. Hajar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ble...eeh&lt;/span&gt;, sementara para Penatua menghitung uang kolekte di konsistorium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TAcnVjLTCcI/AAAAAAAAAU0/s-cSfPR08XA/s1600/PIC_0240.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TAcnVjLTCcI/AAAAAAAAAU0/s-cSfPR08XA/s200/PIC_0240.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5478390722892859842" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi siapa bilang perjalanan tugas ga bisa menyenangkan. Yang penting ada musik di mobil, makan2, dan motret2, maka tugas2 dapat dilakukan dan diselesaikan dengan baik.  °&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-7730396289882152031?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/7730396289882152031/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=7730396289882152031&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/7730396289882152031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/7730396289882152031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2010/06/tugas-jalan2-makan2.html' title='TUGAS, JALAN2, MAKAN2'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/TAcq5-fG7xI/AAAAAAAAAU8/53JLOqd1kj0/s72-c/PIC_0209.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-2504573672645135579</id><published>2010-02-28T19:37:00.006+07:00</published><updated>2010-02-28T19:58:21.190+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='refleksi ekologi (environment)'/><title type='text'>MENGISI LIBURAN DI TZU CHI</title><content type='html'>Oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak acara untuk mengisi cuti atau liburan, selain jalan-jalan dan wisata kuliner. Namun ketika tiba waktunya, keder juga memanfaatkan waktu. Biasa, lagu lama, malas &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ngerjain &lt;/span&gt;apa-apa. Apalagi saat ini saya mengambil cuti di luar waktu libur sekolah anak. Jelas, ga bisa jalan-jalan. Untung, di hari terakhir cuti kami teringat untuk menjadi relawan 2 jam di Depot Daur Ulang Tzu Chi Gading Serpong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/S4plXuESWZI/AAAAAAAAATo/c1UcejAUiXc/s1600-h/100_6905.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/S4plXuESWZI/AAAAAAAAATo/c1UcejAUiXc/s200/100_6905.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5443274557808073106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depot ini buka setiap hari. Urusan depot ini adalah mendaur ulang sampah-sampah kering hasil rumah tangga. Depot mengambil atau menerima sampah-sampah kering dari “para langgaran” sekitar lokasi. Siapa saja boleh bergabung sebagai “pelanggan” depot. Sampah-sampah tersebut kemudian dipilah menurut jenis-jenisnya: kertas, kadus, kertas kekuningan, kaleng, kantong plastik, gelas plastik, botol, dsb. Dari depot ini sampah-sampah tersebut kemudian disalurkan atau dijual ke penyalur. Selain sebagai penyalur pertama setelah rumah tangga, depot ini telah menanamkan pendidikan akan pemanfaatan kembali sampah kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/S4pnO1l41wI/AAAAAAAAATw/e9i28hpmgSQ/s1600-h/100_6904.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/S4pnO1l41wI/AAAAAAAAATw/e9i28hpmgSQ/s200/100_6904.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5443276604232488706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, para relawan yang jumlahnya 40 orang itu diberi tugas menguliti merk botol dan mengorek mulut gelas air mineral. Untuk botol, tutupnya dan kalungan cincin pada mulut botol dibuka, merknya dilepaskan dan dikumpulkan di suatu tempat. Terhadap botol plastik itu, diinjak-injak sehingga gepeng, lalu dikumpulkan di suatu tempat pula. Untuk gelas mineral, setelah plastik bekas penutup gelas dibuka, sisa penutup yang tertempel rapat di bibir gelas, dikorek-korek dengan gunting hingga lepas. Gelas-gelas tersebut juga dikumpulkan di suatu tempat. Semua barang siap salur tersebut akan ditampung oleh penampung lain di tempat lain untuk kemudian didaur ulang atau digunakan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa pun dapat menjadi relawan. Hari ini kami bergabung dengan para mahasiswa pendidikan agama Buddhis dari Bumi Serpong Damai. Mereka sudah tiba dan berkerja lebih dahulu – mungkin karena sudah janjian dengan pengurus depot. Dengan bekerja sesuai peran dan penugasan masing-masing, orang-orang muda ini bekerja dengan cekatan dan tidak banyak bicara, tetapi tetap dapat bercengkerama.&lt;br /&gt;Kerjanya sendiri memang mengasyikan. Sambil duduk, relawan mengorek dan menguliti gelas-gelas plastik, lalu melemparkannya ke keranjang. Ketika bekerja itulah, relawan saling mengobrol, ada yang sambil bercanda, namun ada pula yang mengkoordinasi semua pekerjaan atau memotret. Ada pula beberapa relawan yang menyediakan fasilitas, seperti menuangkan sejumlah gelas atau botol ke tempat di mana gelas dan botol hampir habis, mengangkat dan menyesiakan kembali keranjang gelas dan botol. Pembagian tugas tersebut memang memudahkan pekerjaan menjadi lebih cepat diselesaikan.&lt;br /&gt;Sekitar pukul 12, satu persatu relawan berhenti bekerja. Rupanya waktu kerja memang antara pukul 09.00 hingga pukul 12.00. Waktu yang tidak lama, namun hasil yang dicapai lumayan banyak. Berkarung-karung gelas dan botol bekas siap salur telah tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit pikiran nyeleneh saya, kapan ya para pemuda gereja berpola pikir bahwa kegiatan pemuda gereja bukan melulu ibadah dan persekutuan, tetapi juga peduli lingkungan?  °&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-2504573672645135579?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/2504573672645135579/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=2504573672645135579&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/2504573672645135579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/2504573672645135579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2010/02/mengisi-liburan-di-tzu-chi.html' title='MENGISI LIBURAN DI TZU CHI'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/S4plXuESWZI/AAAAAAAAATo/c1UcejAUiXc/s72-c/100_6905.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-2698551774840994449</id><published>2009-12-06T20:51:00.004+07:00</published><updated>2010-02-08T22:11:16.782+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='refleksi ekologi (environment)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='refleksi gerejawi'/><title type='text'>KEARIFAN LOKAL</title><content type='html'>Oleh : Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BENGAWAN SOLO&lt;br /&gt;Baru-baru ini, November 2008, Penerbit KOMPAS menerbitkan buku tentang penelusuran sungai Bengawan Solo. Buku “Ekspedisi Bengawan Solo” tersebut berisi laporan jurnalistik penelusuran Tim Bengawan Solo yang diprakarsai oleh KOMPAS pada pertengahan tahun 2007. Saya telah membaca buku tersebut hingga selesai; itu awal tahun 2009. Itu pun salah satu buku yang saya idam-idamkan membacanya (sekaligus memilikinya) begitu ia diterbitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/S3ApNA8TnoI/AAAAAAAAATY/dLaZMLN-t1I/s1600-h/000_0075.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/S3ApNA8TnoI/AAAAAAAAATY/dLaZMLN-t1I/s200/000_0075.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5435890053804170882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan dengan gaya bahasa ringan dan dalam bentuk pendek-pendek ini: 2-5 halaman per-tulisan, memotivasi saya untuk terus-menerus membacanya. Bukan hanya di kala sekadar menunggu waktu berjalan, tetapi saya sengaja juga membaca bagian demi bagian tentang kehancuran peradaban sungai besar. Sungai sepanjang 527 kilometer (kira2 setengah dari jarak antara ujung Jawa Barat dan Jawa Timur) tersebut merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa sekaligus sungai tua.&lt;br /&gt;Sungai yang (pernah) menyulam peradaban manusia, baik melalui transportasi, kehidupan prasejarah, maupun kerajaan itu, kini dalam kondisi memprihatinkan. Pendangkalan, air sungai terkontaminasi limbah pabrik, dan tempat pembuangan sampah turut andil menjatuhkan peradaban manusia dalam hal pencemaran sungai. Sungai ini tidak lagi diperlakukan sebagai bagian dari sejarah bumi dan manusia, tetapi sebagai bulan-bulanan manusia menata masa depannya.&lt;br /&gt;Slogan yang membuat saya terhenyak ketika membaca buku ini adalah “kearifan lokal”. Yang dimaksud kira-kira adalah kearifan mandiri dari masyarakat sekitar sungai Bengawan Solo dalam menjaga sungai agar lestari. Lestarinya sungai adalah memberi kehidupan dan keseimbangan ekosistem. Muara dari kelestarian sungai tersebut adalah hidup manusia sendiri. Oleh karena itu, kelestarian sungai harus dijaga, pertama2 oleh masyarakat sekitar sungai sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTE&lt;br /&gt;Tadi siang di pintu TOL Kebonjeruk Jakarta, di depan stasiun RCTI, saya memperhatikan pedagang makanan dan minuman. Ia sedang melepas bungkus plastik sedotan minuman mineral. Plastik2nya dibuang begitu saja di bawah kakinya - lantas tertiup angin atau tergerus air jika hujan kemudian masuk got di dekat situ. PADAHAL, tepat di sebelah lapaknya terdapat tong sampah besar. Jelas, contoh orang seperti ini memerlukan kearifan lokal.&lt;br /&gt;Di beberapa tempat di Jakarta, kita dapat menjumnpai spanduk2 dengan slogan: JAKARTE, KALO BUKAN KITE2 YANG JAGE, SIAPE LAGI ...? Begitu kira2 slogan dan kampanye kearifan lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;Kearifan lokal. Bukan hanya untuk mengelola Bengawan Solo atau kota2 besar semacam Jakarta, tetapi juga untuk kehidupan bergereja dan berjemaat, saya kira kita membutuhkan kearifan lokal. Sebagaimana masa depan Bengawan Solo dan Jakarta terletak di tangan masyarakat sekitar, demikian pula pembangunan jemaat terletak di tangan umat dan pengelolanya.  °&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-2698551774840994449?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/2698551774840994449/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=2698551774840994449&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/2698551774840994449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/2698551774840994449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2009/12/kearifan-lokal.html' title='KEARIFAN LOKAL'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/S3ApNA8TnoI/AAAAAAAAATY/dLaZMLN-t1I/s72-c/000_0075.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-6193559068749423989</id><published>2009-10-23T22:13:00.005+07:00</published><updated>2010-09-05T19:06:53.098+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahasa'/><title type='text'>MANCUNG DAN PANCUNG</title><content type='html'>Oleh : Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terperangah ketika membaca di Intisari edisi Agustus 2009 halaman 23 tentang Michael Jackson yang melakukan “pemancungan hidung”. Setelah berpikir agak lama, baru saya mengerti maksud kalimat tersebut. Sumber persoalanya adalah saya terancu antara kata-kata dasar mancung dan pancung.&lt;br /&gt;Lema “mancung” (kata sifat) dan lema “pancung” (kata kerja) memang tidak saling berkaitan, karena mempunyai arti yang sangat berbeda. KKBI terbitan 1996, demikian pula KUBI terbitan 1986, menuliskan bahwa mancung berarti makin ke ujung makin kecil, runcing, lancip. Dalam praksis di masyarakat, kata “mancung” hampir pasti dikonotasikan pada hidung seseorang. “Hidung si A mancung,” untuk menyatakan hidung si A itu lancip sehingga terlihat agak panjang. Untuk yang bukan hidung, kata mancung agak janggal dikenakan. Orang mengatakan “jalan setapak itu menyempit,” tetapi bukan “jalan setapak itu mancung.” Atau “ujung pensil runcing,” bukan “ujung pensil mancung.” Untuk yang bukan orang, kata “mancung” juga jarang dikenakan. Hidung gajah atau anoa tidak disebut mancung, melainkan panjang atau agak menonjol keluar. Tetapi memang ada kera berhidung mancung.&lt;br /&gt;Untuk kata pancung, kedua kamus tersebut menuliskan artinya, yaitu: menetak atau memenggal. Dalam praksis, pancung lazim dikonotasikan untuk memancung anggota tubuh baik manusia maupun hewan. Penjahat yang divonis hukum pancung, kepadanya akan dikenakan pemancungan oleh algojo.&lt;br /&gt;Dalam kasus artikel Michael Jackson di atas, yang dimaksud “pemancungan hidung” pasti dalam arti membuat hidung Jackson menjadi mancung laksana Petruk atau Pinokio – bukan pemenggalan hidung. Hanya, pemakaian kata “pemancungan hidung” tidak segera dimengerti oleh pembaca semacam saya begitu kata tersebut terbaca. Lantas, bagaimana solusinya?&lt;br /&gt;Sebaiknya pemancungan digunakan sebagai pembendaan dari kata kerja pancung. Mancung sendiri adalah kata sifat, sehingga sulit dimengerti jika dijadikan kata benda menjadi pemancungan. Atau sebagaimana halnya bagus (kata sifat) dapat menjadi membaguskan, mancung dapat menjadi memancungkan hidung. Tidak ada kata pembagusan, percantikan, perjelekan, demikian pula pemancungan dari kata dasar mancung.&lt;br /&gt;Memancungkan hidung jelas berbeda arti dengan memancung hidung. Yang pertama berarti meruncingkan dan sedikit memperpanjang hidung, sedangkan yang kedua berarti memotong atau memesekkan hidung. Jadi kalimat dalam artikel tersebut sebaiknya: “Belum lagi jika ikut dibahas usaha yang kelewat maksa’ seperti memancungkan hidung, ....”  °&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) tulisan ini telah dimuat di Intiasi terbitan Juni 2010.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-6193559068749423989?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/6193559068749423989/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=6193559068749423989&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/6193559068749423989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/6193559068749423989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2009/10/mandung-dan-pancung.html' title='MANCUNG DAN PANCUNG'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-904562957225227596</id><published>2009-10-02T10:21:00.000+07:00</published><updated>2009-10-02T10:22:27.666+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahasa'/><title type='text'>ORANG INDONESIA DAN BAHASA INDONESIA</title><content type='html'>Oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia penetapan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi, bahasa rakyat, dan bahasa sesehari di republik ini hampir mendekati satu abad. Dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain di sekitarnya, semisal Cina, Jepang, Thailand, dan Melayu, bahasa Indonesia tergolong bahasa muda. Oleh karena muda, maka wajarlah apabila susunan bahasa Indonesia masih berubah-ubah. Beberapa pendapat menyatakan bahwa seringnya perubahan tersebut mengindikasikan kelabilan, namun penulis sendiri cenderung mengatakan hal tersebut sebagai fleksibilitas bahasa Indonesia. Mungkin pemakainya memang labil, tetapi bahasanya sendiri fleksibel.&lt;br /&gt;Sangat jelas pembuktiannya bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang fleksibel. Kalimat baku, semisal: “Badu membeli sekilo jeruk di toko swalayan tadi siang,” dapat diucapkan dengan berbagai bentuk kalimat tak baku, dan tetap dapat dimengerti, semisal: “Di toko swalayan tadi siang Badu membeli jeruk sekilo.” Bahkan kalau diucapkan “Beli jeruk di toko swalayan sekilo, Badu tadi siang” pun, orang masih mengerti, dan tidak menjadi masalah. Sekalipun “tadi siang” ditukar menjadi “siang tadi”, masih dapat pula dimengerti.&lt;br /&gt;Hal perubahan susunan kalimat tersebut: dari S-P-O-K menjadi K-S-P-O atau P-O-K-S-K, tak dapat dilakukan terhadap bahasa-bahasa Eropa yang sangat terikat pada struktur baku. Jika tidak tetap pada struktur bahasa baku, maka tidak ada orang yang dapat mengerti perkataan anda. Penulis mempunyai pengalaman bercakap-cakap dengan dua orang asing di sebuah kota di Jawa Tengah. Salah seorang asing tersebut – dari Eropa – fasih berbahasa Indonesia, dan yang seorang lain – dari Amerika – masih dalam tingkat belajar. Si Amerika yang masih dalam tingkat belajar bahasa Indonesia tersebut bercakap-cakap dengan penulis dalam bahasa Inggris. Sebenarnya waktu itu penulis sendiri lebih suka menggunakan bahasa Indonesia, tetapi dia “memaksa” penulis berbahasa Inggris. Kepada orang-orang Indonesia yang lain pun, dia berbahasa Inggris. Anehnya, kepada si Eropa yang fasih berbahasa Indonesia tersebut (mereka saling berbeda bangsa dan bahasa ibu) dia bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia, bukan bahasa Inggris! Heran campur mangkel (bukankah kalau mau belajar bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia, penulis jauh lebih fasih ketimbang si Eropa itu?), penulis mencari tahu alasannya. Rupanya, bukan karena penulis tidak fasih berbahasa Indonesia yang menjadi pokok alasannya, melainkan karena terlalu “fleksibel”nya bahasa Indonesia orang Indonesia, sehingga dia merasakan sulitnya berbahasa Indonesia dengan orang Indonesia. Dengan si Eropa, dia dapat memahami bahasa Indonesia, sebab keduanya menggunakan struktur bahasa baku.&lt;br /&gt;Pada satu pihak, fleksibilitas tersebut merupakan salah satu keindahan bahasa Indonesia. Bahkan berbahasa Indonesia dengan bunga-bunganya dan gayanya pun dapat menjadi daya tarik tersendiri. Pengaruh bahasa kesusasteraan dalam bahasa Indonesia begitu kuat dalam bahasa sesehari.&lt;br /&gt;Namun pada pihak lain, fleksibilitas tersebut bukan tanpa masalah. Banyak orang kemudian tidak merasa perlu memperhatikan bentuk-bentuk baku dalam berbahasa Indonesia, sebab pikirnya: “Tokh orang lain dapat mengerti apa yang saya bicarakan,” sekalipun susunannya sangat ngawur menurut kaidah. Tidak mengherankan apabila orang memandang enteng dan rendah bahasa Indonesia. Oleh karena begitu “mudahnya” bahasa Indonesia, menyebabkan orang cenderung tidak berhati-hati dalam bercakap-cakap. Selain pelajaran sejarah, rasanya pelajaran Bahasa Indonesia adalah mata ajar yang sangat tidak disukai oleh kebanyakan siswa sekolah. Oleh karena fleksibelnya, banyak orang Indonesia tidak bersikap teliti sehingga mengganggap bahwa telor hanya kesalahan pengucapan dari telur. Yang benar adalah telor berbeda sama sekali dengan telur, ubi berbeda sama sekali dengan obi, dan batak berbeda sama sekali dengan Batak, bang berbeda sama sekali dengan bank; sebagaimana khas berbeda dengan kas. Lomba memasak dan tanding memasak jelas berbeda, namun masih sering orang tidak memperhatikan perbedaan tersebut.&lt;br /&gt;Sejauh masih di dalam aktivitas percakapan, bahasa Indonesia nyaris tidak bermasalah. Namun, hidup manusia tidak selamanya berada dalam “lingkungan” bercakap-cakap. Akibatnya, dalam hal tulis menulis, orang Indonesia sangat miskin dalam penguasaan bahasanya sendiri. Jangankan tulisan dalam buku atau naskah-naskah tebal, bahkan menulis dalam spanduk, undangan, atau vandel sekalipun (yang hanya menggunakan 10-20 kata) dijumpai begitu banyak kesalahan penulisan menurut kaidah bahasa Indonesia. Hal tersebut sungguh memprihatinkan, sebab mengakibatkan pembaca tidak mengerti atau salah mengerti. Terlebih lagi bahkan masih banyak masyakarat intelektual, pejabat pemerintah, public figure, kaum profesional, sarjana, bahkan penyiar televisi dan radio yang belum mampu menunjukkan penguasaannya akan bahasa Indonesia. Banyak karya tulis dan bahan kuliah yang menggunakan bahasa amburadul. Banyak pidato, wawancara, dan percakapan pembawa acara yang justru merusak bahasa Indonesia. Beberapa pihak dari kalangan eksekutif merasa lebih “terhormat” jika menggunakan bahasa Indonesia berlepotan dengan bahasa asing ketimbang berbahasa Indonesia secara benar dan murni. Sekadar contoh, rasanya hanya manusia langka yang mengucapkan teve ketimbang tivi untuk mengucapkan TVRI, MetroTV, TV7, GlobalTV, nonton TV, dan sebagainya. Hanya sedikit yang menyadari adanya perbedaan arti antara sanksi (ganjaran, akibat) dan sangsi (ragu-ragu), khidmat (khusyuk) dan hikmat (bijak), amin dan amen. Masih sering orang menulis M.P.R., R.R.I., atau R.I. untuk MPR, RRI, atau RI.&lt;br /&gt;Campur aduknya penggunaan bahasa tersebut meluas (atau bermuara) juga pada pengenalan akan bahasa Indonesia yang baku dan benar. Orang Indonesia sendiri tidak begitu mengenal kosakata bahasa Indonesia. Pemborosan kata sering digunakan yang justru mengaburkan arti, semisal pasangan ganda dari seharusnya pemain ganda,  anak remaja dari seharusnya remaja, semua buku-buku dari seharusnya semua buku, atau kota metropolitan dari seharusnya ibu kota (mater = ibu; polis = kota) atau metropolitan saja. Ada juga pemborosan kata yang paling konyol tetapi banyak orang menggunakannya akhir-akhir ini, semisal: mereka-mereka, kami-kami, kita-kita, padahal cukup mengatakan mereka, kami, atau kita. Parahnya, yang biasa “memperkenalkan” bahasa rusak tersebut adalah public figure atau tokoh masyarakat yang ucapannya bukan haya dianut tetapi juga ditiru seratus persen.&lt;br /&gt;Tulisan atau pengucapan kata-kata secara keliru, semisal: tidak acuh, merubah, dan rubah, masih lazim terjadi di kehidupan sesehari untuk mengatakan acuh, mengubah, ubah. Dua kata bertentangan sering digunakan, semisal ”Hingga kini, dia masih belum menyelesaikan skripsinya.” Bagaimana mungkin kata masih dan belum berdampingan. Ada kalanya, kita juga dibingungkan sendiri dengan kata-kata: kualitas dan kwalitas, sualayan dan swalayan, jadual dan jadwal. Kata-kata tersebut bukan hafalan, melainkan harus dimengerti berdasarkan pemilahan suku-suku kata. Suku kata adalah salah satu yang khas dalam bahasa Indonesia. Bukan wang, mulya, dan iang, melainkan uang, mulia, dan yang, sebab pemilahannya adalah u-ang untuk uang, mu-li-a untuk mulia, dan bukan i-ang untuk yang. Demikian pula ku-a-li-tas bukan kwa-li-tas, swa-la-yan bukan su-a-la-yan, jad-wal bukan ja-du-al, kelapa pu-an bukan kelapa pwan, per-em-pu-an bukan per-em-pwan. Di pinggir jalan, masih lazim kita jumpai tulisan ganti oil, maksudnya adalah pasti ganti oli. Namun di surat kabar dan media eletronik pun masih digunakan secara rancu kata-kata jam, waktu, dan pukul. Perubahan jam tayang adalah berbeda arti dengan perubahan waktu tayang. Dalam kehidupan sehari-hari, sering dijumpai rancunya masyarakat menyebut foto, potret, dan kamera, atau masa dan massa.&lt;br /&gt;Ketidakmampuan menulis menurut kaidah bahasa Indonesia bukan hanya menyangkut hal penulisan kalimat, tetapi juga penggunaan tanda baca, termasuk penempatan tanda titik, koma, titik-koma, imbuhan, dan sebagainya. Pemakaian istilah “tidak mampu” bagi orang Indonesia yang tidak menguasai bahasa Indonesia mungkin kurang tepat digunakan di sini. Jika mempertimbangkan waktu mempelajari bahasa Indonesia di sekolah, maka akan dijumpai masa belajar yang cukup lama. Sementara durasi orang asing belajar berbahasa Indonesia adalah sekitar 6 – 12 bulan, orang Indonesia mempelajari bahasanya sendiri sejak di bangku Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah, bahkan hingga Perguruan Tinggi.&lt;br /&gt; Mengapa bahasa Indonesia tidak populer bagi orang Indonesia sendiri? Mungkin orang Indonesia adalah orang yang malu menggunakan bahasanya sendiri. Bukan hanya malu bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia di negeri asing, tetapi juga malu dalam hal memperkenalkan bahasa Indonesia di negeri-negeri asing. Berbeda dengan banyak negara lainnya, bahkan dibanding dengan negeri-negeri kecil, pemerintah Indonesia ketinggalan dalam mendirikan pusat kebudayaan dan bahasa Indonesia di luar negeri. Ironisnya, setiap perwakilan Indonesia di luar negeri memiliki Atase Kebudayaan, dan sering mengadakan pergelaran budaya dan seni.&lt;br /&gt;Di samping itu, bukan rahasia umum lagi bahwa orang Indonesia seringkali tidak menyukai bahasanya sendiri. Pengaruh bahasa daerah dan bahasa suku yang begitu banyak dan beragam di Indonesia menyebabkan orang mempertimbangkan beberapa kali sebelum mempelajari satu bahasa lagi, yakni bahasa Indonesia. Padahal banyaknya dan beragamnya bahasa suku dapat merupakan salah satu sumber konflik. Oleh karena itu bahasa-bahasa rakyat didamaikan dengan lingua franca, satu bahasa untuk berkomunikasi. Ironisnya, bahasa pemersatu itu justru tidak dikenal, dikuasai, dan disukai oleh pemakainya. Dalam percakapan sesehari sering dijumpai orang-orang berputar-putar membahas persoalan: “apa yang dimaksud olehnya”, padahal semuanya menggunakan bahasa Indonesia. Slogan kampanye untuk Pemilihan Umum yang adil, bebas dan rahasia saja dapat menimbulkan konflik karena “adil, bebas dan rahasia” ditafsirkan secara tidak baku. Bahkan istilah-istilah bebas dipahami dengan liar, reformasi dipahami dengan bebas, merdeka dipahami dengan menguasai, disiplin dipahami dengan keterikatan. Instruksi dan penjelasan dalam bahasa Indonesia seringkali harus dijelaskan ulang dan berulang-ulang karena pendengar belum memahami kalimatnya. Di dalam banyak penulisan pun, pembaca masih sering dibuat tidak mengerti dengan tulisan yang berkepanjangan, kesalahan dalam memberi tanda baca, kalimat beranak-cucu kalimat sehingga mengaburkan pokok pikiran yang hendak disampaikan. Tak mengherankan bahwa konflik sosial membesar oleh karena persoalan pembahasaan yang tidak dapat saling dimengerti sehingga disalahartikan oleh lawan bicara. Menyalahartikan kata terlihat dengan penggunaan kata penjarahan mengganti pencurian atau perampokan massal, mengadili mengganti mencari kemenangan di pengadilan, haram mengganti najis.&lt;br /&gt;Rupanya kekeliruan pembahasaan menjadi persoalan penting di republik ini. Namun karena tidak dipermasalahkan, sehingga tidak ada perbaikan. Media tidak memberi ketegasan tentang penggunaan arti kata Fraksi (factio = memecahkan) di MPR, mengapa bukan Faksi (factio = partai, pertalian). Juga mengapa menulis paguyuban dan pagelaran, padahal seharusnya peguyuban dan pergelaran; tidak ada awalan pa- dalam bahasa Indonesia. Mengapa ditulis bus – bukan bis – padahal menyebutnya bis; bandingkan dengan orang Malaysia yang menulis minit untuk minute dan polis untuk police sesuai pengucapannya. Banyak tulisan resmi masih menulis penasehat tetapi bukan penasihat, hakekat tetapi bukan hakikat. Karena kebiasaan, semua orang merasa tidak mempunyai masalah menyebut tukang pos, sebab diterjemahkan dari bahasa Inggris postman, padahal seharusnya tukang giro (gyro = berkeliling, berputar), menyebut Senin sebagai hari pertama ketimbang hari kedua (sebab Minggu atau Ahad-lah hari pertama), Rumah Sakit ketimbang Rumah Rawat yang lebih dekat dengan pengertian hospital (hospitality = keramahan, hal menerima tamu), sekolahan dan jalanan ketimbang mengucapkan sekolah dan jalan, mengkilap ketimbang mengilap.&lt;br /&gt;Seorang pakar bahasa Indonesia mensinyalir bahwa ada kemungkinan suatu saat timbul ketegasan arti antara seluruh, semua, dan segala, dapat dan bisa, secara dan dengan, usia dan umur, awal dan mula. Saat ini media mulai memilah antara tukang dan petugas, sehingga suatu saat bukan lagi tukang pos atau tukang giro, melainkan petugas giro. Sekarang saja dalam percakapan sesehari orang bingung dalam menggunakan ubin dan lantai, dinding dan tembok, atap dan genteng. Dalam penulisan, kamus tidak menginformasikan dengan tegas ejaan untuk kata-kata: praktek atau praktik, objektif atau obyektif. Dalam penulisan sesehari, masyarakat tetap menggunakan secara rancu kata-kata sistem dan sistim, konkret, konkrit, dan kongkrit, apotik dan apotek, Prancis dan Perancis, zaman dan jaman, azas dan asas, berkilap dan berkilat, musium dan museum, copilot atau kopilot, sebab ada koordinasi bukan coordinasi. Mengapa digunakan fundamental bukan fondamen, padahal ada kata fondasi yang akar katanya mempunyai arti yang sama, yakni dasar.&lt;br /&gt;Kalangan agamawan belum sepakat dengan pemakaian kata-kata mujizat atau mukjizat, Paska atau Paskah, Adven atau Advent, mesjid atau masjid, Jumat atau Jum’at, doa atau do’a, setan atau syaitan, amin atau amien, surga atau sorga, jemaat atau jemaah. Kata-kata tersebut merupakan contoh adanya perbedaan antara Kamus Besar Bahasa Indonesia dan praktek sesehari di masyarakat.&lt;br /&gt;Lantas, bagaimana solusi terhadap masalah yang memprihatinkan tersebut? Tentu, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa harus lebih mempopulerkan kosakata bahasa Indonesia yang baku. Sosialisasi bukan hanya soal frekuensi publikasi, tetapi juga soal metode yang lebih merakyat. Muara dari kerja keras lembaga tersebut – salah satunya – adalah memandang pentingnya keberadaan lembaga tersebut di tanah air ini. Sehingga, setiap perusahaan, organisasi sosial, pedagang, dan tim kerja apa pun selalu memanfaatkan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa untuk menanyakan kosakata yang belum dikenal padanannya dalam bahasa Indonesia. Timbal baliknya, lembaga ini pun lebih proaktif mensosialisasikan padanan kata-kata, semisal: tracking, fun rafting, climbing, diving, master of ceremony (MC), door prize, miss universe, time zone, dsb.&lt;br /&gt;Namun, urusan bahasa Indonesia bukan melulu urusan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Bahasa Indonesia adalah urusan semua orang Indonesia. Bukan rahasia lagi bahwa pandangan masyarakat terhadap pendidikan bahasa adalah rendah. Jarang orangtua menganjurkan anaknya menempuhkan jurusan bahasa, apalagi di tingkat menengah. Banyak pengajar yang tidak mengindahkan penerapan bahasa Indonesia untuk bidang ampunya, dengan alasan “Ah, bahasa Indonesia adalah urusan guru bahasa Indonesia, bukan urusan guru kimia, matematika, sejarah dan pendidikan agama.” Padahal banyak orang tidak tahu bahwa kerapian kerangka berpikir logis, sebagaimana diupayakan dalam matematika, berawal dari pembahasan. Logis tidaknya kerangka berpikir dapat dilihat dari rapi tidaknya atau sistematis tidaknya seseorang berbahasa. Demikian pula di kehidupan sesehari, bahasa menandakan siapa seseorang itu. Jadi, solusinya ada pada orang Indonesia sendiri untuk memiliki dan menghargai bahasanya sendiri. Semua pihak wajib menyadari bahwa mencintai bahasa Indonesia adalah tanggungjawab bersama. &lt;br /&gt;Mencintai bahasa Indonesia dimulai dari mencintai Indonesia sendiri. Orangtua memberikan nama anak-anaknya dengan nama Indonesia, bukan jiplakan utuh dari bahasa asing sebagaimana menjadi kecenderungan masyarakat di kota-kota dewasa ini. Apalagi, di beberapa daerah nama keluarga seorang anak ditiadakan dalam pencantuman nama resmi, maka jadilah Robert dari keluarga Sihotang, atau Sherly dari keluarga Lawalata menjadi Robert dan Sherly saja; Indonesia tidak, Barat pun tidak. Padahal ada begitu banyak nama Indonesia yang terdengar anggun dan tidak terikat pada nama suku, semisal: Satria, Wati, Budiman, Manda, dsb.  •&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-904562957225227596?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/904562957225227596/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=904562957225227596&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/904562957225227596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/904562957225227596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2009/10/orang-indonesia-dan-bahasa-indonesia.html' title='ORANG INDONESIA DAN BAHASA INDONESIA'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-6659164886618759119</id><published>2009-04-30T18:12:00.000+07:00</published><updated>2009-04-30T18:13:52.593+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liturgical year'/><title type='text'>ADA PASKA, ADA TELUR</title><content type='html'>ADA PASKA, ADA TELUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Natal identik dengan hadiah, maka Paska identik dengan telur. Waktu masih kanak-kanak, setiap awal tahun saya membayangkan ingin cepat-cepat Paska supaya dapat makan telur rebus sampai puas. Sesudah dewasa, saya makan telur tetapi tak terasa hari itu adalah hari Paska.&lt;br /&gt;Saya dapat makan telur hingga dua kali waktu kanak-kanak: di sekolah dan di gereja. Telurnya sama, tetapi jumlahnya berbeda. Saya bisa makan hingga 2-3 telur di sekolah karena telur adalah hasil menang lomba telur hias atau hasil perolehan mencari telur di kebun sekolah. Semakin banyak menang, semakin banyak telur yang diperoleh oleh seorang murid. Sementara di gereja, saya hanya bisa makan 1 telur karena semua murid Sekolah Minggu mendapat telur dari jatah anggaran gereja; 1 telur untuk 1 orang.&lt;br /&gt;Kenapa ada telur di hari Paska? Jawaban umum biasanya sekadar merohanikan telur dengan Paska kebangkitan Kristus, sehingga penjelasannya seringkali tidak memuaskan orang dewasa.&lt;br /&gt;Paska adalah perayaan menyambut musim semi di negara-negara empat musim. Musim semi mengingatkan orang akan mulainya kehidupan baru setelah “mati” di musim dingin. Bunga-bunga bermekaran, suhu udara sejuk, suasana alam cerah, suasana hati manusia pun menjadi ceria. Bagi sebagian orang, musim semi adalah masa romantis untuk saling memadu kasih. Beberapa orang memadu kasih hingga lupa diri – ujung-ujungnya bikin anak. Nah, sampai di sini semoga pembaca tahu hubungan antara telur (bakal anak) dan musim bencinta ini.&lt;br /&gt;Ketika gereja berperan dalam perayaan musim semi dengan mengadopsi dan mengadaptasi Paska sebagai kebangkitan Kristus, telur diberikan arti tambahan. Sebelum Paska, yakni selama masa Prapaska, umat dianjurkan berpuasa. Telur adalah salah satu menu yang dianjurkan untuk tidak dimakan waktu puasa Prapaska. Ketika tiba hari Paska, orang mulai makan telur sebagai terbebasnya masa berpuasa.&lt;br /&gt;Dengan demikian munculnya telur pada waktu Paska adalah sebagai penggembira suasana hati manusia di musim semi. Sebagai pelengkap musim bercinta itu, Paska juga dimeriahkan denan kelinci, selain telur. Maka korelasinya, semoga, menjadi semakin jelas. Ada telur Paska, ada pula kelinci Paska. Telur adalah bakal anak, sementara kelinci adalah lambang banyak anak; kelinci adalah hewan yang mampu memperanakan banyak anak dalam sekali beranak.&lt;br /&gt;Mengapa hal ini tidak diketahui oleh sebagian kita? Pertama, kita adalah masyarakat yang tidak hidup di negara empat musim. Kita tidak memiliki perayaan musim semi yang dengan meriah dirayakan terutama di Eropa. Kedua, penjelasan telur dan kelinci tersebut bagi masyakarat kita adalah urusan “orang dewasa”, bukan anak. Padahal pesta telur Paska di Indonesia hanya dikenakan kepada anak-anak, bukan orang dewasa. Hingga dewasa, bekal pengetahuan kita tentang telur Paska adalah informasi yang diberikan pada waktu kita kanak-kanak – tentu bukan penjelasan dewasa.  ˚&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-6659164886618759119?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/6659164886618759119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=6659164886618759119&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/6659164886618759119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/6659164886618759119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2009/04/ada-paska-ada-telur.html' title='ADA PASKA, ADA TELUR'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-2919374864608726059</id><published>2009-03-14T20:22:00.003+07:00</published><updated>2009-03-14T20:28:23.547+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='refleksi ekologi (environment)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liturgical year'/><title type='text'>MARDI GRAS</title><content type='html'>olwh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Le Mardi Gras&lt;/span&gt; (ucapkan gras tanpa melafalkan “s”) semakin dikenal. Bukan hanya Perancis, tetapi juga di negeri Paman Sam. Di Italia, ia disebut dengan nama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Il Martedi Grasso&lt;/span&gt;. Cafe atau Bistro di Jakarta, dan iklan-iklan, bahkan nama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;cluster&lt;/span&gt; perumahan di Tangerang atau Bogor juga memperkenalkan dan menyebarkanluaskan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mardi Gras&lt;/span&gt; ini. Sebenarnya, apakah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mardi Gras&lt;/span&gt;?&lt;br /&gt;Secara harfiah, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;le Mardi Gras&lt;/span&gt; adalah Selasa Daging. Setiap tahun sebelum Rabu Abu memasuki masa Prapaska, masyarakat di negara-negara Kristen tradisional merayakan hari terakhir mereka boleh makan daging. Hari terakhir tersebut adalah Selasa. Rabu keesokan harinya adalah masa Prapaska di mana gereja mempermaklumkan masa berpuasa selama 40 hari hingga Paska.&lt;br /&gt;Pada masa puasa itu, orang berhenti atau membatasi diri dari makan daging dan telur. Maka hari Selasa sebelum Rabu Abu, yakni hari pertama berpuasa dalam Prapaska, orang puas-puaskan diri makan daging.&lt;br /&gt;Dalam bahasa Latin, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mardi Gras&lt;/span&gt; disebut &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Carnivalle&lt;/span&gt;. Di dalam kata tersebut, ada kata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;carni&lt;/span&gt;. Kalau ingat carnivora atau karnivora maka tahulah bahwa carni adalah daging. Jadi arti dasar dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;carnivalle&lt;/span&gt; adalah pesta daging sebelum berpuasa. Pesta masyarakat itulah yang di zaman modern kemudian disebut dengan karnaval – tentu saja arti harfiah ini tidak lagi tergambar di dalam bentuk pesta karnaval dewasa ini.&lt;br /&gt;Dalam karnaval ada pawai, demo tarian massal, gemerlap lampu di jalan-jalan, kostum, kegembiraan, dsb. sebagaimana terjadi di Brazilia setiap akhir musim semi sebelum Prapaska. Beberapa negara yang bertradisi kuat pada kekristenan juga merayakan karnaval sebelum Rabu Abu. Bahkan karnaval ini juga dirayakan oleh masyarakat Amerika Serikat.&lt;br /&gt;Selain pawai keliling kota, orang dengan kostum menarik menari dan berdansa. Ada kostum Indian, burung, ayam, Asterix,Obelix, atau bahkan kostum tak berbusana sekalipun, dsb. Film-film di televisi seringkali memasukan karnaval ini sebagai bagian dari ceritanya.&lt;br /&gt;Tahun 2009 ini, Rabu Abu jatuh pada 25 Februari, maka &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mardi Gras&lt;/span&gt; pada 24 Februari 2009. Apakah kita orang Kristen di Indonesia perlu mengadakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mardi Gras&lt;/span&gt; seperti halnya masyarakat Indonesia merayapakan Happy Valentine 14 Februari? Saya kira tidak terlalu perlu dengan alasan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mardi Gras&lt;/span&gt;, sekalipun bersifat sekuler, berhubungan dengan Rabu Abu dan masa berpuasa. Aneh rasanya, jika tidak berpuasa, tetapi merayakan makan daging terakhir kali.&lt;br /&gt;2. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mardi Gras&lt;/span&gt; di negara-negara tersebut dewasa ini lebih dirayakan sebagai festival rakyat yang tidak berhubungan dengan Prapaska dan makan daging. Kalau hanya festival semacam itu, saya kira pawai 17 Agustusan juga sudah lama di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini bukan sebagai anjuran meniru mengadakan hal serupa di Indonesia. Namun kita dapat belajar bagaimana masyarakat menyelenggarakan sebuah perhelatan akbar. Semua pihak: tua-muda, perempuan-lelaki, kaya-miskin berbaur dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mardi Gras.&lt;/span&gt; Memang riskan tentang masalah keamanan di dalam kerumunan puluhan atau ratusan ribu manusia, tetapi selalu aman. Pencopetan kecil-kecilan tentu ada, tetapi itu juga karena keteledoran si korban. Juga menarik bahwa manajemen kebersihan kota selama berlangsungnya karnaval. Di belakang, sekitar 10 meter setelah barisan pawai terakhir, sepasukan penyapu jalan menyapu jalan. Sehingga, sekalipun puluhan atau bahwa ratusan ribu orang tumpah ruah di jalan, lingkungan tetap aman dan jalan-jalan tetap bersih. Masyarakat sendiri yang menjaga agar karnaval tersebut terus berlangsung setiap tahun.&lt;br /&gt;Perhelatan besar, apa pun nama dan peristiwanya, membutuhkan bukan hanya manajemen yang canggih, tetapi juga kearifan massal.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-2919374864608726059?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/2919374864608726059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=2919374864608726059&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/2919374864608726059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/2919374864608726059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2009/03/mardi-gras.html' title='MARDI GRAS'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-3987355792850197298</id><published>2009-01-07T20:59:00.005+07:00</published><updated>2009-01-09T18:32:16.042+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='refleksi ekologi (environment)'/><title type='text'>BEBAS FISKAL</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/SWS3XIfrjrI/AAAAAAAAAQw/l9Iv-ODgqBk/s1600-h/000_0076.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/SWS3XIfrjrI/AAAAAAAAAQw/l9Iv-ODgqBk/s200/000_0076.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5288553470485040818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TANTANGAN TAMBAHAN BAGI PARIWISATA INDONESIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2009 dibuka dengan kegembiraan berimbang yakni pembebasan fiskal sebagai konsekuensi dai wajib NPWP. Ini kabar baik yang berimbang - tak perlu dibesar-besarkan - namun sebuah tantangan tambahan bagi pariwisata di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keberadaan objek wisata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Area tujuan wisata di Indonesia semakin hari semakin kecil lingkupnya, padahal negeri yang sangat luas ini menyimpan beribu dan beragam potensi pariwisata. Dibanding 10 tahun yang lalu, tujuan wisata semakin "berfokus" pada Bali dan Bunaken (Sulawesi Utara). Memang ada beberapa tujuan wisata yang bertahan, semisal Pulau Komodo, Gunung Anak Krakatau, Bromo, Tana Toraja, Lombok, Flores, dan Yogyakarya. Juga ada yang "baru" bangkit, semisal Raja Ampat (Papua) dan Karimun Jawa. Namun tidak sedikit objek wisata tanah air yang "mati suri", semisal: Carita, Danau Toba, Sumatera Barat, dan Pangandaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan itu, Lombok dan Tana Toraja dapat dikatakan mulai menyepi dalam 10 tahun terakhir ini. Kalimantan, Aceh, dan Nias sudah hampir tidak terdengar lagi geliat wisatanya. Jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke daerah-daerah tersebut semakin sedikit jumlahnya. Sebagai gambaran, Tana Toraja hanya dikunjungi oleh sekitar 200 ribu wisatawan asing sepanjang tahun; kurang lebih hanya 500 wisatawan perhari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa objek wisata yang masih berpeluang dibangkitkan, misalnya cruise menyusurui Sungai Bengawan Solo, Musi, atau Mahakam. Jelajah Garut, Kuningan, dan Madura juga berpotensi pariwisata. Namun jangan dulu merencanakan untuk melahirkan objek-objek baru, karena objek-objek yang ada saja seringkali “dibunuh”.&lt;br /&gt;Apa pasal pariwisata di Indonesia kian terpuruk?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kendala intern mengenai sikap dan perilaku tuan rumah dalam menyambut wisatawan. Ada pula pola pikir “berat sebelah” tentang wisatawan hanya pada kelas berbintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kendala intern&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tiada biang keladi yang pertama-tama patut dipersalahkan dalam mengelola industri pariwisata kecuali diri sendiri. Beberapa pihak mengeluhkan soal “ganasnya” para pedagang asongan dan vandalisme tangan-tangan jahil yang merusak keindahan objek wisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang berjualan tidak dapat dilepaskan dari pariwisata. Industri ini bukan hanya menjual objek wisata, semisal situs sejarah, festival atau perayaan, tetapi juga suvenir, makanan, dan minuman. Hal ini berlaku dalam pengelolaan pariwisata di mana pun di dunia ini. Hanya yang berbeda adalah cara menjajakannya. Kasus pedagang asong yang agak mendesak atau bahkan sedikit memaksa wisatawan di sekitar Candi Borobudur atau Kintamani-Bali, membuat perkunjungan wisata menjadi tidak nyaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidaknyamanan bukan hanya dengan menempel terus wisatawan, tetapi juga dengan seloroh atau sapaan-sapaan yang membuat pengunjung sakit telinga, baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Semisal, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Koh&lt;/span&gt;, beli barang ini &lt;span style="font-style:italic;"&gt;koh&lt;/span&gt;” (tidak semua orang bermata sipit dan berkulit kuning suka disapa dengan koh atau ci); “Bule, ini barang bagus dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;good price&lt;/span&gt;.” Seloroh dan sapaan-sapaan tersebut membuat kenyamanan pengunjung terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluhan wisatawan telah lama didengar oleh pengelola. Pembinaan kepada pengasong juga katanya selalu dilakukan. Namun kalau hal tersebut terus-menerus berulang setelah masa “jinak” beberapa saat, maka ini sudah menjadi masalah besar.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap vandalisme di sini mulai dari tangan-tangan jahil dan kurang kerjaan yang mencorat-coret objek-objek wisata hingga pencurian. Kepada orang yang melakukan vadalisme seharusnya sudah dikenakan sanksi yang berat mulai dari perilaku vadalistis yang ringan. Memang ada pula pelaku vadalisme adalah wisatawan iseng. Mereka bukan murni wisatawan, tidak menjiwai akan arti berwisata, maka kelakuannya merugikan banyak orang dan objek itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vandalisme juga menyangkut penghancurkan – alih-alih peremajaan – bangunan-bangunan lama atau kawasan tertentu. Alasan bahwa bangunan bergaya arsitektur Belanda atau Cina di Indonesia harus dihancurkan untuk diganti dengan bangunan yang baru sama sekali, semacam Mal atau perkantoran adalah tindakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;naïve&lt;/span&gt;. Banyak negara yang memperoleh banyak keuntungan pariwisata dengan mempertahankan dan memelihara terus bangunan-bangunan atau kawasan kuno (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;old quarter&lt;/span&gt;), semisal Hoi-An di Vietnam atau Roma di Italia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah yang juga krusial adalah premanisme dan sikap memusuhi orang asing. Premanisme berkaitan dengan sikap liar masyarakat sekitar objek wisata yang terkena langsung dampak positif dari pariwisata di daerahnya. Sikap memusuhi atau sekadar tidak senang muncul dari masyarakat sekitar terhadap orang asing yang masuk ke daerahnya; masyarakat ini biasanya tidak terkena dampak positif langsung pengadaan pariwisata di daerahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Premanisme berkaitan dengan pemerasan, pencurian, memanfaatkan dengan jahat ketidaktahuan wisatawan akan informasi, dsb. Ironisnya, para preman ini seringkali adalah mereka yang justru berada di dalam pengelolaan pariwisata. Semisal, sopir taksi yang menipu atau mengelabui penumpangnya, petugas parkir yang merusak kendaraan, pedagang yang mengganggu kenyamanan wisatawan, dan penjual makanan yang menaikan harga sehingga menjadi sangat tidak wajar. Premanisme bukan hanya membuat wisatawan tidak berkutik, tetapi juga kapok datang lagi. Bagi wisatawan domestik, kapok mereka bisa berlangsung belasan tahun. Kapoknya wisatawan mancanegara bisa berlangsung sangat lama karena info di buku-buku wisata mereka menuliskan Indonesia sebagai wilayah “merah” untuk pariwisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada pariwisata yang tidak melibatkan banyak orang atau aspek lain dalam perekonomian, baik langsung maupun tidak langsung. Sikap tidak ramah atau bahkan memusuhi wisatawan dengan memandangnya sebagai mangsa akan merugikan masyarakat sendiri. Sikap sebagian masyarakat di Puncak, Bogor-Cianjur dan perbatasan Tawangmangu-Sarangan terhadap pengendara adalah contoh paling gamblang. Mobil wisatawan dirusak atau “dituduh” rusak akan membuat wisatawan berpikir dua kali untuk melewati kembali jalur tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki kompleks hotel di area Candi Borobudur sungguh tidak nyaman. Pihak manajemen membiarkan kamar-kamar hotel dikuasai oleh Satpam dan calo. Setiap pengunjung yang masuk halaman, bukan dibukakan pintu gerbang supaya calon tamu hotel dapat langsung berhubungan dengan Receptionist hotel, tetapi justru diinterogasi oleh Satpam atau calo: “Apakah sudah pesan kamar,” atau “kamarnya harus di-&lt;span style="font-style:italic;"&gt;booking &lt;/span&gt;dulu, kalau tidak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;booking &lt;/span&gt;tidak ada kamar,” dsb. Ini bukan cara baik menyambut tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepatutnya sikap tidak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;welcome &lt;/span&gt;ini dikikis karena sangat merugikan pariwisata. Merugikan pariwisata adalah kerugian bagi devisa negara. Padahal masuknya wisatawan akan melancarkan ekonomi rumah makan, penginapan, transportasi, dan oleh-oleh. Ketimbang menggangu mobil-mobil wisatawan, lebih baik memanjakan wisatawan dengan membuka tempat istirahat yang ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengapa hanya kelas berbintang?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Garapan pariwisata hanya melirik wisatawan kelas berbintang. Memang wisatawan kelas berbintang adalah wisatawan yang tidak terlalu perduli dengan perbedaan harga, memajukan hotel-hotel bintang 4 dan 5, dan meningkatkan pendapatan restaurant mewah. Namun wisatawan kelas berbintang terkendala pada keamanan yang sangat rapuh di negeri ini dan masa tinggal yang tidak terlalu lama di suatu daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, mengapa tidak melirik wisatawan kelas melati alias &lt;span style="font-style:italic;"&gt;backpacker&lt;/span&gt;? Wisatawan ranselan ini “tahan banting”. Mereka mampu tinggal lama di suatu daerah, asal daerah tersebut menyediakan sarana pariwisata yang menarik. Dengan harga kamar sekitar 80-200 ribu rupiah, mereka bisa menghabiskan waktu 1 bulan di Indonesia. Hitunglah berapa rupiah sehari yang wisatawan ranselan ini berikan untuk roda perekonomian kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keuntungan meningkatkan pariwisata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Slogan bahwa hidupnya parisawata adalah hidupnya masyarakat perlu terus didengungkan. Oleh karena karena ini, beberapa sikap perlu diambil oleh semua pihak di negara ini. Yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pemerintah harus bersikap menahan dan mengendalikan tujuan wisata yang mengrucut pada Bali. Daerah-daerah lain harus tetap dipertahankan, dikembangkan, dan bahkan dilahirkan sebagai tujuan wisata di tanah air.&lt;br /&gt;2. Tertibkan dan jinakan setiap pengganggu wisatawan. Mereka adalah virus kemajuan ekonomi dan pembangunan bangsa.&lt;br /&gt;3. Manjakan secara proposional para wisatawan dengan menyediakan fasilitas murah-mudah-meriah dalam transportasi, akomodasi, dan informasi.&lt;br /&gt;4. Berlakukan perekonomian pariwisata yang jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal ini niscaya dapat menarik wisatawan domestik dan mancanegara agar tidak melulu mencari tujuan wisata di luar Indonesia. Bebasnya fiskal seharusnya semakin mempergiat semua pihak di negara ini untuk memanjakan setiap wisatawan berwisata di dalam negeri. Karena “pariwisata maju, rakyat dapat hidup.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-3987355792850197298?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/3987355792850197298/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=3987355792850197298&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/3987355792850197298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/3987355792850197298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2009/01/bebas-fiskal.html' title='BEBAS FISKAL'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_08CIoQ3qF5A/SWS3XIfrjrI/AAAAAAAAAQw/l9Iv-ODgqBk/s72-c/000_0076.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-4312293293962236460</id><published>2008-12-08T19:22:00.000+07:00</published><updated>2008-12-08T19:23:27.901+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liturgical year'/><title type='text'>SEJARAH TAHUN BARU</title><content type='html'>Oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun baru dalam kalender umum atau kalender Gregorian dimulai pada tanggal 1 Januari. Dalam satu tahun, kelender Gregorian berlangsung dari 1 Januari hingga 31 Desember, atau 365 hari. Masyarakat seumumnya menyebut Januari sebagai bulan pertama, Februari sebagai bulan kedua, dan seterusnya hingga Desember sebagai bulan keduabelas. Kalender umum ini berasal dari Romawi. Agak aneh, sebab umumnya masyarakat empat musim memulai tahun baru pada musim semi dan menjelang bulan purnama. Padahal 1 Januari masih berada di musim dingin dan masih lama menuju bulan purnama penuh yang jatuh sekitar Maret atau bahkan April.&lt;br /&gt;Bagaimanakah sejarah munculnya 1 Januari sebagai tahun baru? Sebelum tahun 708 AUC (waktu itu orang Romawi masih menggunakan kalender Ab Urbe Condita [AUC], yakni berdasarkan berdirinya kota Roma pada 753 tahun sebelum Masehi), orang Romawi memasuki tahun baru pada setiap 1 Maret. Maret adalah bulan pertama yang menandakan dimulainya musim semi dan menjelang bulan purnama penuh yang pertama dalam 365 hari itu. Musim semi selalu dijadikan patokan tahun baru, yang diartikan sebagai kehidupan baru. Orang Italia menyebut musim semi dengan la primavera, artinya kehidupan yang pertama.&lt;br /&gt;Bukti bahwa bahwa Maret sebagai bulan pertama masih dapat dilihat hingga kini, yakni dengan nama bulan-bulan. Bulan ke-7 disebut September (septem = tujuh), bulan ke-8 disebut Oktober (octo = delapan), bulan ke-9 disebut November (novem = sembilan), dan bulan ke-10 disebut Desember (decem = sepuluh). Dahulu bulan Juli dan Agustus disebut Bulan Ke-5 (Mensis Quintilis) dan Bulan Ke-6 (Mensis Sextilis). Hingga jelasnya bahwa berdasarkan nama bulan-bulan tersebut akan urutan bulan dalam kalender.&lt;br /&gt;Akhir tahun 46 SM, Julius Gaius Caesar (59 – 44 SM) menetapkan sistem kalender baru, yakni sistem solar (matahari) dari sebelumnya sistem lunar (bulan). Sistem kalender baru itu ditetapkan untuk diberlakukan pada 1 Januari, yang sebelum itu hanya merupakan hari biasa. Pada waktu itu, 1 Januari masih termasuk bulan ke-11 dan masih dalam tahun 46 SM. Dengan pemberlakuan kalender ala-Julius Caesar tersebut – kemudian dikenal sebagai kalender Julian – maka 1 Januari menjadi tahun baru. Sebenarnya, 1 Januari hanya merupakan peringatan pemberlakuan kalender baru tersebut. Untuk menghormatinya, bulan kelahiran Julius Caesar, yakni Bulan Ke-5, diubah dengan namanya, yakni Juli.&lt;br /&gt;Sistem kalender Julian ini menghitung bahwa satu tahun terdiri dari 355,25 hari. Setiap empat tahun sekali, terjadilah perpanjangan bulan Februari. Yakni 24 Februari, atau dies sextilis (hari keenam sebelum permulaan Maret), terjadi dua hari berturut-turut untuk tanggal yang sama, misalnya 24 Februari hari Rabu dan keesokannya adalah 24 Februari hari Kamis. Bulan-bulan Maret, Mei, Juli, dan Oktober berjumlah 31 hari, sama hingga kini. Bulan Februari 28 hari. Sedangkan bulan-bulan April, Juni, Agustus, September, November, Desember, dan Januari berjumlah 29 hari.&lt;br /&gt;Jumlah hari dalam bulan-bulan 29 hari, bulan kabisat, dan jumlah hari dalam setahun kemudian dibarui di zaman Kaisar Augustus pada tahun 6 SM. Untuk menghormati dan mengenang Kaisar Augutus, maka Bulan Ke-6 (Mensis Sextilis) diganti namanya menjadi Bulan Agustus.&lt;br /&gt;Koreksi jumlah hari kembali dibarui oleh Gereja Roma pada tahun 1577 terhadap kalender Julian dan Augustan. Kali ini dilakukan oleh pihak Gereja Roma Katolik. Pada tahun 1582, atas perintah Konsili Trente (1545-1563) pada tahun 1577 oleh Paus Gregorius XIII (1502-1585) dikoreksi bahwa hari-hari dalam setahun berjumlah 365,2422 hari, bukan 365,25 hari sebagaimana kalender Julian. Akibatnya adalah waktu yang berjalan setiap tahun lebih lambat 11,25 menit. Nampaknya perbedaan waktu tidak terlalu berarti, namun jika dihitung sejak tahun 45 SM hingga tahun 1582, maka telah terjadi keterlambatan waktu 18.303,75 menit dalam 1.627 tahun, atau 12,7109375 hari. Perbedaan ini cukup signifikan, dan dapat menggantu pengaturan waktu pada masa-masa kemudian. &lt;br /&gt;Penyesuaian segera dilakukan. Melalui keputusan inter gravissimas pada 24 Februari 1582, Paus Gregorius XIII menyatakan bahwa sesudah tanggal 4 Oktober 1582 (Kamis) langsung masuk ke tanggal 15 Oktober 1582 (Jumat) esok harinya. Jadi hanya dipercepat sepuluh hari, padahal seharusnya 12-13 hari keesokan harinya. Lantas tahun pergantian abad (semisal: 1700, 1800, 1900) yang tidak habis dibagi 400, ditiadakan dari kabisat dan dianggap tahun biasa. Maka jadilah kelender sebagaimana terpampang di rumah-rumah kita. °&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-4312293293962236460?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/4312293293962236460/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=4312293293962236460&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/4312293293962236460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/4312293293962236460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/12/sejarah-tahun-baru.html' title='SEJARAH TAHUN BARU'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-6377217100238525100</id><published>2008-10-03T08:46:00.001+07:00</published><updated>2008-10-04T16:54:27.673+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='refleksi ekologi (environment)'/><title type='text'>IMITASI</title><content type='html'>Sebuah Karya Kreatif Anak-anak Manusia di Muka Bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tentu saja, manusia modern memerlukan banyak hal yang imitasi, sekalipun tidak mutlak untuk semua hal. Yang penting harus jelas, mana yang asli dan mana yang imitasi, sekalipun barang imitasi seringkali “memperlihatkan sendiri” keimitasiannya. Katakanlah: mata imitasi, gigi imitasi, rambut imitasi, tulang imitasi, kaki imitasi, jantung imitasi. Sesehari, benda-benda imitasi yang banyak gunanya tersebut selalu disebut palsu: mata palsu, gigi palsu, tulang palsu, kaki palsu, jantung palsu, padahal benda-benda tersebut jelas adalah imitasi.&lt;br /&gt;Imitasi (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;imitatio&lt;/span&gt;) artinya tiruan atau contoh. Dalam fungsinya, imitasi seringkali menjadi pengganti. Sesuatu diimitasi karena yang asli tidak lagi berfungsi, hilang, atau rusak. Imitasi jelas berbeda dengan palsu. Imitasi adalah hasil karya kreatif manusia, dan banyak yang berguna bagi manusia. Bayangkan apabila tidak ada kaki imitasi atau gigi imitasi (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;toothlike&lt;/span&gt;), atau manusia tidak menciptakan kuda imitasi yang bernama sepeda motor. Setiap calon pilot membutuhkan latihan dengan menggunakan kokpit imitasi atau pesawat simulasi sebelum menerbangkan pesawat sesungguhnya ke angkasa. Demikian pula siswa sekolah menengah yang mengenal dan mempelajari anatomi tubuh manusia melalui alat peraga di kelas, yakni imitasi tubuh manusia. Rambut imitasi berguna bukan hanya bagi penampilan, tetapi juga bagi mereka yang karena sakitnya menjadi tidak berambut. Jelas, imitasi sangat berguna bagi kehidupan manusia, teknologi, dan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;Imitasi akan menjadi persoalan besar jika diselewengkan fungsinya. Semisal istri atau suami imitasi sementara istri atau suami tidak lagi berfungsi atau hilang atau meninggal dunia. Istilahnya, selingkuh tidak setia pun tidak.&lt;br /&gt;Imitasi juga akan menjadi persoalan jika barang imitasi diperlakukan sebagai barang tulen. Misal, kaki imitasi digunakan dengan tuntutan secanggih kaki tulen tentu dapat membuat pemiliknya frustrasi. Klep jantung imitasi tentu harus digunakan terbatas pada kemampuannya sebagai imitasi. Mata imitasi tidak secantik mata asli, tentu. Selama benda-benda imitasi itu diperlakukan secara proporsional, niscaya langgeng.&lt;br /&gt;Imitasi diberlakukan dalam beberapa tingkat, dari terendah hingga tercanggih. Pada tingkat sesehari, imitasi suara binatang atau alam kerap digunakan untuk kepentingan musik, drama, atau film. Dalam tingkat yang tinggi, imitasi dapat berupa kloning, baik kloning hewan maupun mungkin akan menjadi kloning manusia. Soal berterimanya kloning manusia, menurut beberapa pendapat, adalah hanya soal waktu saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-6377217100238525100?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/6377217100238525100/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=6377217100238525100&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/6377217100238525100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/6377217100238525100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/10/imitasi.html' title='IMITASI'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-6484952147701725818</id><published>2008-09-24T09:54:00.004+07:00</published><updated>2008-09-27T10:09:57.974+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='refleksi ekologi (environment)'/><title type='text'>DI NEGERI KITA: INDONESIA</title><content type='html'>NYAWA MANUSIA SETARA BARANG PALSU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang-barang palsu kembali mencuat di negeri ini. Akibatnya, ia juga mencoreng wajah indah nan elok permai negeri jambrut di khatulistiwa ini. Daging sapi palsu karena digelondong sebelum mati dan daging ayam palsu karena digelondong setelah mati meramaikan pasar-pasar kita.&lt;br /&gt;Negara kita memang negara yang kaya akan kepalsuan. Lihat saja beberapa istilah yang menunjukkan kepalsuan: “aspal” untuk asli tapi palsu, “sepanyol” (bukan Spanyol) untuk separoh nyolong, barang haram (bukan makanan), asbun untuk asal bunyi, membohongi publik, plagiat, nyontek, oplos, dsb. Semua istilah dan terminologi tersebut berkaitan dengan hasil karya tipu menipu, mengelabui, bicara asal nyecplos, dan kerja asal-asalan. Hal-hal tersebut berhubungan dengan dunia pendidikan: ijazah aspal, gelar aspal, doktor plagiat, disertasi hasil plagiat; makanan: daging gelondongan, makanan kadaluarsa, tanggal kadaluarsa palsu, zat pengawet, zat pewarna pakaian, sampah daging, telur asin palsu; obat: obat kadaluarsa; minyak: solar oplosan, oli oplosan; moneter dan dokumen: uang palsu, SIM palsu, SUPERSEMAR beda versi, manipulasi data; orang: dukun palsu, dokter palsu, polisi gadungan; dsb. Ini belum termasuk para tukang tipu yang memberi janji palsu di iklan berhadiah palsu, penipu di telepon selular, berita palsu tentang ramalan atau nubuat, janji kampanye palsu, dsb. hal ini dapat dibandingkan dengan kisah di Alkitab, ada nabi palsu di Perjanjian Lama dan pengajar palsu di Perjanjian Baru; tetapi memang tidak ada barang palsu.&lt;br /&gt;Memalsukan tampaknya soal main lihai-lihaian semata, namun ujung atau akibat dari berbagai kepalsuan tersebut adalah nyawa manusia. Oleh karenanya, menciptakan suatu yang palsu jelas bukan kreativitas dan bukan seni, tetapi kriminalitas. Bayangkan saja, jika orang batuk kemudian menelan obat kadaluarsa. Bukannya sembuh, dia malah menjadi lebih parah karena keracunan obat kadaluarsa tersebut. Atau, orang dengan dana pas-pasan ingin mengadakan sedikit pesta dengan membeli daging yang memakai label murah padahal daging itu mengandung bahan kimia berbahaya bagi tubuh. Korbannya adalah sekian banyak orang yang berpesta dan makan daging tersebut. Jelas, memalsukan sesuatu adalah sebuah kejahatan. Atau, bagaimana jika dokter yang akan mengoperasi Anda adalah dokter palsu, padahal Anda baru saja tahu ketika sudah mulai dibius di kamar operasi. Belum lagi yang “kecil-kecilan”, tetapi jelas merugikan seperti dalam kasus uang palsu yang sangat besar jumlah kasusnya di negara kita.&lt;br /&gt;Pada sisi lain, pemalsuan yang dibuat oleh ulah bangsa sendiri mengingatkan betapa sangat tidak berharganya nyawa manusia di negeri ini. Ternyata, negeri yang katanya ramah tamah ini sangat meremehkan manusia dan kemanusiaan. Ancaman bagi Indonesia saat ini adalah bukan serangan militer, ekonomi, dan kebudayaan dari negara luar, tetapi bunuh membunuh di antara sesama anak bangsa sendiri. Tragis! Bagi saya, membuat kepalsuan adalah laksana aborsi bagi Bunda Teresa. Bunda Teresa dari Kolkata berkata: “Banyak orang prihatin dengan anak-anak India dan Afrika yang mati karena malnutrisi, kelaparan, dsb., tetapi jutaan anak mati karena keinginan orangtuanya. Jika orangtua dapat membuang dan membunuh bayinya sendiri, apa lagi yang tersisa?” Di tempat lain ia mengatakan: “Kita takut akan perang nuklir dan penyakit baru: AIDS, tetapi kita tidak pernah takut akan pembunuhan bayi-bayi yang tak bersalah. Saya berpikir bahwa masalah terbesar adalah aborsi yang telah menjadi perusak perdamaian terbesar dewasa ini.” Jika kepalsuan terus menerus diberlakukan, niscaya bangsa kita ini akan hancur oleh ulah kita sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-6484952147701725818?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/6484952147701725818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=6484952147701725818&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/6484952147701725818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/6484952147701725818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/09/di-negeri-kita-indonesia.html' title='DI NEGERI KITA: INDONESIA'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-1625230106208627501</id><published>2008-05-29T20:42:00.002+07:00</published><updated>2008-05-29T21:07:54.045+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musafir jemaat'/><title type='text'>ANTARA PERUMNAS DAN SURYA UTAMA</title><content type='html'>oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru sekitar dua bulan saya di GKI Jemaat Surya Utama. Kata orang-orang, dibandingkan dengan GKI Perumnas-Tangerang, Jemaat saya tahun 1997 sampai 2008, GKI Surya Utama bagai bumi dan langit. Maksudnya, kedua Jemaat tersebut sangat berbeda.&lt;br /&gt;Memang, beberapa hal mereka saling sangat berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Dari segi lahan:&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;yang satu sempit, sementara yang lain luas. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Dari segi lokasi:&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;yang satu di Tangerang, sementara yang lain di Jakarta Barat.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Dari segi potensi:&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;yang satu kaya akan kebersamaan, sementara yang lain kaya akan aktivitas.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Dari segi kekurangan:&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;yang satu kurang dana, sementara yang lain kurang bernyanyi.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Dari segi usia:&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;yang satu baru 13 tahun, sementara yang lain baru 25 tahun.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Dari segi ... &lt;em&gt;ups&lt;/em&gt; ... tanggal pendewasaan:&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;mereka sama-sama didewasakan sebagai Jemaat pada 31 Oktober!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Jelas, tanggal tersebut bukan hanya tanggal yang dipilih oleh Sinode GKI Jabar (waktu itu dan tanpa disengaja) sebagai tanggal pendewasaan. Tanggal 31 Oktober juga diakui oleh dunia sebagai hari lahirnya Reformasi, sehari sebelum &lt;em&gt;All Saints' Day&lt;/em&gt; pada 1 November; tangga; bersejarah bagi pembaruan gereja.&lt;br /&gt;Kemudian saya melihat beberapa kesamaan lain di kedua Jemaat ini. Kehangatan dalam pelayanan, kebersamaan antar Pendeta, kesulitan-kesulitan dalam membina dan menjaga kawanan domba Allah, mengatur "domba-domba" yang jalan maunya sendiri, sulitnya mencari program inovatif, ringan untuk memberi perhatian dan bantuan, dsb. merupakan sebagian kesamaan yang saya jumpai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah dinamika berjemaat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;di dalam perbedaan, kita memperoleh keragaman&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;di dalam persamaan, kita mengalami kebersamaan&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Semoga semangat membarui terus diupayakan, dipelihara, dan ditampakkan baik oleh Jemaat Perumnas maupun oleh Jemaat Surya Utama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-1625230106208627501?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/1625230106208627501/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=1625230106208627501&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/1625230106208627501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/1625230106208627501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/05/antara-perumnas-dan-surya-utama.html' title='ANTARA PERUMNAS DAN SURYA UTAMA'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-7739527604380120894</id><published>2008-05-19T08:23:00.004+07:00</published><updated>2008-05-19T08:51:02.487+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musafir jemaat'/><title type='text'>"SELAMAT," DARI PARA EMERITUS</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;oleh: Rasid Rachman&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div align="left"&gt;Pagi ini saya bangun sebelum pukul 5. Akhir-akhir ini memang saya sering terbangun sebelum surya terbit. Mungkin karena terlalu banyak kerja dan dikejar oleh tugas-tugas yang menumpuk, dan pikiran penuh terus untuk merancang kerangka makalah, maka tanda fisik mengingatkan "cukuplah kau tidur 4 - 5 jam" malam ini. Kebetulan, karena banyak tugas-tugas membuat makalah. Saya langsung buka komputer dan mulai menulis. Saya juga diingatkan bahwa &lt;em&gt;tar&lt;/em&gt; malam saya diteguhkan sebagai Majelis Jemaat di GKI Surya Utama.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;Surprisingly&lt;/em&gt;, beberapa Pendeta Emeritus mengontak saya. Mereka menyatakan "selamat" atas peneguhan nanti malam. Satu dari Bandung mengucapkannya melalui SMS, dua dari Jakarta melalui telepon. Sekalian mereka menyatakan tidak akan datang nanti malam, karena satu dan lain hal. Jujur saja, sekalipun ini peneguhan saya ketiga, keiniginan untuk dilihat oleh rekan dan teman tetap ada.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;"Oke Pak, oke Bu, yang penting doa-doanya," respons saya.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;"Pasti, saya doakan," begitu mereka mengatakannya - satu-persatu.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Bahkan satu mendoakan saya via telepon. Menyenangkan rasanya mendapatkan ucapan selamat secara istimewa dari orang-orang yang dituakan dan telah mencapai kehormatan emeritus.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Usia pelayanan saya baru mencapai 16 tahun. Masih 14-16 tahun lagi ke depan. Sekarang baru setengah jalan, walaupun Surya Utama adalah Jemaat saya yang ketiga. Bagi saya, emeritus adalah gelar kehormatan yang luar biasa. Susah mencapainya, bahkan "apakah kelak saya dapat mencapainya?" Bukan untuk gagah-gagahan, tetapi untuk menyatakan tanda kesetiaan bahwa perziarahan sebagai Pendeta diakhiri dengan baik, agar seimbang bahwa dahulu dimulai dengan perjuangan berat. Semakin lama menjalani perziarahan ini, rasanya semakin jauh dari tanda kesetiaan tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Seandainya saya mencapai emeritus seperti mereka, lantas hikmat apakah yang dapat saya tunjukkan kepada gereja dan rekan Pengerja? Para emeritus ada yang tekun dan tak jemu mengucapkan selamat ulang tahun, selamat penahbisan, selamat perkawinan, selamat ulang tahun pernikahan - itu memerlukan kesediaan yang besar.  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-7739527604380120894?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/7739527604380120894/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=7739527604380120894&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/7739527604380120894'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/7739527604380120894'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/05/selamat-dari-para-emeritus.html' title='&quot;SELAMAT,&quot; DARI PARA EMERITUS'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-636844790812215459</id><published>2008-04-04T19:04:00.003+07:00</published><updated>2008-04-04T19:13:48.350+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='refleksi ekologi (environment)'/><title type='text'>DI TENGAH KEMACETAN JAKARTA, SAYA MEMILIH</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;NAIK MOBIL SAJA!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;"Saya memilih naik mobil saja." Begitu jawab saya apabila saat ini saya diminta memutuskan untuk bepergian ke atau di Jakarta. Saya memilih naik mobil pribadi. Alat transportasi yang dapat digunakan di Jakarta dan milik orang Jakarta dan sekitarnya memang cukup beragam, dari yang paling murah dan malu-maluin kalau ditumpangi sampai yang paling bergengsi. Ada sepeda, becak, sepeda motor, bajaj, mobil, bis dan kereta. Ada kendaraan priabdi, ada kendaraan umum. Pertanyaan, seberapakah memuaskannya atau mengecewakannya alat-alat transportasi tersebut bagi pengguna dan pemiliknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Sepeda&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Ada dua jenis alat transportasi bersepeda di Jakarta, yaitu: ojek sepeda dan sepeda pribadi. Semua orang tahu bahwa sepeda adalah alat transportasi paling ramah lingkungan, nir-BBM, dan menyehatkan. Untuk jarak lebih daripada 3 km, bersepeda memang melelahkan, tetapi menyegarkan badan karena ada unsur rekreasi dan olahraga. Dengan bersepeda, kita dapat berolahraga sekaligus menuju tempat kerja. Olah raga selesai, kita pun tiba di kantor. Hanya sayangnya, tata kota dan akses antar kota di Jabodetabek tidak menyediakan sarana untuk berkendara sepeda. Para pengelola perkantoran pun tidak menyediakan parkiran sepeda yang nyaman dan aman; hingga awal tahun 1970-an, masih banyak sekolah dan perkantoran yang menyediakan sarana parkir sepeda. Para pengendaraan kendaraan bermotor pun tidak memperdulikan sepeda. Kampanye bike to work yang dilakukan oleh segelintir orang rupanya masih jauh dari penerapan masyarakat yang bersepeda untuk pergi ke tempat kerja. Sebenarnya, udara kota akan menjadi bersih apabila mayoritas masyarakatnya banyak bersepeda untuk bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Becak&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam beberapa hal, becak lebih memadai daripada sepeda. Becak dapat dimuati oleh 2 orang dewasa atau 3 anak, berpelindung panas dan hujan, transportasi yang cocok juga bagi kaum lanjut usia, anak, orang sakit, hewan, dan barang. Pada waktu banjir, becak sangat efektif untuk alat mengungsikan manusia dan sepeda motor. Bandingkan dengan ojek sepeda yang hanya dapat mengangkut 1 orang dewasa (umumnya laki-laki) di bawah ketidaknyamanan karena panas dan hujan. Sayangnya, pemerintah telah melarang becak beroperasi di Jakarta. Alasannya, tidak manusiawi.&lt;br /&gt;Tanah Jakarta yang datar sangat cocok untuk sepeda dan becak, selain menjaga kebersihan kota dan mengurangi kecelakaan lalu lintas. Ketimbang angkong (&lt;em&gt;ricksha&lt;/em&gt;), atau menutup satu lagi kesempatan masyarakat untuk mencari nafkah, becak masih jauh lebih manusiawi dan demi hajat hidup orang banyak karena nir-BBM (tanpa bahan bakar minyak). Untuk menempuh jarak 1-4 km dengan 2-3 orang, becak merupakan sarana transportasi efektif, sekalipun agak mahal. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R_YaZaeMniI/AAAAAAAAAI0/vOTUAFDpAOc/s1600-h/angkong1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5185361044868734498" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R_YaZaeMniI/AAAAAAAAAI0/vOTUAFDpAOc/s200/angkong1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Angkong di Kolkata, India (2003)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;3. Sepeda motor&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya sepeda di atas, alat transportasi ini pun terbagi dalam dua jenis, antara lain: ojek motor dan motor pribadi. Kelebihan kendaraan ini dibanding dengan yang lain adalah kegesitannya dan kecepatannya dibanding sepeda atau becak. Sekalipun tidak terlalu murah dan tergantung pada BBM, namun kendaraan ini jauh lebih praktis. Lalu lintas di Jakarta akan lebih lengang, namun sedikit semrawut apabila sepeda motor terlalu banyak. Juga harus dipikirkan suara knalpot motor yang nyaring yang tentu menjadi polusi tersendiri bagi masyarakat. Bagi masyarakat, harga sepeda motor relatif terjangkau bagi masyarakat menengah bawah.&lt;br /&gt;Namun kendaraan ini memiliki banyak kelemahan. Pada cuaca: panas, kepanasan dan hujan, kehujanan. Selain itu, resiko celaka bagi pengemudi dan pembonceng cukup besar dan resiko kehilangan bagi pemilik motor cukup besar. Suspensi sepeda motor cukup keras, sehingga pengendaranya harus siap dibanting-banting selama berkendara dan menyebabkan badan menjadi lelah dan konsentasi melemah. Untuk menempuh jarah lebih jauh daripada 15 km, pengemudi menjadi lebih lelah. Belum lagi, pengemudi sepeda motor selalu terancam masuk angin, tersengat sinar matahari, dan kemasukkan asap knalpot kendaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Bajaj, bemo, dan kancil&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sedikit perbadaan sarana angkutan ini dengan becak adalah kecepatannya. Namun bemo (becak-motor) lebih murah karena dapat mengangkut 7 penumpang selain supir sekaligus. Namun berbeda dengan negara tetangga: Filipina, yang melestarikan &lt;em&gt;jeepney&lt;/em&gt; dan menjadikannya salah satu ikon kendaraan nasional, pemerintah kita justru meniadakan bemo sejak beberapa puluh tahun lalu. Hingga kini masih ada bemo untuk jarak dan rute yang sangat terbatas di Jakarta, namun jumlahnya semakin berkurang. Bemo pun semakin tidak laik jalan, karena sulitnya mencari suku cadang kendaraan tua ini sehingga terjadi kanibalisme di sana-sini.&lt;br /&gt;Bajaj dan kancil sebetulnya cukup efeksif dan efisien, walaupun agak mahal dan kurang nyaman karena suaranya yang nyaring. Tahun 1970-an ada pula beberapa “saudara” bajaj yaitu: helicak, minicar, dan mobed. Namun semuanya lenyap dari bumi Jakarta. Hanya saja bajaj menjadi kendaraan terlalu besar jika hanya dimuati oleh 1 penumpang. Berbeda dengan di kota Kolkata-India, bajaj dimuati oleh 3-4 orang dengan tujuan sama dan mereka yang tidak saling kenal satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5. Mobil&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Yang termasuk jenis ini adalah: mobil pribadi, taksi, dan mikrolet. Taksi adalah angkutan yang selalu ada, tetapi mahal. Naik mobil pribadi, apalagi jika hanya dimuati oleh 1-2 orang, juga mahal. Harga bensin yang tidak murah lagi, belum resiko terjebak macet dan lagi apes tertangkap polisi di jalur 3 in 1. Mikrolet memang murah, namun ada resiko kecopetan, kehabisan mobil tumpangan, dan keterbatasan trayek. Lagipula, penumpang tidak bebas membawa banyak barang bawaan.&lt;br /&gt;Memang naik mobil pribadi mahal, tetapi masih lebih murah daripada ongkos taksi. Kendalanya: ongkosnya menjadi lebih mahal lagi jika mobil diparkir di lahan parkir seharga Rp 3 ribu/jam. Kendala lain, pengemudi ikut stres jika terjebak macet. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R_YbD6eMnjI/AAAAAAAAAI8/1v0grezP6c4/s1600-h/trem+kolkata.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5185361775013174834" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R_YbD6eMnjI/AAAAAAAAAI8/1v0grezP6c4/s200/trem+kolkata.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Taxi dan trem di Kolkata, India (2003)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;6. Bis&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Angkutan massal yang mudah pengadaannya adalah bis. Dibanding trem di zaman Belanda dahulu, bis lebih “praktis” karena mudah dan cepat diatur ulang trayeknya. Naik bis untuk kondisi Jabodetak saat ini adalah ideal, asal tertib berhentinya, teratur jadwalnya, aman dan nyaman di dalam tanpa copet dan pengamen, jumlah tempat duduk cukup untuk semua penumpang ke dan di Jakarta. Artinya, asal ada penambahan jumlah armada dan kendaraan yang laik jalan.&lt;br /&gt;Naik bis adalah ideal, karena murah. Namun kondisi bis – kecuali Transjakarta saat ini – di Jabodetabek sangat memprihatinkan. Bukan hanya bisnya yang tidak laik jalan, kadang-kadang pengemudinya pun tidak layak mengendarai karena menjadi ancaman tersendiri baik bagi penumpang maupun pengguna jalan yang lain.&lt;br /&gt;Untuk sementara Transjakarta masih menjadi primadona bis, namun ia tidak menampilkan seperti idealnya bis kota. Jumlah armadanya sedikit, jalannya mulai diserobot kendaraan-kendaraan lain, fasilitas pendukungnya pun mulai rusak dan membahayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;7. Kereta&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Semua orang tahu bahwa alat transportasi massal dan paling murah adalah kereta. Ratusan penumpang dapat diangkut sekaligus dan cepat. Di negara-negara lain yang pemerintahnya bertindak demi masyarakat luas, kelebihan moda angkutan ini ditambah dengan lebih cepat, lebih aman, lebih nyaman, dan dijamin tersedia hingga hampir tengah malam. Sayangnya di Jabodetabek penumpang kereta ditempatkan di atas hewan ternak dalam arti sebenarnya; hewan di dalam gerbong, sementara orang di atap gerbong. Hal ini menggambarkan bahwa pemerintah tidak memedulikan kereta sebagai moda angkutan massal yang efisien. Pemerintah juga tidak memperlakukan masyakat pengguna sebagai “raja”, penambah beban. Akibatnya, jalur dan stasiun kereta tidak dimanfaatkan secara efektif. Setelah waktu pergi-pulang kerja, jalur kereta dalam kota lebih banyak kosongnya, padahal jalan-jalan lain macet dengan aktivitas masyarakat berlalu-lintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pilihan masyarakat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hasil &lt;em&gt;othak-athik-athuk&lt;/em&gt;, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan sebelum memutuskan. Pertama, masyarakat Jakarta cenderung mempertaruhkan hidup manusia secara hierarkis. Misalnya: sepeda adalah kendaraan yang paling tidak dianggap; mobil pribadi adalah kendaraan yang harus selalu difasilitasi dengan berbagai kemudahan akses; di wilayah tertentu ada raja jalanan; atau naik kendaraan yang satu lebih bergengsi ketimbang kendaraan yang lain. Hierarki ini bukan sekadar gengsi, tetapi masalah keselamatan berkendara. Artinya, mobil menyenggol sepeda atau sepeda motor masih dianggap lumrah ketimbang mobil menyenggol mobil atau bis. Oleh karenanya, nyawa pengemudi motor “lebih murah” ketimbang nyawa si pengemudi sedan.&lt;br /&gt;Kedua, ada pilihan antara kendaraan pribadi dan kendaraan umum. Naik kendaraan umum, sangat tergantung pada trayek, ongkos yang lebih besar, waktu-waktu operasional kendaraan, siap membuang waktu karena kendaraan ngetem, siap berganti kendaraan beberapa kali sebelum tiba di tujuan, belum termasuk resiko kecopetan, diturunkan jauh sebelum terminal, atau tidak mendapat tempat duduk. Naik kendaraan pribadi, harus membelinya. Ada yang murah tetapi terbatas jarak tempuhnya seperti sepeda, atau yang mahal asal punya cukup uang. Selain harus merawat kendaraan pribadi, kita akan susah “hati” kalau sampai kehilangan kendaraan kesayangan. Jadi kendaraan jarak jauh untuk melakukan aktivitas ke dan di Jabodetabek adalah tidak termasuk sepeda. Yang lain, oke atau masih dianggap bisa.&lt;br /&gt;Pencantuman judul tulisan ini tadinya membuat saya jengah. Masak sih saya egois memilih naik mobil pribadi, sementara orang-orang lain bersusah payah naik kendaraan umum. Namun setelah saya berpikir, ternyata yang egois itu bukan hanya saya. Para pejabat dan orang-orang di atas saya juga memilih naik mobil pribadi ketimbang kendaraan umum. Apalagi, naik mobil pribadi lantas dengan pengawalan pembuka jalan sehingga bisa kebut di jalan-jalan Jakarta. Orang-orang itu bahkan tidak pernah percaya pada laporan masyarakat bahwa Jakarta itu macet, karena bagi mereka Jakarta selalu lengang.&lt;br /&gt;Anehnya, orang-orang yang tidak atau belum memiliki mobil pribadi pun maunya naik mobil pribadi untuk melakukan aktivitas di Jakarta. Kalau selama ini mereka naik kendaraan umum atau sepeda motor, hal itu hanya karena keterpaksaan dan tidak ada pilihan. Kalau boleh memilih, saya sangat yakin bahwa mereka memilih naik mobil pribadi, atau minilai motor pribadi.&lt;br /&gt;Dalam kondisi Jabodetabek masih seperti saat ini, saya memiih naik mobil pribadi. Enak! Tak perlu ganti-ganti kendaraan, bebas waktu untuk berjalan dan berhenti, tidak ada tukang mengamen – kecuali masalah kecil di lampu-lampu lalu lintas – nyaman dan aman sejauh tidak mogok. Memang dengan mobil pribadi, ongkos menjadi lebih mahal, tetapi naik taksi jauh lebih mahal lagi. Bahkan jika dengan naik bajaj, ongkos naik mobil tidak terlalu jauh selisihnya. Maka sangat beralasan bahwa Jakarta selalu macet, bahkan di hari libur. ©&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-636844790812215459?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/636844790812215459/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=636844790812215459&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/636844790812215459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/636844790812215459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/04/di-tengah-kemacetan-jakarta-saya.html' title='DI TENGAH KEMACETAN JAKARTA, SAYA MEMILIH'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R_YaZaeMniI/AAAAAAAAAI0/vOTUAFDpAOc/s72-c/angkong1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-1687945891730348408</id><published>2008-02-29T13:10:00.010+07:00</published><updated>2008-03-02T19:02:20.064+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='refleksi gerejawi'/><title type='text'>KATANYA SIBUK, TAPI KOQ DI RUMAH ...?!</title><content type='html'>oleh : Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup di Jemaat itu selalu serba salah. Walaupun di Jemaat kota besar semacam Jakarta, Surabaya, atau Bandung, di mana umat biasanya tidak mengurusi hal-hal &lt;em&gt;tetek bengek&lt;/em&gt;, tetapi kesan bahwa Pendeta itu laksana tinggal di "rumah kaca" tetap saja terjadi. Tidak satu-dua orang yang hobi menyelediki kehidupan Pendetanya.&lt;br /&gt;Orang awam biasanya heran dan tidak mengerti dengan pola hidup Pendeta. Jadwal kerja tidak jelas, tempat kerja bukan di kantor, waktu kerja pun tidak terbatas. Biasanya, awam yang tidak mau mengerti dengan gaya hidup ini ambil rata berkesimpulan:&lt;br /&gt;1. Pendeta itu waktu luangnya banyak. Seorang aktivis pernah &lt;em&gt;curhat&lt;/em&gt;, begini: "Saya pernah melihat buku agenda Pendeta, banyak yang kosong. Berbeda dengan orang biasa, &lt;em&gt;ngantor&lt;/em&gt; pukul 08.00 sampai pukul 17.00."&lt;br /&gt;2. Pendeta itu kerjanya cuma hari Minggu. "Sepanjang pekan selama 6 hari, Pendeta di rumah saja. Mungkin santai-santai dan tidur-tiduran."&lt;br /&gt;3. Pendeta selalu bilang sibuk, padahal "Kalau saya telepon di rumahnya, selalu ada. Kalau saya bertanya di telepon 'apakah sedang sibuk', jawabnya pasti 'tidak sibuk'."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeneralisasi semacam ini memang sulit diklarifikasi; juga sulit dikonfirmasi siapa yang yang bicara. Idealnya, ajak orang-orang itu menempel dengan Pendeta selama sepekan. Dari bangun pagi sampai malam tiba sebelum sebelum tidur, ajak orang-orang itu untuk bersama-sama Pendeta, baik di rumah maupun di luar rumah, kemana pun dan apa pun yang dilakukan Pendeta. Saya yakin, setelah seminggu orang-orang itu akan berubah pendapat. Namun melakukan hal ini bukan perkara mudah. Alasannya, hampir tidak diketahui siapa yang berpendapat seperti 3 &lt;em&gt;point&lt;/em&gt; di atas itu. Kebanyakan orang saling menutupi siapa yang bicara; isu semacam itu sangat umum sehingga jeneralisasi pun diterima dengan lumrah; atau tidak ada yang mengaku karena tidak begitu kuat buktinya.&lt;br /&gt;Bagi Pendeta yang masa pelayanannya lebih daripada 10 tahun, mungkin sudah dapat mengatasi isu-isu semacam itu dengan tenang, atau sudah berdamai dengan masalah itu. Bagi yang baru, atau calon Pendeta, isu semacam itu tak pelak bisa membuat gundah dan menghilangnya rasa percaya diri. Bagi saya, itulah yang konsekuensi menjadi Pendeta.&lt;br /&gt;Sekali waktu sekitar pukul 10, ketika saya masih tinggal di pastori yang menyatu dengan kompleks gereja, seorang anggota jemaat datang memanggil-manggil saya dari depan pintu. "Pak, ... lagi tidur ya?" Itu bukan pertama kali ia berseru seperti itu di depan pintu rumah saya. Padahal orang itu belum melihat atau bertemu dengan saya yang di dalam rumah.&lt;br /&gt;Saya buka pintu depan, lantas menjumpainya. Saya katakan dengan agak kesal: "Kalau kerja saya cuma tidur sepanjang hari, maka mana bisa saya lulus sekolah seperti sekarang ini(?)" Sejak itu, ia tidak lagi melakukan seruan-seruan semacam itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-1687945891730348408?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/1687945891730348408/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=1687945891730348408&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/1687945891730348408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/1687945891730348408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/02/katanya-sibuk-tapi-koq-di-rumah.html' title='KATANYA SIBUK, TAPI KOQ DI RUMAH ...?!'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-1640975651539886180</id><published>2008-02-25T18:13:00.007+07:00</published><updated>2008-10-17T17:52:17.762+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perjamuan kudus'/><title type='text'>PERJAMUAN KUDUS DALAM TRADISI IBADAH</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;GEREJA-GEREJA DI INDONESIA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="right"&gt;Oleh : Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Perayaan perjamuan kudus telah diberlakukan oleh Gereja-gereja Protestan di Indonesia sejak penginjilan membuahkan pembaptisan umat Kristen Indonesia awal. Penginjilan kepada orang-orang Indonesia dilakukan baik oleh lembaga-lembaga penginjilan Eropa maupun orang Kristen Indonesia sendiri.&lt;br /&gt;Hal tersebut membentuk kesamaan dan keberbagaian bentuk perayaan perjamuan kudus. Persamaan bentuk perjamuan kudus, yaitu: jarangnya perayaan perjamuan kudus dilaksanakan dan tekanan pada pengampunan dosa. Keberbagaian bentuk perjamuan kudus, yaitu: bentuk cawan anggur dan tata komuni. Bentuk-bentuk ini, tanpa disadari, telah berjalan puluhan bahkan lebih dari seratus tahun, yakni selama Gereja-gereja tersebut eksis di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I. Persamaan bentuk&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;I.A. Perjamuan kudus tidak dirayakan oleh Gereja-gereja Protestan di Indonesia pada setiap kebaktian hari Minggu. Bahkan kebanyakan Gereja Protestan di Indonesia cenderung meniadakan perjamuan kudus dalam kebaktian hari Minggu. Sekalipun ada perjamuan kudus, seringkali perayaannya dipisahkan dari kebaktian umum. Dalam prakteknya, perjamuan kudus hanya dirayakan beberapa kali setahun, yaitu antara 1 – 4 kali setahun.&lt;br /&gt;Kurangnya atau jarangnya perjamuan kudus dirayakan bertolak dari kebiasaan historis dan sedikitnya jumlah Pendeta di masa lalu, serta jarak wilayah yang saling berjauhan (&lt;span style="font-size:85%;"&gt;bnd Th. Van den End, Ragi Carita I, 70&lt;/span&gt;). Namun hal jarangnya perjamuan kudus dirayakan ini masih berlangsung hingga kini, dan dianggap lazim, sekalipun jumlah Pendeta sudah memadai (terutama di perkotaan) dan jarak wilayah relatif tidak menjadi masalah lagi.&lt;br /&gt;Calvin sendiri menghendaki agar perjamuan kudus selalu dirayakan pada setiap hari Minggu (&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Calvin, &lt;em&gt;Institutio&lt;/em&gt;, 250; Ch. de Jonge, &lt;em&gt;Calvinisme?,&lt;/em&gt; 228-229&lt;/span&gt;). Umat harus mengambil bagian dalam perjamuan kudus. Namun keinginan Calvin tidak terwujud, karena dua hal. Pada satu pihak, Pemda kota Jenewa menolak merayakan perjamuan kudus setiap hari Minggu kecuali empat kali setahun, yaitu: Natal, Paska, Pentakosta, dan hari Minggu pertama September. Pada pihak lain, umat tidak merasa diyakinkan untuk layak menerima komuni (&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ch. De Jonge, &lt;em&gt;Calvinisme&lt;/em&gt;?, 229-230&lt;/span&gt;). Hal kedua ini berhubungan dengan tidak adanya ajaran dalam Calvinisme tentang sakramen pengampunan dosa sebagaimana dalam Gereja Roma Katolik.&lt;br /&gt;Selain itu sejarah awal Gereja-gereja Protestan di Indonesia (sekitar abad ke-17) diwarnai oleh kurangnya jumlah Pendeta, karena semuanya diatur secara paternalistik oleh VOC (&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Th. van den End, &lt;em&gt;Ragi Carita I&lt;/em&gt;, 34-35&lt;/span&gt;). Hal ini menyebabkan perjamuan kudus memang sangat jarang diterimakan kepada umat. Ada kalanya umat hanya menerima komuni setahun sekali, dua-tiga tahun sekali, atau bahkan tidak sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.B. Hingga kini perjamuan kudus belum dipahami sepenuhnya oleh Gereja-gereja Protestan di Indonesia sebagai sebuah perayaan. Banyak orang – juga didukung oleh teologi Gereja tersebut yang diungkapkan melalui formula perjamuan kudus yang nyaris tidak berubah sejak semula – menganggap perjamuan kudus adalah sarana pengakuan dan pengampunan dosa. Hal ini juga ditopang dengan waktu perayaannya pada Jumat Agung, bukan pada Paska.&lt;br /&gt;Bahwasanya perjamuan kudus begitu menakutkan, ini memang dari tradisi Calvinisme sendiri. Jemaat-jemaat Reformasi dari Gereja Protestan di Belanda abad ke-17 cenderung menghindari perjamuan kudus. Alasannya, perjamuan kudus hanya berguna bagi orang yang (telah) dipilih Allah (paham predestinasi). Sehingga hanya umat yang merasa cukup yakin bahwa telah dipilih Allahlah, yang berani menerima perjamuan kudus (&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ch. de Jonge, &lt;em&gt;Calvinisme?&lt;/em&gt;, 230&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;Suasana duka masih terlihat dominan dalam perjamuan kudus di Gereja-gereja Protestan di Indonesia. Suasana duka ditampakkan dengan berpakaian serba hitam dan muka murung. Selain itu, ada juga rasa takut. Umat begitu takut merayakan perjamuan kudus, sebab waktu itu adalah “waktu malaikat maut mengambil anak-anak sulung orang Mesir” (&lt;span style="font-size:85%;"&gt;bnd. H.A. van Dop, &lt;em&gt;Penuntun&lt;/em&gt;, “ritual yang keramat dengan efek magis,” 175&lt;/span&gt;). Di beberapa daerah di Indonesia, menjelang dan pada hari perjamuan kudus dilayankan, perkampungan menjadi sunyi-sepi dan pintu-pintu rumah tertutup rapat. Kalau orang batuk atau tersedak pada saat komuni, hal itu dapat dianggap tanda bencana akibat dosa (&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ch. de Jonge, &lt;em&gt;Calvinisme?,&lt;/em&gt; 234&lt;/span&gt;). Pokoknya, perjamuan belum dipahami sebagai perayaan yang secara antusias disambut dengan kerinduan dan sukacita, melainkan dengan ketakutan akan efek magis perjamuan itu.&lt;br /&gt;Beberapa Gereja di kota-kota besar pada zaman modern ini bahkan masih menciptakan suasana takut tersebut dengan meningkatkan gairah kerohanian (baca: kesalehan) umat menjelang perjamuan kudus. Misalnya, majelis mengadakan perkunjungan khusus ke rumah-rumah, &lt;em&gt;censura morum&lt;/em&gt; (= memeriksa kelakuan), dsb. Tentu, hal-hal khusus ini menuntut pengorbanan waktu sang pelayan. Kemungkinan itulah juga alasannya mengapa gereja cenderung tidak memperbanyak jumlah mengadakan perjamuan: repot.&lt;br /&gt;Menekankan censura morum atau masa uji adalah ciptaan para penginjil berlatarbelakang pietisme. Tradisi Calvinis memang membuat hal ini menjadi ketat. Hanya mereka yang betul-betul telah melewati masa ujilah yang lulus dan boleh ikut perjamuan kudus (&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ch. de Jonge, &lt;em&gt;Calvinisme?,&lt;/em&gt; 233-4&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;Perjamuan kudus pada Jumat Agung sendiri merupakan suatu kekeliruan sejarah; telah diralat oleh Gereja-gereja ekumenis. Rasionalisme, pietisme, dan moralisme menguasai pola pikir Gereja-gereja di Eropa pada awal abad ke-19 (&lt;span style="font-size:85%;"&gt;H.A. van Dop, &lt;em&gt;Penuntun&lt;/em&gt;, 177&lt;/span&gt;). Oleh karena mati lebih masuk akal ketimbang bangkit, maka wafat Kristus lebih “dimeriahkan” daripada kebangkitan-Nya. Pada tahun 1825, Jemaat-jemaat di Belanda mulai merayakan perjamuan kudus pada Jumat Agung – menggantikan Paska – pertama kali di kota Delft. Kebiasaan inilah yang malah menjadikan perjamuan kudus pada Jumat Agung paling istimewa.&lt;br /&gt;Paruh kedua abad ke-20, berangsur-angur ada pembaruan di Gereja-gereja ekumenis, termasuk Gereja-gereja Reformasi. Perjamuan kudus kembali dirayakan pada Paska, namun itu baru terjadi di luar negeri. Hingga awal abad ke-21, beberapa Gereja-gereja Protestan di Indonesia mulai kembali merayakan perjamuan kudus pada Paska, walaupun masih sedikit jumlahnya. Yang sedikit itu pun tetap diliputi keraguan benar tidaknya merayakan perjamuan kudus pada hari raya Paska.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;II. Keberbagaian bentuk&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;II.A. Umumnya, Gereja-gereja Protestan di Indonesia menggunakan satu cawan besar yang diedarkan lalu umat meminum dari satu cawan tersebut, atau cawan kecil yang dibagikan lalu setiap orang meminum cawannya sendiri. Di Indonesia – juga diberlakukan oleh beberapa Gereja di luar negeri – cara satu cawan besar dianggap “cara lama”, karena berangsur-angsur Jemaat-jemaat menggantinya dengan menggunakan cawan-cawan kecil (sloki). Cara sloki ini adalah tiada alasan lain kecuali alasan higienis.&lt;br /&gt;Cara sloki ini jelas bukan cara Calvin; bukan karena anti tetapi karena waktu itu belum ada pemikiran perjamuan kudus dengan cawan-cawan kecil. Namun dapat dipahami bahwa Calvin tidak mempersoalkan hal-hal lahiriah, praktis, dan sederhana (&lt;span style="font-size:85%;"&gt;bnd Calvin, &lt;em&gt;Institutuio&lt;/em&gt;, 249&lt;/span&gt;). Yang penting dari cara satu atau banyak cawan ini adalah adanya tampilan cawan utama yang besar ketika sakramen perjamuan kudus dimulai. Cawan utama tersebut menandakan bahwa dari cawan utama itulah tertuang anggur ke dalam cawan-cawan kecil. Hal yang sama dikenakan pada roti besar yang kemudian dipecah-pecahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.B. Umumnya, Gereja-gereja Protestan di Indonesia memakai cara-cara: menggunakan meja khusus (dengan memperbesar altar) di mana kepada umat diterimakan komuni; diam di tempat duduk dan menantikan datangnya roti dan anggur; umat maju ke depan ketika menerima komuni.&lt;br /&gt;Cara pertama adalah menurut kebiasaan Calvin. Perjamuan kudus dirayakan dengan memakai meja di dekat mimbar (&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ch. de Jonge, &lt;em&gt;Calvinisme?&lt;/em&gt;, 231&lt;/span&gt;). Meja-meja tersebut bersambung dengan altar. Idenya adalah umat duduk di sekitar meja tersebut. Hal ini menggambarkan pemahaman bahwa perjamuan kudus adalah upacara makan bersama. Dalam Jemaat dengan jumlah ratusan orang, umat bergantian maju dan duduk di meja besar tersebut, sehingga waktu yamg digunakan pun menjadi lama dan bertele-tele.&lt;br /&gt;Ada pula Jemaat yang menyiapkan meja khusus (tidak besar) di depan altar. Kemudian 5-8 orang diistimewakan duduk di sekitar meja tersebut. Mereka makan dan minum bersama dengan umat lain yang tetap duduk di tempatnya. Waktu untuk perjamuan kudus memang tidak menjadi lebih lama, tetapi secara simbolis menjadi lebih ribet dan membingungkan. Sebab ada 5-8 orang saja yang duduk terpisah dari yang lain, dan ditempatkan di meja – yang lain tidak menggunakan meja – yang juga di luar altar. Ide ini sama dengan cara di atas, hanya menggunakan sistem perwakilan.&lt;br /&gt;Hingga abad ke-20 cara memperbesar atau menambah meja ini dianggap oleh beberapa Jemaat besar di kota-kota tidak praktis, sehingga muncul cara lain, yakni duduk atau diam di tempat duduk; tidak ada perubahan dengan meja yang ada. Juga tidak ada perubahan dengan sikap umat selama perjamuan: duduk saja. Cara ini menimbulkan kesan miskin dan keliru simbol. Miskin, karena tidak ada gerak simbolis lain kecuali duduk. Keliru, karena umat tidak diarahkan untuk melayani, melainkan dilayani. Cara duduk ini termasuk cara yang umum diberlakukan oleh Gereja-gereja Protestan di Indonesia. Entah karena alasan praktis, entah alasan ingin mudahnya saja.&lt;br /&gt;Dewasa ini, perjamuan kudus kembali ke cara lama gerakan liturgis di abad ke-20, yakni umat menerima komuni dengan maju ke altar. Umat Lutheran dan Methodis, biasanya berlutut ketika menerima komuni di dekat altar. Umat Katolik dan beberapa Protestan menerimanya dengan tetap berdiri di dekat altar. Tata gerak berdiri lebih menggambarkan kesukacitaan dan ungkapan syukur dalam perjamuan kudus, ketimbang berlutut yang menggambarkan pengakuan dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;III. Menuju pemakaian ibadah perjamuan kudus ekumenis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kesamaan dan keberbagaian pelaksanaan perjamuan kudus tidak mengindikasikan kemajuan berteologi. Menurut hemat kami, hal yang perlu diwacanakan adalah liturgi ekumenis. Secara praktis juga, liturgi perjamuan kudus ekumenis menyoroti hal-hal berikut, yaitu: perjamuan sebagai persembahan, perjamuan dipimpin oleh para pejabat, dan penggunaan tata liturgi ekumenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.A. Dalam perjamuan sebagai persembahan, roti dan anggur (beserta hasil persembahan lain) dibawa masuk dalam prosesi persembahan; tidak diletakkan di altar sejak sebelum ibadah (&lt;span style="font-size:85%;"&gt;L.H. Stookey, &lt;em&gt;Eucharist&lt;/em&gt;, 118-119&lt;/span&gt;). Yang membawa roti dan anggur tersebut adalah umat; diwakili oleh 2-3 orang. Roti dan anggur tersebut diserahkan kepada para petugas liturgi, dan diletakkan di altar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.B. Pemahaman dahulu bahwa perjamuan kudus hanya dipimpin oleh seorang Pendeta, kini tidak lagi berlaku. Perjamuan kudus dipimpin oleh para pejabat (dhi. Majelis Jemaat: Pendeta, Penatua, Diakon). Oleh karena itu, setelah selesai doa persembahan, dan selama doa perjamuan kudus (Doa Syukur Agung) dipanjatkan, para pejabat tersebut tetap berdiri di belakang altar (meja perjamuan) menghadap umat. Baik juga apabila para peraya perjamuan menaikkan tangannya setinggi dada sebagai sikap berdoa (&lt;span style="font-size:85%;"&gt;L.H. Stookey, &lt;em&gt;Eucharist&lt;/em&gt;, 120&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;Hal ini tidak salahnya apabila dicoba, walaupun beberapa orang merasa canggung pada mulanya. Namun persiapan, sosialisasi, dan pembiasaan akan menghapuskan kecanggungan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.C. Menurut hemat kami, tata liturgi perjamuan kudus ekumenis merupakan jalan tengah bagi penampakan teologi dewasa ini. Liturgi ekumenis dapat menjadi jawaban bagi keterlambatan pembaruan liturgi sebagaimana telah diuraikan di bagian atas makalah ini. GKJ sebagai anggota dari beberapa lembaga ekumenis dapat mengacu pembaruan liturgi perjamuan kudus pada lembaga-lembaga seazas: WCC, WARC, CCA, dsb.). °&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-1640975651539886180?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/1640975651539886180/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=1640975651539886180&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/1640975651539886180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/1640975651539886180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/02/perjamuan-kudus-dalam-tradisi-ibadah.html' title='PERJAMUAN KUDUS DALAM TRADISI IBADAH'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-1101904211042851699</id><published>2008-02-22T12:36:00.004+07:00</published><updated>2008-02-23T11:34:23.222+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='disiplin spiritualitas (spirituality exercise)'/><title type='text'>FASTING AND ALMSGIVING</title><content type='html'>By : Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Christians have been in Lent season since several weeks ago. During 4o days (is counted before Easter excluded Sundays) of Lent seasons, all Christians make themselves introspection by fasting, praying, and give alms. Fasting and praying are the way to do self-control. Self-control means thinking not of themselves but others. Fasting and praying are the way to do almsgiving.&lt;br /&gt;Either The Bible or Jesus in the Gospel don’t teach how to fasting. He fasted for 40 days after His baptism (Matt 4), but He didn’t teach His disciples fast. There is no instruction or law for Christian fast, but for Jews in Old Testament tradition. Jesus even said, “Can the wedding guests mourn as long as the bridegroom is with them?” On the other way He taught that His followers don’t necessary to fast, because He still with them. And He also said, “The day will come, when the bridegroom is taken away from them, and then they will fast” (Matt 9:14-17). According to this passage, there is a time to fast, but not now.&lt;br /&gt;Christians get fast teaching from monastic traditions around 3&lt;span style="font-size:78%;"&gt;rd&lt;/span&gt; and 5&lt;span style="font-size:78%;"&gt;th&lt;/span&gt; century in Egypt. Some desert fathers fasted, but others didn’t. Abba Poemen didn’t fast, but ate only a little, so as not to be satisfied. Some monks ate dry bread and, if they found any, green herbs and water. Theon ate vegetables but only those that didn’t need to be cooked. Elias, in his old age, ate three ounces of bread in ninth hour. In his youth, he ate only once a week. Pityrion ate twice a week, taking on Sundays and Thursdays a little soup made with corn meal. Anthony (3&lt;span style="font-size:78%;"&gt;rd&lt;/span&gt; century) from Egypt didn’t finish whole his bread, but only a half; a half part of his bread was for the hunger.&lt;br /&gt;Until now, fasting is not a law for Christian. Therefore, fasting is private worship. Any Christians can fast as long as they like. Therefore, Church doesn’t force people to fast. Church provides guidance for Christians who want to fast, either during Lent or whole years long on Wednesdays and Fridays. Those two days are laid as fast days; Wednesday because when the Jews held the council for betrayal of Jesus; and Friday because that is when He suffered for us. Fasting in Christian tradition is for remember Christ event.&lt;br /&gt;Besides, fasting is a calling for Christian to give alms. There is no fasting that aim to itself. People get surplus as a results of fast. People use that surplus to help do anything good, such as do justice, help the poor, make school for street children, etc. Our neighbors in Indonesia, Muslims give an example. During fast season, that is &lt;em&gt;Ramadhan&lt;/em&gt;, they also do almsgiving after fasting. Also, monks from first era of Christianity gave example how they do fasting and almsgiving at the same time. &lt;div&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R75g9rQOp_I/AAAAAAAAAHo/QJ9keU5HDRM/s1600-h/pic01261.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5169676034966988786" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R75g9rQOp_I/AAAAAAAAAHo/QJ9keU5HDRM/s200/pic01261.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div align="left"&gt;One day someone gave St Macarius a bunch of grapes, and he sent them to another brother whom he taught was more delicate than himself. Then the recipient gave thanks to God for his brother’s gift, but he likewise didn’t think of himself but of others. He sent them to someone else, and this one to the next, and thus they passed through all the cells which are scattered about in the desert far from each other, each recipient ignorant of the original sender. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;According to the example of this monk story, fasting means concern to others. In Indonesian word for fasting is &lt;em&gt;puasa. &lt;/em&gt;It comes from Sanskrit: &lt;em&gt;upa&lt;/em&gt; (means: come nearer to) and &lt;em&gt;Wasa&lt;/em&gt; (means: God, or The Only Almighy God from &lt;em&gt;Sang Hyang Widi Wasa&lt;/em&gt; in Hindu terminology). So, do fasting and alms giving in the one time means we make ourselves nearer to God. We make ourselves nearer to God when we prove neighbour to others.  ®&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;From praying to fasting&lt;br /&gt;From fasting to almsgiving&lt;br /&gt;From almsgiving to self-control&lt;br /&gt;Self-control makes thinking not of self, but others&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-1101904211042851699?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/1101904211042851699/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=1101904211042851699&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/1101904211042851699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/1101904211042851699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/02/fasting-and-almsgiving.html' title='FASTING AND ALMSGIVING'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R75g9rQOp_I/AAAAAAAAAHo/QJ9keU5HDRM/s72-c/pic01261.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-6821576118682887499</id><published>2008-02-15T23:00:00.003+07:00</published><updated>2008-02-15T23:08:56.849+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture'/><title type='text'>BERSALAM-SALAMAN</title><content type='html'>Oleh: Lina Susanawati B.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka mengamati sesuatu atau melakukan suatu studi banding kecil-kecilan.&lt;br /&gt;Teringat akan saat-saat merayakan Imlek pada masa kecil, ceritanya sebagai berikut:&lt;br /&gt;Bila Sin Tjia tiba, pada hari tahun baru itu pagi-pagi kami sudah mandi dan berpakaian baru.&lt;br /&gt;Di rumah itu ada meja abu (&lt;em&gt;Hiolow&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Yolow&lt;/em&gt;(?)) dari para leluhur. Keluarga terdiri dari engkong, ema, papi dan mami, serta anak-anak. Pada pagi Sin Tjia itu engkong adalah orang yang pertama sembahyang (pakai &lt;em&gt;hio&lt;/em&gt;), mula-mula menghadap ke arah jalan raya, katanya sembahyang pada Tuhan, lalu sembahyang pada para leluhur di meja abu. Setelah engkong, lalu anggota keluarga yang lain bersembahyang, tetapi hanya kepada leluhur. Sembahyang pada Tuhan hanya diwakili oleh engkong. Nah, setelah semua selesai bersembahyang, barulah kami &lt;em&gt;pay-pay&lt;/em&gt; mengucapkan &lt;em&gt;Sin Tjun Kiong Hie&lt;/em&gt;, anak-anak pada orang tua. Acara selanjutnya adalah &lt;em&gt;paytjia&lt;/em&gt;, yaitu kunjungan pada keluarga-keluarga untuk mengucapkan &lt;em&gt;Sin Tjun Kiong Hie&lt;/em&gt;, mulai dari keluarga yang paling dekat dan paling tua. Ketika tiba di rumah sebuah keluarga, begitu bertemu dengan tuan/nyonya rumah, kami tidak langsung &lt;em&gt;pay-pay&lt;/em&gt; . Tetapi kami terlebih dahulu masuk ke dalam rumah menuju meja abu untuk bersembahyang di sana. Setelah itu baru kami &lt;em&gt;pay&lt;/em&gt; mengucapkan &lt;em&gt;Sin Tjun Kiong Hie&lt;/em&gt;, yang lebih muda pada yang lebih tua. Begitulah yang dilakukan pada setiap keluarga yang dikunjungi. Biasanya perkunjungan selesai dalam 2 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat juga akan saat-saat lebaran, saat mana saudara-saudara muslim merayakan Iedul Fitri. Biasanya pagi-pagi mereka ramai-ramai berjalan menuju mesjid atau lapangan tempat solat Ied dilakukan. Tetapi ketika mereka saling bertemu di jalan, saya tidak melihat mereka saling bersalaman. Baru setelah solat, mereka rakai saling bersalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi dengan pengalamanku di gereja. Bila malam Natal atau hari Natal atau Paska tiba, begitu bertemu di halaman gereja, umat sudah saling bersalaman mengucapkan selamat Natal atau selamat Paska. Nanti setelah kebaktian usai, kita bersalaman lagi mengucapkan selamat Natal atau Paska. Nanti kalau ada perayaan Natal, selamat Natal lagi . . . . Lain padang lain belalang ...... Saya tidak tahu di gereja lain, seperti itu atau seperti umat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Artikel ini dikirim oleh penulis: Lina Susanawati, kepada saya untuk dimuat di dalam blog ZIARAH KEHIDUPAN.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-6821576118682887499?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/6821576118682887499/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=6821576118682887499&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/6821576118682887499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/6821576118682887499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/02/bersalam-salaman.html' title='BERSALAM-SALAMAN'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-1022240175943843672</id><published>2008-02-11T21:52:00.000+07:00</published><updated>2008-02-11T22:09:34.000+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture'/><title type='text'>LUNAR NEW YEAR</title><content type='html'>By Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Although I was born with yellow skin and slant eyes, but the political situation of Indonesia have cut me out my Chinese root. We don’t speak Mandarin, neither have Chinese name. I feel Indonesians, and I don’t celebrate Chinese New Year. Only in our parent family in our childhood, during New Year, we regarded happy New Year to each other. Therefore there was no special rite, custom, or everything that showed that this is our New Year. Shortly, we don’t feel as Chinese in culture.&lt;br /&gt;On the other way, we say that we don’t know how to celebrate Chinese New Year. Yes, we cook special food on Chinese New Year such as &lt;em&gt;bandeng&lt;/em&gt; (milkfish), as well as we do on other festivals, such as on &lt;em&gt;Idul Fitri&lt;/em&gt; or Christmas, only for our family. But we don’t do other things that related to celebration, custom, or rite. Not only Indonesian-Chinese don’t know how do celebrate, but many Indonesians don’t know what the Chinese New Year is as well. Many Indonesians couldn’t distinguish Chinese New Year (the &lt;em&gt;Imlek&lt;/em&gt;) and Moslem &lt;em&gt;Idul Fitri&lt;/em&gt; (the &lt;em&gt;Lebaran&lt;/em&gt;). They made similarly Chinese New Year and Chinese &lt;em&gt;Idul Fitri &lt;/em&gt;(or &lt;em&gt;Lebaran Cina&lt;/em&gt;). They also called similarly basket taffy (&lt;em&gt;kue keranjang&lt;/em&gt;) and &lt;em&gt;dodol&lt;/em&gt; (kinds of taffy made of sticky rice, coconut milk, and palm sugar). Chinese New Year was the strange thing in the past of Indonesia.&lt;br /&gt;Time has changed. Few years ago, when our past Presidents proclaimed the Chinese New Year as a national festival and holiday, everybody in this country openly celebrate Chinese New Year. Everybody, both Chinese descendent or not, have been freely celebrating Chinese New Year since 2001. Radio and television broadcast the festival and custom with red color, costumes, songs, films, accessories, and arts. Everything becomes Chinese cultural during Lunar New Year. But I don’t. Why?&lt;br /&gt;Chinese New Year is a cultural festival. That is not religion or national celebration. According to the political situation and condition that I had had received in the past, Chinese New Year is a strange festival for me now. Somebody sometimes greets me: “Happy Chinese New Year,” and I usually say: “To you too,” while shaking hand or answering short message sender (the SMS) and email. It means, he/she reminds me that he/she celebrates Chinese New Year and I give him/her all good wishes. ®&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-1022240175943843672?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/1022240175943843672/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=1022240175943843672&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/1022240175943843672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/1022240175943843672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/02/lunar-new-year.html' title='LUNAR NEW YEAR'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-844217833330135387</id><published>2008-02-09T21:00:00.000+07:00</published><updated>2008-02-09T21:13:57.763+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musafir jemaat'/><title type='text'>SELALU (ADA HAL) UNIK</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R621F7QOp7I/AAAAAAAAAHI/j-We7h6sYfc/s1600-h/100_1014.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5164983461073561522" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R621F7QOp7I/AAAAAAAAAHI/j-We7h6sYfc/s200/100_1014.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah hal-hal biasa, selalu saja ada hal-hal unik di dalam hidup berjemaat. Terutama menyangkut manusia, tetap ada inspirasi, gugahan, ide-ide, gejolak, atau bahkan konflik yang ujung-ujungnya menghantar saya sampai ke refleksi: hari ini saya memperoleh satu lagi hal baru. Hal tersebut dimungkinkan karena perjumpaan dengan berbagai macam orang.&lt;br /&gt;Ada yang tidak bisa (alih-alih: tidak mau) beribadah hanya karena gereja kami panas, tidak ada AC-nya. Anak atau bayinya selalu gelisah selama kebaktian karena gerah, katanya. Tetapi untuk syukuran, ia selalu meminta gereja kamilah yang melayaninya. Ketika anggota keluarganya sakit, pertama dan tercepat pihak yang dihubungi adalah gereja, minta dilawat.&lt;br /&gt;Ada yang datang ke gereja bukan kebaktian hari Minggu, melainkan hari-hari kerja biasa. Kebaktian hari Minggunya di gereja lain, tetapi untuk berdoa ketika bergumul atau hendak bertemu klien “numpang” di gereja kami.&lt;br /&gt;Ada yang jarang sekali datang ke gereja kami, padahal ia adalah anggota. Mungkin hanya 1 kali setahun atau dua tahun. Kami tahu dia selalu beribadah di satu gereja. Kalau datang ke tempat kami, dia mengeluh bahwa gereja kami itu adalah gereja yang paling cocok dengan dia: dekat, waktunya pas, tidak bertele. Sementara gereja yang dikunjunginya secara rutin itu sama sekali tidak baik untuk dirinya: jauh, harus naik ke lantai 3 dengan tangga, dan tidak saling kenal. Ajaibnya, dia tetap menjadi pengunjung gereja itu selama hidupnya.&lt;br /&gt;Ada juga yang “hobi” keliling gereja di wilayah kami. Minggu ini ke gereja A, Minggu depan ke gereja B, Minggu lain ke gereja C, begitu seterusnya sepanjang tahun. Semua gereja dikunjunginya. Dengan demikian, ia menjadikan dirinya tamu di gereja mana pun, termasuk di gereja kami di mana ia menjadi anggota. Apakah kriteria ia ke gereja-gereja itu? Kriterianya: asal menguntungkannya. Istilah saya: ngelaba. Ia datang ke suatu gereja di mana sedang berlangsung acara, termasuk kebaktian hari Minggu, yang menguntungkan dirinya.&lt;br /&gt;Dalam kehidupan berjemaat, unik dan menyebalkan itu berada pada wilayah abu-abu. ®&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-844217833330135387?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/844217833330135387/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=844217833330135387&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/844217833330135387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/844217833330135387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/02/selalu-ada-hal-unik.html' title='SELALU (ADA HAL) UNIK'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R621F7QOp7I/AAAAAAAAAHI/j-We7h6sYfc/s72-c/100_1014.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-205964560470868410</id><published>2008-02-08T13:51:00.000+07:00</published><updated>2008-02-08T13:52:49.215+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musafir jemaat'/><title type='text'>“T” VERSI SATU</title><content type='html'>Oleh : Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“T” itu berwajah “&lt;em&gt;ga enakeun&lt;/em&gt;”, kata orang Bandung. Wajah tertekuk, badan besar-bulat, berkacamata, dan tidak pernah senyum. Dia orang tua, pensiunan. Saya melihatnya pertama kali waktu saya pimpin ibadah; dia di bangku umat. Langsung saya terkesan dengan “&lt;em&gt;ga enakeun&lt;/em&gt;” dipandang itu. Seperti wajah cantik itu enak dipandang, wajah sebaliknya pun menarik untuk terus dipandang. Yang biasa-biasa saja malah ga enak dipandangi. Saudara “T” ini termasuk yang kedua.&lt;br /&gt;Kesan saya, orang ini tidak asik untuk diajak bicara, suka menekan, sadis, dan banyak usul. Apalagi untuk menjadi teman di Jemaat, akan menimbulkan siksaan. Mulitnya yang kecil, bibirnya tipis, kepalanya bundar, berkaca mata dengan gagang hitam. Bukan tipe ideal untuk curahan hati. Juga bukan tipe orang baik-baik. Pokoknya, saya berusaha untuk tidak bicara dan berkenalan dengannya.&lt;br /&gt;Sebagai pensiunan, ia memiliki banyak waktu luang. Saya sering melihatnya di kantor gereja kalau siang hari. Tetapi saya tidak pernah melihatnya menghadiri acara-acara resmi gereja pada malam hari. Untung juga, saya akan jarang berkesempatan berkenalan dengannya.&lt;br /&gt;Sekali waktu saya berpapasan dengan “T” di pintu kantor gereja; saya baru masuk, “T” hendak keluar. “Syukurlah,” pikir saya. “T” melihat saya, saya cukup mengangguk saja, terus menyelinap masuk ke dalam, berpura-pura sibuk dengan urusan lain. “T” pasti tahu saya, tetapi saya pura-pura tidak kenal dia. Memang saya tidak mengenalnya.&lt;br /&gt;Beberapa waktu kemudian kami berpapasan lagi di tempat yang sama. Kali ini dia menyapa: “Apa kabar, Sid.” Sungguh, baru sekali itu saya mendengar suaranya. Halus, menyejukkan, penuh simpati. Namun saya bergetar disapanya. Bukan karena suaranya yang menyeramkan, namun karena prapaham saya tentang dia yang menyeramkan itu ternyata sangat berbeda dengan aslinya. Kata orang-orang, “T” itu orang yang baik, simpatik, suka menolong, dan tidak membuat-buat kalau memberi perhatian. Itulah yang membuat saya bergetar.  °&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-205964560470868410?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/205964560470868410/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=205964560470868410&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/205964560470868410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/205964560470868410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/02/t-versi-satu.html' title='“T” VERSI SATU'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-6837487774602397170</id><published>2008-02-08T13:23:00.000+07:00</published><updated>2008-02-12T22:45:45.538+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='refleksi ekologi (environment)'/><title type='text'>BIOPORE</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6v3UDW8OrI/AAAAAAAAAGo/R50IUax9NbU/s1600-h/100_3392.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5164493321581378226" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" height="134" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6v3UDW8OrI/AAAAAAAAAGo/R50IUax9NbU/s200/100_3392.jpg" width="181" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;By : Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We just made biopore-hole at home. Biopore-hole is a trying to make soil fertile by digging a ten centimetre middle line of hole. People make biopore-holes on land or in garden around habitat or city garden. You could make the distance among one hole to another each 100 centimetre. The aim of making biopore-hole is to loosen soil in order that rain-water could easily get into soil. Yes, this is about environment.&lt;br /&gt;We are concerning to the flood problem around Jakarta nowadays and nature damage, we are concerning to recycle the organic rubbish to be a compost, and we are gardening as well. We are satisfied that from our small house and small garden could make ourselves involve in green campaign.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6v4pzW8OsI/AAAAAAAAAGw/7uNdsaE6kNY/s1600-h/100_3397.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5164494794755160770" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 193px; CURSOR: hand; HEIGHT: 165px" height="123" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6v4pzW8OsI/AAAAAAAAAGw/7uNdsaE6kNY/s200/100_3397.jpg" width="169" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://bp2.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6v50TW8OtI/AAAAAAAAAG4/u61ycfcI6u4/s1600-h/100_3398.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5164496074655414994" style="WIDTH: 239px; CURSOR: hand; HEIGHT: 166px" height="135" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6v50TW8OtI/AAAAAAAAAG4/u61ycfcI6u4/s200/100_3398.jpg" width="181" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://bp2.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6v7iTW8OuI/AAAAAAAAAHA/yik8iCrCNJ8/s1600-h/100_3395.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5164497964441025250" style="CURSOR: hand" height="165" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6v7iTW8OuI/AAAAAAAAAHA/yik8iCrCNJ8/s200/100_3395.jpg" width="228" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;We are really aware with the benefit of biopore. That’s why we encourage digging some holes. Not only my wife and I, but our mother employee also love drill some new holes by our biopore-drill. She even has finished more holes than we have had. After finished one hundred centimetre of biopore-hole, we put one small chamber plantation at top of the hole to just in case nobody accident.&lt;br /&gt;The biopore-hole are contented by us with organic rubbish every day. After three weeks, the rubbish will become compost. You could use compost to fertilize your plantation. Some other people even create compost to be their rice-winner. We get some benefits of biopore-holes, such as decrease rubbish from our kitchen, green environment, fertilizer soil, and hopefully no more flooding. ®&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-6837487774602397170?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/6837487774602397170/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=6837487774602397170&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/6837487774602397170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/6837487774602397170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/02/biopore.html' title='BIOPORE'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6v3UDW8OrI/AAAAAAAAAGo/R50IUax9NbU/s72-c/100_3392.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-3091543180605210113</id><published>2008-02-07T10:48:00.000+07:00</published><updated>2008-02-07T10:55:36.565+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musafir monastik'/><title type='text'>JENDELA KACA</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain arca Bunda Maria, hal unik lain di dalam kapel Gedono adalah jendela kaca. Ada dua, bulan dan besar-besar. Yang satu di sisi Timur dan yang lain di sisi Selatan; keduanya terletak tinggi di atas panti imam. Kedua kaca itu adalah &lt;em&gt;painted-glass&lt;/em&gt;, yakni kaca dengan semprot cet. Tentu mahal harga cet kaca itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5164081842239584930" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6qBEzW8OqI/AAAAAAAAAGg/g6hh8xq75Vg/s200/100_3281.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Dari arah umat, yakni jendela kaca di sisi Selatan, bewarna ungu kecoklak-coklatan. Dari arah komunitas, yakni jendela kaca di sisi Timur, terdiri dari berbagai warna seperti pelangi. Menurut Suster Martina, OCSO, ungu menyimbolkan kekelabuan, pergumulan, duka, muram, dan suram. Dengan kesuraman, umat menghadap Tuhan, berkumpul di sekitar altar. Warna-warni: biro, jingga, coklat muda, dsb., menggambarkan keceriaan, dinamika kehidupan, dan pengharapan. Komunitas menghayati hidup monastik secara indah dalam persekutuan.&lt;br /&gt;Kedua jendela kaca tersebut menimbulkan kesan sangat indah selama berlangsung ibadah pagi (&lt;em&gt;Laudes&lt;/em&gt;) ketika matahari terbit. Melalui kedua jendela besar yang tinggi di atas itu, sinar surya pagi masuk ke kapel, langsung menyinari altar, laksana kemuliaan Tuhan turun menyapa umat. Kehadiran-Nya dalam rupa sinar surya menciptakan kesemarakan ibadah sebelum mulai bekerja rutin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibadah merupakan tampilan kesan keindahan dan keagungan Tuhan. Setiap kali pergi meninggalkannya, umat akan rindu untuk kembali mengalaminya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-3091543180605210113?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/3091543180605210113/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=3091543180605210113&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/3091543180605210113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/3091543180605210113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/02/jendela-kaca.html' title='JENDELA KACA'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6qBEzW8OqI/AAAAAAAAAGg/g6hh8xq75Vg/s72-c/100_3281.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-6440372780245592570</id><published>2008-02-07T10:19:00.000+07:00</published><updated>2008-02-07T10:20:11.115+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musafir seminari'/><title type='text'>“N”</title><content type='html'>Oleh : Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halo,” begitu suaranya di telepon. Suaranya agak serak, rendah, dan seperti orang yang malas bicara banyak.&lt;br /&gt;“Begini Romo,” jawab saya, “maksud saya menelepon adalah bla, bla, bla ....”&lt;br /&gt;“Dari mana kamu tahu nama saya?” lanjutnya.&lt;br /&gt;Itulah awal kontak saya dengan  Romo “N”, di telepon.&lt;br /&gt;Dia seorang yang introvers, menurut kesan saya. Ruang pribadinya di Komisi Liturgi KWI, terpencil. Ruang Komlit sendiri tidak terlalu kecil. Di situ ada beberapa ruang: ruang depan untuk menerima tamu, ruang administrasi, perpustakaan, dan ruang pribadi Direktur Komlit. Romo “N” bekerja dan mengatur ini-itu di ruang Direktur Komlit itu, sendiri. Di dalam ruang pribadinya itu ada sofa, meja kerja, dan televisi. Romo “N” kebanyakan berada di dalam ruang pribadinya itu. Jarang keluar. Ia keluar sebentar untuk menyambut atau menghantar tamunya. Lalu, masuk dan bekerja lagi di dalam.&lt;br /&gt;Beberapa kali saya melakukan bimbingan skripsi di ruang itu. Kami berbicara di sofa, buka di meja kerja. Setelah beberapa waktu lamanya berkenalan, Romo adalah seorang yang enak diajak bicara. Bicaranya ceplas-ceplos, apa adanya, tegas, tetapi bersahabat. Namun, tetap saja kedalaman ilmunya tidak akan kita pahami hanya dengan beberapa kali bertemu. Kedalaman ilmunya semakin jelas ketika ia membaca dan memberi komentar sebuah tulisan. Atau, ketika ia menulis dengan topik yang menarik dan bahasa yang lugas. Ciri-ciri seorang introvers di dunianya.&lt;br /&gt;Keterpencilannya itu memberikan kesan kepada saya akan bidang ilmunya: liturgi. Bahwasanya, ia mengidentifikasi dirinya dengan ilmu tersebut sebagai ilmu teologi yang terpencil. Sebagaimana banyak orang tidak terlalu (mau) mengenal ilmu liturgi, demikian pula Romo “N” yang tidak dikenal di antara para teolog yang tidak menekuni liturgi sebagai bidang utama. Saya kira, para teolog liturgi itu hanya dikenal dalam lingkungannya sendiri.  ©&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-6440372780245592570?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/6440372780245592570/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=6440372780245592570&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/6440372780245592570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/6440372780245592570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/02/n.html' title='“N”'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-3173799333994685421</id><published>2008-02-07T10:12:00.002+07:00</published><updated>2008-02-16T19:45:05.370+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musafir seminari'/><title type='text'>“E” VERSI DUA</title><content type='html'>Oleh : Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“E” itu orang baik, pintar, dan halus budi. Pengalaman hidupnya cukup banyak dan beragam, tetapi ia tetap rendah hati. Orangnya &lt;em&gt;low profile&lt;/em&gt;, alias &lt;em&gt;ga&lt;/em&gt; memperlihatkan kepandaiannya. Dia pernah bekerja di beberapa tempat, namun muaranya yang terakhir adalah dosen Perjanjian Lama dan bahasa Ibrani di STT Jakarta, almamaternya. Saya kira, dia menikmati pengabdiannya sebagai dosen itu, selain sebagai Pendeta di gerejanya.&lt;br /&gt;Selain anaknya lahir bertepatan dengan ulang tahun saya, “E” juga seorang yang enak dan nyaman diajak bicara. Bicaranya tiadk meledak-ledak, tetapi penuh terisi kata-kata bermakna. Selama berbicara dengannya, lawan bicara tidak merasa digurui atau diredahkan. Ia menempatkan diri setara dengan lawan bicaranya. Sekali waktu, ketika kami sedang berbincang di kantin STT, seorang mahasiswa menyela kami.&lt;br /&gt;Mahasiswa itu berbicara kepada saya: “Pak, tiga kuliah kemarin itu tidak diberi nilai. Percuma dong.” Waktu itu saya memang baru saja menggantikan kuliah dosen yang berhalangan. Hanya tiga kali saya memberi kuliah di kelas mahasiswa tadi.&lt;br /&gt;“Semua hal yang pernah kita pelajari, apalagi di dalam kuliah, tidak ada yang percuma. Nilai seorang mahasiswa bukan hanya karena sejumput angka di atas secarik kertas. Kuliah jangan dilakukan jika hanya untuk mendapat sejumput angka nilai,” jawab saya kepada mahasiswa itu.&lt;br /&gt;Rupanya, “E” terkesan dengan jawaban itu. Dia menimpali saya: “Betul Sid, seharusnya mahasiswa menyadari bahwa dalam mempelajari sesuatu ia tidak tergantung pada ada atau tidak adanya angka nilai di kertas.” Sepertinya “E” ingin mengatakan bahwa mencintai ilmu itu jauh lebih utama ketimbang mengejar nilai “A” atau “B”. Kualitas seseorang tidak tergantung atau ditentukan pada angka-angka tersebut, tetapi pada kesukaannya terhadap ilmu yang ditekuninya.&lt;br /&gt;““E”, kau benar.” ©&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-3173799333994685421?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/3173799333994685421/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=3173799333994685421&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/3173799333994685421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/3173799333994685421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/02/e-versi-dua.html' title='“E” VERSI DUA'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-6795628890053659554</id><published>2008-02-07T08:28:00.000+07:00</published><updated>2008-02-07T10:13:30.858+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musafir jemaat'/><title type='text'>“E” VERSI SATU</title><content type='html'>Oleh : Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda "E" (21) yang biasa-biasa ini memberikan kesan istimewa bagi saya, dan membekaskan pengalaman mendalam dalam hidup menggembala jemaat. Hal itu dimulai pada akhir Desember 2001 dan awal Januari 2002. Atau tepatnya, pada menjelang akhir hidupnya, “E” memberi kesan sangat mendalam.&lt;br /&gt;Sakitnya sudah beberapa bulan sebelumnya. Dari perawatan di Tangerang, Jakarta, akhirnya dibawa ke Yogyakarta. Awal Desember, saya terdorong sekali untuk menghubunginya via SMS. Jawabnya: “Pak, saya sudah baikan, akan pulang menjelang Natal.” Legalah hati saya.&lt;br /&gt;Natal ia tidak pulang. Malam, 30 Desember, SMS masuk dari beberapa umat. “Pak, segera ke Yogya atau utus jemaat supaya berdoa bagi “E”,” inti SMS beberapa umat itu. Malam itu saya tidak tenang tidur. Sejak pagi saya mulai atur supaya saya bisa pergi ke Yogya besok, 1 Januari, setelah ibadah Tahun Baru. Namun akhirnya, saya dimungkinkan berangkat 1 Januari pukul 04.0; MJ mendapat pengganti saya untuk memimpin ibadah.&lt;br /&gt;Sebelum malam, saya siapkan tas untuk ke Yogya, termasuk kemeja yang biasa saya gunakan untuk ibadah. Semuanya masuk ke mobil. Setibanya di gereja untuk ibadah Tutup Tahun, Yoseph mengatakan bahwa mereka siap berangkat setelah ibadah malam ini. “Lho, bukankah tadi pagi kita sepakat berangkat besok subuh? sanggah saya. Memang, sebetulnya malam ini pun saya sudah siap berangkat. Yoseph, Bowo, Sukardi, dan saya, berangkat pukul 22.00 itu. Saya merasakan: didorong berangkat lebih cepat.&lt;br /&gt;Tiba di Manisrenggo pukul 10.30 pada 1 Januari 2002. Kami berbincang sebentar dengan “E”, nyanyi-nyanyi lagu Natal dengan 10 eksemplar Kidung Jemaat yang sengaja kami bawa, berdoa, lalu pamit untuk pulang ke Tangerang.&lt;br /&gt;Namun kami (harus!) tidak langsung pulang, karena diminta mampir di Wonosari dan Yogyakarta. Beberapa keluarga meminta kami untuk mampir ke rumah mereka. Akibatnya, kami bermalam di Yogya. Saya merasakan: ditahan lebih lama di Yogyakarta untuk tidak segera kembali ke Tangerang.&lt;br /&gt;Ketika kami di Magelang dalam perjalanan pulang, 2 Januari pagi, masuk telepon dari Tangerang. Kami diminta kembali ke Manisrenggo. Tiba, “E” sudah berpulang. Saya merasakan: Tuhan telah memberikan kesempatan pada kami untuk berjumpa “E” di saat terakhirnya kemarin. ©&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-6795628890053659554?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/6795628890053659554/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=6795628890053659554&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/6795628890053659554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/6795628890053659554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/02/e.html' title='“E” VERSI SATU'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-6914773918948078726</id><published>2008-02-07T08:06:00.003+07:00</published><updated>2008-02-16T19:50:14.229+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liturgical year'/><title type='text'>ASH WEDNESDAY</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6pb8zW8OoI/AAAAAAAAAGQ/rOMkzYr1ZMc/s1600-h/100_3409.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5164041022870403714" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6pb8zW8OoI/AAAAAAAAAGQ/rOMkzYr1ZMc/s200/100_3409.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tonight, February 6&lt;span style="font-size:78%;"&gt;th &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;2008, was the second time for my congregation celebrated Ash Wednesday. The first was last year, 2007. After sermon, people made a sign of cross on forehead with ash. Tonight, we celebrated with a little elaboration. Besides more people came, we celebrated the eucharist as well. I served sermon and my colleague, Rev Suryatie Ambarsari, led the euharist. Two pastors led one celebration. It was not something new for me, but for the people. They watched both of us led the celebration, and it was Ash Wednesday.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6parzW8OnI/AAAAAAAAAGI/_NttCzApBnE/s1600-h/100_3408.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5164039631300999794" style="WIDTH: 192px; CURSOR: hand; HEIGHT: 141px" height="128" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6parzW8OnI/AAAAAAAAAGI/_NttCzApBnE/s200/100_3408.jpg" width="175" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Most Protestant Churches in Indonesia don’t celebrated Ash Wednesday. They don’t know what Ash Wednesday is, how to celebrate it, or even when celebrate it as well. According to their knowledge that they get from the past, Ash Wednesday belongs to the Roman Catholic liturgy. Only Roman Catholic celebrates Ash Wednesday in Lent.&lt;br /&gt;At the beginning of 21st century, some Protestant Churches in Indonesia started open their mind. The complicated traditions of liturgies do not only belong to the Roman Catholic, but also belong to them. Some of them celebrate some new style of liturgy, such as Ash Wednesday, Maundy Thursday, Palm Sunday, Christ the King, etc. But most other Protestant Churches still in their way of worship.&lt;br /&gt;In the year of 2007, when we celebrated Ash Wednesday for the first time, some people fell weird. People needed socialization some weeks before. Elders had to inform what it is and how to do that. They provided the readings about Ash Wednesday and Easter. Even organizer had to know how to get the ash and people had to be known how sign ash on their forehead with thumb. I had to make myself comfortable because everybody thought I know everything to do that.&lt;br /&gt;Tonight we finished Ash Wednesday safely. There was only once reading about Ash Wednesday, but no other practical information at all as we did last year. Hope, next year and the years to come, we celebrate Ash Wednesday in consciousness that it belongs to us as a Christians who begin the Lent. ©&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6pcujW8OpI/AAAAAAAAAGY/s1BBE6FCmes/s1600-h/100_3410.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5164041877568895634" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6pcujW8OpI/AAAAAAAAAGY/s1BBE6FCmes/s200/100_3410.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-6914773918948078726?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/6914773918948078726/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=6914773918948078726&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/6914773918948078726'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/6914773918948078726'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/02/ash-wednesday.html' title='ASH WEDNESDAY'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6pb8zW8OoI/AAAAAAAAAGQ/rOMkzYr1ZMc/s72-c/100_3409.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-8754579066541861064</id><published>2008-02-06T23:17:00.000+07:00</published><updated>2008-02-06T23:42:00.240+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musafir monastik'/><title type='text'>ARCA MARIA BERBUSANA KEBAYA</title><content type='html'>Oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu yang khas dari biara Gedono adalah arca Bunda Maria. Begitu masuk ke dalam kapel, langsung terlihat pampangan arca Maria berbusana kain kebaya ala Jawa itu terletak di kapel. Rambut di kepalanya dikonde, lalu ia menggendong Bayi Yesus dengan kain gendongan yang dililitkan di pundaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6nh9jW8OmI/AAAAAAAAAGA/cHSdXWxtv2c/s1600-h/100_3289.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163906895336716898" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6nh9jW8OmI/AAAAAAAAAGA/cHSdXWxtv2c/s200/100_3289.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suster Martina, OCSO mengisahkan kepada saya bahwa arca Bunda Maria menggendong Bayi Yesus itu dibuat setelah pemahatnya retret di Gedono selama 1 pekan. Arca terbuat dari tanah liat. Ketika pewarnaan, warnanya sama dengan warna lantai kape, kecoklat-coklatan mirip warna tanah liat. Hal ini menggambarkan kesehajaan seorang Maria.&lt;br /&gt;Posisi tangan kanan Maria yg terbuka sebagai tanda ia menunjukkan kepada Yesus akan dunia, dan keterbukaannya bagi dunia untuk melihat Yesus. Memang, yang pertama dilihat oleh orang (dhi. Komunitas Gedono saja, karena arca tersebut menghadap ke area komunitas) adalah Sang Bayi itu. Yesuslah fokus dari arca tersebut.&lt;br /&gt;Sebetulnya tidak seorang pun berkehendak Maria mengenakan busana Jawa. Namun, ketika perundingan terakhir yang dihadiri oleh seluruh komunitas untuk menilai dan memberi catatan tentang arca tersebut, semua orang dengan terkagum-kagum memandang Bayi Yesus dalam gendong Maria, lalu melihat wajah Bunda Maria. Memang akhirnya, tidak seorangpun yang mempersoalkan busana Maria.&lt;br /&gt;Jika dilihat ruang ibadah, posisi Maria terlihat tidak terlalu lebih tinggi daripada posisi para rubiah. Hal ini mencerminkan bahwa Maria ikut berdoa bersama komunitas selama ibadah harian. Spiritualitas terlahir dari konteks. ©&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-8754579066541861064?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/8754579066541861064/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=8754579066541861064&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/8754579066541861064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/8754579066541861064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/02/arca-maria-berbusana-kebaya.html' title='ARCA MARIA BERBUSANA KEBAYA'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6nh9jW8OmI/AAAAAAAAAGA/cHSdXWxtv2c/s72-c/100_3289.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-5839451229869932754</id><published>2008-02-06T23:14:00.000+07:00</published><updated>2008-02-06T23:40:42.215+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musafir monastik'/><title type='text'>BEKERJA ALA MONASTIK</title><content type='html'>Oleh : Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suster sekarang sedang mengerjakan apa di biara ini?” tanya saya kepada Suster Paula, OCSO. Kala itu kami berkesempatan berbincang di ruang tamu. Tidak ada lagi &lt;em&gt;grata&lt;/em&gt; seperti biara Abad-abad Pertengahan. Perbincangan kami hanya diantarai oleh sebuah meja pembatas. Saya bertanya hanya sekadar ingin tahu dengan cara apakah dan bagaimanakah para suster mengisi hari-mari mereka di dalam cloister di luar waktu ofisi.&lt;br /&gt;“Saya membersihkan sarang laba-laba. Saya mendapat tugas dari Abdis,” jawabnya biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;“Oh, begitu. Seluruh rumah biara? Berapa lama suster dapat menyeselsaikannya?” saya bertanya kembali. Setahu saya, rumah biara itu begitu luas, tembok dan langit-langitnya tinggi, dan saling berjauhan antara antara satu ruang dengan ruang lain. Sementara itu, masih banyak bagian dari rumah biara itu yang tidak saya ketahui.&lt;br /&gt;“Tidak ada target. Tugas yang diberikan kepada saya adalah membersihkan tembok biara. Lantas, saya membersihkannya terus menurut jadwal kerja harian, sampai bersih atau sampai mendapat tugas baru untuk mengerjakan yang lain lagi” begitu ia menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam disiplin spiritualitas, hidup dengan segala sendi-sendinya adalah ziarah. Bekerja dengan tujuan, namun tanpa target. Tidak ada momok “kejar tayang” dan diburu waktu. Manusia tidak diperbudak oleh waktu, tetapi baiklah mengisi hari-harinya dengan bekerja dan berdoa, belajar dan makan, lantas memaknainya. ©&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-5839451229869932754?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/5839451229869932754/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=5839451229869932754&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/5839451229869932754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/5839451229869932754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/02/bekerja-ala-monastik.html' title='BEKERJA ALA MONASTIK'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-3164927539727389290</id><published>2008-02-03T21:34:00.000+07:00</published><updated>2008-02-03T21:37:21.091+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musafir jemaat'/><title type='text'>SUSUNAN PM-GKI</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga 2-3 tahun setelah dilembagakan, susunan program dalam organisasi Majelis Jemaat adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Sarana-Prasarana&lt;br /&gt;2. Pembinaan&lt;br /&gt;3. Oikumene-Masyarakat&lt;br /&gt;4. Kebersamaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susunan tersebut berbeda dengan prinsip Program Menyeluruh Gereja Kristen Indonesia (PM-GKI) yang menelurkan kegiatan Jemaat menurut bidang-bidang. Menurut buku PM-GKI, urutannya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Oikumene-Masyarakat&lt;br /&gt;2. Kebersamaan&lt;br /&gt;3. Pembinaan&lt;br /&gt;4. Sarana-Prasarana &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6XRWjW8OkI/AAAAAAAAAFw/-MUsapNn0xk/s1600-h/pic22813.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5162762733228931650" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6XRWjW8OkI/AAAAAAAAAFw/-MUsapNn0xk/s200/pic22813.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dengan penasaran saya bertanya-tanya. Eh, ternyata dasar pembidangan tersebut adalah berdasarkan inisial huruf S-P-O-K. Apakah dasar S-P-O-K tersebut? Mengapa bukan K-O-P-S supaya alfabetis?&lt;br /&gt;Saya mengetahui S-P-O-K sewaktu mendapat pelajaran Bahasa Indonesia di SMP dahulu kala. Dugaan saya, jangan-jangan Jemaat Perumnas memang terpengaruh dengan sistem Subjek-Predikat-Objek-Keterangan dalam bahasa Indonesia itu. Dugaan ini meleset, sebab seingat saya tidak ada lagi yang ingat pelajaran Bahasa Indonesia waktu SMP. Hingga kini, kecuali karena warisan, saya tidak tahu dari mana datangnya SPOK-nya GKI Perumnas-Tangerang tersebut. Wahahualam. ©&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-3164927539727389290?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/3164927539727389290/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=3164927539727389290&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/3164927539727389290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/3164927539727389290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/02/susunan-pm-gki.html' title='SUSUNAN PM-GKI'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6XRWjW8OkI/AAAAAAAAAFw/-MUsapNn0xk/s72-c/pic22813.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-3421065186563305575</id><published>2008-02-03T21:28:00.000+07:00</published><updated>2008-02-03T21:32:48.936+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musafir jemaat'/><title type='text'>JANGAN DUDUK DEKAT PENDETA</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah siapa yang memulai dan mengajarkan dengan menakut-nakutkan, umat di GKI Perumnas-Tangerang tidak mau duduk dekat saya. Hal ini berlaku juga bahkan bagi anak-anak. Ibu-ibu mereka akan menyuruh mereka pergi menjauh kalau saya duduk dengan mereka dalam satu acara, sekalipun anak-anak itu sudah duduk di situ lebih dahulu daripada saya.&lt;br /&gt;Menurut mereka, hal tidak duduk dekat Pendeta itu menunjukkan sikap segan dan hormat. Tetapi menurut saya, hal itu merupakan bentuk penindasan kepada anak, tidak mendidik, dan menimbulkan ketidaknyamanan bagi saya. Mirip-mirip pelecehan. Seolah-olah saya sedang mengidap penyakit yang mahaberbahaya karena muda sekali menulari orang-orang sekitar, sehingga harus dijauhi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6XQGDW8OjI/AAAAAAAAAFo/H5UCCU75Igw/s1600-h/pic02421.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5162761350249462322" style="CURSOR: hand" height="118" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6XQGDW8OjI/AAAAAAAAAFo/H5UCCU75Igw/s200/pic02421.jpg" width="173" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Terutama untuk anak. Kita harus mengatakan bahwa tidaklah benar anak-anak diteror dengan ketakutan pada seseorang atau sesuatu yang jelas tidak berbahaya. Apabila nakal, anak sering diteror “ditangkap polisi” atau “disuntik dokter atau “dipelototin pendeta”. Penanaman ancaman tanpa dasar tersebut jelas tidak sehat. Jelas, orang tua telah berbohong kepada anak. Selain itu, orangtua akan kesulitan sendiri apabila sekali waktu anaknya perlu berurusan dengan dokter, misalnya.&lt;br /&gt;Untuk kasus saya, tindakan menjauhi saya menimbulkan kesepian di tengah keramaian. ©&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-3421065186563305575?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/3421065186563305575/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=3421065186563305575&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/3421065186563305575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/3421065186563305575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/02/jangan-duduk-dekat-pendeta.html' title='JANGAN DUDUK DEKAT PENDETA'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6XQGDW8OjI/AAAAAAAAAFo/H5UCCU75Igw/s72-c/pic02421.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-4622727453760469564</id><published>2008-02-01T22:33:00.000+07:00</published><updated>2008-02-01T22:38:03.139+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musafir jemaat'/><title type='text'>NAMA SUAMI-ISTRI</title><content type='html'>Oleh : Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percaya tidak percaya bahwa sebagian besar umat GKI Perumnas Tangerang menikah dengan pasangan yang bernama ”sama”. Pak Agus menikah dengan Bu Agus, Pak Budi menikah dengan Bu Budi, Pak Santi menikah dengan Bu Santi. &lt;em&gt;Eee...h&lt;/em&gt;, contoh yang terakhir itu memang tidak ada di Perumnas. Semua nama mereka berjenis maskulin. Sekalipun senang karena meringankan 50% “beban” mengingat nama-nama umat, saya tetap berusaha mengingat dan mencari tahu nama kecil dari istri-istri tersebut.&lt;br /&gt;Ternyata nama kecil ibu-ibu itu cukup baik dan keren. Ada Santi, Vony, Yulia, Sri (ini yang paling banyak di Perumnas-Tangerang), Monika, dsb. Namun di gereja, nama-nama bagus itu “tertutup” oleh nama suami mereka. Hal itu berlaku bukan hanya di dalam penyebutan, tetapi juga dalam tulisan atau cantuman nama di papan. Hanya ajaibnya, ketika memperkenalkan diri ke Jemaat-jemaat lain – waktu itu masih ada program pertukaran KW ke kebaktian-kebaktian wanita se-Klasis – ibu-ibu itu memperkenalkan diri dengan nama kecilnya sendiri, bukan nama suami. "Saya Ibu Sri," atau "Saya Ibu Yulia dari GKI Perumnas-Tangerang."&lt;br /&gt;Sewaktu kami baru tiba di Jemaat Perumnas tahun 1997, istri saya diminta memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;“Silahkan Ibu Pendeta perkenalkan diri,” undang personalia Komisi Wanita waktu itu.&lt;br /&gt;Istri saya berdiri, maju. “Nama saya Melinda; saya bukan Ibu Pendeta.” kata istri saya mengawali perkenalannya di persekutuan wanita itu.&lt;br /&gt;Sejak itu semakin lazim ibu-ibu menyebut nama kecilnya. Namun ada juga pihak-pihak yang tetap tidak rela menerima itu, yakni beberapa suami. Kadang-kadang terdengar gumam mereka: “Istri saya &lt;em&gt;koq&lt;/em&gt; masih menggunakan nama kecilnya, padahal sudah kawin sama saya lho” atau “Istri Pendeta memelopori para ibu menggunakan kembali nama kecil,” dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung waktu itu, Presiden kita tidak disebut Ibu Taufik, melainkan Ibu Megawati.  ©&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-4622727453760469564?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/4622727453760469564/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=4622727453760469564&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/4622727453760469564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/4622727453760469564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/02/nama-suami-istri.html' title='NAMA SUAMI-ISTRI'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-2249908397681023177</id><published>2008-02-01T22:14:00.000+07:00</published><updated>2008-02-01T22:24:29.496+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musafir jemaat'/><title type='text'>JAM NGARET</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6M5nzW8OgI/AAAAAAAAAFA/QLGthdr_0IU/s1600-h/100_1008.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5162032953860831746" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6M5nzW8OgI/AAAAAAAAAFA/QLGthdr_0IU/s200/100_1008.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah karena namanya: GKI Karet, entah memang “dari sononya”, Jemaat ini memang Jemaat &lt;em&gt;ngaret&lt;/em&gt;. Hal ini telah terjadi sejak sebelum saya masuk pada tahun 1997. Sekali waktu saya pernah melayani persekutuan pemuda tahun 1996. Undangan untuk pukul 18.30, saya tiba pukul 18.00, mulai pukul 19.00 – itu pun setelah didesak dan diancam “saya pulang”. Pokoknya, jika dalam warta tertulis pukul 18.00, itu berarti acara dimulai pukul 18.30 atau bahkan pukul 19.00. Kebaktian remaja tertulis pukul 15.00, mulai pukul 15.30 setelah para remajanya dipanggil dan diingatkan.&lt;br /&gt;Pada awal saya masuk, dan ketika beberapa aktivis tahu bahwa saya adalah orang yang tepat waktu, mereka membuat akal-akalan baru. Waktu di warta dibuat berbeda dengan waktu di surat permintaan kepada saya. Misalnya, di warta tertulis pukul 09.00, surat konfirmasi kepada saya pukul 09.30. “Yang penting, bapak tidak menunggu,” kilah mereka. Namun saya tidak menerima taktik semacam itu, karena jangan-jangan jemaat tahunya sayalah yang terlambat tiba di gereja sehingga acara terlambat dimulai. “Saya mengikuti waktu yang tertulis di warta,” begitu saya bilang.&lt;br /&gt;Lambat laun keadaan ini berubah menjadi lebih baik. Acara dimulai sesuai dengan yang diwartakan dan tepat waktu. Hasilnya, beberapa orang yang dulunya agak segan mengikuti acara di gereja karena &lt;em&gt;ngaret&lt;/em&gt;, kemudian mulai datang kembali. Acara apa pun dimulai dengan seberapa pun orang yang telah hadir. “Setiap orang yang terlambat datang ke gereja, punya alasannya sendiri. Kita tidak perlu menunggu mereka. Tetapi kita harus lebih menghargai mereka yang datang sebelum waktunya,” begitu penjelasan saya.&lt;br /&gt;Disiplin pada waktu bukan hanya soal kerapihan organisasi dan kematangan spiritualitas, tetapi juga merupakan penghargaan terhadap manusia. ©&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-2249908397681023177?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/2249908397681023177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=2249908397681023177&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/2249908397681023177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/2249908397681023177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/02/jam-ngaret.html' title='JAM NGARET'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6M5nzW8OgI/AAAAAAAAAFA/QLGthdr_0IU/s72-c/100_1008.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-5843472506928609928</id><published>2008-02-01T21:56:00.000+07:00</published><updated>2008-02-01T22:10:31.421+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='musafir jemaat'/><title type='text'>GKI KARET?</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6M0-TW8OfI/AAAAAAAAAE4/vt5YcuB2dIs/s1600-h/IMG_0140.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5162027842849749490" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6M0-TW8OfI/AAAAAAAAAE4/vt5YcuB2dIs/s200/IMG_0140.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saya ketahui bahwa surat pelembagaan (dh pendewasaan) Jemaat ini adalah GKI Perumnas-Tangerang. Namun selama ini, sejak saya masuk tahun 1997 hingga kini, nama yang populer adalah GKI Karet. Dahulu, saya juga terbiasa menyebutnya GKI Karet. Namun nama itu selalu menimbulkan masalah. Banyak orang keliru bahwa saya adalah Pendeta GKI Karet Belakang (Sudirman) yang kebetulan usia pelembagaannya cuma berbeda seminggu dengan GKI Perumnas-Tangerang. Oleh karena itu, saya selalu menyebut Jemaat ini dengan GKI Perumnas-Tangerang.&lt;br /&gt;Soal nama GKI Karet itu, seseorang anggota jemaat menyadarkan saya. Ceritanya begini. Jemaat ini punya “tradisi” memperlambat hampir setiap waktu acara. Kalau tertulis di warta jemaat pukul 18.00, maka itu berarti acara dimulai pukul 18.30 atau bahkan 19.00. Suatu saat seorang anggota jemaat berkata: “Namanya &lt;em&gt;sih&lt;/em&gt; GKI karet, makanya &lt;em&gt;ngaret&lt;/em&gt; terus.” Sejak itu saya berusaha mengkonsistensikan waktu acara dengan pewartaan.&lt;br /&gt;Sekarang, baik anggota jemaat maupun klasis dan sinode tahunya Jemaat ini adalah GKI Karet. Karet adalah nama jalan untuk Jemaat ini. Orang-orang berpegang pada ketentuan Tata Gereja GKI bahwa nama Jemaat diambil sesuai dengan nama jalan, bukan wilayah. Kalau sebut GKI Perumnas-Tangerang, malah didengar asing karena tidak lazim. Selain itu, nama GKI Perumnas-Tangerang juga kurang resmi bagi GKI. Rasanya hanya saya yang bertahan menyebut GKI Perumnas-Tangarang, bukan GKI Karet. Alasan saya: ketimbang menjadi momok &lt;em&gt;jam ngaret&lt;/em&gt; terus alias &lt;em&gt;ga&lt;/em&gt; tepat waktu, lebih baik memperbaiki citra dengan mengubah nama. ©&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-5843472506928609928?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/5843472506928609928/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=5843472506928609928&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/5843472506928609928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/5843472506928609928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/02/gki-karet.html' title='GKI KARET?'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6M0-TW8OfI/AAAAAAAAAE4/vt5YcuB2dIs/s72-c/IMG_0140.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-7717108266385210983</id><published>2008-01-11T20:52:00.000+07:00</published><updated>2008-02-12T13:04:45.238+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='refleksi gerejawi'/><title type='text'>MISTIK DALAM KEKRISTENAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6KWTjW8OeI/AAAAAAAAAEw/eOggt_whBjs/s1600-h/100_3289.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161853385573153250" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6KWTjW8OeI/AAAAAAAAAEw/eOggt_whBjs/s200/100_3289.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;IMPLIKASINYA DI GKI&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I. Mistik dan “mistik”: terminologi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Terminologi antara mistik dan “mistik” seringkali dirancukan oleh awam dalam kehidupan bergereja. Beberapa kalangan Kristen seringkali memahami istilah “mistik” sebagai hal-hal gaib. Sementara, pada pihak lain, terminologi mistik telah ada sejak awal dalam sejarah gereja. Untuk uraian ini, “mistik” gaib tidak dibahas. Uraian ini akan memaparkan mistik (yang sejati) dalam sejarah gereja dan implikasinya di zaman sekarang. Setelah uraian mistik dalam sejarah gereja, akan kita lihat bersama seberapa dalam atau ceteknya unsur-unsur mistik berpengaruh dalam Gereja Kristen Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;II. Mistik dalam sejarah gereja&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Mistik berhubungan dengan upaya manusia menghayati tujuan hidup keagamaannya. Untuk mencapainya, seseorang menggunakan pelatihan atau askese. Oleh karena itu mistik hampir selalu dikaitkan dengan asketik personal atau pelatihan seseorang agar bersatu dengan Tuhan. Kebersatuan atau keintiman dengan Kristus menjadi tujuan mistik Kristen.&lt;br /&gt;Dalam pelatihan tersebut seorang asket berhubungan, berjumpa, dan mengalami kesatuan dengan Kristus. Pengalaman berjumpa Kristus itu dilatih melalui doa, bermazmur, bermeditasi (merenungkan kata-kata Kitab Suci), berkontemplasi, berpuasa, dan bekerja untuk nafkahnya. Pelatihan atau askese ini telah dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam Alkitab dan awal sejarah gereja hingga kini.&lt;br /&gt;Yohanes Pembaptis adalah salah seorang contoh mistikus dalam Alkitab. Namun secara spesifik bapa monastik yang dikenal dalam sejarah adalah Antonius dari Pispir-Mesir (251-356). Baginya, doa tak henti, bermazmur, dan kebaikan adalah kekuatannya untuk melawan setan dan kuasa kejahatan. Beberapa mistikus Kristen yang lain, antara lain: Benediktus Nursia, Bernard Clairvaux, Teresa Avila, Fransiskus Asisi, Thomas Aquinas, Thomas à Kempis, Martin Luther, Thomas Merton, Bunda Teresa dari Kolkata, Bruder Roger dari Taizé, adalah sebagian kecil mistikus yang memberikan inspirasi bagi dunia.&lt;br /&gt;Bentuk askese kaum mistikus tidak statis. Ia selalu berubah sepanjang sejarah. Saat kini, masih ada bentuk-bentuk askese yang tetap bertahan, sekalipun dalam kemasan yang baru. Namun ada banyak juga bentuk-bentuk askese yang hilang di dalam sejarah.&lt;br /&gt;Yang memiliki pengaruh khusus bagi Protestanisme adalah mistik Kristen pada abad ke-17 yang mengalami pergeseran pemaknaan. Pergeseran tersebut adalah memisahkan antara gerakan teologi moral dan teologi secara akademis. Teologi akademis dilakukan di seminari oleh para teolog, sementara teologi moral diterapkan di gereja. Teologi moral menekankan kesempurnaan kristiani dengan mengacu dari beberapa ayat saleh (Mat 5:20 “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi ...”; Mat 5:48 “Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga ...”).&lt;br /&gt;Menjadi Kristen sempurna tidak melulu dilihat menjadi pribadi yang sempurna luar-dalam. Kesempurnaan luar-dalam ini disadari sebagai sesuatu yang berlebihan dan tidak normal. Kesempurnaan kristiani lebih dilihat secara interior, yakni jiwa yang bersih. Diyakini bahwa dari jiwa yang bersih (sempurna seperti Bapa si sorga) akan terpancar sikap dan tingkah yang baik – bukan sebaliknya.&lt;br /&gt;Kaum mistik lebih dahulu menekankan kebersihan jiwa. Kebersihan jiwa diperoleh melalui disiplin atau beraskese. Disiplin atau pelatihan (askesis =latihan) tersebut dihayati sebagai ziarah iman. Artinya, semangat mistik adalah semangat dalam proses, bukan hasil. Sehingga kaum mistik tidak “kejar target” yang berorientasi pada hasil semata.&lt;br /&gt;Secara praktis, kaum mistik senantiasa berlatih dalam bersikap terhadap tubuh, makanan, pakaian, alam, makhluk dan manusia sekitar. Kaum mistik mengatur dan menyadari kegunaan dan penggunaan setiap bagian di dalam dan di luar dirinya.&lt;br /&gt;Pada pihak lain, banyak orang Kristen zaman kini mendahulukan sikap dan tingkah daripada kesempurnaan jiwa. Kata lain, hasil adalah terutama. Misalnya, orang Kristen tidak boleh merokok atau berambut gondrong, orang Kristen harus berkata-kata manis dan lemah lembut. Sementara kesempurnaan atau kebersihan jiwanya terabaikan. Dalam Protestanisme, pelatihan atau askese seringkali diabaikan. Bahkan doa pagi, kebaktian hari Minggu, persekutuan, rapat, gerakan sosial seringkali hanya dipandang sebagai program Gereja dan kewajiban orang Kristen – bukan proses pelatihan dan penyempurnaan menyerupai Kristus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;III. Mistisisme di GKI, bagaimana implikasinya?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sebagai salah satu Gereja yang berada dalam tradisi Protestan, GKI – sebagaimana Gereja-gereja Protestan alami – berada antara menolak (secara sadar) dan terpengaruh (secara tak sadar) gerakan mistik. Secara jelas, ada dua sumber acuan GKI yang menggambarkan kontradiksi keberadaan GKI. Yaitu: Peraturan Khusus GKI untuk Lingkup Sinode Wilayah (PK) dan buku nyanyian Nyanyikanlah Kidung Baru.&lt;br /&gt;Dalam PK Talak Pemilihan Penatua (hlm 22), GKI SW Jabar menetapkan seorang calon bersikap atau berkelakuan menghayati iman, memahami arti pelayanan, menyadari panggilannya, dan memiliki ciri-ciri kepemimpinan. Selain itu ada pula “hasil” dari sifat atau keadaan yang (hampir) tidak dapat berubah, yaitu:, berpola pikir gerejawi, dikenal jemaat. Hampir semuanya berorientasi pada hasil, bukan proses atau pelatihan. Tidak disyaratkan di PK bahwa calon penatua adalah orang yang gemar beribadah juga, gemar melayani, tidak boros, cinta damai (alih-alih bukan pemecah belah), atau gemar melakukan karya-karya sosial.&lt;br /&gt;Pengaruh gerakan mistik abad ke-17 terdapat dalam syair NKB 138 “Makin serupa Yesus Tuhanku, inilah kerinduanku, doaku, dan cita-citaku”; NKB 122 “‘Ku ingin berperangai laksana Tuhanku”. Tanpa melihat dengan teliti dan lebih jujur bagaimana perangai Yesus menurut para penulis Injil, penulis syair tersebut menekankan sisi lain dari Yesus yang menurutnya lebih Kristen.&lt;br /&gt;Berdasarkan kedua contoh tersebut, masih jauh untuk mengindikasikan bahwa kita berada di jalan setapak antara menerima atau menolak mistisisme. Secara resmi, mistisisme belum masuk “agenda” percakapan gerejawi, secara kasat mata ia ada di tengah GKI. Akibatnya, kita seringkali gamang dengan istilah mistik dan askese.&lt;br /&gt;Contoh-contohnya: ke tanah suci Israel, tetapi tidak melakukan ziarah; bekerja keras, sekaligus boros juga; mau unik dan spesifik, tetapi enggan jalan sendiri; rapi, tetapi tidak bersih.&lt;br /&gt;Belajar dari kaum mistik dan bentuk-bentuk askesenya akan banyak membantu kita menggali dan memperoleh khazanah spiritualitas Kristen untuk masa kini. °&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-7717108266385210983?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/7717108266385210983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=7717108266385210983&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/7717108266385210983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/7717108266385210983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/01/mistik-dalam-kekristenan.html' title='MISTIK DALAM KEKRISTENAN'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6KWTjW8OeI/AAAAAAAAAEw/eOggt_whBjs/s72-c/100_3289.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-5385524114550451030</id><published>2008-01-11T20:26:00.001+07:00</published><updated>2008-02-16T20:10:12.587+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='refleksi gerejawi'/><title type='text'>JAJAN ROHANI DAN ARTI BERGEREJA</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Mengapa Orang Gereja Kristen Indonesia Suka “Jajan”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Ada minimal tiga tugas dan hakikat gereja, yaitu: bersekutu (koinonia), bersaksi (marturia), dan melayani (diakonia). Ketiga tugas tersebut tidak dijalani satu persatu, melainkan secara serempak. Alasannya, hal yang satu tidak terlepas dari hal yang lain, dengan demikian ia disebut gereja. Oleh karena itu, mau tak mau makna bergereja dilihat sebagai adanya persekutuan (koinonia). Sekalipun diakonia atau marturia berjalan dengan baik, tanpa koinonia ia tidak menjadi gereja. Bahkan tanpa persekutuan, diakonia yang dijalankan hanya menjadi aksi sosial dan marturia hanya menjadi demonstrasi.&lt;br /&gt;Saat ini, persekutuan kita katanya terancam. Keterancamannya disebabkan oleh karena sifat suka “jajan”; suka “mencicipi” gaya kerohanian ala gereja atau ala persekutuan lain. Mengapa demikian?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R7bgfrQOp9I/AAAAAAAAAHY/-30UC5v5ICc/s1600-h/04+jajan+rohani+12+Jun+06+Cirebon+(02).JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5167564457245583314" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R7bgfrQOp9I/AAAAAAAAAHY/-30UC5v5ICc/s200/04+jajan+rohani+12+Jun+06+Cirebon+(02).JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;I. Sifat suka “jajan”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kesukaan jajan rohani di kalangan umat bukan hanya baru terjadi sekarang-sekarang ini. Sejak dekade 1980-an (atau bahkan akhir tahun 1970an), umat Kristen anggota gereja arus utama sudah mulai coba mencicipi “makanan rohani” ala gereja atau persekutuan lain. Memang, waktu itu orang masih malu-malu dan takut.&lt;br /&gt;Menurut hemat saya, fenomena “suka jajan” terjadi, pertama adalah karena munculnya kebangunan Gereja-gereja Pantekosta. Di dunia internasional dan terutama Amerika, gerakan pantekostal yang lahir pada akhir abad ke-19, mengalami kemunduran besar setelah PD 2. Kemunduran tersebut menyebabkan Gereja Pantekosta para dekade 1960-an, belajar cara beribadah dari Gereja arus utama. Tahun 1970-an, hasil pembelajaran itu diperoleh, antara lain: mengadakan persiapan ibadah, menyusun nyanyian jemaat, memperbaiki sistematika berkhotbah, dsb. Pokoknya dalam menyelenggarakan ibadahnya, gereja Pantekosta tidak lagi melulu "mengandalkan" dorongan Roh Kudus secara membabi buta.&lt;br /&gt;Di Indonesia, kemajuan Gereja-gereja Pantekosta agak terlambat. Selama dekade 1970-an, Gereja-gereja Pantekosta masih “bergaya lama”; ibadah dijalankan dengan “bimbingan Roh Kudus” secara membabi buta. Dalam situasi demikian, hingga akhir dekade 1970an, umat dari Gereja-gereja Protestan di Indonesia tidak begitu tertarik dengan ibadah Gereja-gereja Pantekosta, demikian sebaliknya. Umat Gereja-gereja Protestan di Indonesia bergeming dengan nyanyian dari buku Mazmur dan Nyanyian Rohani.&lt;br /&gt;Baru pada awal dekade 1980-an, di Indonesia ada kebangkitan gerakan pantekosta baru atau karismatik. Beberapa umat dari Gereja-gereja Protestan di Indonesia mulai tertarik dengan persekutuan-persekutuan karismatik tersebut. Sebagai fenonema baru, ibadah karismatik – baik melalui nyanyian dan khotbah, dan terutama mujizat kesembuhan – menjadi daya tarik tersendiri. Tak dipungkiri, beberapa orang GKI kemudian pindah “resmi” ke Gereja Karismatik; bukan ke Gereja-gereja Pantekosta. Mereka yang “resmi” pindah, tidak termasuk kategori “jajan” tersebut.&lt;br /&gt;Pada dekade itu, umat dari Gereja-gereja arus utama – yang sebelumnya tidak memiliki alternatif selera beribadah kecuali ala Gereja-gereja Protestan di Indonesia – kini memiliki alternatif menyalurkan selera beribadah ala karismatik. Bertepatan, dengan rapinya sistem administrasi Gereja-gereja Protestan di Indonesia, kepindahan mereka menjadi lancar.&lt;br /&gt;Walaupun kini karismatik mulai surut, gerakan karismatik tahun 1980-an tersebut adalah “pintu” bagi terbukanya gelombang cara beribadah pantekostal yang masuk ke Gereja-gereja Protestan di Indonesia. Gereja dan gerakan pantekostal baru telah berwujud lain dengan awal munculnya gerakan pantekosta akhir abad ke-19. Kini ada Gereja Tiberias, Gereja Betani, Gereja Abba Love, Gereja Basilea, Gereja "dll". Oleh seorang peneliti liturgi di Amerika (Andy Langford: &lt;em&gt;Transitions in Worship: Moving from Traditional to Cantemporary&lt;/em&gt;), Gereja-gereja “dll” tersebut digolongkan sebagai Gereja &lt;em&gt;Seeker&lt;/em&gt;. Istilah seeker tersebut menandakan bahwa Gereja atau persekutuan tersebut “(seperti) terus menerus mencari bentuk” dan mencari jiwa.&lt;br /&gt;Selain Pantekosta dan Karismatik – sebenarnya mereka tidak betul-betul menyerang GKI; hanya menawarkan secara umum – GKI (dan beberapa Gereja-gereja Protestan di Indonesia lain) mengalami serangan berat dari gerakan fundamentalisme (dengan nama: Gerakan Reformed Injili) pada akhir dekade 1980-an. Beberapa (mantan) orang GKI bukan tertarik dengan gerakan baru ini, tetapi juga secara militan mengobok-obok kehidupan GKI.&lt;br /&gt;Menanggapi gerakan karismatik dan fundamentalis tersebut, GKI SW Jabar (dh GKI Jabar)menyusun strategi. Ada Pegangan Ajaran terhadap Karismatik sejak tahun 1980-an. Ada pula Pegangan Ajaran terhadap Pengkhotbah Non-GKI. Persidangan Majelis Klasis Jakarta Timur tahun 1986 (?) pernah mengangkat masalah “jajan” tersebut. Persidangan Majelis Sinode GKI Jabar tahun 1989 pernah mengangkat masalah fundamentalisme yang waktu itu “menyerang” GKI. Tujuan strategi tersebut bukan menyerang balik, melainkan “menjaga pintu” dan “menutup pintu” bagi masuknya gerakan-gerakan tersebut ke dalam GKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;II. Kondisi peribadahan Gereja-gereja arus utama&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kondisi peribadahan baik di Gereja-gereja Protestan di Indonesia secara umum dan Gereja Kristen Indonesia secara khusus seringkali dijadikan “kambing hitam” atas pindah atau jajannya umat kita ke persekutuan pantekostal. Penyalahan bahwa cara beribadah kita lesu, nyanyian kita loyo, baptisan kita cuma percik, doa-doa dan khotbah kita kurang Roh Kudus, dan pemuda kita suka ibadah model demikian, adalah gejala umum; sifatnya lebih pada tuduhan ketimbang akal sehat dan fakta objektif. Gejala ini kemudian berkembang ke hal-hal yang tidak ada hubungannya, semisal: Pendeta tidak pernah melawat, Penatua kurang ramah kepada jemaat, Majelis cuma pandai rapat, dsb.&lt;br /&gt;Klaim-klaim tersebut pernah membuat GKI salah tingkah. Awal tahun 1980-an, Tata Laksana GKI Jabar memasukkan Kebaktian Penyegaran Iman (KPI) alih-alih Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR). Dalam prakteknya, KPI memang KKR; bedanya KPI dilakukan di dalam GKI. Artinya, tanpa sadar GKI telah “memasukkan resmi” kebaktian pantekostal. Beberapa Jemaat melaksanakan KPI (bisa juga dengan nama lain: Malam Puji dan Doa [MPD] atau Malam Puji, Doa, dan Kesaksian [MPDK]) setahun sekali, setahun dua kali, atau bahkan setiap bulan. Hingga pernah ada beberapa Jemaat “mengubah” kebaktian hari Minggu (biasanya sore) dengan kebaktian ala pantekostal. Ada juga Jemaat yang “terpaksa” membeli alat musik band supaya pemudanya tetap di GKI. Satu dekade yang lalu, para Pendeta GKI pernah dianjurkan dan dilatih untuk berkhotbah gaya karismatik. Namun semua hal tersebut, baik klaimnya maupun upaya membenarkan klaim tersebut, tidak mampu mengubah (baca: membangun dan mengembangkan) GKI. Setelah lebih daripada 30 tahun KPI dan semua perangkat ibadahnya masuk di GKI, umat GKI tidak menjadi semakin pantekostal dan tidak semakin cerdas beribadah. Terbukti, KPI, MPD, atau MPDK, tidak berkembang di GKI (dan Gereja-gereja arus utama di Indonesia) dari dulu sampai sekarang.&lt;br /&gt;Sebaliknya, pertambahan jumlah Jemaat dan anggota jemaat GKI tetap pesat. Tidak sedikit Jemaat GKI yang kewalahan mencari lahan parkir, kewalahan menambah jumlah ibadah hari Minggu, kekurangan ruang-ruang kegiatan, dan kekurangan bangku ibadah. Selain itu, GKI tidak pernah kekurangan orang yang loyal terhadap GKI. Ibadah-ibadah GKI dan Gereja-gereja Protestan di Indonesia tetap dihadiri oleh berbagai kalangan, termasuk orang-orang muda.&lt;br /&gt;Walaupun jelas tidak benar klaim yang dilontarkan oleh anggota jemaat kita yang suka “jajan”, mengadakan introspeksi diri adalah tidak ada salahnya, supaya tidak cepat puas diri atau tidak waspada. Namun dalam introspeksi itu kita harus tetap memilah secara jernih antara persoalan sejati dan “dibuat-buat menjadi persoalan”.&lt;br /&gt;Klaim-klaim tersebut di atas, menurut hemat saya, cuma hal yang “dibuat-buat menjadi persoalan”, padahal sesungguhnya bukan persoalan. Hal tersebut terbukti dengan paparan di atas juga bahwa jemaat GKI tidak berkurang, malahan bertambah.&lt;br /&gt;Apakah persoalan kita? Saya akan menyoroti soal ibadah.&lt;br /&gt;Pertama, gaya ibadah GKI sudah benar, walaupun belum sempurna. Bahkan dasar teologi ibadah GKI – termasuk pernak-perniknya – jauh lebih kaya daripada dasar teologi ibadah pantekostal.&lt;br /&gt;Kedua, gaya ibadah GKI bukan barang lama atau masa lalu, demikian pula sebaliknya: gaya ibadah “yang lain” itu juga bukan barang modern. Gaya ibadah GKI sama modernnya dengan gaya ibadah “yang lain” itu, walaupun bentuknya memang berbeda. Buktinya, gaya ibadah GKI masih berkembang pesat hingga saat ini, sekalipun seringkali kita sangat terlambat mengetahuinya.&lt;br /&gt;Ketiga, cara melaksanakan ibadah GKI memang harus diperbaiki. Cara itu tidak perlu mengganti gaya beribadah GKI. Mengganti gaya ibadah, misalnya: meniru gaya pantekostal atau Katolik, tidak menyelesaikan masalah, tetapi justru menambah masalah. Orang GKI memang “dari sononya” bergaya ibadah ala GKI. Lagipula tidak ada yang salah dari dasar ibadah GKI, sehingga tidak perlu diganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sebagai penutup, saya usul beberapa hal untuk perbaikan cara kita beribadah, antara lain:&lt;br /&gt;1. Kurangi instruksi verbal: “Silahkan duduk,” “Marilah kita memulai ibadah dengan berdiri,” “dengan tetap berdiri,” “Marilah kita menyanyi dari nomor ….”&lt;br /&gt;2. Nyanyian jemaat dinyanyikan utuh, semua bait. Cara alternatim (bergilir ganti: perempuan, laki-laki, semua) dapat digunakan sebagai cara mengatasi nyanyian berbait banyak.&lt;br /&gt;3. Perbaiki cara menyampaikan simbol-simbol liturgis: tata tutur, tata gerak, dsb.&lt;br /&gt;4. Jangan ikut-ikutan dan mengganti cara beribadah, melainkan memperbaiki cara beribadah kita sendiri. Tradisi ibadah GKI sudah jauh lebih kaya daripada tradisi ibadah pantekostal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah waktunya kita memotivasi diri dan anggota jemaat untuk semakin cerdas beribadah.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-5385524114550451030?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/5385524114550451030/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=5385524114550451030&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/5385524114550451030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/5385524114550451030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/01/jajan-rohani-dan-arti-bergereja_11.html' title='JAJAN ROHANI DAN ARTI BERGEREJA'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R7bgfrQOp9I/AAAAAAAAAHY/-30UC5v5ICc/s72-c/04+jajan+rohani+12+Jun+06+Cirebon+(02).JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-2347613347143345077</id><published>2008-01-11T20:02:00.001+07:00</published><updated>2008-02-29T11:15:50.910+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='refleksi ekologi (environment)'/><title type='text'>STOP MEMBUAT SAMPAH!</title><content type='html'>Oleh: Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi beberapa masyarakat modern, sampah tetap menjadi momok. Hal ini dialami oleh masyarakat yang tinggal di negara yang belum dapat memanfaatkan sampah menjadi energi atau potensi besar bagi negara. Namun bagi masyarakat yang tinggal di negara yang telah dapat mengolah sampah, momok nenek moyang akan bencana sampah telah lama ditinggalkan. Sampah justru menjadi berkah tersendiri.&lt;br /&gt;Sayangnya, kita tinggal di jenis negara pertama. Beberapa kali dalam waktu yang tidak berselang lama kita mengalami momok sampah tersebut. Masalah-masalah sampah yang terjadi di Surabaya, Jakarta, dan Bandung masih lekat dalam ingatan kita. Padahal beberapa pengamat mengatakan bahwa hal tersebut tidak seharusnya terjadi di negara besar seperti Indonesia ini. Artinya, timbulnya masalah tersebut bukan keteledoran atau human error, melainkan kekeliruan pola pikir, gaya hidup, dan metode kerja masyarakat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat sampah&lt;br /&gt;Sangat berbeda dengan segala makhluk lain, manusia adalah makhluk pembuat sampah. Manusia membuat sampah melalui alat dan perlengkapan makanan yang dikonsumsi, pakaian yang digunakannya, tempat tinggal, alat produksi, dsb. Untuk bepergian, manusia membuat sampah bahan buangan kendaraan bermotor. Pokoknya, sangat sulit membuktikan bahwa manusia bukan makhluk pembuat sampah.&lt;br /&gt;Sifat rakus, mau enak, dan tak terpuaskan menyebabkan manusia menjadi pembuat sampah dalam hidupnya. Banyak perusahaan dan perkantoran modern yang dengan mudah membuang kertas hanya untuk mengirim memo sesehari kepada karyawan, menggandakan berlembar-lembar kertas hanya untuk membuat koreksi notulen, dan menggunakan amplop baru untuk mengirim kwitansi ke rekannya di ruang sebelah. Restoran dan super market terlalu banyak menggunakan bahan plastik tanpa membiasakan konsumen membawa sendiri kantong plastik bekasnya. Bahkan ke pasar tradisional, sudah kurang lazim orang membawa keranjang belanjaannya sendiri. Sepuluh tahun lalu orang masih terbiasa menjinjing belanjaannya ke pasar tradisional.&lt;br /&gt;Apakah urgensinya membahas sampah rumah tangga dan sesehari? Tampaknya hal-hal tersebut tidak besar; kenapa harus dipermasalahkan? Notulen rapat 4 lembar hanya digandakan 4 kali, baru 16 lembar. Pulang berbelanja, seseorang hanya membawa 4 kantong plastik baru; tidak banyak. Namun coba saja menghitung dengan seksama jumlah itu berdasarkan jumlah perusahaan dan pengunjung pasar. Kalau 10 ribu perusahaan dan perkantoran di Jakarta menggandakan notulen rapatnya, maka 160 ribu lembar atau kira-kira 400 rim kertas terpakai. Kalau 3 juta orang di Jakarta yang berpendudukan sekitar 10 juta ini berbelanja dalam sehari, maka 12 juta kantong plastik terpakai. Itu baru koreksi notulen dan kantong belanjaan, belum makanan dari restoran, akta-akta, katabelece, amplop, dll. Dalam sehari, akan kita dapatkan jumlah yang sangat fantantis.&lt;br /&gt;Pembuatan sampah oleh manusia belum lagi termasuk sampah-sampah dari perangkat tekhnologi zaman ini. Barang-barang elektronik, baik yang bersifat hiburan maupun pembantu kebutuhan rumah tangga, akan menjadi sampah dalam 5-10 tahun. Dampak dari menurunnya barang-barang mewah atau tertier menjadi kebutuhan sekunder di zaman ini adalah terciptanya sampah-sampah baru bagi dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya&lt;br /&gt;Untuk jangka panjang, membuat sampah berakibat jauh lebih besar ketimbang membuang sampah. Potensi bumi diambil untuk membuat suatu barang kebutuhan manusia. Setelah digunakan, barang itu dibuang ke tempat sampah. Sampah itu, jika tidak dapat diolah, menjadi beban baru bagi bumi. Jadi, sudah berapa potensi bumi yang dikuras untuk kebutuhan manusia, dan baru berapa potensi sampah yang diproduksi untuk hidup manusia?&lt;br /&gt;Pada gilirannya, manusia sendiri yang mendapatkan akibat dari membuat sampah tersebut. Banjir, bau busuk, dan rusaknya pemandangan alam menjadi salah satu bukti akibat sampah. Munculnya bibit-bibit penyakit baru di dunia juga perlu diperhitungkan. Belum lagi lahan besar yang harus disediakan untuk “menyimpan” sampah produk manusia. Juga harus dimasukkan dalam kalkulasi dana membersihkan dan membasmi akibat-akibat sampah tersebut. Kerugian yang ditanggung – termasuk dana untuk pengobatan dan perawatan pasien sakit karena sampah – cukup besar. Roda perekonomian negara bisa-bisa cuma untuk memelihara “kelangsungan sampah” dan akibatnya tanpa timbal balik pemasukan.&lt;br /&gt;Padahal naluri manusia untuk mengolah sampah sangat kecil dibandingkan makhluk-makhluk lain di planet ini. Di alam semula jadi, tidak ada makanan yang menyisakan sampah. Pada hewan tidak ada sifat rakus, sehingga hewan tidak membuat sampah. Singa dan dubuk (hyena) dapat makan satu kerbau bersama-sama; sisa kerbau dimakan oleh burung pemakan bangkai dan ulat. Sementara tidak sedikit manusia yang tidak mau secukupnya; kalau bisa makan dan menimbun sebanyak-banyaknya, mengapa menyisakannya. Oleh karenanya perlu kesadaran dari manusia untuk mengurangi kebiasaan membuat sampah.&lt;br /&gt;Mungkin hewan adalah makhluk pembuang sampah sembarangan, tetapi hewan tidak membuat sampah. Kulit atau kotoran yang dibuangnya merupakan hukum alam sebagai pupuk untuk menyuburkan tanah dan penyebaran biji tanaman buah-buahan. Sementara manusia, karena budayanya, belum tentu pembuang sampah sembarangan, namun jelas ia adalah pembuat sampah. Apalagi manusia yang tidak berbudaya: pembuang dan pembuat sampah sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuang dan mengolah sampah&lt;br /&gt;Selain mendaur ulang sampah, sikap yang sangat perlu diterapkan adalah mengurangi kebiasaan atau mengatur naluri membuat sampat. Pendaur ulang, jasa pemulung dan tukang loak, tidak banyak membantu mengurangi timbunan sampah. Selain karena tingginya harga yang digunakan, juga akan pola pikir masyarakat yang masih jauh untuk menjaga kondisi sampah agar tetap “baik”. Yang dimaksud, misalnya memilah sampah basah dari sampah kering, tidak membakar sampah, tidak membakar ban bekas hanya untuk unjuk rasa, dsb. Sampah yang dapat didaur ulang masih sangat sedikit dibanding sampah yang menjadi rusak sama sekali. Oleh karena itu, mengurangi kebiasaan membuat sampah adalah hal terpenting dan mendesak dewasa ini.&lt;br /&gt;Mengurangi kebiasaan membuat sampah melibatkan beberapa pihak, antara lain: pemerintah, masyarakat industri, dan masyarakat pemakai. Ini bukan hanya tugas satu pihak, melainkan semua pihak, sebab sampah merupakan kelangsungan hidup manusia.&lt;br /&gt;Pemerintah, selain sebagai pemberi teladan, juga harus terus menerus mengampanyekan STOP MEMBUAT SAMPAH. Melalui Undang-undang Anti Sampah, pemerintah dapat mendukung usaha swasta yang memproduksi barang-barang elektronik daur ulang. Masyarakat yang pandai memanfaatkan sampah dengan membuat kompos, menciptakan barang berpotensi, dan barang produksi, harus sangat dihargai; kalau perlu berikan bintang dan piala semacam kalpataru. Masyarakat kreatif yang memanfaatkan sampah – dari TV bekas menjadi TV rekondisi, misalnya – jangan cuma dituding ilegal, tetapi sebaliknya, mereka harus dilindungi dari para pesaingnya. Setelah publikasi menarik di harian-harian tentang sekelompok masyarakat pengendara sepeda pergi ke kantor, sepantasnyalah pemerintah lebih mendukungnya dengan menyediakan jalan khusus sepeda di kota-kota besar. Becak seharusnya diizinkan untuk daerah perumahan karena sampah yang dibuatnya jauh lebih kecil ketimbang kendaraan bermotor. Tanpa peran pemerintah sebagai motivator dan pelindung kampanye STOP MEMBUAT SAMPAH, kelangsungan hidup manusia tidak akan terjamin dalam dua dekade mendatang.&lt;br /&gt;Masyakat industri yang seringkali dituding sebagai pembuat sampah dan pencipta polusi terbesar harus disertai dengan sikap tegas, baik dalam hal mengolah bakal sampah maupun terhadap aparat yang bermain-main dengan Undang-undang Lingkungan Hidup. Perusahaan dan industri harus membuat anggaran daur ulang dan sedapat mungkin mengurangi membuat sampah industri termasuk pemakaian listrik dan bahan bakar. Terhadap tangan-tangan jahil yang terbiasa meminta sebagian anggaran, laporkan saja kepada yang berwajib. Lebih baik gunakan angaran tersebut untuk mengolah sampah dan membina kerja sama dengan industri rumahan atau kecil dalam memanfaatkan bakal sampah.&lt;br /&gt;Selain orang kebanyakan atau rakyat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan Lembaga Agama juga termasuk masyarakat pemakai barang konsumsi dan penghasil sampah. Pada mereka, atau pada kita, harus ada tanggung jawab terhadap tak terkendalinya terciptanya sampah. Ketimbang sensor paha dan dada, lebih baik kampanye stop menjadi pembuat sampah. Film atau iklan yang aktornya merokok sudah dilarang, kini film dan iklan yang aktornya dalam aksinya “rajin” membuat dan membuang sampah sembarangan juga sudah harus dilarang. Kita masih menunggu perang dan unjuk rasa para LSM yang tidak cuma pandai membakar ban, foto, dan bendera.&lt;br /&gt;Lembaga Agama juga harus mewartakan hal-hal horinsontal ini. Agama jangan cuma perduli pada akhlak dan prilaku seksual, tetapi mengabaikan akhlak seenaknya pembuat sampah. Surat-menyurat, publikasi, notulensi, lembar pendidikan umat, dsb. – pokoknya masih dalam taraf sebelum final – dapat menggunakan kertas bekas. Ingat, kertas berasal dari pohon, bukan dari sorga. Pasti, ada ayat-ayat Kitab Suci dari tiap agama yang mendukung kampanye lingkungan hidup, tinggal bagaimana para agamawan menafsirkannya.&lt;br /&gt;Masyarakat rumahan juga layak ikut menjaga barang: kertas, plastik, karet, dan bahan bakar. Selain listrik dan gas atau minyak serta sisa makanan yang – bagi orang-orang tertentu terbiasa melakukannya - membiasakan diri menggunakan satu kertas untuk berbagai keperluan sebelum menjadi sampah sejati adalah pembiasaan yang perlu diterapkan dalam rumah tangga. Tampaknya sepele, namun ada sekitar 4 juta rumah tangga di Jakarta saja. Pemborosan 100 watt listrik saja berarti pemborosan 400 juta watt hanya untuk listrik – betapa besar! Harus ada kampanye “Hemat Membeli, Hemat Membuat Sampah”. Pemborosan itu dimulai dari hal-hal yang terlihat kecil, semisal sampah dari rumah-rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas bersama&lt;br /&gt;Pada kita semua terletak tanggung jawab majunya negara yang telah memproklamasikan kemerdekaannya hampir 63 tahun lalu. Usia proklamasi Republik Indonesia ini kira-kira tidak jauh berbeda dengan Filipina, Taiwan, Singapura, India, bahkan Jepang sendiri. Masyarakat di negara-negara itu sudah sadar akan perlunya mengendalikan diri untuk membuat sampah. Masakan kita belum dapat mengurus sampah sendiri, padahal kita memiliki banyak ahli di bidang lingkungan hidup.&lt;br /&gt;Memang tidak mungkin menghentikan sama sekali membuat sampah. Bukankah kita setuju bahwa manusia adalah makhluk pembuat sampah. Namun kesadaran untuk mengurangi membuat sampah adalah perlu. Dengan mengurangi naluri dan kebiasaan membuat sampah, kita turut menjaga kelangsungan planet bumi melalui hidup sejahtera tanpa banjir, bau busuk, dan bibit penyakit baru. Di samping itu, dampak buruk ekonomis karena sampah dapat ditekan dan dialihkan menjadi berkat karena menjaga lingkungan. °&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-2347613347143345077?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/2347613347143345077/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=2347613347143345077&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/2347613347143345077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/2347613347143345077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/01/jajan-rohani-dan-arti-bergereja.html' title='STOP MEMBUAT SAMPAH!'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-3559164194159007904</id><published>2008-01-10T18:14:00.000+07:00</published><updated>2008-02-12T13:05:31.641+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='refleksi gerejawi'/><title type='text'>“KORIDOR” DALAM PRAKTEK</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6KTfTW8OcI/AAAAAAAAAEk/nwvgaYabbyo/s1600-h/100_3313.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161850288901732802" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6KTfTW8OcI/AAAAAAAAAEk/nwvgaYabbyo/s200/100_3313.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;UPAYA GEREJA MENETAPKAN DAN MENERAPKAN AJARANNYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koridor dapat dijumpai dalam setiap hotel atau apartemen. Di koridor, mau tidak mau orang berjalan menurut alurnya. Namun alur koridor bukan titian yang hanya sebatas dan setebal garis. Dalam koridor, orang masih dapat berjalan kelak-kelok dan menyimpang ke kiri atau ke kanan, tetapi arah dan jalur berjalan tetap mengikuti alur korikor. Orang bebas berjalan di sisi kiri atau sisi kanan, cepat atau lambat, atau bahkan berhenti. Pokoknya, selama tidak mengganggu orang lain, orang berjalan di koridor boleh berlaku bebas asal tidak liar atau berjalan keluar korikor. Dengan demikian, berjalan di dalam koridor adalah berjalan di dalam kebebasan sebatas alur koridor.&lt;br /&gt;Dalam menerapkan ajarannya, pimpinan dan para pendeta gereja seringkali mengucapkan: “Asal masih di dalam koridor,” dalam menjawab pertanyaan: “Apakah boleh bertepuk tangan dalam di kebaktian di gereja kita, padahal di gereja sana boleh”; “Apakah boleh mengundang pengkhotbah yang berbeda denominasi di kebaktian Remaja”; “Apakah boleh menggunakan nyanyian jemaat di luar buku-buku nyanyian dan kitab liturgi yang lain”; “Kenapa gereja A melarang baptis selam, sedangkan gereja B justru mendorong orang untuk baptis selam”; dsb. Menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, biasanya pimpinan atau pendeta gereja tidak berkata: “Boleh,” atau “Tidak boleh.” Jawaban yang umum adalah “Asal masih dalam koridor ajaran gereja kita.” Artinya: diperbolehkan, yang penting tidak keluar koridor.&lt;br /&gt;Bagi sementara orang, jawaban semacam itu dianggap jawaban plin-plan, tidak tegas, dan tidak punya sikap. Sebenarnya, menurut hemat saya, jawaban semacam itu menunjukkan pola pikir koridor. Ada kebebasan, tetapi jangan kebablasan.&lt;br /&gt;Apakah perbedaan antara koridor dan titian dalam praktek ajaran GKI? Ambil contoh di atas. Jawaban berdasarkan titian: “Tidak boleh tepuk tangan, tidak boleh ada Pendeta non-GKI, tidak boleh menggunakan nyanyian non-KJ dan non-NKB, tidak boleh baptis selam.” Jawaban-jawaban tersebut tegas, namun menunjukkan pola pikir berjalan di atas titian: tidak boleh menyimpang satu milimeter pun; kalau tidak mau terjerembab. Jawaban tersebut sebetulnya setali tiga uang dengan: “Bernyanyi harus bertepuk tangan, harus Pendeta gereja lain, harus tidak menggunakan buku nyanyian dan tidak menggunakan kitab liturgi kita, atau harus baptis lagi di gereja ini kalau pernah baptis selam sebelumnya.” Baik jawaban “Tidak boleh” maupun “Harus” terlihat menyelesaikan persoalan dengan cepat, tidak dibutuhkan lagi dialog, dan harga mati.&lt;br /&gt;Dalam pola pikir koridor, dialog tetap dibutuhkan. Dengan dialog, artinya sebuah gereja bersikap terbuka dan masih menerima praktek agak berbeda yang kurang lazim.&lt;br /&gt;Lantas, bagaimanakah ajaran yang keluar koridor ajaran gereja? Berdasarkan contoh-contoh pertanyaan di atas, ajaran yang keluar koridor adalah: “Boleh menyanyikan qasidahan dalam ibadah, sembarang orang boleh pimpin ibadah remaja, boleh menggunakan Puji Syukur atau Nafiri Iman sebagai ganti buku nyanyian atau kitab liturgi yang ditetapkan, dan boleh baptis ulang,” jawaban-jawaban tersebut jelas bukan ajaran yang baik.&lt;br /&gt;Jadi sikap “titian” adalah penyempitan dari sikap “koridor”. Sekalipun masih berterima, beberapa gereja tidak bersikap “titian”, melainkan “koridor”. Sikap “koridor” memperlihatkan dan mendorong pertumbuhan ke arah kedewasaan jemaat.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-3559164194159007904?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/3559164194159007904/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=3559164194159007904&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/3559164194159007904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/3559164194159007904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/01/koridor-dalam-praktek.html' title='“KORIDOR” DALAM PRAKTEK'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R6KTfTW8OcI/AAAAAAAAAEk/nwvgaYabbyo/s72-c/100_3313.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-641004051658442180</id><published>2008-01-08T21:50:00.000+07:00</published><updated>2008-01-08T22:06:46.573+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='relawan nias'/><title type='text'>MENJADI RELAWAN DI NIAS</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R4OReuTOHrI/AAAAAAAAAD0/pKIUIYQfTWE/s1600-h/kolinl22.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153122355652730546" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R4OReuTOHrI/AAAAAAAAAD0/pKIUIYQfTWE/s200/kolinl22.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R4OQReTOHqI/AAAAAAAAADs/MZR7KWpj0Ls/s1600-h/kolinl33.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;MENYELAMI OASIS MELALUI ZIARAH KEMANUSIAAN&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Rasid Rachman&lt;br /&gt;(Relawan Nias dalam Tim 1 dan Tim 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, menjadi relawan Tim GKI yang diutus oleh Sinode ke daerah bencana gempa bumi dan gelombang tsunami di Nias adalah sebuah ziarah. Alasannya? Di lokasi bencana itulah, rahmat ilahi dirasakan dan dialami oleh banyak orang dan banyak pihak, baik korban maupun relawan. Oleh karena itu, menjadi relawan adalah bukan sekadar bertualang menolong korban bencana dan membagikan sumbangan ini-itu, melainkan menyerap dan menikmati rahmat Allah melalui kehadiran-Nya sebagai korban tsunami.&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang mendorong saya menghayati tugas tersebut sebagai perjalanan ziarah, yaitu: pertemuan dengan berbagai macam orang; berkenalan dengan berbagai macam orang; tanpa tsunami, mungkin saya tidak ke Nias; dan kepuasan batin.&lt;br /&gt;Semua hal tersebut di atas dimulai dari suatu pencarian. Ziarah diawali dari sebuah pencarian. Pencarian akan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan: Mengapa semua itu terjadi? Mengapa ada penghancuran oleh alam, dan Tuhan berdiam diri saja? Mengapa Nias lagi? Mengapa Aceh lagi? Misteri apa lagi yang ingin disampaikan-Nya? Atau mungkin Ia ingin menyampaikan pesan?&lt;br /&gt;Sedikit demi sedikit, melalui ziarah kemanusiaan ke Nias, pertanyaan-pertanyaan tersebut mulai mendapat jawab, sekalipun masih buram dan belum tuntas hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, pertemuan dengan berbagai macam orang karena satu hal merupakan hal yang langka. Oleh karena itu, terlibat sebagai relawan di dalam peristiwa tersebut menjadi sangat berharga.&lt;br /&gt;Mengapa menjadi relawan? Alasannya:&lt;br /&gt;1) Saya bukan orang Nias, sehingga tidak ada alasan untuk ke Nias kecuali pelesir, menonton korban, atau relawan.&lt;br /&gt;2) Untuk pelesir diperlukan cukup modal. Lagipula, rasanya bukan sekarang saatnya pelesiran ke Nias.&lt;br /&gt;3) Menonton, rasanya tidak pas, sebab korban tsunami bukan objek tontonan. Sekalipun ada saja orang yang menonton, hanya lihat-lihat dan memotret sana-sini, saya tidak mau memilih itu.&lt;br /&gt;4) Menjadi relawan rasanya pas buat saya kali ini. Ada hal yang dikerjakan dan mengerjakan sesuatu untuk korban bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, berkenalan dengan berbagai macam orang merupakan hal menakjubkan. Dalam dunia sesehari, tidak mudah orang saling bertegur sapa tanpa perantara, berbincang bebas tanpa tata krama, apalagi berkenalan dan kemudian menjadi akrab. Namun hal tersebut sangat mungkin ketika komunitas manusia terbentuk oleh rasa keprihatinan yang sama karena tsunami. Batas-batas jabatan, pendidikan, agama, etnis, pandangan politik, bahkan denominasi Gereja (ironis memang!) menjadi cair. Orang tidak lagi berdebat, berwacana, dan menjunjung batas-batas tersebut, melainkan menjunjung nilai termulia dari kemanusiaan. Siapa pun yang terjun menjadi relawan kemanusiaan memahami bahwa di dalam keterbatasannya, manusia seharusnya membuka belenggu batas-batas yang menghalanginya untuk saling mengenal.&lt;br /&gt;Kisah perkenalan yang menjadi akrab itu dapat dilihat dari cerita berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nama-nama Julukan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tim 3 terdiri dari enam orang, termasuk saya. Katanya saya sebagai pimpinan tim 3, padahal saya hanya seminggu – dari seharusnya 12 hari – bersama di Nias. Oleh karena saya paling tua dibanding para anggota tim yang belasan tahun lebih muda daripada, maka Lucia memanggil saya: babe; Gerhard memanggil saya: bos.&lt;br /&gt;Lucia, dipanggil Cia. Padahal nama depannya Henny. Tinggal dan bekerja bersama-sama, menimbulkan kreativitas tim. Nama orang diganti-ganti dengan mudah, julukannyalah yang lebih dikenal. Alasannya, demi keakraban. Bahasa Inggris Cia paling bagus di antara kami, sebab dia satu-satunya yang lulus sekolah tinggi bahasa Inggris.&lt;br /&gt;Cia datang bersama Tina. Tina ini pengusaha dan penjual sepatu di Bandung. Selain lebih dewasa dibanding yang lain, Tina pandai memijit. Jasanya sangat diperlukan, gratis pula. Kedewasaannya itulah yang menolongnya untuk tidak diberi nama julukan.&lt;br /&gt;Yang beda adalah Udin. Namanya aslinya Satya, tidak ada udin-udinnya. Rupanya ada selipan Syarifudin pada namanya, tapi tidak dikenal. Udin baru lulus sekolah teologi. Karena terlihat lebih serius dibanding yang lain, maka ia diberi nama yang terkesan tidak serius. Yah … Udin, itulah.&lt;br /&gt;Termuda dari tim 3 adalah Gerhard. Dia lahir di Gunung Sitoli, jasanya sebagai penerjemah. Dia paling banyak tahu tentang Nias. Kemudaan dan badannya yang lebih kecil, tampak imut, sering juga dijuluki si bungsu. Namun karena rambutnya menjadi pirang beberapa bulan lalu, teman-teman memanggilnya Buceri, alias Bule Celup Sendiri atau Bule Cet Sendiri.&lt;br /&gt;Murtopo paling ahli dalam urusan kemping. Dia sudah di tingkat pelatih para pencinta alam. Gayanya yang jaim, jaga image, justru menjerumuskan dia mendapat julukan Intruktur (tanpa “s”). Entah mengapa, waktu itu ucapannya terdengar intruktur, bukan instruktur. Padahal menurut pengakuannya, dia tidak pernah menyebut kata itu, melainkan Pelatih. Nah, sekali sebut, ternyata kurang “s”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, seorang relawan yang kebetulan orang Nias berkata kepada saya: “Kalau gak ada tsunami, mungkin Anda tidak ke Nias.” Setelah dipikirkan, perkataannya adalah betul. Nias, menurut hemat saya selama ini, bukan untuk orang Indonesia. Sebab objek wisatanya hanya berupa berselancar. Memang ada wisata budaya, yakni lompat batu dan tarian perang, tetapi masak sih saya ke Nias hanya untuk ke Teluk Dalam saja.&lt;br /&gt;Akhir Desember lalu perziarahan ke Nias telah menghantar saya ke bagian-bagian Nias yang tidak tersentuh semangat pariwisata. Perziarahan saya justru menyentuh bagian-bagian kemanusiaan yang paling nyata. Yaitu, bagaimana penduduk berdialog, menghabiskan hari-harinya, menyambut tamu, berpisah dengan tamu, memanfaatkan orang asing, membantu dan menolong tanpa pamrih, bersikap jujur kepada orang lain dan diri sendiri. Kisah berikut ini kiranya dapat menyampaikan pesan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;“Bapak, agamanya apa?”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabupaten Nias berpendudukan mayoritas Kristen. Walaupun tidak seluruh penduduk beragama Kristen, di mana-mana dan hampir siapa saja beragama Kristen. Gereja ada di mana-mana. Di kota, desa, perbukitan, dan pesisir, kita menjumpai orang Kristen. Pramusaji restoran, pengayuh becak, pelayan hotel, pejabat pemerintah, hingga Walikota, dan Bupati, adalah Kristen.&lt;br /&gt;Di daerah-daerah tertentu, semisal: Moawo, Afulu, Sirombu, seringkali kita jumpai umat beragama Islam. Namun karena mayoritas Nias adalah Kristen, dengan tetap mengingat bahwa ada pula yang Islam, maka bertanya kepada seseorang: Apakah agamamu?” merupakan hal lazim di daerah-daerah tersebut. Orang yang ditanya pun tidak merasa sedang diterogasi karena pertanyaan yang menyangkut hak azasi tersebut. Jawabannya pun santai: “Saya Kristen,” atau “Saya Islam.”&lt;br /&gt;Dalam perjalanan sulit ke daerah Afulu menuju Desa Faekuna’a, saya “diinterogasi” oleh sopir ojek yang saya tumpangi.&lt;br /&gt;Ojek: “Bapak dari mana?”&lt;br /&gt;Saya: “Dari Jakarta.”&lt;br /&gt;Ojek: “Bapak ke mari dari utusan mana?”&lt;br /&gt;Saya: (sambil memancingnya ingin tahu) “Saya dari Gereja.”&lt;br /&gt;Ojek: “Ooh, bapak Kristen? Saya juga Kristen. Tapi agama saya BNKP. Kalau agama bapak, apa?”&lt;br /&gt;Saya: (masih dalam kebingunan) “Agama saya adalah GKI.” (setelah agak tenang sejenak, saya “menggodanya”). “Kalau begitu, agama kita berbeda ya.”&lt;br /&gt;Ojek: “Ya, beda. Tetapi sama juga, sih. Cuma, saya yang agama BNKP, bapak yang agama GKI.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Keempat&lt;/em&gt;, muara dari perziarahan kemanusiaan ini adalah kepuasan batin. Puas, bukan karena misi telah dijalankan, dikerjakan dan selesai. Puas, bukan karena ada perbuatan baik dan tulus yang telah diberikan. Puas, bukan karena ada harapan yang disampaikan kepada korban di tengah kegalauan bencana. Tetapi puas, karena telah meneguk rahmat ilahi melalui perjumpaan dengan Tuhan sendiri dan pengalaman kebersamaan dengan sesama.&lt;br /&gt;Menjadi relawan dan bergabung dengan para relawan lain adalah kenikmatan tersendiri. Saling menghargai dan saling menjaga sebagai sesama orang yang mengerjakan sesuatu bagi korban merupakan nilai tertinggi bagi relawan.&lt;br /&gt;Menjadi relawan dan bersama korban membangun kembali kehidupan baru setelah tsunami adalah keindahan yang tiada tara. Keletihan menghadapi medan dan mental yang berat terobati ketika mendengar korban berkata: “Ya, saya mau bekerja untuk membangun rumah dan perahu saya.” Hal-hal dan nilai-nilai tersebut laksana oasis di dunia yang serba melecehkan kemanusiaan. ¨&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-641004051658442180?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/641004051658442180/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=641004051658442180&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/641004051658442180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/641004051658442180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2008/01/menjadi-relawan-di-nias.html' title='MENJADI RELAWAN DI NIAS'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R4OReuTOHrI/AAAAAAAAAD0/pKIUIYQfTWE/s72-c/kolinl22.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-2233679805314380458</id><published>2007-12-31T00:27:00.000+07:00</published><updated>2008-01-02T12:36:03.809+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pekan doa'/><title type='text'>PEKAN DOA KESATUAN UMAT KRISTIANI</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R3sineTOHnI/AAAAAAAAADU/PrmoxFQx01I/s1600-h/09+gejayan16.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5150748660372217458" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R3sineTOHnI/AAAAAAAAADU/PrmoxFQx01I/s200/09+gejayan16.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;18 – 25 JANUARI 2008&lt;br /&gt;Dan Sepanjang Tahun 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BERDOALAH SENANTIASA&lt;br /&gt;(1 Tes 5 : 17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks Dasar&lt;br /&gt;1 Tesalonika 5:12a, 13b-18&lt;br /&gt;Teks dan tema dipilih dan disiapkan oleh Komisi Interasional yang terdiri dari wakil-wakil World Council of Churches dan Gereja Katolik. Setiap hari satu ayat dari teks Kitab Suci di atas, menjadi tema Perayaan Ekaristi dan sumber bacaan-bacaan khusus selama Pekan Doa Kesatuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Pertama&lt;br /&gt;Berdoalah senantiasa&lt;br /&gt;Berdoalah tanpa henti&lt;br /&gt;(1 Tes 5:17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesaya 55:6-9&lt;br /&gt;Mazmur 34&lt;br /&gt;1 Tesalonika 5:12a, 13b-18&lt;br /&gt;Lukas 18:1-18&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan Kesatuan, Bapa, Putera dan Roh Kudus. Kami berdoa tanpa henti-hentinya agar kami dapat menjadi satu sama seperti Engkau satu adanya. Ya Bapa, degarkanlah kami ketika kami mencari Engkau. Ya Kristus, bawalah kami kepada kesatuan yang Kaukehendaki bagi kami. Ya Roh Kudus, semoga kami tak pernah putus asa. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Kedua&lt;br /&gt;Berdoalah senantiasa dengan percaya kepada Allah saja&lt;br /&gt;Bersyukurlah dalam segala kesempatan&lt;br /&gt;(1 Tes 5:18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Raja 18:20-24&lt;br /&gt;Mazmur 23&lt;br /&gt;1 Tesalonika 5:12a, 13b-18&lt;br /&gt;Yohanes 11:17-44&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapa pencipta segala, dengarkanlah kami putera-puteri-Mu bila kami berdoa. Bantulah kamu bertekun dalam iman dan percaya kepada-Mu. Ajarilah kami bersyukur dalam segala kesempatan dan bersandar kepada kerahiman-Mu. Berilah kami kebenaran dan kebijaksanaan, agar Gereja-Mu dapat bangkit kepada hidup baru dalam satu persaudaraan. Engkaulah harapan kami satu-satunya. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Ketiga&lt;br /&gt;Berdoalah tanpa henti untuk pertobatan hati&lt;br /&gt;Tegurlah mereka yang hidup dengan tidak tertib&lt;br /&gt;Kuatkanlah yang tawar hati&lt;br /&gt;(1 Tes 5:14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yohanes 3:1-10&lt;br /&gt;Mazmur 51:8-15&lt;br /&gt;1 Tesalonika 5:12a, 13b-18&lt;br /&gt;Markus 11:15-17&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan, Engkau ingin menanamkan kebenaran di dalam hati kami: dalam lubuk hati kami, Kauajari kami saling menyemangati di sepanjang jalan menuju kesatuan. Tunjukkanlah kepada kami pertobatan yang dibutuhkan demi rekonsiliasi. Kami mohon, berilah kepada kami masing-masing hati yang baru dan ekumenis. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Keempat&lt;br /&gt;Berdoalah senantiasa untuk keadilan&lt;br /&gt;Perhatikanlah, jangan ada di antara kalian yang membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik,&lt;br /&gt;di antara kalian dan terhadap semua orang&lt;br /&gt;(1 Tes 5:15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluaran 3:1-12&lt;br /&gt;Mazmur 146&lt;br /&gt;1 Tesalonika 5:12a, 13b-18&lt;br /&gt;Matius 5:38-42&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan Allah, Kauciptakan manusia: pria dan wanita, menurut gambar ilahi. Semoga kami berdoa tanpa henti-hentinya dan dengan sehati, sejiwa agar mereka yang kelaparan di dunia ini mendapat makanan, agar mereka yang tertindas dapat dibebaskan, agar semua manusia diperlakukan menurut martabatnya; dan semoga kami menjadi alat-Mua agar kerinduan ini menjadi kenyataan. Kami mohon ini dalam nama Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Kelima&lt;br /&gt;Berdoalah terus-menerus dengan sabar hati&lt;br /&gt;Sabarlah terhadap semua orang&lt;br /&gt;(1 Tes 5:14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluaran 17:1-4&lt;br /&gt;Mazmur 1&lt;br /&gt;1 Tesalonika 5:12a, 13b-18&lt;br /&gt;Lukas 18:9-14&lt;br /&gt;Ya Tuhan, jadikanlah kami murid-murid-Mu yang penuh perhatian untuk sabda-Mu siang-malam. Dalam perjalanan kami menuju kesatuan, berilah kami harapan yang akan berubah pada waktunya. Ketika prasangka dan kecurigaan akan menguasai, kami mohon kepada-Mu: berilah kami kesabaran yang rendah hati yang dibutuhkan demi rekonsiliasi. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Keenam&lt;br /&gt;Berdoalah senantiasa mohon rahmat bekerja bersama Allah&lt;br /&gt;Bersukacitalah senantiasa, bergembiralah selalu, berdoalah tanpa henti&lt;br /&gt;((1 Tes 5:16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 Samuel 7:18-26&lt;br /&gt;Mazmur 86&lt;br /&gt;1 Tesalonika 5:12a, 13b-18&lt;br /&gt;Lukas 10:1-24&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan Allah, dalam kesatuan sempurna keberadaan-Mu, jagalah agar hati kami tetap dikobarkan oleh kerinduan dan harapan akan kesatuan sehingga kami tak pernah berhenti bekerja demi Injil-Mu. Kami mohon ini demi Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Ketujuh&lt;br /&gt;Berdoalah untuk kebutuhan kita&lt;br /&gt;... bantulah mereka yang lemah&lt;br /&gt;(1 Tes 5:14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Samuel 1:9-20&lt;br /&gt;Mazmur 86&lt;br /&gt;1 Tesalonika 5:12a, 13b-18&lt;br /&gt;Lukas 11:5-13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan, bantulah kami agar sungguh-sungguh menjadi satu dalam doa untuk menyembuhkan dunia kami, untuk memperbaiki perpecahan dalam Gereja-gereja kami dan di dalam diri kami sendiri. Semoga kami tak ragu-ragu bahwa Engkau mendengarkan dan akan mengabulkan kami. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Kedelapan&lt;br /&gt;Berdoalah senantiasa agar mereka semua menjadi satu&lt;br /&gt;Hiduplah dalam damai&lt;br /&gt;(1 Tes 5:13b)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesaya 11:6-13&lt;br /&gt;Mazmur 122&lt;br /&gt;1 Tesalonika 5:12a, 13b-18&lt;br /&gt;Yohanes 17:6-24&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan, satukanlah kami: satu dalam kata-kata, agar dapat memanjatkan satu doa yang penuh hormat ke hadapan-Mu; satu dalam merindukan dan mengejar keadilan; satu dalam kasih, dengan melayani-Mu melalui pelayanan kepada orang yang terakhir antara saudara-saudara kami; satu dalam kerinduan akan wajah-Mu. Ya Tuhan, jadikanlah kami satu di dalam Engkau. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Saya selalu mendapat kiriman jadwal Pekan Doa Kesatuan sejak 10 tahun terakhir ini dari Biara Pertapaan Bunda Pemersatu GEDONO setiap tahun. Ini adalah kegiatan rutin yang telah dilakukan GEDONO selama beberapa tahun ini, namun tidak populer di kalangan Protestan sendiri. Padahal GEDONO mengakui dan tetap mencantumkan bahwa mereka memperoleh jadwal Pekan Doa Kesatuan dari Dewan Gereja se-Dunia (WCC).&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-2233679805314380458?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/2233679805314380458/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=2233679805314380458&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/2233679805314380458'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/2233679805314380458'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2007/12/pekan-doa-kesatuan-umat-kristiani.html' title='PEKAN DOA KESATUAN UMAT KRISTIANI'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R3sineTOHnI/AAAAAAAAADU/PrmoxFQx01I/s72-c/09+gejayan16.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-5807684498709165129</id><published>2007-12-15T09:18:00.000+07:00</published><updated>2007-12-15T09:42:04.889+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='leksionari'/><title type='text'>LEKSIONARI TAHUN C</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;(2010, 2013, 2016, 2019, 2022, 2025)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADVEN I&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yeremia 33:14-16&lt;br /&gt;Mazmur 25:1-10&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Tesalonika 3:9-13&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 21:25-36&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADVEN II&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Maleakhi 3:1-4 atau Barukh 5:1-9&lt;br /&gt;Responsorial: Lukas 1:68-79&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Filipi 1:3-11&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 3:1-6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADVEN III&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Zefanya 3:14-20&lt;br /&gt;Responsorial: Yesaya 12:2-6&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Filipi 4:4-7&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 3:7-18&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADVEN IV&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Mikha 5:2-5a&lt;br /&gt;Mazmur Lukas 1:47-55 atau Mazmur 80:1-7&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Ibrani 10:5-10&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 1:39-45, 46-55&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NATAL I&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 9:2-7&lt;br /&gt;Mazmur 96&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Titus 2:11-14&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 2:1-14, 15-20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NATAL II&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 62:6-12&lt;br /&gt;Mazmur 97&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Titus 3:4-7&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 2:1-7, 8-20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NATAL III&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 52:7-10&lt;br /&gt;Mazmur 98&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Ibrani 1:1-4, 5-12&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 1:1-14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PERTAMA SETELAH NATAL&lt;br /&gt;Perjanjian Lama 1Samuel 2:18-20, 26&lt;br /&gt;Mazmur 148&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel  Kolose 3:12-17&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium  Lukas 2:41-52&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YESUS DIBERI NAMA (1 Januari) (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Bilangan 6:22-27&lt;br /&gt;Mazmur 8&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Galatia 4:4-7 atau Filipi 2:5-11&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 2:15-21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun Baru (1 Januari) (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Pengkhotbah 3:1-13&lt;br /&gt;Mazmur 8&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Wahyu 21:1-6a&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 25:31-46&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU KEDUA SETELAH NATAL (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yeremia 31:7-14 atau Yesus bin Sirakh 24:1-12&lt;br /&gt;Mazmur 147:12-20 atau Kebijaksanaan Salomo 10:15-21&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Efesus 1:3-14&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 1:1-9, 10-18&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama: Yesaya 60:1-6&lt;br /&gt;Mazmur 72:1-7, 10-14&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Efesus 3:1-12&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 2:1-12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA I TUHAN DIBAPTIS&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 43:1-7&lt;br /&gt;Mazmur 29&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Kisah Para Rasul 8:14-17&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 3:15-17, 21-22&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA II&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 62:1-5&lt;br /&gt;Mazmur 36:5-10&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 12:1-11&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 2:1-11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA III&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Nehemia 8:1-3, 5-6, 8-10&lt;br /&gt;Mazmur 19&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 12:12-31a&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 4:14-21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA IV&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yeremia 1:4-10&lt;br /&gt;Mazmur 71:1-6&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 13:1-13&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 4:21-30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA V&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 6:1-8, 9-13&lt;br /&gt;Mazmur 138&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 15:1-11&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 5:1-11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA VI atau MINGGU BIASA I&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yeremia 17:5-10&lt;br /&gt;Mazmur 1&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 15:12-20&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 6:17-26&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA VII atau MINGGU BIASA II&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Kejadian 45:3-11, 15&lt;br /&gt;Mazmur 37:1-11, 39-40&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 15:35-38, 42-50&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 6:27-38&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA VIII atau MINGGU BIASA III&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 55:10-13 atau Yesus bin Sirakh 27:4-7&lt;br /&gt;Mazmur 92:1-4, 12-15&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 15:51-58&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 6:39-49&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA IX atau MINGGU BIASA IV&lt;br /&gt;Perjanjian Lama 1Raja 8:22-23, 41-43&lt;br /&gt;Mazmur 96:1-9&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Galatia 1:1-12&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 7:1-10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU TRANSFIGURASI (TUHAN DIMULIAKAN)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Keluaran 34:29-35&lt;br /&gt;Mazmur 99&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 2Korintus 3:12-4:2&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 9:28-36, 37-43&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RABU ABU (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yoel 2:1-2, 12-17 atau Yesaya 58:1-12&lt;br /&gt;Mazmur 51:1-17&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 2Korintus 5:20b-6:10&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium: Matius 6:1-6, 16-21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PRAPASKA I&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Ulangan 26:1-11&lt;br /&gt;Mazmur 91:1-2, 9-16&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Roma 10:8b-13&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 4:1-13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PRAPASKA II&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Kejadian 15:1-12, 17-18&lt;br /&gt;Mazmur 27&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Filipi 3:17-4:1&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 13:31-35 atau 9:28-36&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PRAPASKA III&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 55:1-9&lt;br /&gt;Mazmur 63:1-8&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 10:1-13&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 13:1-9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PRAPASKA IV&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yosua 5:9-12&lt;br /&gt;Mazmur 32&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 2Korintus 5:16-21&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 15:1-3, 11b-32&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PRAPASKA V&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 43:16-21&lt;br /&gt;Mazmur 126&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Filipi 3:4b-14&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 12:1-8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PRAPASKA VI&lt;br /&gt;I. PALEM&lt;br /&gt;Mazmur 118:1-2, 19-29&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 19:28-40&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. SENGSARA&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 50:4-9a&lt;br /&gt;Mazmur 31:9-16&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Filipi 2:5-11&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 22:14-23:56 atau 23:1-49&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENIN DALAM PEKAN SUCI (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 42:1-9&lt;br /&gt;Mazmur 36:5-11&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Ibrani 9:11-15&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 12:1-11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELASA DALAM PEKAN SUCI (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 49:1-7&lt;br /&gt;Mazmur 71:1-14&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 1:18-31&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 12:20-36&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RABU DALAM PEKAN SUCI (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 50:4-9a&lt;br /&gt;Mazmur 70&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Ibrani 12:1-3&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 13:21-32&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAMIS PUTIH atau KAMIS SUCI (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Keluaran 12:1-4, 5-10, 11-14&lt;br /&gt;Mazmur 116:1-2, 12-19&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 11:23-26&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 13:1-17, 31b-35&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UMAT AGUNG (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 52:13-53:12&lt;br /&gt;Mazmur 22&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Ibrani 10:16-25 atau 4:14-16, 5:7-9&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 18:1-19:42&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SABTU SUNYI (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Ayub 14:1-14 atau Ratapan 3:1-9, 19-24&lt;br /&gt;Mazmur 31:1-4, 15-16&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Petrus 4:1-8&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 27:57-66 atau Yohanes 19:38-42&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MALAM PASKA (A-B-C)&lt;br /&gt;Kejadian 1:1-2:4a&lt;br /&gt;Mazmur 136:1-9, 23-26&lt;br /&gt;Kejadian 7:1-5, 11-18, 8:6-18, 9:8-13&lt;br /&gt;Mazmur 46&lt;br /&gt;Kejadian 22:1-18&lt;br /&gt;Mazmur 16&lt;br /&gt;Keluaran 14:10-31, 15:20-21&lt;br /&gt;Keluaran 15:1b-13, 17-18&lt;br /&gt;Yesaya 55:1-11&lt;br /&gt;Yesaya 12:2-6&lt;br /&gt;Amsal 8:1-8, 19-21, 9:4b-6  atau Baruch 3:9-15, 32-4:4&lt;br /&gt;Mazmur 19&lt;br /&gt;Yehezkiel 36:24-28&lt;br /&gt;Mazmur 42 and 43&lt;br /&gt;Yehezkiel 37:1-14Mazmur 143&lt;br /&gt;Zefanya 3:14-20&lt;br /&gt;Mazmur 98&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjanjian Baru (A,B,C)&lt;br /&gt;Roma 6:3-11&lt;br /&gt;Mazmur 114&lt;br /&gt;1Korintus 11:23-26&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium&lt;br /&gt;Matius 28:1-10 atau Yohanes 13:1-17, 31b-35&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PASKA&lt;br /&gt;Pembacaan Pertama Kisah Para Rasul 10:34-43 atau Yesaya 65:17-25&lt;br /&gt;Mazmur 118:1-2, 14-24&lt;br /&gt;Pembacaan Kedua 1Korintus 15:19-26 atau Kisah Para Rasul 10:34-43&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 20:1-18 atau Lukas 24:1-12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PASKA (IBADAH PETANG-MALAM) (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 25:6-9&lt;br /&gt;Mazmur 114&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 5:6b-8&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 24:13-49&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PASKA II&lt;br /&gt;Kisah Para Rasul 5:27-32&lt;br /&gt;Mazmur 118:14-29 atau Mazmur 150&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Wahyu 1:4-8&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 20:19-31&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PASKA III&lt;br /&gt;Kisah Para Rasul 9:1-6, 7-20&lt;br /&gt;Mazmur 30&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Wahyu 5:11-14&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 21:1-19&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PASKA IV&lt;br /&gt;Kisah Para Rasul 9:36-43&lt;br /&gt;Mazmur 23&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Wahyu 7:9-17&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 10:22-30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PASKA V&lt;br /&gt;Kisah Para Rasul 11:1-18&lt;br /&gt;Mazmur 148&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Wahyu 21:1-6&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 13:31-35&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PASKA VI&lt;br /&gt;Kisah Para Rasul 16:9-15&lt;br /&gt;Mazmur 67&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Wahyu 21:10, 22-22:5&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 14:23-29 atau Yohanes 5:1-9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PASKA VII&lt;br /&gt;Kisah Para Rasul 16:16-34&lt;br /&gt;Mazmur 97&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Wahyu 22:12-14, 16-17, 20-21&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 17:20-26&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN YESUS NAIK KE SORGA (A-B-C)&lt;br /&gt;Kisah Para Rasul 1:1-11&lt;br /&gt;Mazmur 47 atau Mazmur 93&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Efesus 1:15-23&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 24:44-53&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENTAKOSTA&lt;br /&gt;Pembacaan Pertama Kisah Para Rasul 2:1-21 atau Kejadian 11:1-9&lt;br /&gt;Mazmur 104:24-34, 35b&lt;br /&gt;Pembacaan Kedua Roma 8:14:-17 atau Kisah Para Rasul 2:1-21&lt;br /&gt;Injil atau EvangeliumYohanes 14:8-17, (25-27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU TRINITATIS&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Amsal 8:1-4, 22-31&lt;br /&gt;Mazmur 8&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Roma 5:1-5&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 16:12-15&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA IV&lt;br /&gt;Perjanjian Lama 1Raja 18:20-21, 22-29, 30-39 atau 1Raja 8:22-23, 41-43&lt;br /&gt;Mazmur 96 atau Mazmur 96:1-9&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Galatia 1:1-12&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 7:1-10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA V&lt;br /&gt;Perjanjian Lama 1Raja 17:8-16, 17-24 atau 1Raja 17:17-24&lt;br /&gt;Mazmur 146 atau Mazmur 30&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Galatia 1:11-24&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 7:11-17&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA VI&lt;br /&gt;Perjanjian Lama 1Raja 21:1-10, 11-14, 15-21a atau 2 Samuel 11:26-12:10, 13-15&lt;br /&gt;Mazmur 5:1-8 atau Mazmur 32&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Galatia 2:15-21&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 7:36-8:3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA VII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama 1Raja 19:1-4, 5-7, 8-15a atau Yesaya 65:1-9&lt;br /&gt;Mazmur 42 dan 43 atau Mazmur 22:19-28&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Galatia 3:23-29&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 8:26-39&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA VIII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama 2Raja 2:1-2, 6-14 atau 1Raja 19:15-16, 19-21&lt;br /&gt;Mazmur 77:1-2, 11-20 atau Mazmur 16&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Galatia 5:1, 13-25&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 9:51-62&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INGGU BIASA IX&lt;br /&gt;Perjanjian Lama 2Raja 5:1-14 atau Yesaya 66:10-14&lt;br /&gt;Mazmur 30 atau Mazmur 66:1-9&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Galatia 6:1-6, 7-16&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 10:1-11, 16-20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA X&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Amos 7:7-17 atau Ulangan 30:9-14&lt;br /&gt;Mazmur 82 atau Mazmur 25:1-10&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Kolose 1:1-14&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 10:25-37&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XI&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Amos 8:1-12 atau Kejadian 18:1-10a&lt;br /&gt;Mazmur 52 atau Mazmur 15&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Kolose 1:15-28&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 10:38-42&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Hosea 1:2-10 atau Kejadian 18:20-32&lt;br /&gt;Mazmur 85 atau Mazmur 138&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Kolose 2:6-15, 16-19&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 11:1-13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XIII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Hosea 11:1-11 atau Pengkhotbah 1:2, 12-14, 2:18-23&lt;br /&gt;Mazmur 107:1-9, 43 atau Mazmur 49:1-12&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Kolose 3:1-11&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 12:13-21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XIV&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 1:1, 10-20 atau Kejadian 15:1-6&lt;br /&gt;Mazmur 50:1-8, 22-23 atau Mazmur 33:12-22&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Ibrani 11:1-3, 8-16&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 12:32-40&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XV&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 5:1-7 atau Yeremia 23:23-29&lt;br /&gt;Mazmur 80:1-2, 8-19 atau Mazmur 82&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Ibrani 11:29-12:2&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 12:49-56&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XVI&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yeremia 1:4-10 atau Yesaya 58:9b-14&lt;br /&gt;Mazmur 71:1-6 atau Mazmur 103:1-8&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Ibrani 12:18-29&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 13:10-17&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XVII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yeremia 2:4-13 atau Amsal 25:6-7 atau Yesus bin Sirakh 10:12-18&lt;br /&gt;Mazmur 81:1, 10-16&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Ibrani 13:1-8, 15-16&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 14:1, 7-14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XVIII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yeremia 18:1-11 atau Ulangan 30:15-20&lt;br /&gt;Mazmur 139:1-6, 13-18 atau Mazmur 1&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Filemon 1-21&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 14:25-33&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XIX&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yeremia 4:11-12, 22-28 atau Keluaran 32:7-14&lt;br /&gt;Mazmur 14 atau Mazmur 51:1-10&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Timotius 1:12-17&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 15:1-10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XX&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yeremia 8:18-9:1 atau Amos 8:4-7&lt;br /&gt;Mazmur 79:1-9 atau Mazmur 113&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Timotius 2:1-7&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 16:1-13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XXI&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yeremia 32:1-3a, 6-15 atau Amos 6:1a, 4-7&lt;br /&gt;Mazmur 91:1-6, 14-16 atau Mazmur 146&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Timotius 6:6-19&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 16:19-31&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XXII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Ratapan 1:1-6 atau Ratapan 3:19-26 atau Habakuk 1:1-4, 2:1-4&lt;br /&gt;Mazmur 37:1-9 atau Mazmur 137&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 2Timotius 1:1-14&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 17:5-10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XXIII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama  Yeremia 29:1, 4-7 atau 2Raja 5:1-3, 7-15c&lt;br /&gt;Mazmur 66:1-12 atau Mazmur 111&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel  2Timotius 2:8-15&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 17:11-19&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XXIV&lt;br /&gt;Perjanjian Lama  Yeremia 31:27-34 atau Kejadian 32:22-31&lt;br /&gt;Mazmur 119:97-104 atau Mazmur 121&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 2Timotius 3:14-4:5&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 18:1-18&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XXV&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Joel 2:23-32 atau Yeremia 14:7-10, 19-22 atau Yesus bin Sirakh 35:12-17&lt;br /&gt;Mazmur 65 atau Mazmur 84:1-7&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 2Timotius 4:6-8, 16-18&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 18:9-14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERINGATAN SEMUA ORANG KUDUS (1 November atau hari Minggu pertama November)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Daniel 7:1-3, 15-18&lt;br /&gt;Mazmur 149&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Efesus 1:11-23&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 6:20-31&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XXVI&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Habakuk 1:1-4, 2:1-4 atau Yesaya 1:10-18&lt;br /&gt;Mazmur 119:137-144 atau Mazmur 32:1-7&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 2Tesalonika 1:1-4, 11-12&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 19:1-10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XXVII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Hagai 1:15b-2:9 atau Ayub 19:23-27a&lt;br /&gt;Mazmur 145:1-5, 17-21 atau Mazmur 17:1-9  atau Mazmur 98&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 2Tesalonika 2:1-5, 13-17&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 20:27-38&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XXVIII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 65:17-25 atau Yesaya 12  atau Maleakhi 4:1-2a&lt;br /&gt;Mazmur 98&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 2Tesalonika 3:6-13&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 21:5-19&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XXIX (MINGGU KRISTUS RAJA)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yeremia 23:1-6&lt;br /&gt;Mazmur 46&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Surat Rasuli atau Epistel Kolose 1:11-20&lt;/div&gt;Injil atau Evangelium Lukas 1:68-79 atau Lukas 23:33-43&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;*) Leksionari ini diambil berdasarkan Revised Common Lectionay&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-5807684498709165129?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/5807684498709165129/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=5807684498709165129&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/5807684498709165129'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/5807684498709165129'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2007/12/leksionari-tahun-c.html' title='LEKSIONARI TAHUN C'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-5332630789428735261</id><published>2007-12-15T08:54:00.000+07:00</published><updated>2007-12-15T09:45:17.013+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='leksionari'/><title type='text'>LEKSIONARI TAHUN B</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;(2009, 2012, 2015, 2018,2011,2014,2017)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADVEN I&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 64:1-9&lt;br /&gt;Mazmur 80:1-7, 17-19&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 1:3-9&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 13:24-37&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADVEN II&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 40:1-11&lt;br /&gt;Mazmur 85:1-2, 8-13&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 2Petrus 3:8-15a&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 1:1-8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADVEN III&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 61:1-4, 8-11&lt;br /&gt;Mazmur 126 atau Lukas 1:47-55&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Tesalonika 5:16-24&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 1:6-8, 19-28&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADVEN IV&lt;br /&gt;Perjanjian Lama 2 Samuel 7:1-11, 16&lt;br /&gt;Mazmur 89:1-4, 19-26 atau Lukas 1:47-55&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Roma 16:25-27&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 1:26-38&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NATAL I&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 9:2-7&lt;br /&gt;Mazmur 96&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Titus 2:11-14&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 2:1-14, 15-20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NATAL II (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 62:6-12&lt;br /&gt;Mazmur 97&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Titus 3:4-7&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 2:1-7, 8-20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NATAL III&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 52:7-10&lt;br /&gt;Mazmur 98&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Ibrani 1:1-4, 5-12&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 1:1-14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PERTAMA SETELAH NATAL&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 61:10-62:3&lt;br /&gt;Mazmur 148&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Galatia 4:4-7&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 2:22-40&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YESUS DIBERI NAMA (1 Januari) (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Bilangan 6:22-27&lt;br /&gt;Mazmur 8&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Galatia 4:4-7 atau Filipi 2:5-11&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 2:15-21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun Baru (1 Januari) (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Pengkhotbah 3:1-13&lt;br /&gt;Mazmur 8&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Wahyu 21:1-6a&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 25:31-46&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU KEDUA SETELAH NATAL (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yeremia 31:7-14 atau Yesus bin Sirakh 24:1-12&lt;br /&gt;Mazmur 147:12-20 atau Kebijaksanaan Salomo 10:15-21&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Efesus 1:3-14&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 1:1-9, 10-18&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 60:1-6&lt;br /&gt;Mazmur 72:1-7, 10-14&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Efesus 3:1-12&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 2:1-12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA I TUHAN DIBAPTIS&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Kejadian 1:1-5&lt;br /&gt;Mazmur 29&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Kisah Para Rasul 19:1-7&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 1:4-11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA II&lt;br /&gt;Perjanjian Lama 1Samuel 3:1-10, 11-20&lt;br /&gt;Mazmur 139:1-6, 13-18&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 6:12-20&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 1:43-51&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA III&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yunus 3:1-5, 10&lt;br /&gt;Mazmur 62:5-12&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 7:29-31&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 1:14-20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA IV&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Ulangan 18:15-20&lt;br /&gt;Mazmur 111&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 8:1-13&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 1:21-28&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA V&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 40:21-31&lt;br /&gt;Mazmur 147:1-11&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 9:16-23&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 1:29-39&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA VI atau MINGGU BIASA I&lt;br /&gt;Perjanjian Lama 2Raja-raja 5:1-14&lt;br /&gt;Mazmur 30&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 9:24-27&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 1:40-45&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA VII atau MINGGU BIASA II&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 43:18-25&lt;br /&gt;Mazmur 41&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 2Korintus 1:18-22&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 2:1-12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA VIII atau MINGGU BIASA III&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Hosea 2:14-20&lt;br /&gt;Mazmur 103:1-13, 22&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 2Korintus 3:1-6&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 2:13-22&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA IX atau MINGGU BIASA IV&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Ulangan 5:12-15&lt;br /&gt;Mazmur 81:1-10&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 2Korintus 4:5-12&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 2:23-3:6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU TRANSFIGURASI (TUHAN DIMULIAKAN)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama 2Raja-raja 2:1-12&lt;br /&gt;Mazmur 50:1-6&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 2Korintus 4:3-6&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 9:2-9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RABU ABU (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yoel 2:1-2, 12-17 atau Yesaya 58:1-12&lt;br /&gt;Mazmur 51:1-17&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 2Korintus 5:20b-6:10&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 6:1-6, 16-21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PRAPASKA I&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Kejadian 9:8-17&lt;br /&gt;Mazmur 25:1-10&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Petrus 3:18-22&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 1:9-15&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PRAPASKA II&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Kejadian 17:1-7, 15-16&lt;br /&gt;Mazmur 22: 23-31&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Roma 4:13-25&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 8:31-38 atau Markus 9:2-9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PRAPASKA III&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Keluaran 20:1-17&lt;br /&gt;Mazmur 19&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 1:18-25&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 2:13-22&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PRAPASKA IV&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Bilangan 21:4-9&lt;br /&gt;Mazmur 107:1-3, 17-22&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Efesus 2:1-10&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 3:14-21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PRAPASKA V&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yeremia 31:31-34&lt;br /&gt;Mazmur 51:1-12 atau Mazmur 119:9-16&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Ibrani 5:5-10&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 12:20-33&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PRAPASKA VI&lt;br /&gt;I. PALEM&lt;br /&gt;Mazmur 118:1-2, 19-29&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 11:1-11 atau Yohanes 12:12-16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. SENGSARA&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 50:4-9a&lt;br /&gt;Mazmur 31:9-16&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Filipi 2:5-11&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 14:1-15:47 atau Markus 15:1-39, 40-47&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENIN DALAM PEKAN SUCI (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 42:1-9&lt;br /&gt;Mazmur 36:5-11&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Ibrani 9:11-15&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 12:1-11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELASA DALAM PEKAN SUCI (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 49:1-7&lt;br /&gt;Mazmur 71:1-14&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 1:18-31&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 12:20-36&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RABU DALAM PEKAN SUCI (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 50:4-9a&lt;br /&gt;Mazmur 70&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Ibrani 12:1-3&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 13:21-32&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAMIS PUTIH atau KAMIS SUCI (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Keluaran 12:1-4, 5-10, 11-14&lt;br /&gt;Mazmur 116:1-2, 12-19&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 11:23-26&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 13:1-17, 31b-35&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUMAT AGUNG (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 52:13-53:12&lt;br /&gt;Mazmur 22&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Ibrani 10:16-25 atau 4:14-16, 5:7-9&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 18:1-19:42&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SABTU SUNYI (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Ayub 14:1-14 atau Ratapan 3:1-9, 19-24&lt;br /&gt;Mazmur 31:1-4, 15-16&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Petrus 4:1-8&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 27:57-66 atau Yohanes 19:38-42&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MALAM PASKA (A-B-C)&lt;br /&gt;Kejadian 1:1-2:4a&lt;br /&gt;Mazmur 136:1-9, 23-26&lt;br /&gt;Kejadian 7:1-5, 11-18, 8:6-18, 9:8-13&lt;br /&gt;Mazmur 46&lt;br /&gt;Kejadian 22:1-18&lt;br /&gt;Mazmur 16&lt;br /&gt;Keluaran 14:10-31, 15:20-21&lt;br /&gt;Keluaran 15:1b-13, 17-18&lt;br /&gt;Yesaya 55:1-11&lt;br /&gt;Yesaya 12:2-6&lt;br /&gt;Amsal 8:1-8, 19-21, 9:4b-6 atau Barukh 3:9-15, 32-4:4&lt;br /&gt;Mazmur 19&lt;br /&gt;Yehezkiel 36:24-28&lt;br /&gt;Mazmur 42 and 43&lt;br /&gt;Yehezkiel 37:1-14&lt;br /&gt;Mazmur 143&lt;br /&gt;Zefanya 3:14-20&lt;br /&gt;Mazmur 98&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjanjian Baru (A,B,C)&lt;br /&gt;Roma 6:3-11&lt;br /&gt;Mazmur 114&lt;br /&gt;Injil atau EvangeliumMatius 28:1-10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PASKA&lt;br /&gt;Pembacaan Pertama Kisah Para Rasul 10:34-43 atau Yesaya 25:6-9&lt;br /&gt;Mazmur 118:1-2, 14-24&lt;br /&gt;Pembacaan Kedua 1Korintus 15:1-11 atau Kisah Para Rasul 10:34-43&lt;br /&gt;InjilYohanes 20:1-18 atau Markus 16:1-8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PASKA (IBADAH PETANG-MALAM)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 25:6-9&lt;br /&gt;Mazmur 114&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 5:6b-8&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 24:13-49&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PASKA II&lt;br /&gt;Kisah Para Rasul 4:32-35&lt;br /&gt;Mazmur 133&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1 Yohanes 1:1-2:2&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 20:19-31&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PASKA III&lt;br /&gt;Kisah Para Rasul 3:12-19&lt;br /&gt;Mazmur 4&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1 Yohanes 3:1-7&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 24:36b-48&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PASKA IV&lt;br /&gt;Kisah Para Rasul 4:5-12&lt;br /&gt;Mazmur 23&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1 Yohanes 3:16-24&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 10:11-18&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PASKA V&lt;br /&gt;Kisah Para Rasul 8:26-40&lt;br /&gt;Mazmur 22:25-31&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1 Yohanes 4:7-21&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 15:1-8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PASKA VI&lt;br /&gt;Kisah Para Rasul 10:44-48&lt;br /&gt;Mazmur 98&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1 Yohanes 5:1-6&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 15:9-17&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN YESUS NAIK KE SORGA (A-B-C)&lt;br /&gt;Kisah Para Rasul 1:1-11&lt;br /&gt;Mazmur 47 atau Mazmur 93&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Efesus 1:15-23&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 24:44-53&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PASKA VII&lt;br /&gt;Kisah Para Rasul 1:15-17, 21-26&lt;br /&gt;Mazmur 1&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1 Yohanes 5:9-13&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 17:6-19&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENTAKOSTA&lt;br /&gt;Pembacaan Pertama Kisah Para Rasul 2:1-21 atau Yehezkiel 37:1-14&lt;br /&gt;Mazmur 104:24-34, 35b&lt;br /&gt;Pembacaan Kedua Roma 8:22-27 atau Kisah Para Rasul 2:1-21&lt;br /&gt;InjilYohanes 15:26-27, 16:4b-15&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU TRINITATIS&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 6:1-8&lt;br /&gt;Mazmur 29&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Roma 8:12-17&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 3:1-17&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA IV&lt;br /&gt;Perjanjian Lama 1Samuel 3:1-10, 11-20 atau Ulangan 5:12-15&lt;br /&gt;Mazmur 139:1-16, 13-18 atau Mazmur 81:1-10&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 2Korintus 4:5-12&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 2:23-3:6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA V&lt;br /&gt;Perjanjian Lama 1Samuel 8:4-11, 12-15, 16-20, 11:14-15 atau Kejadian 3:8-15&lt;br /&gt;Mazmur 138 atau Mazmur 130&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 2Korintus 4:13-5:1&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 3:20-35&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA VI&lt;br /&gt;Perjanjian Lama 1Samuel 15:34-16:13 atau Yehezkiel 17:22-24&lt;br /&gt;Mazmur 20 atau Mazmur 92:1-4, 12-15&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 2Korintus 5:6-10, 11-13, 14-17&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 4:26-34&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA VII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama 1Samuel 17 (1a, 4-11, 19-23), 32-49 atau 1Samuel 17:57-18:5, 10-16 atau Ayub 38:1-11&lt;br /&gt;Mazmur 9:9-20 atau Mazmur 107:1-3, 23-32 atau Mazmur 133&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 2Korintus 6:1-13&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 4:35-41&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA VIII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama 2 Samuel 1:1, 17-27 atau Ratapan 3:23-33 atau Kebijaksanaan Solomo 1:13-15, 2:23-24&lt;br /&gt;Mazmur 130 atau Mazmur 30&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 2Korintus 8:7-15&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 5:21-43&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA IX&lt;br /&gt;Perjanjian Lama 2 Samuel 5:1-5, 9-10 atau Yehezkiel 2:1-5&lt;br /&gt;Mazmur 48 atau Mazmur 123&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 2Korintus 12:2-10&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 6:1-13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA X&lt;br /&gt;Perjanjian Lama 2 Samuel 6:1-5, 12b-19 atau Amos 7:7-15&lt;br /&gt;Mazmur 24 atau Mazmur 85:8-13&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Efesus 1:3-14&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 6:14-29&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XI&lt;br /&gt;Perjanjian Lama 2 Samuel 7:1-14a atau Yeremia 23:1-6&lt;br /&gt;Mazmur 89:20-37 atau Mazmur 23&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Efesus 2:11-22&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 6:30-34, 53-56&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama 2 Samuel 11:1-15 atau 2Raja-raja 4:42-44&lt;br /&gt;Mazmur 14 atau Mazmur 145:10-18&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Efesus 3:14-21&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 6:1-21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XIII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama 2 Samuel 11:26-12:13a atau Keluaran 16:2-4, 9-15&lt;br /&gt;Mazmur 51:1-12 atau Mazmur 78:23-29&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Efesus 4:1-16&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 6:24-35&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XIV&lt;br /&gt;Perjanjian Lama 2 Samuel 18:5-9, 15, 31-33 atau 1Raja-raja 19:4-8&lt;br /&gt;Mazmur 130 atau Mazmur 34:1-8&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Efesus 4:25-5:2&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 6:35, 41-51&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XV&lt;br /&gt;Perjanjian Lama 1Raja-raja 2:10-12, 3:3-14 atau Amsal 9:1-6&lt;br /&gt;Mazmur 111 atau Mazmur 34:9-14&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Efesus 5:15-20&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 6:51-58&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XVI&lt;br /&gt;Perjanjian Lama 1Raja-raja 8 (1,6,10-11), 22-30, 41-43 atau Yosua 24:1-2a, 14-18&lt;br /&gt;Mazmur 84 atau Mazmur 34:15-22&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Efesus 6:10-20&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 6:56-69&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XVII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Kidung Agung 2:8-13 atau Ulangan 4:1-2, 6-9&lt;br /&gt;Mazmur 45:1-2, 6-9 atau Mazmur 15&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Yakobus 1:17-27&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 7:1-8, 14-15, 21-23&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XVIII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Amsal 22:1-2, 8-9, 22-23 atau Yesaya 35:4-7a&lt;br /&gt;Mazmur 125 atau Mazmur 146&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Yakobus 2:1-10, 11-13, 14-17&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 7:24-37&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XIX&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Amsal 1:20-33 atau Yesaya 50:4-9a atau Amsal 7:26-8:1&lt;br /&gt;Mazmur 19 atau Mazmur 116:1-9&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Yakobus 3:1-12&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 8:27-38&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XX&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Amsal 31:10-31 atau Amsal 1:16-2:1, 12-22 atau Yeremia 11:18-20&lt;br /&gt;Mazmur 1 atau Mazmur 54&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Yakobus 3:13-4:3, 7-8a&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 9:30-37&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XXI&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Esther 7:1-6, 9-10, 9:20-22 atau Bilangan 11:4-6, 10-16, 24-29&lt;br /&gt;Mazmur 124 atau Mazmur 19:7-14&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Yakobus 5:13-20&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 9:38-50&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XXII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Ayub 1:1, 2:1-20 atau Kejadian 2:18-24&lt;br /&gt;Mazmur 26 atau Mazmur 8&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Ibrani 1:1-4, 2:5-12&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 10:2-16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XXIII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Ayub 23:1-9, 16-17 atau Amos 5:6-7, 10-15&lt;br /&gt;Mazmur 22:1-15 atau Mazmur 90:12-17&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Ibrani 4:12-16&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 10:17-31&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XXIV&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Ayub 38:1-7, 34-41 atau Yesaya 53:4-12&lt;br /&gt;Mazmur 104:1-9, 24, 35c atau Mazmur 91:9-16&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Ibrani 5:1-10&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 10:35-45&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XXV&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Ayub 42:1-6, 10-17 atau Yeremia 31:7-9&lt;br /&gt;Mazmur 34:1-8, 19-22 atau Mazmur 126&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Ibrani 7:23-28&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 10:46-52&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERINGATAN SEMUA ORANG KUDUS (1 November atau hari Minggu pertama November)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 25:6-9 atau Amsal 3:1-9&lt;br /&gt;Mazmur 24&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Wahyu 21:1-6a&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 11:32-44&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XXVI&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Rut 1:1-18 atau Ulangan 6:1-9&lt;br /&gt;Mazmur 146 atau Mazmur 119:1-8&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Ibrani 9:11-14&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 12:28-34&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XXVII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Ruth 3:1-5, 4:13-17 atau 1Raja-raja 17:8-16&lt;br /&gt;Mazmur 127 atau Mazmur 146&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Ibrani 9:24-28&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 12:38-44&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XXVIII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama 1Samuel 1:4-20 atau 1Samuel 2:1-10 atau Daniel 12:1-3&lt;br /&gt;Mazmur 16&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Ibrani 10:11-14, 15-18, 19-25&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Markus 13:1-8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XXIX (MINGGU KRISTUS RAJA)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama 2 Samuel 23:1-7 atau Daniel 7:9-10, 13-14&lt;br /&gt;Mazmur 132:1-12, 13-18 atau Mazmur 93&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Wahyu 1:4b-8&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 18:33-37&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;*) Leksionari ini dibuat berdasarkan Revised Common Lectionay&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-5332630789428735261?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/5332630789428735261/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=5332630789428735261&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/5332630789428735261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/5332630789428735261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2007/12/leksionari-tahun-b.html' title='LEKSIONARI TAHUN B'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-3986033795824040421</id><published>2007-12-13T20:13:00.000+07:00</published><updated>2007-12-15T09:46:31.105+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='leksionari'/><title type='text'>LEKSIONARI TAHUN A</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;(2008, 2011, 2014, 2017, 2020, 2023)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADVEN I&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 2:1-5Mazmur 122Surat Rasuli atau Epistel Roma 13:11-14&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 24:36-44&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADVEN II&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 11:1-10&lt;br /&gt;Mazmur 72:1-7, 18-19&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Roma 15:4-13&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 3:1-12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADVEN III&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 35:1-10&lt;br /&gt;Mazmur 146:5-10 atau Lukas 1:47-55&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Yakobus 5:7-10&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 11:2-11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADVEN IV&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 7:10-16&lt;br /&gt;Mazmur 80:1-7, 17-19&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Roma 1:1-7&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 1:18-25&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NATAL I (24 Desember, malam)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 9:2-7&lt;br /&gt;Mazmur 96&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Titus 2:11-14&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 2:1-14, 15-20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NATAL II (25 Desember, pagi)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 62:6-12&lt;br /&gt;Mazmur 97&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Titus 3:4-7&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 2:1-7, 8-20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NATAL III (25 Desember, siang)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 52:7-10&lt;br /&gt;Mazmur 98&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Ibrani 1:1-4, 5-12&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 1:1-14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PERTAMA SETELAH NATAL&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 63:7-9&lt;br /&gt;Mazmur 148&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Ibrani 2:10-18&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 2:13-23&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YESUS DIBERI NAMA (1 Januari) (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Bilangan 6:22-27&lt;br /&gt;Mazmur 8&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Galatia 4:4-7 atau Filipi 2:5-11&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 2:15-21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun Baru (1 Januari) (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Pengkhotbah 3:1-13&lt;br /&gt;Mazmur 8&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Wahyu 21:1-6a&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 25:31-46&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU KEDUA SETELAH NATAL (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yeremia 31:7-14&lt;br /&gt;Mazmur 147:12-20 atau Kebijaksanaan Salomo 10:15-21 atau Yesus bin Sirakh 24:1-12&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Efesus 1:3-14&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 1:1-9, 10-18&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA (6 Januari, A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 60:1-6&lt;br /&gt;Mazmur 72:1-7, 10-14&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Efesus 3:1-12&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 2:1-12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA I TUHAN DIBAPTIS&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 42:1-9&lt;br /&gt;Mazmur 29&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Kisah Para Rasul 10:34-43&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 3:13-17&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA II&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 49:1-7&lt;br /&gt;Mazmur 40:1-11&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 1:1-9&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 1:29-42&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA III&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 9:1-4&lt;br /&gt;Mazmur 27:1, 4-9&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 1:10-18&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 4:12-23&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA IV&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Mikha 6:1-8&lt;br /&gt;Mazmur 15&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 1:18-31&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 5:1-12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA V&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 58:1-9a, 9b-12&lt;br /&gt;Mazmur 112:1-9, 10&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 2:1-12, 13-16&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 5:13-20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA VI&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Ulangan 30:15-20 atau Yesus bin Sirakh 15:15-20&lt;br /&gt;Mazmur 119:1-8&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 3:1-9&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 5:21-37&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA VII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Imamat 19:1-2, 9-18&lt;br /&gt;Mazmur 119:33-40&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 3:10-11, 16-23&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 5:38-48&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA VIII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 49:8-16a&lt;br /&gt;Mazmur 131&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 4:1-5&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 6:24-34&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EPIFANIA IX&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Ulangan 11:18-21, 26-28&lt;br /&gt;Mazmur 31:1-5, 19-24&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Roma 1:16-17, 3:22b-28, 29-31&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 7:21-29&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU TRANSFIGURASI (TUHAN DIMULIAKAN)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Keluaran 24:12-18&lt;br /&gt;Mazmur 2 atau Mazmur 99&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 2Petrus 1:16-21&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 17:1-9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RABU ABU (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Joel 2:1-2, 12-17 atau Yesaya 58:1-12&lt;br /&gt;Mazmur 51:1-17&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 2Korintus 5:20b-6:10&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium: Matius 6:1-6, 16-21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PRAPASKA I&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Kejadian 2:15-17, 3:1-7&lt;br /&gt;Mazmur 32&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Roma 5:12-19&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium: Matius 4:1-11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PRAPASKA II&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Kejadian 12:1-4a&lt;br /&gt;Mazmur 121&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Roma 4:1-5, 13-17&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium: Yohanes 3:1-17 atau Matius 17:1-9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PRAPASKA III&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Keluaran 17:1-7&lt;br /&gt;Mazmur 95&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Roma 5:1-11&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium: Yohanes 4:5-42&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PRAPASKA IV&lt;br /&gt;Perjanjian Lama 1 Samuel 16:1-13&lt;br /&gt;Mazmur 23&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Efesus 5:8-14&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium: Yohanes 9:1-41&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PRAPASKA V&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yehezkiel 37:1-14&lt;br /&gt;Mazmur 130&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Roma 8:6-11&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium: Yohanes 11:1-45&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PALEM DAN SENGSARA&lt;br /&gt;Bagian I&lt;br /&gt;Matius 21:1-11Mazmur 118:1-2, 19-29&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian II&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 50:4-9a&lt;br /&gt;Mazmur 31:9-16&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Filipi 2:5-11&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium: Matius 26:14-27:66 atau Matius 27:11-54&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENIN DALAM PEKAN SUCI&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 42:1-9&lt;br /&gt;Mazmur 36:5-11&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Ibrani 9:11-15&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium: Yohanes 12:1-11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELASA DALAM PEKAN SUCI&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 49:1-7&lt;br /&gt;Mazmur 71:1-14&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 1:18-31&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium: Yohanes 12:20-36&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RABU DALAM PEKAN SUCI&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 50:4-9a&lt;br /&gt;Mazmur 70&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Ibrani 12:1-3&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium: Yohanes 13:21-32&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAMIS PUTIH atau KAMIS SUCI (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Keluaran 12:1-4, 5-10, 11-14&lt;br /&gt;Mazmur 116:1-2, 12-19&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 11:23-26&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium: Yohanes 13:1-17, 31b-35&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUMAT AGUNG (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 52:13-53:12&lt;br /&gt;Mazmur 22&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Ibrani 10:16-25 atau 4:14-16, 5:7-9&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium: Yohanes 18:1-19:42&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SABTU SUNYI (A-B-C)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Ayub 14:1-14 atau Ratapan 3:1-9, 19-24&lt;br /&gt;Mazmur 31:1-4, 15-16&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Petrus 4:1-8&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium: Matius 27:57-66 atau Yohanes 19:38-42&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MALAM PASKA (A-B-C)&lt;br /&gt;Kejadian 1:1-2:4a&lt;br /&gt;Mazmur 136:1-9, 23-26&lt;br /&gt;Kejadian 7:1-5, 11-18, 8:6-18, 9:8-13&lt;br /&gt;Mazmur 46&lt;br /&gt;Kejadian 22:1-18&lt;br /&gt;Mazmur 16&lt;br /&gt;Keluaran 14:10-31, 15:20-21&lt;br /&gt;Keluaran 15:1b-13, 17-18&lt;br /&gt;Yesaya 55:1-11&lt;br /&gt;Yesaya 12:2-6&lt;br /&gt;Amsal 8:1-8, 19-21, 9:4b-6 atau Baruch 3:9-15, 32-4:4&lt;br /&gt;Mazmur 19&lt;br /&gt;Yehezkiel 36:24-28&lt;br /&gt;Mazmur 42 dan 43&lt;br /&gt;Yehezkiel 37:1-14&lt;br /&gt;Mazmur 143&lt;br /&gt;Zefanya 3:14-20&lt;br /&gt;Mazmur 98&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembacaan Perjanjian Baru (A,B,C)&lt;br /&gt;Roma 6:3-11&lt;br /&gt;Mazmur 114&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 28:1-10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PASKA&lt;br /&gt;Pembacaan Pertama Kisah Para Rasul 10:34-43 atau Yeremia 31:1-6&lt;br /&gt;Mazmur 118:1-2, 14-24&lt;br /&gt;Pembacaan Kedua Kolose 3:1-4 atau Kisah Para Rasul 10:34-43&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 20:1-18 atau Matius 28:1-10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PASKA (IBADAH PETANG-MALAM)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yesaya 25:6-9&lt;br /&gt;Mazmur 114&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Korintus 5:6b-8&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 24:13-49&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PASKA II&lt;br /&gt;Kisah Para Rasul 2:14a, 22-32&lt;br /&gt;Mazmur 16&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Petrus 1:3-9&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 20:19-31&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PASKA III&lt;br /&gt;Kisah Para Rasul 2:14a, 36-41&lt;br /&gt;Mazmur 116:1-4, 12-19&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Petrus 1:17-23&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 24:13-35&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PASKA IV&lt;br /&gt;Kisah Para Rasul 2:42-47&lt;br /&gt;Mazmur 23&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Petrus 2:19-25&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 10:1-10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PASKA V&lt;br /&gt;Kisah Para Rasul 7:55-60&lt;br /&gt;Mazmur 31:1-5, 15-16&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Petrus 2:2-10&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 14:1-14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PASKA VI&lt;br /&gt;Kisah Para Rasul 17:22-31&lt;br /&gt;Mazmur 66:8-20&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Petrus 3:13-22&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 14:15-21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN YESUS NAIK KE SORGA (A-B-C)&lt;br /&gt;Kisah Para Rasul 1:1-11&lt;br /&gt;Mazmur 47 atau Mazmur 93&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Efesus 1:15-23&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Lukas 24:44-53&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU PASKA VII&lt;br /&gt;Kisah Para Rasul 1:6-14&lt;br /&gt;Mazmur 68:1-10, 32-35&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Petrus 4:12-14, 5:6-11&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Yohanes 17:1-11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENTAKOSTA&lt;br /&gt;Pembacaan PertamaKisah Para Rasul 2:1-21 atau Bilangan 11:24-30&lt;br /&gt;Mazmur 104:24-34, 35b&lt;br /&gt;Pembacaan Kedua1Korintus 12:3b-13 atau Kisah Para Rasul 2:1-21&lt;br /&gt;Injil atau EvangeliumYohanes 20:19-23 atau 7:37-39&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU TRINITATIS&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Kejadian 1:1-2:4a&lt;br /&gt;Mazmur 8&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 2Korintus 13:11-13&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 28:16-20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA IV&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Kejadian 6:9-22, 7:24, 8:14-19 atau Ulangan 11:18-21, 26-28&lt;br /&gt;Mazmur 46 atau Mazmur 31:1-5, 19-24&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Roma 1:16-17, 3:22b-28, 29-31&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 7:21-29&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA V&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Kejadian 12:1-9 atau Hosea 5:15-6:6&lt;br /&gt;Mazmur 33:1-12 atau Mazmur 50:7-15&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Roma 4:13-25&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 9:9-13, 18-26&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA VI&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Kejadian 18:1-15, 21:1-7 atau Keluaran 19:2-8a&lt;br /&gt;Mazmur 116:1-2, 12-19 atau Mazmur 100&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Roma 5:1-8&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 9:35-10:8 (9-23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA VII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Kejadian 21:8-21 atau Yeremia 20:7-13&lt;br /&gt;Mazmur 86:1-10, 16-17 atau Mazmur 69:7-10, 11-15, 16-18&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Roma 6:1b-11&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 10:24-39&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA VIII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Kejadian 22:1-14&lt;br /&gt;Mazmur 13 atau Mazmur 89:1-4, 15-18 atau Yeremia 28:5-9&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Roma 6:12-23&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 10:40-42&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA IX&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Kejadian 24:34-38, 42-29, 58-67 atau Zakharia 9:9-12&lt;br /&gt;Mazmur 45:10-17 atau Mazmur 145:8-14 atau Kidung Agung 2:8-13&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Roma 7:15-25a&lt;br /&gt;Injil atau EvangeliumMatius 11:16-19, 25-30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA X&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Kejadian 25:19-34 atau Yesaya 55:10-13&lt;br /&gt;Mazmur 119:105-112 atau Mazmur 65:1-8, 9-13&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Roma 8:1-11&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 13:1-9, 18-23&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XI&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Kejadian 28:10-19a atau Kebijaksanaan Salomo 12:13, 16-19 atau Yesaya 44:6-8&lt;br /&gt;Mazmur 139:1-12, 23-24 atau Mazmur 86:11-17&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Roma 8:12-25&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 13:24-30, 36-43&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Kejadian 29:15-28 atau 1Raja-raja 3:5-12&lt;br /&gt;Mazmur 105:1-11, 45b atau Mazmur 119:129-136 atau Mazmur 128&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Roma 8:26-39&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 13:31-33, 44-52&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XIII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Kejadian 32:22-31 atau Yesaya 55:1-5&lt;br /&gt;Mazmur 17:1-7, 15 atau Mazmur 145:8-9, 14-21&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Roma 9:1-5&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 14:13-21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XIV&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Kejadian 37:1-4, 12-28 atau 1Raja-raja 19:9-18&lt;br /&gt;Mazmur 105:1-6, 16-22, 45b atau Mazmur 85:8-13&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Roma 10:5-15&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 14:22-33&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XV&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Kejadian 45:1-15 atau Yesaya 56:1, 6-8&lt;br /&gt;Mazmur 133 atau Mazmur 67&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Roma 11:1-2a, 29-32&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 15:10-20, 21-28&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XVI&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Keluaran 1:8-2:10 atau Yesaya 51:1-6&lt;br /&gt;Mazmur 124 atau Mazmur 138&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Roma 12:1-8&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 16:13-20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XVII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Keluaran 3:1-15 atau Yeremia 15:15-21&lt;br /&gt;Mazmur 105:1-6, 23-26, 45c atau Mazmur 26:1-8&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Roma 12:9-21&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 16:21-28&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XVIII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Keluaran 12:1-14 atau Yehezkiel 33:7-11&lt;br /&gt;Mazmur 149 atau Mazmur 119:33-40&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Roma 13:8-14&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 18:15-20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XIX&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Keluaran 14:19-31 atau Keluaran 15:1b-11, 20-21 atau Kejadian 50:15-21&lt;br /&gt;Mazmur 114 atau Mazmur 103:1-7, 8-13&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Roma 14:1-12&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 18:21-35&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XX&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Keluaran 16:2-15 atau Yunus 3:10-4:11&lt;br /&gt;Mazmur 105:1-6, 37-45 atau Mazmur 145:1-8&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Filipi 1:21-30&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 20:1-16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XXI&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Keluaran 17:1-7 atau Yehezkiel 18:1-4, 25-32&lt;br /&gt;Mazmur 78:1-4, 12-16 atau Mazmur 25:1-9&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Filipi 2:1-13&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 21:23-32&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XXII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Keluaran 20:1-4, 7-9, 12-20 atau Yesaya 5:1-7&lt;br /&gt;Mazmur 19 atau Mazmur 80:7-15&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Filipi 3:4b-14&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 21:33-46&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XXIII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Keluaran 32:1-14 atau Yesaya 25:1-9&lt;br /&gt;Mazmur 106:1-6, 19-23 atau Mazmur 23&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Filipi 4:1-9&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 22:1-14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XXIV&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Keluaran 33:12-23 atau Yesaya 45:1-7&lt;br /&gt;Mazmur 99 atau Mazmur 96:1-9, 10-13&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Tesalonika 1:1-10&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 22:15-22&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XXV&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Ulangan 34:1-12 atau Imamat 19:1-2, 15-18&lt;br /&gt;Mazmur 90:1-6, 13-17 atau Mazmur 1&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Tesalonika 2:1-8&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 22:34-46&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERINGATAN SEMUA ORANG KUDUS (1 November atau hari Minggu pertama November)&lt;br /&gt;Wahyu 7:9-17&lt;br /&gt;Mazmur 34:1-10, 22&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1 Yohanes 3:1-3&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 5:1-12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XXVI&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yosua 3:7-17 atau Mikha 3:5-12&lt;br /&gt;Mazmur 107:1-7, 33-37 atau Mazmur 43&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Tesalonika 2:9-13&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 23:1-12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XXVII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yosua 24:1-3a, 14-25 atau Kebijaksanaan Salomo 6:12-16 atau Amos 5:18-24 atau Kebijaksanaan Salomo 6:17-20&lt;br /&gt;Mazmur 78:1-7 atau Mazmur 70&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Tesalonika 4:13-18&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 25:1-13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XXVIII&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Hakim-hakim 4:1-7 atau Zefanya 1:7, 12-18&lt;br /&gt;Mazmur 123 atau Mazmur 90:1-8, 9-11, 12&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel 1Tesalonika 5:1-11&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 25:14-30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MINGGU BIASA XXIX (MINGGU KRISTUS RAJA)&lt;br /&gt;Perjanjian Lama Yehezkiel 34:11-16, 20-24&lt;br /&gt;Mazmur 100 atau Mazmur 95:1-7a&lt;br /&gt;Surat Rasuli atau Epistel Efesus 1:15-23&lt;br /&gt;Injil atau Evangelium Matius 25:31-46&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;*) Leksionari ini dibuat berdasarkan Revised Common Lectionary&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-3986033795824040421?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/3986033795824040421/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=3986033795824040421&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/3986033795824040421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/3986033795824040421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2007/12/leksionari-tahun.html' title='LEKSIONARI TAHUN A'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-705320563731877385</id><published>2007-12-10T22:08:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T22:16:18.328+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perjamuan kudus'/><title type='text'>BAPTISAN (DAN PENEGUHAN SIDI) DAN PERJAMUAN KUDUS</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;SEBUAH TINJAUAN SOSIO-TEOLOGIS&lt;br /&gt;BAGAIMANA ANAK (TIDAK) IKUT PERJAMUAN KUDUS&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Rasid Rachman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Baptisan dan fenomena inisiasi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Adanya praktek baptisan dan peneguhan sidi di Gereja-gereja merupakan fenomena umum apabila dilihat melalui kacamata sosiologis, yakni upacara inisiasi. Inisiasi berasal dari kata initiatio: peresmian, upacara penerimaan; initium: awal, mulai. Hampir setiap komunitas masyarakat: negara, kampus, biara, palang merah, Pramuka, perguruan silat, dsb., baik tradisional maupun modern, memiliki ritus inisiasi. Seseorang yang ingin masuk ke dalam komunitas tersebut harus melewati sejumlah pengujian layak atau tidaknya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Pengujian itu harus ditempuh agar seseorang diakui sebagai “warga resmi” komunitas tersebut, dengan memiliki sejumlah hak dan kewajibannya.&lt;br /&gt;Gereja yang lahir sebagai salah satu unsur masyarakat pun memiliki warisan dan imbasan fenomena inisiasi. Dengan melewati tahap baptisan (dan peneguhan sidi), seseorang resmi diakui sebagai warga gereja dan bahkan warga Kristen universal. Dengan demikian ia memiliki sejumlah hak dan kewajiban. Semula, menurut naskah-naskah Perjanjian Baru baptisan sebagai ritus inisiasi adalah sederhana. Dalam perjalanan sejarah Gereja, hak dan kewajiban tersebut beberapa kali mengalami pergeseran makna, pertambahan, pengurangan, variasi, adaptasi, kontekstualiasasi, reinterpretasi, dsb. sehingga menjadi seperti yang kita kenal dan alami saat ini.&lt;br /&gt;Baptisan merupakan upacara inisiasi yang telah lama dipraktekkan oleh Gereja, dan berlaku secara universal. Baptisan berasal dari kata βάπτίζω: mencelupkan ke dalam air, membasuh dengan air, wudu, mencuci. Inisiasi baptisan yang menggunakan air sebagai sarana merupakan warisan pengaruh dari masyakarat umum ketika Gereja mula-mula berdiri. Komunitas Yahudi Qumran dan Yohanes Pembaptis seringkali disinyalir sebagai pembawa tradisi inisiasi baptisan Kristen dengan sarana air – jelas berbeda dengan inisiasi sunat, sebagaimana dipraktekkan oleh umat Israel dalam Perjanjian Lama.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun tradisi Gereja awal menggunakan air hidup, yakni air mengalir atau mata air, namun tidak lama setelah abad pertama tradisi Gereja memberikan alternatif menggunakan air tidak mengalir. Didakhe menuliskan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baptisan sebagai berikut: setelah ada penjelasan tentang segala hal yang penting perihal pembaptisan, maka baptislah di dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, di dalam air mengalir. Tetapi apabila tidak mempunyai air mengalir, baptislah dengan air yang lain; apabila tidak ada air dingin, pergunakanlah air hangat; tetapi apabila tidak punya air banyak, tuangkanlah air ke atas kepala sejumlah tiga kali di dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air apa pun boleh digunakan untuk membaptis, sebab yang ingin ditekankan di sini adalah air sebagai alat pembersih yang bersifat natural, simbol kehidupan dan kesuburan (Yes 41:17). Baptisan dengan menggunakan sarana air menyimbolkan pembersihan dari kenajisan, yakni dosa. Setelah pembersihan karena dosa, maka kini ada kehidupan; atau dipahami juga sebagai keselamatan. Kehidupan dipahami sebagai karya Roh Kudus. Oleh karena itu dalam Perjanjian Baru, baptisan biasa dihubungkan dengan pengampunan dosa dan Roh Kudus yang menerangi, membenarkan, menguduskan, dan menghidupkan (Yoh 1:33; 3:5-8; Kis 2:38; 9:17-18; Kol 2:12-13; Tit 3:5-6).&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Seseorang yang ingin (dianggap) termasuk peguyuban Kristen tersebut – mereka yang telah memperoleh pengampunan dosa, mendapat curahan Roh Kudus, dikuduskan, dsb. – masuk melalui ritus inisiasi baptisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Peneguhan sidi (&lt;em&gt;confirmatio&lt;/em&gt;) sebagai inisiasi berikut&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lama kelamaan, ritus inisiasi dengan air: baptisan, ini dilengkapi dengan pencurahan Roh Kudus – yang entah bagaimana datangnya, kemudian dilakukan melalui penumpangan tangan. Perkembangan tersebut ditampilkan dalam liturgi baptisan pada hari raya Paska, menurut Hippolytus, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada jam ayam berkokok inisiasi dimulai dengan pemberkatan air baptisan, minyak eksorsisme, dan krisma, oleh Uskup. Para calon baptis membuka pakaian, lalu melakukan eksorsisme: “Aku menolak setan, …” di hadapan Imam. Imam mengolesi badan mereka dengan minyak, sambil berkata: “Pergilah, setan-setan, pergilah darinya!” Lalu, calon baptis masuk ke tempat air, di mana Imam dan Diakon telah ada di situ sebelumnya.&lt;br /&gt;1] Baptisan dilakukan dengan menyelamkannya. Sebelumnya Imam menanyakan kepercayaan calon baptis: “Apakah angkau percaya kepada Allah, Bapa?” Calon baptis menjawab: “Ya.” Maka ia dimasukkan ke dalam air; tangan Imam menekan kepalanya.&lt;br /&gt;Setelah tanya-jawab Tritunggal dan pembaptisan tersebut dilakukan, calon baptis naik dari air. Imam lain kemudian meminyaki kepalanya dengan krisma: “Aku meminyaki engkau dengan minyak kudus dalam nama Yesus Kristus.”&lt;br /&gt;2] Setelah calon baptis berpakaian, Uskup menumpangkan tangan ke atas mereka, lalu memohonkan: “Tuhan Allah yang telah memperhitungkan pelayanan mereka, melimpahi mereka dengan Roh Kudus dan menganugerahi mereka agar melayani-Mu sesuai dengan kehendak-Mu ….”&lt;br /&gt;Kemudian Uskup menuangkan minyak krisma dan meletakkan tangan ke atas kepala calon baptis tadi, dan berkata: “Aku meminyaki engkau dengan minyak kudus di dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus.” Uskup memberikan tanda juga pada dahi calon baptis tersebut dan memberikan cium kudus.&lt;br /&gt;Setelah ritus baptisan ini selesai, para baptisan baru tersebut masuk ke ruang ibadah, bergabung dengan umat lain, dan merayakan perjamuan kudus. Perjamuan kudus tersebut adalah perjamuan mereka yang pertama.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, ketiga ritus yang kini terpisah: baptisan, peneguhan sidi, dan perjamuan kudus, merupakan satu ritus inisiasi pada zaman Patristik. Ketiga elemen atau sarana simbol pun digunakan, yaitu: 1) air, untuk baptisan; 2) Roh Kudus, untuk peneguhan sidi; 3) roti dan anggur, untuk perjamuan kudus. Terutama air dan Roh Kudus dalam baptisan dipandang sama sejajar sebagaimana roti dan anggur dalam perjamuan kudus.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Selain ketidakterpisahan antara baptisan dan sidi, juga mengindikasikan bahwa baptisan tersebut diterimakan kepada orang dewasa. Sebab calon baptis menjawab sendiri pertanyaan baptisannya. Lagipula, Perjanjian Baru tidak pernah secara eksplisit menyatakan adanya baptisan kepada anak,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt; walaupun tidak tertutup kemungkinan adanya anak yang dibaptis di antara ribuan orang yang dibaptis sekaligus pada zaman para Rasul.&lt;br /&gt;Abad ke-5 adalah masa puncak fenomenal pemisahan sidi dari baptisan. Namun baru pada abad ke-11 di Gereja Barat,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt; terjadi pemisahan dan sekaligus pengurutan mana-mana sakramen yang didahulukan dan yang kemudian antara baptisan dengan peneguhan sidi. Di Gereja Roma Katolik pemisahan tersebut bukan melulu menyangkut alasan karena jemaat yang dibaptis masih usia anak, maka tunggu usia dewasa baru seseorang diterimakan sidi, tetapi juga pada urutan makna. Dalam urutan sakramen – sebagaimana teologi yang berkembang pada Abad-abad Pertengahan – adalah sebagai berikut: pertama, baptisan; kedua, pengakuan dosa; ketiga, perjamuan pertama; keempat, penguatan; dst.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Soal terjadinya urutan itu, logikanya kira-kira begini: karena kelahiran, tak dapat ditawar, seseorang menerima baptisan. Oleh karena masih bayi, maka sidinya ditangguhkan, namun perjamuan kudus dapat diterimakan kepadanya karena telah dibaptis. Untuk menandakan seseorang layak atau tidak menerima komuni, maka dibuatlah sakramen pengakuan dosa sebelum perjamuan kudus.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pemisahan ritus baptisan dari peneguhan sidi: yang mana baptisan dan yang mana sidi, adalah pada penggunaan air. Sebagaimana kutipan praktek baptisan di atas, nomor 1] merupakan ritus baptisan, nomor 2] adalah bagian yang kemudian disebut sidi atau penguatan. Sidi dengan penumpangan tangan dengan satu atau dua tangan tersebut dilakukan dengan atau tanpa perminyakan, meminyaki dahi atau seluruh tubuh, membuat tanda salib di dahi dengan atau tanpa minyak; waktu itu belum ada keseragaman praktek di antara induk-induk liturgi.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt; Adanya pencurahan Roh Kudus merupakan pemahaman umum dalam ritus baptisan dan peneguhan sidi. Juga merupakan pemahaman umum – walaupun didahului oleh penafsiran personal setiap Uskup dan teolog zaman itu – bahwa tata gerak Uskup yang meneguhkan calon sidi tersebut dilihat sebagai telah diterimanya calon sidi tersebut ke dalam persekutuan Gereja bagi orang baru dan tanda rekonsiliasi bagi mereka yang pernah menjadi bidat.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini dan dalam menanggapi hal pengurutan sakramen-sakramen, tidak semua teolog (termasuk dari Roma Katolik) bersetuju dengan pemisahan tersebut.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt; Artinya, tidak bersetuju bahwa sidi ditempatkan setelah perjamuan kudus pertama. Sebab bagaimana pun, sidi (atau sakramen penguatan) merupakan ritus yang menyertai (act subsequent to) dan memperlengkapi atau bahkan menyempurnakan baptisan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn14" name="_ftnref14"&gt;[14]&lt;/a&gt; Bahasa Indonesia: sidi, berarti sempurna. Logikanya: tidaklah mungkin memisahkan peneguhan sidi dari baptisan hanya karena alasan seseorang belum akilbalig untuk menerima peneguhan sidi. Konsekuensinya, antara baptisan dan sidi tidak boleh ada “jeda” yang diisi dengan sakramen lain, misalnya: perjamuan kudus.&lt;br /&gt;Namun menurut pihak yang bersetuju memiliki dasar biblis pula bahwa dalam peguyuban Paulus tidak ada penumpangan tangan yang menyertai baptisan air.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn15" name="_ftnref15"&gt;[15]&lt;/a&gt; Praktek liturgi Gereja awal, penumpangan tangan tidak berhubungan sama sekali dengan Roh Kudus sehingga dapat disebut sebagai akar peneguhan sidi. Sekalipun 2Korintus 1:21 telah menuliskan “meneguhkan”, namun istilah confirmatio (penetapan, penguatan) sendiri – sebagaimana praktek peneguhan sidi – baru muncul pada sekitar abad ke-5 di Gereja Barat atau setelah ada pemisahan yang tegas antara baptisan dan peneguhan sidi. Memang beberapa naskah Perjanjian Baru mencantumkan pencurahan Roh Kudus, namun tidak selalu berhubungan dengan baptisan,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn16" name="_ftnref16"&gt;[16]&lt;/a&gt; sehingga tidak pas apabila disejajarkan dengan peneguhan sidi sebagaimana pemahaman masa kini.&lt;br /&gt;Dalam praktek di dalam sejarah Gereja Roma Katolik, kedua pendapat tersebut tidak pernah ditolak, walaupun masih tetap diperdebatkan hingga kini. Jelas, satu-satunya “kambing hitam” yang diajukan sehubungan dengan polemik teologis perihal adanya peneguhan sidi adalah baptisan anak.&lt;br /&gt;Melihat perbedaan tersebut Gereja-gereja Protestan di Indonesia (termasuk GKI) rupanya lebih dapat memuaskan keinginan teologis mereka yang memandang baptisan (dan sidi) dan perjamuan kudus adalah dua sakramen yang saling menyertai. Namun tunggu dulu! Peneguhan sidi bagi Gereja-gereja Protestan di Indonesia adalah pelantikan seseorang menjadi anggota jemaat penuh dengan kewajiban dan haknya, baik ikut perjamuan kudus maupun kawin dan terpilih menjadi pejabat gereja.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn17" name="_ftnref17"&gt;[17]&lt;/a&gt; Kalau baptisan anak dipandang sebagai inisiasi belum penuh, maka peneguhan sidi adalah inisiasi penuh. Akar dari pemahaman tersebut telah ada sejak zaman Reformasi abad ke-16. Luther dan Calvin memahami sidi sebagai pendahulu perjamuan kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pihak lain hendak dipertahankan bahwa anak-anak dididik dalam iman sebelum mereka ikut dalam perjamuan kudus, suatu hal yang justru ditegaskan pada akhir Abad-abad Pertengahan. Sekaligus tidak ada keberatan untuk mempertahankan kebiasaan untuk menyertai komuni pertama, saat pertama anak ikut dalam perjamuan kudus, dengan upacara khusus, yang tidak bersifat sakramen, namun penuh khidmat. Demikianlah diciptakan konfirmasi atau peneguhan sidi Protestan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn18" name="_ftnref18"&gt;[18]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, peneguhan sidi adalah prasyarat untuk perjamuan kudus pertama. Hanya sidi itu memang berlangsung pada usia seseorang masih dini: sekitar 10 tahun,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn19" name="_ftnref19"&gt;[19]&lt;/a&gt; dan belum akilbalig; tentu belum layak menikah. Seseorang baru dinyatakan akilbalig atau dewasa secara hukum, yakni disebut anggota sidi (lama setelah dilakukan peneguhan sidi kepadanya) dengan hak untuk memilih dan dipilih sebagai pejabat gereja, adalah 18 tahun.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn20" name="_ftnref20"&gt;[20]&lt;/a&gt; Jadi Calvin membedakan antara peneguhan sidi untuk perjamuan kudus dan pernyataan dewasanya seseorang yang akilbalig. Bagi Calvin adalah dimungkinkan orang yang telah disidi dan ikut perjamuan kudus tidak serta merta memiliki hak menjadi pejabat gereja dan menikah, karena masih di bawah umur.&lt;br /&gt;Praktek dan pemahaman Gereja-gereja Protestan di Indonesia selama ini seringkali terbalik dan agak rancu, antara peneguhan sidi dan kedewasaan. “Bukan orang harus menjadi dewasa lebih dahulu baru dapat menjadi anggota sidi Gereja, tetapi ia harus disidi untuk menjadi dewasa.”&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn21" name="_ftnref21"&gt;[21]&lt;/a&gt; Hal ini masih sering terjadi di mana Majelis Jemaat buru-buru meneguhkan sidi seseorang sebab bulan depan ia menikah.&lt;br /&gt;TALAK GKI menetapkan syarat usia calon baptis (pasal 22:2a) dan calon sidi (pasal 25:2a) adalah 15 tahun.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn22" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn22" name="_ftnref22"&gt;[22]&lt;/a&gt; Syarat usia sudah dipraktekkan oleh Sinode-sinode Wilayah sejak lama dan beberapa kali mengalami perubahan. Tak ada alasan tertulis tentang munculnya perubahan usia tersebut, namun tampaknya berhubungan dengan usia boleh kawin atau belum,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn23" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn23" name="_ftnref23"&gt;[23]&lt;/a&gt; kecuali TALAK GKI yang tampaknya tidak terlalu berdasarkan kawin tersebut. Perubahan-perubahan usia tersebut merupakan penyesuaian usia cukup untuk menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Baptisan anak: alasan kemunculannya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena sejak semula baptisan dihubungkan dengan keselamatan, dan karena seringkali terjadi seorang anak atau bayi meninggal sebelum dibaptis, maka muncullah praktek seseorang dibaptis secepat mungkin setelah kelahirannya. Tidak jelas kapan dan di mana tepatnya praktek ini semula muncul, namun Gereja-gereja di wilayah Afrika Utara: Karthago dan Aleksandria, telah lazim membaptiskan bayi sejak abad ke-3. Origenes, Cyprianus, Augustinus mengemukakan bahwa seseorang telah memiliki dosa warisan atau dosa asal. Oleh sebab itu, seawal mungkin patutlah seseorang – melalui orangtuanya – dinyatakan terhapus dari warisan dosa tersebut, tidak perlu tunggu ia dewasa.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn24" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn24" name="_ftnref24"&gt;[24]&lt;/a&gt; Yesus memberkati anak-anak (Mat 19:13-15; Mrk 10:13-16; Luk 18:15-17) telah lazim digunakan sebagai dasar baptisan anak sejak tahun 200-an. Sementara Gereja yang lain menggunakan nas tersebut sebagai penyerahan anak kepada Tuhan, bukan untuk dibaptis.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn25" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn25" name="_ftnref25"&gt;[25]&lt;/a&gt; Sampai kini, Gereja-gereja tetap memakai dasar tersebut untuk baptisan anak; satu-satunya sakramen yang tidak secara langsung diperintahkan oleh Yesus.&lt;br /&gt;Walaupun pandangan Augustinus cs. ditentang oleh Pelagius, baptisan anak tetap dan malahan semakin marak diberlakukan setelah zamannya. Adanya pertentangan itu justru membuktikan adanya praktek baptisan anak waktu itu. Beberapa kekecualian dan cara untuk mengatasi persoalan kanak-kanak, coba diselaraskan untuk keperluan tersebut. Penyelarasan tersebut mau tak-mau menimbulkan perubahan dalam proses pembaptisan. Misalnya: masa katekumenat yang dikenakan kepada calon baptis, untuk baptisan anak ditiadakan; eksorsisme ditiadakan dengan pemahaman bahwa formula yang diucapkan oleh Imam tersebut berlaku otomatis sebagai eksorsisme; tanya-jawab baptisan yang ditujukan kepada calon baptis, kini dapat diwakilkan kepada sponsor atau orangtua rohani hingga anak tersebut dewasa dan dapat mengucapkan imannya sendiri; dan (ini yang langsung berhubungan dengan sidi) eksorsisme dan peneguhan yang biasanya langsung diterapkan, kini ditunda hingga anak tersebut mampu sendiri memahaminya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn26" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn26" name="_ftnref26"&gt;[26]&lt;/a&gt; Saat akilbalig: 15 tahun-an, dirasa saat yang pas untuk melaksanakan maksud itu.&lt;br /&gt;Pernyataan iman itu tetap perlu dan dianggap vital untuk keselamatan. Hingga sebelum anak tersebut dewasa (akilbalig), di mana ia belum mampu menyatakan imannya sendiri, padahal ia berpotensi melakukan perbuatan tak baik secara moral, tugas orangtua rohani atau orangtua serani menjadi berat. Perubahan lain adalah praktis, yakni menuangkan air ke atas kepala calon baptis yang berdiri diri di kolam, berganti menjadi menyelamkan bayi itu ke kolam dengan tangan. Pada mulanya di abad ke-5, cara tersebut dilihat lebih sederhana, ketimbang cara dewasa tadi.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn27" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn27" name="_ftnref27"&gt;[27]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Adanya baptisan anak membuat pemisahan sakramen: dari satu sakramen menjadi dua dan tiga sakramen: baptisan, sidi, dan perjamuan kudus. Umumnya, sidi dilakukan lama setelah seorang anak (atau bayi) dibaptis. Hanya sebentar dalam sejarah gereja abad ke-13 dan ke-14 sidi dilakukan sesegera mungkin setelah baptisan anak, yakni usia 1-2 tahun. Namun segera pula dihapuskan, sebab pencurahan karunia Roh Kudus – kemudian pencurahan Roh Kudus dihubungkan dengan pemberian tujuh karunia (Yes 11: hikmat, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengetahuan, kesetiaan, dan takut akan Tuhan) – justru harus disampaikan kepada seseorang yang telah mengerti.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn28" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn28" name="_ftnref28"&gt;[28]&lt;/a&gt; Artinya, setelah seseorang menjadi agak dewasa, sekitar 8 tahun atau bahkan lebih.&lt;br /&gt;Hingga kini, praktek baptisan anak masih menjadi polemik teologis, termasuk di kalangan Protestan. Sejauh ini polemik besar tersebut dianggap tidak ada, sebagaimana praktek dan teologi peneguhan sidi, sekalipun praktek kedua ritus ini telah berlangsung sangat lama dan dinilai penting.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn29" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn29" name="_ftnref29"&gt;[29]&lt;/a&gt; Itulah sebab, tulisan-tulisan mengenai kedua hal tersebut masih sangat sedikit jumlahnya.&lt;br /&gt;GKI telah lama mempraktekkan baptisan anak. Dasarnya (TALAK GKI Pasal 23): 1) perjanjian anugerah Allah; 2) pengakuan percaya orangtuanya.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn30" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn30" name="_ftnref30"&gt;[30]&lt;/a&gt; Dasar 1) dapat disejajarkan dengan penghapusan dosa warisan sebagaimana pernah dipahami dalam sejarah gereja. Dasar 2) agak bersifat “salah tempat” karena terlalu tidak fundamental sebagai dasar baptisan; mana mungkin dasar seseorang menjadi Kristen hanya karena ia lahir dalam keluarga Kristen. Dasar 2) tersebut sebaiknya ditempatkan secara tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perjamuan kudus di Indonesia: layakkah anak menerimanya?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Jelas, praktek perjamuan kudus dewasa kini tidak lagi sama dengan praktek perjamuan kudus pada zaman Patristik, di mana perjamuan kudus dirayakan berbarengan setelah baptisan dan peneguhan sidi. Oleh karena itu kita menemukan pergumulan tersendiri ketika berhadapan dengan boleh tidaknya seseorang yang telah baptis anak tetapi belum sidi, ikut mengambil bagian dalam perjamuan kudus. Tanpa mengalami proses sejarah gereja masa lalu – begitu lahir kita telah mengalami sendiri baptisan anak dan sidi – setahu kita ketiga ritus tersebut memang terpisah “dari sononya”. Di Indonesia (bahkan di Asia), sejak pertama kali diadakan perjamuan kudus pada 3 Januari 1621 di Batavia, pemisahan sakramen-sakramen justru telah lazim dilakukan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn31" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn31" name="_ftnref31"&gt;[31]&lt;/a&gt; Selama hampir 40 tahun saya menjadi anggota jemaat, tidak pernah saya menyaksikan langsung pelayanan baptisan, peneguhan sidi, dan perjamuan kudus dilakukan bersamaan (kecuali kebaktian yang saya pimpin 4-5 tahun terakhir). Bahkan sebagian Majelis Jemaat bersikap tidak ingin menyelenggarakan baptisan dan perjamuan kudus bersamaan. Hal inilah yang – menurut hemat saya – menutup sikap jemaat untuk melihat adanya kemungkinan perjamuan kudus dirayakan langsung setelah baptisan dan peneguhan sidi, dan bahwa ritus-ritus tersebut asalnya memang satu ritus inisiasi.&lt;br /&gt;Bagaimana menurut Tata Laksana Gereja Kristen Indonesia? Mudah-mudahan bukan “salah nulis” bahwa Talak BAB VIII menulis SAKRAMEN, bukan SAKRAMEN-SAKRAMEN; pasal 21 menulis: “Sakramen yang diakui dan dilaksanakan oleh GKI adalah baptisan kudus dan perjamuan kudus”, bukan “Sakramen-sakramen yang diakui …”.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn32" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn32" name="_ftnref32"&gt;[32]&lt;/a&gt; Dengan demikian ada kesadaran bahwa GKI memandang kesatuan sakramen antara baptisan dan perjamuan kudus, walaupun tidak merupakan kesatuan sakramen dengan peneguhan sidi – berdasarkan Pasal 20:i.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn33" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn33" name="_ftnref33"&gt;[33]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Layak tidaknya seseorang menerima perjamuan kudus, tidak lagi menjadi polemik sejauh orang itu adalah anggota jemaat, tidak dalam penggembalaan khusus, dan telah dibaptis. Namun, bagaimana dengan seorang anak yang telah dibaptis, dan belum sidi. Apakah ia boleh mengambil bagian perjamuan kudus?&lt;br /&gt;Sebagaimana pemisahan sakramen-sakramen, komuni pertama bukan hal baru dalam Gereja Reformasi. Luther mempertahankan kebiasaan Gereja Abad-abad Pertengahan untuk melayankan perjamuan kudus bagi anak dengan suatu upacara yang sekalipun bukan sakramen tetapi khidmat: peneguhan sidi. Bahkan Calvin mengatur suatu upacara dan persiapan khusus sedemikian rupa – misalnya dengan memberi pengumuman satu minggu sebelum perjamuan kudus – agar anak dapat ikut perjamuan kudus.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn34" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn34" name="_ftnref34"&gt;[34]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Memang zaman selalu berubah, demikian pula praktek teologi. Dewasa ini kita berada di zaman oikumenis, di mana Gereja yang oikumenis adalah Gereja yang tidak tersendiri karena selalu ingin berbeda dari yang lain. Sejalan dengan gerakan oikumenis, sebaiknya Gereja-gereja Protestan di Indonesia mulai merefleksi bahwa apabila bisa saling menerima baptisan masing-masing, maka juga dapat terbuka dalam merayakan perjamuan kudus. Keterbukaan bukan hanya melibatkan sebanyak mungkin denominasi, tetapi juga usia dan generasi. Dengan demikian oikumenisitas Gereja menjadi lebih nyata melalui perayaan inisiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Catatan-catatan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Lihat uraian C. Groenen: Sakramen-sakramen Inisiasi Kristen: Baptisan dan Krisma, J.B. Banawiratma (editor), Baptis, Krisma, Ekaristi. Kanisius 1989, 77-79.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Ibid., 88.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Diterjemahkan dari Kenan B. Osborne, The Christian Sacraments of Initiation: Baptism, Confirmation, Eucharist. Paulist, 63, berdasarkan naskah Didakhe.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Groenen, dalam Banawiratma (ed), 90-91.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Dom Gregory Dix, The Theology of Confirmation in Relation to Baptism. Westminster, 12-13. Penomoran 1] dan 2] oleh penulis.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Ibid., 21.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Sejauh ini, pendapat adanya baptisan anak di zaman Perjanjian Baru merupakan perkiraan, yang tidak didukung oleh bukti eksplisit. Perkiraan yang digunakan biasanya adalah jeneralisasi baptisan seisi rumah tangga (Kis 10; 16:15; 16:25-34; 1Kor 1:16; 16:15), baptisan massal di zaman para Rasul (Kis 2:41; 8;12), dan Yesus memberkati anak-anak (Mat 19:13-15). Bnd. Paul K. Jewett, Infant Baptism and The Covenant of Grace. Eerdmans 1978, 47-50.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn8" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Kasus di Gereja Timur berbeda dengan Gereja Barat: air baptisan yang telah diberkati (konsekrasi) sebelumnya telah mengandung Roh Kudus di dalamnya. Oleh sebab itu pemisahan sakramen-sakramen hanya terjadi di Gereja-gereja Barat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn9" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Osborne, 114-115.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn10" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Bnd. Christiaan de Jonge, Apa Itu Calvinisme? BPK GM, 228-229.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn11" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Joseph Martos, Doors to the Sacred: A Historical Introduction to Sacraments in the Catholic Church. New York, 209-210, menunjukkan perbedaan cara masing-masing di Yerusalem, Konstantinopel, Aleksandria, dan Karthago.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn12" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Ibid., 211-212, berdasarkan Konsili Arles (314): seseorang yang pernah menjadi bidat tidak perlu dibaptis ulang, tetapi harus menerima penumpangan tangan kedua untuk pencurahan kembali Roh Kudus yang pernah hilang darinya pada waktu menjadi bidat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn13" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Misal: Groenen, dalam Banawiratma, 104-110; Nueheuser dan A.Benning, sebagaimana dicatat Osborne, 118.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn14" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref14" name="_ftn14"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Osborne, 117-118, mengutip B. Neunheuser.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn15" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref15" name="_ftn15"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Misal: Regli, sebagaimana dicatat Osborne, ibid.,118.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn16" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref16" name="_ftn16"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Ibid., 118-119.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn17" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref17" name="_ftn17"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; De Jonge, 236.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn18" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref18" name="_ftn18"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Ibid., 238.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn19" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref19" name="_ftn19"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Ibid., 239.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn20" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref20" name="_ftn20"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Ibid., 240.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn21" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref21" name="_ftn21"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Ibid., 241.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn22" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref22" name="_ftn22"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Badan Pekerja Majelis Sinode Gereja Kristen Indonesia, Tata Gereja Gereja Kristen Indonesia. Jakarta 2003, 50, 55.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn23" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref23" name="_ftn23"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; DI GKI Jabar, TATA TERTIB terakhir mensyaratkan calon baptis adalah minimal 16 tahun. Sebelumnya, usia calon baptis ditetapkan 14 tahun.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn24" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref24" name="_ftn24"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Martos, 174-175.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn25" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref25" name="_ftn25"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Jewett, 55-56.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn26" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref26" name="_ftn26"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[26]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Martos, 176-177.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn27" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref27" name="_ftn27"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[27]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Ibid., 177-178.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn28" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref28" name="_ftn28"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[28]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Ibid., 220-221. Usia untuk sidi berubah-ubah sejak Abad-abad Pertengahan hingga kini, yakni berkisar antara 7-10 tahun, 8-14 tahun, dan 10-17 tahun, Namun perubahan yang mencolok adalah keikutsertaan anak dalam perjamuan kudus pertama; kadang sebelum sidi, kadang setelah sidi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn29" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref29" name="_ftn29"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[29]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Ibid., 216-217: sejak awal Abad-abad Pertengahan, baptisan anak dan peneguhan sidi telah dimasukkan ke dalam Buku-buku Liturgi Gereja Barat, telah pengaturan petugas yang bukan Uskup untuk memberikan perminyakan bagi katekumen yang sekarat, pemberkatan minyak krisma, dsb. De Jonge, 2020-203: Calvin tidak bersetuju menyelenggarakan baptisan anak dalam keadaan sekarat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn30" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref30" name="_ftn30"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[30]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Badan Pekerja Majelis Sinode Gereja Kristen Indonesia, 52.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn31" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref31" name="_ftn31"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[31]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; De Jonge, 233-234. Tentang latar belakang terjadi pemisahan sakramen-sakramen, lihat I.H. Enklaar, Baptisan Massal dan Pemisahan Sakramen-sakramen. BPK 1978. Terjadinya pemisahan tersebut adalah akibatnya banyaknya jumlah umat dan sedikitnya jumlah Imam yang mampu melayankan perjamuan kudus. Sementara pembaptisan dilakukan oleh siapa pun – sekalipun bukan Pastor atau Pendeta – sehingga diragukan kualitas pengetahuan dan kesiapannya sebagai Kristen, sementara perjamuan kudus hanya harus dilayankan oleh Imam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn32" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref32" name="_ftn32"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[32]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Badan Pekerja Majelis Sinode Gereja Kristen Indonesia, 49.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn33" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref33" name="_ftn33"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[33]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Ibid., 49.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn34" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref34" name="_ftn34"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[34]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; De Jonge, 238-239.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;*) Makalah ini dipresentasikan dalam Seminar Teologi Terbatas Gereja Kristen Indonesia, 22 November 2003&lt;br /&gt;“Mencermati Konsep Doktrinal GKI Mengenai Baptisan dan Perjamuan Kudus dari Perspektif Biblika, Sejarah, dan Sosiologi”&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-705320563731877385?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/705320563731877385/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=705320563731877385&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/705320563731877385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/705320563731877385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2007/12/baptisan-dan-peenguhan-sidi-dan.html' title='BAPTISAN (DAN PENEGUHAN SIDI) DAN PERJAMUAN KUDUS'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-6217351604612168526</id><published>2007-12-10T21:50:00.000+07:00</published><updated>2007-12-11T11:04:19.607+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyanyian jemaat'/><title type='text'>HAKIKAT NYANYIAN JEMAAT</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R14MK_S8LoI/AAAAAAAAACc/qdCXEP1scyQ/s1600-h/IMG_0177.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5142561207432785538" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" height="106" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R14MK_S8LoI/AAAAAAAAACc/qdCXEP1scyQ/s200/IMG_0177.JPG" width="164" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;(1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja sebagai persekutuan umat percaya yang diutus keluar (Yun: ekklesia) oleh Tuhan Allah adalah persekutuan yang bernyanyi. Umat bernyanyi di dalam ibadah. Ini telah dilakukan sejak awal peribadahan Kristen. Di dalam Injil (Mat 26:30 // Mrk 14:26) diinformasikan bahwa Yesus dan murid-murid-Nya bernyanyi di dalam perjamuan malam itu. Perjamuan malam itu adalah perjamuan Paska. Dalam tradisi Yahudi, umat menyanyikan Mazmur 113-118 sebagai Mazmur Paska yang disebut Hallel.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Hampir dapat dipastikan bahwa ini menggambarkan keadaan umum jemaat waktu itu. Bahwasanya ibadah bernyanyi itu telah dikenal sejak awal Kekristenan.&lt;br /&gt;Selanjutnya, beberapa unsur liturgi dinyanyikan. Pembacaan Alkitab, Mazmur, doa-doa, dan salam disampaikan dengan dinyanyikan, sehingga hampir seluruh liturgi terdiri dari nyanyian. Cara ini dikenal dengan istilah liturgi yang dinyanyikan; berbeda dengan menampilkan nyanyian dalam liturgi. Cara ini masih digunakan oleh beberapa gereja dan biara. Gereja Ortodoks menyampaikan instruksi liturgis, doa, dan pembacaan Alkitab dengan cara melantunkannya. Gereja Roma Katolik menyanyikan beberapa unsur liturginya. Kisah-kisah sengsara Kristus dituturkan melalui nyanyian pada Jumat Agung. Biara-biara Benediktin dan Trappist mendaraskan (yakni: melantunkan syair) Mazmur sebagai antifon dalam ibadah harian. Demikian pula komunitas Taizé di Perancis. Inilah hakikat nyanyian jemaat, yakni menyanyikan liturgi, bukan sekedar nyanyian di dalam liturgi.&lt;br /&gt;Menyanyikan liturgi berbeda dengan nyanyian dalam liturgi. Menyanyikan liturgi berarti, unsur-unsur liturgi dilayankan dengan cara dinyanyikan atau didaraskan. Pengajaran, pemberitaan, perayaan liturgi disampaikan dengan nyanyian. Sedangkan nyanyian dalam liturgi adalah lebih bersifat tempelan dan tontonan. Nyanyian itu tidak lagi menjadi hal pokok, melainkan variasi semata. Oleh sebab itu ada cara-cara tertentu untuk menyanyikan liturgi, yang tentu saja bukan dengan cara entertainment atau teatrikal.&lt;br /&gt;Oleh karena belum ada alat pengeras suara, melagukan kalimat menolong pendengaran orang banyak. Dengan melagukan instruksi-instruksi liturgis, maka suara instruktor atau pelayan liturgi menjadi jelas terdengar tanpa berteriak. Dengan mendaraskan naskah-naskah Alkitab, maka tempo pembacaan dapat diatur sedemikian rupa sehingga tidak terburu-buru. Dari alasan praktis ini: melantunkan naskah Alkitab dan instruksi liturgi agar terdengar baik, lahirlah karya seni yang bernilai. Peninggalannya masih dipraktekkan hingga kini.&lt;br /&gt;Dalam Gereja-gereja Protestan, doa-doa, pembacaan Alkitab, instruksi-instruksi liturgis tidak dinyanyikan sebanyak di Gereja-gereja tersebut di atas. Unsur salam: Tuhan besertamu, kadang-kadang masih dinyanyikan di beberapa Gereja Prostestan. Namun hakikat nyanyian di dalam liturgi di Gereja-gereja apa pun adalah sama. Nyanyian jemaat adalah bukan sekedar nyanyian di dalam ibadah. Ia adalah ibadah yang dinyanyikan.&lt;br /&gt;Jadi, nyanyian liturgi – terutama nyanyian jemaat – bukan hal asing atau hal baru di dalam kekristenan. Gereja telah mengenal dan memakainya sejak mula-mula, zaman para Rasul, zaman Patristik, dan hingga saat ini. Hanya cara, bentuk, jenis, isi, dan berita nyanyian jemaatlah yang mengalami perubahan dan pergeseran dari waktu ke waktu. Ini terjadi di dalam sejarah selama hampir 20 abad dalam sejarah Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Catatan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; H.A. Pandopo, Menggubah Nyanyian Jemaat. BPK Gunung Mulia 1984. Pasal 113 dan 114 dinyanyikan setelah meminum cawan pertama. Pasal 115-118 setelah cawan ke-3. Semuanya terjadi dalam perjamuan Paska.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-6217351604612168526?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/6217351604612168526/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=6217351604612168526&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/6217351604612168526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/6217351604612168526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2007/12/hakikat-nyanyian-jemaat.html' title='HAKIKAT NYANYIAN JEMAAT'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R14MK_S8LoI/AAAAAAAAACc/qdCXEP1scyQ/s72-c/IMG_0177.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-7109801652277072039</id><published>2007-12-10T21:49:00.000+07:00</published><updated>2007-12-11T10:39:18.201+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyanyian jemaat'/><title type='text'>CARA-CARA BERNYANYI</title><content type='html'>(2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempraktekkan cara menyanyikan nyanyian jemaat di dalam liturgi, sebagaimana praktek jemaat mula-mula dan beberapa komunitas dewasa ini, sangat menolong umat untuk menghayati isi pembacaan Alkitab. Irama nyanyian secara estetis akan mengatur tempo pembacaan dan pernafasan, sehingga orang tidak terdorong untuk membaca kilat tanpa pengertian dan penghayatan. Betapa sering umat tidak dapat mengikuti pembacaan dan pengucapan di dalam liturgi karena semua membaca terburu-buru. Yang terdengar hanya gaung yang melelahkan seolah-olah dikejar-kejar. Liturgi menjadi kurang khidmat.&lt;br /&gt;Salah satu cara ialah melantunkan atau disebut juga pendarasan atau ruminasi. Biasanya yang dilantunkan adalah doa, perikop Alkitab, Mazmur, instruksi liturgis, atau salam. Cara ini memudahkan pendengaran dan pengertian umat, serta manusiawi. Perhatikan contoh berikut.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAZMUR 18&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 1 2 1 .&lt;br /&gt;A-ku cinta pada-Mu, ya TUHAN, kekuatan-ku,&lt;br /&gt;1 1 1&lt;br /&gt;Tuhanlah pelindung dan pembelaku,&lt;br /&gt;1 6 .&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Allahku yang menyelamatkan daku.&lt;br /&gt;1 1&lt;br /&gt;Tuhanlah gunung pengungsianku,&lt;br /&gt;1 1&lt;br /&gt;perisai dan senjataku, bentengku&lt;br /&gt;1 7 1 6 5 . │▌&lt;br /&gt;. . .&lt;br /&gt;sangat ter-puji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 1 1 2 1 .&lt;br /&gt;A-ku berseru kepada Tuhan&lt;br /&gt;1 1 1 7 1 6 5 . │▌&lt;br /&gt;. . .&lt;br /&gt;dan aku diselamatkan dari musuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 1 1 1&lt;br /&gt;Maut mengancam aku bagaikan gelora ombak,&lt;br /&gt;1 2 1 .&lt;br /&gt;Malapetaka menyerbu aku bagaikan banjir.&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;Jerat pratala meliliti aku,&lt;br /&gt;1 1 1 7 1 6 5 . │▌&lt;br /&gt;. . .&lt;br /&gt;perangkap neraka menganga di hadapanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syair Mazmur ini dapat dinyanyikan secara antifonal, sebagai salah satu metode.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Lazimnya: antara kiri dan kanan, atau lelaki dan perempuan. Interior bangunan di banyak gereja tua, kapel biara, dan bahkan kapel di beberapa seminari modern, masih menggunakan sistem bangku berhadapan antara kiri dan kanan atau disebut choro. Sistem ini memang sengaja diperuntukkan bagi antifonal. Biasanya dilakukan dalam ibadah harian.&lt;br /&gt;Pembagian dialognya terjadi sedemikan rupa sehingga memang sesuai dengan pemberian nomor ayat di kemudian hari. Yang ingin dituju dari cara-cara menyanyi seperti itu adalah keterlibatan umat secara aktif. Terlibat di dalam menyanyikan, terlibat pula dalam menghayati dan mengerti nas Alkitab. Jika kita memperhatikan Kidung Jemaat (KJ) 1 “Haleluya! Pujilah,” KJ 44 “Tuhan, Kasihanilah,” Mazmur-mazmur untuk ibadah harian, dan lain-lain dan tinggal bagaimana kita menghidupkan suasana ibadah, maka banyak nyanyian dapat dinyanyikan secara antifonal.&lt;br /&gt;Dapat juga bernyanyi secara responsori, sebagai metode yang lain. Bernyanyi bersahutan antara pemimpin (solis) dan umat seperti dalam gereja Anglican, atau antara paduan suara dan umat, atau – sebagaimana perkembangannya dari motet – bersahutan antara solis dan paduan suara.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Biasanya sekelompok kecil menyanyikan lebih dahulu syair yang bersifat mengajak atau meminta respon. Lalu kelompok lebih besar, biasanya umat, memberikan respon.&lt;br /&gt;Jika antifonal menekankan cara bernyanyi bersahutan antara dua kelompok penyanyi yang jumlahnya sama besar, maka responsori adalah nyanyian bersahutan antara satu-dua orang dan sekelompok besar orang. Jika ada refrein dalam suatu nyanyian, maka lazimnya refrein dinyanyikan oleh kelompok-kelompok tersebut secara bersama-sama.&lt;br /&gt;Perhatikan nyanyian “Allah Bapa, Tuhan” (KJ 13) dari Zambia. Solo itu (dinyanyikan oleh seorang solis): Allah Bapa, Tuhan dimuliakanlah nama-Mu, merupakan ajakan bagi umat untuk mengulangi dan menyanyikan bagian yang sama. Lalu bagian penutup dinyanyikan secara bersama.&lt;br /&gt;Hal yang sama dapat pula dilakukan pada “Pujilah! Pujilah!" (KJ 47), “Hai Musafir, Mau Ke Mana” (KJ 269), “Lihatlah Sekelilingmu” (KJ 428) dari Indonesia, dan masih banyak nyanyian lain.&lt;br /&gt;Kedua cara bernyanyi dialogis ini telah digunakan oleh gereja sejak awal. Dan ternyata dikenal juga dalam kebudayaan masyarakat secara umum, baik di Indonesia maupun di beberapa penjuru dunia. Misalnya, lagu “Injit-injit Semut,” “Rasa Sayange,” dan beberapa kesenian Melayu di Sumatera, yang dinyanyikan secara dialogis antara satu orang yang mengajak dan sekelompok orang yang menanggapi.&lt;br /&gt;Cara menyanyi yang lain telah digunakan dalam hymne Ambrosian sejak semula, yakni menyanyi secara alternatim. Artinya bergilir ganti antara dua atau beberapa kelompok untuk setiap bait. Dalam perkembangannya, nyanyian berbait dinyanyikan secara alternatim pada zaman Reformasi abad ke-16.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Misalnya, bait satu dinyanyikan oleh paduan suara, bait dua oleh pria, bait tiga oleh perempuan, bait empat oleh anak-anak, dan bait terakhir oleh semua. Apabila ada refrein, maka bagian itu selalu dinyanyikan secara bersama.&lt;br /&gt;Cara bernyanyi alternatim ini mengatasi persoalan menyanyi hanya satu-dua bait dari seluruh lagu, terutama lagu-lagu yang berbait banyak seperti hymne. Memotong-motong jumlah bait yang dinyanyikan adalah suatu hal yang tidak terpuji dalam penggembalaan umat. Dengan cara alternatim ini, keutuhan suatu lagu, dengan tema dan pesan yang dikisahkan di dalam syairnya, tidak terpotong-potong. KJ 167 “Yesus, Tuhanku, Apakah Dosa-Mu” yang terdiri dari 13 bait atau KJ 165 “Jurus’lamat Dunia” (8 bait), yang setiap baitnya mengisahkan kisah sengsara Yesus secara bertahap, lengkap dan informatif, dapat disampaikan secara utuh kepada umat. Demikian pula KJ 98 “Jauh dari Sorga Datangku” (15 bait) dan KJ 129 “Dari Timur Jauh Benar” (5 bait), dibuat seperti dialog drama. Cara bernyanyi alternatim ini merupakan cara terbaik untuk nyanyian-nyanyian gereja yang sebagian besar adalah berbentuk hymne.&lt;br /&gt;Zaman modern memberikan variasi lain dalam cara menyanyi. Beberapa nyanyian jemaat memungkinkan dinyanyikan secara kanon (canon) artinya beraturan secara bergaris atau berlini. Bunyi lagunya memang bersusulan antara dua, tiga, empat suara, sehingga membuat garis suara. Suara pertama menjadi “teladan” dari suara-suara berikutnya sebagai imitasi.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt; KJ 470 “Puji, Syukur, Hormat,” Nyanyikanlah Kidung Baru (NKB) 45 “Pujian Malam Yang Tenang,” NKB 54 “Muliakanlah, Hai Jiwaku” (dari Taizé), “Gloria” (Taizé), dan lain-lain, dapat dinyanyikan secara kanon dan merdu.&lt;br /&gt;Berbagai cara menyanyi ini memberikan alternatif dan variasi. Umat tidak selalu menyanyi secara unisono, yaitu semua orang menyanyi dalam satu suara.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt; seperti yang umum kita nyanyikan. Memang, ini semua memerlukan persiapan dengan seksama. Jika ingin baik atau bervariasi dalam hal bernyanyi, maka tidak mungkin melakukannya seperti memencet tombol tape recorder.&lt;br /&gt;Menyanyi menjadi hal yang menyenangkan di dalam ibadah karena bervariasi caranya. Dengan demikian suasana kehidupan ada di dalam nyanyian ibadah. Bernyanyi adalah untuk orang hidup. Bandingkan dengan kesaksian pemazmur (Mzm 6:6): di dalam maut tidaklah orang ingat kepada-Mu; siapakah yang akan bersyukur kepada-Mu di dalam dunia orang mati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Catatan-catatan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Lagu diambil dari Frans Harjawiyata (pertapaan Rawaseneng), Nyanyian Ibadat Harian. Pusat Musik Liturgi 1986, h 28-29. Pendarasan Mazmur Ibadat Pagi B. Syair diambil dari Sebastianus, Mazmur &amp;amp; Kidung, h 26-30 untuk keperluan peribadatan pertapaan Gedono.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Bnd. J.L.Ch. Abineno, dalam Dasar-dasar Theologis dari Nyanyian Gerejawi, dalam Gereja dan Ibadah Gereja, BPK Gunung Mulia 1986, h 96-97, Abineno menekankan bahwa antifonis sebagai cara bernyanyi yang terbaik, Michael Kennedy, Antiphonal Singing, The Concise Oxford Dictionary of Music, Oxford University Press 1985, h 22.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Kennedy, Responses, Responsorio, ibid., h 538. H.A. Pandopo. h 21. Istilah “khorus” sejak dahulukala dipakai dalam gereja untuk kedua kelompok yang bernyanyi berbalasan dalam ibadah gereja.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; H.A. Pandopo, h 42.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Kennedy, Canon, ibid., h 112. Ada beberapa jenis dan cara menyanyikan kanon dalam musik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Kennedy, Unison, ibid., h 673.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-7109801652277072039?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/7109801652277072039/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=7109801652277072039&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/7109801652277072039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/7109801652277072039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2007/12/carar-cara-bernyanyi.html' title='CARA-CARA BERNYANYI'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-2247343415063595435</id><published>2007-12-10T21:45:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T21:47:03.378+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyanyian jemaat'/><title type='text'>BENTUK-BENTUK NYANYIAN JEMAAT</title><content type='html'>(3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang terutama perlu diperhatikan dalam nyanyian jemaat adalah isi syair. Syair berfungsi sangat penting. Tradisi gereja dan ajaran para Bapa gereja hingga zaman Reformasi menekankan bahwa syair harus langsung dan utuh diambil dari Alkitab. Syair yang paling indah, berbobot, lengkap, kaya, sehingga layak diajarkan kepada umat dan diberitakan kepada dunia adalah syair Alkitab. Para penyair tidak boleh seenaknya sendiri menyusun syair nyanyian jemaat tanpa dasar Alkitab.&lt;br /&gt;Lagu harus disesuaikan dengan syair. Bentuk ini sangat nyata dalam nyanyian yang disebut resitatif, yakni satu nada untuk sejumlah suku kata. Cara ini telah digunakan dalam liturgi sinagoge pada awal kekristenan. Contoh di halaman 3 menunjukkan bahwa nada “do” dominan digunakan dalam pembacaan Mazmur 18 itu. Ada juga model lagu lain, misalnya nada “la” (Mazmur 107), nada “re” (Mazmur 143),&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; dan lain-lain. Namun, syair diambil langsung dari naskah Alkitab. Ini sesuai dengan maksud recitativo, yakni menuturkan naskah Alkitab dengan cara mendaraskan atau menuturkan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Dalam hal penuturan, syair lebih ditekankan daripada lagunya.&lt;br /&gt;Dengan demikian terlihat bahwa nyanyian dan bernyanyi adalah alat untuk mengajarkan dan memberitakan firman. Nyanyian dan bernyanyi tidak bertujuan pada dirinya: ingin dipuji dan diagungkan. Nyanyian dan bernyanyi adalah sarana untuk mengajarkan dan memberitakan firman Allah dalam liturgi secara khidmat. Prinsip ini tetap dipegang oleh gereja hingga akhir Abad-abad Pertengahan, walaupun percikannya masih terasa hingga zaman Reformasi dan bahkan zaman ini.&lt;br /&gt;Dalam nyanyian jemaat atau dalam liturgi masa kini, bentuk resitatif masih kita jumpai, misalnya di biara-biara Benediktin, Trappist, dan Ortodoks. Perannya terutama dalam pembacaan Alkitab atau Mazmur. Dalam beberapa lagu Taizé ternyata terdapat juga unsur nyanyian yang dinyanyikan secara dialogis. Seorang cantor (penyanyi) menyanyikan bagian-bagian penuturan secara resitatif dan umat menyanyikan refrein. Juga di dalam agama-agama dan kebudayaan masyarakat lain, bentuk ini lazim digunakan sebagai cara menuturkan pengajaran. Kata lain dari resitasi adalah ruminasi.&lt;br /&gt;Bentuk lain yang juga lazim digunakan adalah melismatis. Dalam Bahasa Yunani melisma berarti nyanyian. Bentuknya berbalikan dari bentuk pertama, yakni beberapa nada untuk satu suku kata&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; yang dianggap penting sehingga perlu penegasan. Kita jumpai bentuk ini dalam nyanyian-nyanyian liturgi yang kemudian menjadi unsur-unsur Kyrie (Tuhan Kasihanilah) dan Gloria (Kemuliaan), Sanctus (Kudus), Agnus Dei (Anakdomba Allah), Haleluya, dan Amin. Jalinan notasi untuk satu suku kata dapat mencapai belasan atau bahkan puluhan nada dalam gregorian. Sebuah contoh dari gereja Ortodoks Yunani berdasarkan melodi biara Gunung Athos demikian.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KYRIE ELESION&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;la=d                                  Gunung Athos-Yunani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1  7  6  6 │ 2  3  3 . │ 5  5  5  4  5 │ 6   6&lt;br /&gt;   .  .  .&lt;br /&gt;Ky-ri-e  e- le- i-son,   Ky-ri-e  e -    le- i -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 4 3 2 1 7 6 7 1 2 │ 3 4 3  2  1  3 │ 2  1  7  6  . │▌&lt;br /&gt;          . . .                              .  .&lt;br /&gt;son,                  Ky -   ri-e  e-  le-i  -  son.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan bagian –son dari eleison, yang dilantunkan dalam sepuluh nada. Nyanyian ini dapat dinyanyikan dalam litani Kyrie sebagai respon umat setiap selesai pengucapan formula-formula doa. Nada “la” terakhir dapat terus disenandungkan secara piano (lirih) sementara formula doa diucapkan.&lt;br /&gt;Sisa pengaruh unsur melismatis kita jumpai pula di dalam beberapa nyanyian hymne antara lain: “Alam Raya Berkumandang” (KJ 101) dan “Kristus Bangkit! Soraklah” (KJ 188). Bagian Gloria (Glo– dilantunkan dalam enam belas nada) dan Haleluya (Ha– dilantunkan dalam lima nada). Maksud dari penggunaan melisma adalah untuk memberi penekanan terhadap syair yang dianggap penting, selain tentu saja sebagai ornamen musik.&lt;br /&gt;Bentuk melismatis tergolong cukup umum digunakan, baik dalam nyanyian jemaat modern maupun dalam masyarakat. Unsur ini terkandung juga dalam lagu-lagu Melayu, India, Cina, dan lagu-lagu rakyat lain seperti tembang. Misalnya, nyanyian “Ya Tuhanku, Ya Tuhanku” (NKB 29) dari Malaysia. Walaupun banyak di antaranya yang bentuk melismanya tidak sepanjang lagu-lagu gregorian, namun sepercik bukti ini menandakan adanya juga pola yang berlaku umum dalam masyarakat.&lt;br /&gt;Bentuk lain yang sangat wajar dan paling banyak kita jumpai sebab sederhana, ialah silabis (bahasa Inggris sylable artinya suku kata). Yakni satu nada untuk satu suku kata. Seperti orang berbicara. Dalam bahasa berirama (seperti Mandarin dan Thailand) akan terlihat sangat jelas bahwa setiap suku kata mempunyai irama untuk satu arti.&lt;br /&gt;Sebagian besar nyanyian di dalam Kidung Jemaat dan Nyanyikanlah Kidung Baru berbentuk silabis. Walaupun di dalam nyanyian semisal “Hai Dunia, Gembiralah” (KJ 119), terdapat melisma, atau di dalam nyanyian “ Suci, Suci, Suci" (KJ 2) terdapat resitasi, namun mereka tergolong bentuk silabis. Juga Mazmur Jenewa berbentuk silabis, kecuali Mazmur 6 yang merupakan gejala langka dan unik bagi Mazmur Jenewa, yang memiliki melisma.&lt;br /&gt;Bagi umat dan gereja, tentu saja terbuka kemungkinan untuk menyanyikan bentuk-bentuk lain dari khazanah musik yang ada. Sangat disayangkan jika kita hanya mengambil bentuk yang satu dan menolak banyak yang lain dalam hal musik. Lebih parah lagi jika bersikap menolak semuanya, tetapi tidak mengambil apa pun sama sekali.&lt;br /&gt;Dalam musik gereja, kedua bentuk yang pertama: resitatif dan melismatis, banyak kita jumpai dalam nyanyian gregorian. Tetapi bentuk ketiga: silabis, ini banyak terdapat dalam nyanyian atau hymne ambrosian. Secara historis, bentuk melismatis dan silabis berasal dari tradisi sinagoge.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Catatan-catatan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Harjawiyata, h 54-56, 68-69. Pendarasan Mazmur Ibadat Pagi D dan Ibadat Sore A. Bandingkan persamaan dan perbedaannya dalam Mazmur Jenewa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Kennedy, Recitative, h 522. Bentuk ini pun digunakan dalam beberapa opera abad ke-17 dan ke-18.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; ibid, M. Kennedy, Melisma, h 409.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Diambil dari Georges Lemopoulos, Let Us Pray to the Lord : A Collection of Prayers from the Eastern and Oriental Orthodox, WCC 1996, h 89. Susunan lagu oleh Terry MacArthur. Lagu ini dinyanyikan untuk mengiringi litani Kyrie, berdasarkan liturgi St. Yakobus.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Karl-Edmund Prier, Sejarah Musik Jilid 1. Pusat Musik Liturgi 1991, h 16-17.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-2247343415063595435?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/2247343415063595435/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=2247343415063595435&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/2247343415063595435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/2247343415063595435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2007/12/bentuk-bentuk-nyanyian-jemaat.html' title='BENTUK-BENTUK NYANYIAN JEMAAT'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-4892619853740175434</id><published>2007-12-10T21:43:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T21:45:28.899+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyanyian jemaat'/><title type='text'>HYMNE AMBROSIAN DAN NYANYIAN GREGORIAN</title><content type='html'>(4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uskup Ambrosius dari Milano pada abad ke-4 mengakui musik hymne sebagai suatu kemungkinan yang praktis untuk nyanyian jemaat. Hymne ambrosian adalah kidung pujian dari kebudayaan Yunani. Unsur-unsur  lagu rakyat digunakan di dalam peribadahan gereja. Hymne-hymne digunakan baik untuk perjamuan kudus maupun di dalam ibadah harian. Ambrosius dikenal sebagai Bapa hymne Barat hingga abad ke-6. Bentuk lagunya yang sederhana menyebabkan hymne ambrosian cukup terkenal di kalangan umat, walaupun tidak di semua wilayah memakainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hymne liturgis tidak selalu diterima oleh semua Gereja … Pada tahun 563, konsili Braga I memutuskan bahwa kecuali Mazmur-mazmur atau nas-nas Alkitab dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, umat tidak diperbolehkan menyanyikan komposisi syair lain, yakni hymne-hymne, di dalam perkumpulan liturgi ... Namun larangan ini tidak menyebabkan hymne tidak berkembang dalam jumlah; diperkirakan sekitar 35 ribu hymne diciptakan setelah abad ke-4.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang di Gereja-gereja jenis hymne justru yang banyak digunakan. Bahkan hymne-hymne tua dari abad ke-4 “Jurus’lamat, Datanglah” (Veni, redemptor gentium) oleh Aurelius Ambrosius (386), abad ke-9 “O Roh Pencipta, datanglah” (Veni Creator Spiritus), abad ke-13 “Datanglah, Ya Roh Kudus” (Veni, Sancte Spiritus), dan beberapa lagu yang lain terdapat di dalam KJ 82, 229, dan 228. Nyanyian ini “berdiri” di antara dan melengkapi nyanyian liturgi yang lain, seperti antifon-antifon.&lt;br /&gt;Penggunaannya terutama di dalam perjamuan kudus dan meminta partisipasi aktif dari umat. Ambrosius mempertahankan pendapat dan praktek bahwa semua orang: tua dan muda, laki-laki dan perempuan, layak menyanyikan Mazmur di dalam ibadah. Sikap Ambrosius ini didasari oleh praktek ibadah abad-abad pertama, dan merupakan ketidaksetujuannya terhadap praktek liturgi sekitar abad ke-3 yang melarang perempuan terlibat di dalam nyanyian jemaat.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Hymne-hymne ini berkembang kembali setelah zaman Reformasi dan hingga kini, oleh karena citranya yang merakyat.&lt;br /&gt;Nama gregorian mengingatkan gereja akan uskup Gregorius Agung dari Roma abad ke-6, walaupun bukan ia yang menciptakan nyanyian gregorian. &lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; Ia mempunyai andil besar dalam menetapkan nyanyian gereja sebagai nyanyian liturgi yang agung. Tetapi nyanyiannya berkembang antara abad ke-6 dan ke-9, setelah ia mangkat. Terutama dalam surat kepada Abas Honoratus dari Paus Leo IV (847-855) muncul istilah carmen gregorianum, nyanyian gregorian.&lt;br /&gt;Walaupun syair dalam gregorian lebih dipentingkan daripada melodi atau lagu, tetapi melodi gregorian pun penting dan bernilai seni tinggi. Syair gregorian berasal dari Alkitab dengan struktur puisi Ibrani. Sedangkan lagu gregorian berakar pada tradisi Yahudi dan digunakan oleh jemaat mula-mula.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Keduanya: syair dan lagu dalam gregorian, menjadi satu kesatuan.&lt;br /&gt;Jelaslah kedua Uskup ini: Ambrosius dan Gregorius, bukan pencipta langsung nyanyian-nyanyian atau hymne-hymne tersebut. Namanya digunakan oleh karena prinsip pastoralianya tentang bentuk-bentuk dan cara-cara nyanyian liturgi tersebut digunakan dalam gereja. Bahwasanya nyanyian liturgi adalah nyanyian jemaat, dalam arti nyanyian yang merupakan hak umat untuk menyanyikannya. Oleh karenanya, nyanyian jemaat dinyanyikan oleh umat dalam melayankan liturgi.&lt;br /&gt;Pola ambrosian berbeda dari gregorian. Dalam ambrosian, setiap bait mempunyai empat kalimat musik atau frasering. Empat kalimat musik tersebut kadang menjadi kelipatan empat atau delapan kalimat musik. Setiap kalimat musik terdiri dari delapan suku kata. Setiap suku kata hanya dinyanyikan dengan satu atau dua nada saja. Dan unsur yang sangat menonjol dibanding gregorian, jenis hymne ambrosian termasuk nyanyian berstrofe atau berbait, seperti kebanyakan nyanyian yang kita kenal. Beberapa nyanyian dalam buku Lux et Origo berupa hymne, antara lain: 31 “Veni Creator,” 116 “Adoro Te Devote,” 122 “Verbum Supernum,” 123 “Jesu Nostra Redemptio.”&lt;br /&gt;Sebuah contoh hymne ambrosian dari Lux et Origo 116 dengan delapan kalimat musik di bawah ini. Lagu dimulai dengan nada fa dan berakhir dengan nada fa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyanyian gregorian dikenal dengan istilah &lt;em&gt;plainsong&lt;/em&gt;, yakni bertutur dengan cara melantunkan atau meruminasikan tanpa iringan alat musik. Berbicara dengan cara bernyanyi. Garis bar, birama, dan metronom tidak terlalu dipentingkan. Aksentuasi dilakukan sesuai dengan aksentuasi bahasa Latin.&lt;br /&gt;Sebuah contoh nyanyian gregorian dari Lux et Origo 82 di bawah ini. Lagu dimulai dengan nada la dan berakhir dengan nada re.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irama cepat, pendek, tinggi, bertekanan, dan kuat, disebut arsis. Arsis atau percepatan, biasanya digunakan pada awal kalimat lagu atau hendak menuju puncak nada. Irama lambat, pelepasan, panjang, pengendoran, dan lemah, disebut tesis. Biasanya digunakan pada akhir kalimat lagu atau hendak menuruni puncak nada. Jadi, gregorian mengikuti irama naik atau turun, bukan birama. Irama merupakan suatu prinsip gerakan melodis yang penuh kehidupan, penuh dinamikan, penuh variasi. Bukankah nyanyian gregorian menyimbolkan kehidupan manusia secara normal? Seandainya semua orang Kristen masa kini kembali menyanyikan nyanyian gregorian sebagaimana jenis nyanyian jemaat yang lain, maka suasana kehidupan kembali muncul di dalam gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Catatan-catatan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Anscar Chupungco, Liturgical Musid and Its Early Cultural Settings, S. Anita Stauffer (editor), LWF Studies: Worship and Cultural in Dialogue. The Lutheran World Federation 1994, h 116-117. H.A. Pandopo, h 22-23 menuliskan bahwa ada yang menolak, ada pula yang menganjurkan penggunaan hymne.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Chupungco, h 114-115. Hingga abad ke-2, perempuan bernyanyi di dalam ibadah. Setelah abad ke-3, muncul larangan bagi mereka untuk terlibat dalam paduan suara gereja. Larangan ini didukung oleh beberapa Bapa gereja zaman Patristik. H.A. Pandopo, h 23. Waktu itu, hanya bidatlah yang mempraktekkan laki-laki dan perempuan bernyanyi di dalam ibadah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Diambil dari nama Paus Gregorius Agung dari Roma (590-604). Masa pemerintahnnya juga dijadikan patokan dimulainya Abad-abad Pertengahan oleh para pakar sejarah gereja.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Chupungco, h 115-116. H.A. Pandopo, h 23. Prier, h 86. Musikolog Abraham Zebi Idelsohn pada akhir abad ke-19, setelah melakukan penelitian serius, membuktikan adanya pengaruh langsung dan kesamaan musik sinagoge kepada nyanyian gregorian.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-4892619853740175434?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/4892619853740175434/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=4892619853740175434&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/4892619853740175434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/4892619853740175434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2007/12/hymne-ambrosian-dan-nyanyian-gregorian.html' title='HYMNE AMBROSIAN DAN NYANYIAN GREGORIAN'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-5955354308357446617</id><published>2007-12-10T21:41:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T21:42:41.136+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyanyian jemaat'/><title type='text'>FUNGSI NYANYIAN JEMAAT</title><content type='html'>(5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian sebelum ini dituliskan bahwa fungsi nyanyian jemaat adalah di dalam liturgi. Ia berfungsi untuk melayankan liturgi. Ini muncul dalam sejarah. Jenis dan cara menyanyikan nyanyian jemaat yang kita kenal merupakan adopsi dari liturgi sinagoge dan peribadahan di rumah-rumah pada zaman gereja awal. Nyanyian untuk pemberitaan firman atau sinaksis (synaxis) berasal dari liturgi sinagoge. Nyanyian untuk perjamuan kudus atau ekaristi (eucharistia) berasal dari liturgi rumah. Karena itu bentuk dan iringan musiknya tidak semeriah liturgi Bait Allah. Bentuk dan iringan sederhana dianggap lebih pantas untuk sebuah liturgi sinagoge dan rumah.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Pada dasarnya bentuk dan iringan nyanyian jemaat – dengan fungsinya untuk melayankan ibadah – adalah sederhana, tetapi pantas dan bermutu tinggi.&lt;br /&gt;Kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan komunikasi zaman ini memungkinkan nyanyian jemaat dinyanyikan di luar liturgi, namun akibatnya adalah fungsi sesungguhnya menjadi hilang. Mungkin nyanyian jemaat jauh lebih indah dan merdu bila dinyanyikan oleh penyanyi dan paduan suara kondang untuk konser di gedung teater, namun ia tidak berfungsi secara semestinya. Bobot fungsi pastoralnya menjadi nyata jika dinyanyikan di dalam liturgi.&lt;br /&gt;Ada tiga hal secara historis yang melahirkan fungsi nyanyian jemaat di dalam liturgi,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.     Nyanyian jemaat merangkai unsur-unsur liturgi yang satu dan yang lain, sehingga membentuk satu perayaan liturgi. Rangkaian liturgi akan terputus, apabila nyanyian jemaat tidak berfungsi secara benar.&lt;br /&gt;     Pada satu pihak, pemilihan nyanyian secara tidak sesuai dengan tahun atau tema liturgi, atau tidak sesuai dengan maksud dari unsur liturgi, atau penampilan paduan suara (vokal grup, paduan suara, penyanyi, instrumentalis, dll.) yang berlebihan dan berfungsi sebagai tontonan, dapat memutus rangkaian liturgi dimaksud.&lt;br /&gt;     Pada pihak lain, nyanyian yang berlebihan, yang sekadar sebagai penghias antar unsur atau sebagai pengisi waktu, dapat menimbulkan kesan bertele-tele. Ibadah dipenuhi oleh embel-embel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.     Nyanyian jemaat mengandung fungsi dan peran simbolis. Ia mengungkapkan makna terdalam dari sikap iman gereja, yang dengannya dunia mengenal kita. Dengan demikian ada unsur pemberitaan dalam nyanyian jemaat. Sehubungan dengan itu, dan dengan tetap mengindahkan lagu, syair nyanyian memegang peran sangat besar.&lt;br /&gt;     Ini perlu menjadi perhatian para komponis, pencipta, dan penerjemah nyanyian jemaat. Ketrampilan, keahlian, dan pengetahuan tentang bentuk susunan syair memang sangat diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.     Nyanyian jemaat memperoleh maknanya dari pelayanan liturgi. Maksud nyanyian jemaat dicipta dan dinyanyikan tidak terlepas dari maksud liturgi dilayankan. Nyanyian jemaat lahir dari liturgi. Ia pun berperan untuk melayankan ibadah sehingga menjadi khidmat.&lt;br /&gt;     Ini merupakan tantangan bagi para pemusik agar menciptakan nyanyian untuk keperluan pelayanan liturgi. Paduan suara gereja dan para penyanyi gereja diajak untuk kembali kepada fungsinya, yakni sebagai pelayan ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan maksud kemunculannya, fungsi nyanyian jemaat di dalam liturgi adalah sebagai alat pengajaran dan tanggapan gereja. Fungsinya yang cocok ini melahirkan kesaksian dan pemberitaan gereja kepada dunia. Fungsi ini lebih dalam bobotnya daripada sekadar ikut-ikutan, meniru,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; dan demi nyanyian atau penyanyi itu sendiri.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Sebagai penanggap, peran persekutuan umat tidak dapat digantikan oleh siapapun. Paduan suara, vokal grup, penyanyi-penyanyi ahli, para pakar musik gereja, song leader, sound system, Imam atau Pendeta, dan sebagainya tidak dapat menggantikan peran umat ini. Persekutuan umat adalah gereja yang sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada satu pihak ia [nyanyian jemaat – penulis] adalah wahana (=vehikel) pemberitaan Firman dan pada pihak lain ia adalah alat yang diberikan kepada Jemaat untuk mengaminkan pemberitaan itu. Kedua aspek ini erat berhubungan.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajaran itu ditujukan kepada umat dan gereja, dan disampaikan oleh umat dan gereja kepada dunia. Umat bernyanyi, umat mendengarkan, dan umat memberitakan. Pengajarannya ialah Tuhan Allah sendiri. Alatnya ialah Alkitab. Alkitab penuh berisi inspirasi dan kreatifitas. Banyak tema pengajaran yang berguna yang dapat dinyanyikan di dalamnya. Kalau saja gereja lebih mencintai isi firman Tuhan daripada praktek liturgi yang lebih menonjolkan pengkhotbah, maka gereja akan lebih kuat lagi dan lebih banyak berbuat daripada sekarang. Berbahagialah orang yang kesukaannnya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam (Mzm 1).&lt;br /&gt;Keberbagaian tema pengajaran firman Tuhan tidak pantas di-press sedemikian rupa, sehingga hanya berkisar: “Kupuji Nama-Mu,” “’Ku menyenangkan hati Tuhan,” “Allah kita Besar dan Heran,” “Haleluya,” “Jiwaku Membumbung Tinggi di Angkasa,” “Aku anak Raja,” atau “Bersorak-sorai di dalam Tuhan” melulu. Gereja wajib bersikap terbuka dalam menerima dan menyampaikan firman Tuhan.&lt;br /&gt;Tema-tema dalam Alkitab tidak seragam, selalu baru setiap hari (bnd. Rat 3:22-23 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!). Kitab Pengkhotbah menekankan hal yang berbeda daripada Ratapan. Kitab Yesaya memberitakan soal lain daripada Habakuk. Pasal-pasal dalam kitab Mazmur memiliki keberbagaian satu sama lain. Alkitab tidak hanya berisi pujian dan tentang kebesaran Tuhan. Setiap bagian adalah unik dalam kesaksian dan kaya dalam pengajaran. Alkitab berbicara secara utuh tentang manusia dan masalah dunia. Pergumulan terdalam, kesendirian (bnd. Mzm 22 Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?), ketidakadilan (Ayb), lingkungan hidup (Kej), dan lain-lain dibicarakan pula oleh Alkitab. Itulah yang harus diberitakan dan diajarkan oleh gereja secara terbuka dan utuh kepada dunia dan umat-Nya demi kemuliaan nama Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Catatan-catatan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Chupungco, h 104-106. Tradisi gereja mula-mula berasal dari tradisi Yahudi. Instrumen musik Bait Allah “terlalu mewah” untuk sinagoge dan rumah. Baru pada abad ke-3 dan ke-4, gereja melarang penggunaan instrumen yang berlebihan. Sebab instrumen-instrumen musik digunakan dalam ibadah masyarakat tradisional dan tidak bermoral.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Ibid., h 103-104.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Abineno, h 89-91. Umat bernyanyi bukan karena ikut-ikutan agama Yahudi, para Rasul, atau bangsa-bangsa kafir, melainkan menanggapi dan memberitakan perbuatan Tuhan. Lihat juga Austin C. Lovelace dan William C. Rice, Music and Worship in the Church, Abingdon 1976, h 153.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Chupungco, h 103.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Abineno, h 92. Oleh sebab itulah nyanyian jemaat berbeda daripada nyanyian yang lain.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-5955354308357446617?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/5955354308357446617/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=5955354308357446617&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/5955354308357446617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/5955354308357446617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2007/12/fungsi-nyanyian-jemaat.html' title='FUNGSI NYANYIAN JEMAAT'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-1334436774295823949</id><published>2007-12-10T21:38:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T21:40:55.851+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyanyian jemaat'/><title type='text'>MENGENALI NYANYIAN JEMAAT</title><content type='html'>(6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelola dan para pimpinan gereja perlu memberi perhatian lebih besar kepada liturgi dan nyanyian jemaat. Memang tidak terlalu mudah mengenali jenis dan notasi dari lagu. Namun jauh lebih mudah mengenali sifat nyanyian melalui syair. Untuk membaca syair, orang tidak perlu menjadi ahli musik, bukan? Hanya memerlukan ketelitian dan pengertian.&lt;br /&gt;Oleh karena nyanyian jemaat berfungsi sebagai alat pengajaran, maka pengelola dan pimpinan gereja perlu memperhatikan syair. Pengajaran berada di dalam tanggung jawab Majelis Gereja. Jangan terlalu memboroskan waktu dan pikiran tentang mana lagu yang diperbolehkan dan mana lagu yang dilarang. Dangdut, keroncong, rock, adalah jenis-jenis lagu. Syairlah yang perlu diperhatikan, baik untuk keperluan liturgi maupun demi pengajaran umat dan pemberitaan gereja. Konon, Aurelius Agustinus (354-430), seorang Bapa Gereja pada zaman Patristik, dengan serius tidak mengizinkan melodi yang terlalu ramai dijadikan perhatian utama dalam nyanyian jemaat. Ia mengizinkan lagu boleh dimainkan hanya demi syair yang disampaikan. Iringan harus sederhana.&lt;br /&gt;Seorang Jerman – yang sebenarnya dapat pula disejajarkan dengan para Bapa Gereja yang lain – ialah: Ulrich Zwingli (1484-1531), pun melarang permainan organ yang merajalela menyerupai musik hiburan. Segala keramaian yang dangkal dan kurang khidmat hendaknya dijauhkan dalam ibadah. Demikian pula Johannes Calvin (1509-1564) yang mengajak umat untuk menahan diri dalam beribadah. Ingatlah keberadaan gereja saat ini di dalam perjuangannya. Gereja jangan berlebihan tanpa batas dalam mengungkapkan sukacita melalui nyanyian.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Pendapat ini relevan terhadap nyanyian gereja yang terlalu ramai hanya pada segi lagu, tetapi miskin dalam tema-tema pengajaran dan pemberitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keperluan nyanyian untuk hari raya liturgi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Masalah yang sering kali dijumpai ialah pemilihan nyanyian. Ketidaktepatan dalam memilih nyanyian masih terjadi. Ini menyangkut soal membaca syair. Di samping itu tentu saja penyusun liturgi perlu mengerti tentang tahun liturgi dan arti setiap unsurnya.&lt;br /&gt;Pihak penyusun tata liturgi sering keliru dalam membedakan tentang tema hari raya yang satu dengan hari raya  yang lain. Memang, kebanyakan tidak keliru tentang perbedaan antara nyanyian Paska dan Natal. Namun kekeliruan terjadi pada antara Jumat Agung dan Prapaska, Minggu Palem dan Minggu Sengsara, Kenaikan Yesus ke Sorga dan Paska, Adven dan Malam Natal, Natal dan Epifania. Nyanyian bertema salib, Golgota, darah Yesus tercurah, yakni tema-tema Jumat Agung (hari raya kematian Yesus) dinyanyikan pada Prapaska (masa persiapan). Nyanyian “Kepala Yang Berdarah” (Jumat Agung) masih dinyanyian pada Paska (Kebangkitan Yesus).&lt;br /&gt;Tim penyusun buku-buku nyanyian semisal Kidung Jemaat, Nyanyikanlah Kidung Baru, Puji Syukur, telah menyusunkan rubrikasi nyanyian sesuai dengan tahun liturgi. Hal ini dapat menolong penyusun liturgi. Mudahnya, lihat saja rubrikasi untuk hari raya yang bersangkutan, lalu pilihlah nyanyian dari rubrikasi tersebut. Namun, jika ingin menggunakan nyanyian di luar buku-buku tersebut, atau ingin sedikit modifikasi dan variasi, maka kita memerlukan sedikit pedoman.&lt;br /&gt;Tentu, kita tidak ingin amburadul seperti contoh kebiasaan di atas. Keteraturan adalah pokok di dalam kehidupan manusia dan kesaksian iman. Kitab Kejadian pasal 1 dan 2 mempersaksikan bahwa Allah mencipta alam semesta dan menempatkan makhluk-makhluk secara teratur dan terencana. Rasul Paulus banyak berbicara tentang keteraturan dan perencanaan liturgi (1Kor 14:40 tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan tertib).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah pedoman susunan hari raya dan tema-temanya:&lt;br /&gt;Hari raya                              Tema-tema liturgi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adven                                      penantian, kerinduan, menyambut kedatangan&lt;br /&gt;                                                Tuhan&lt;br /&gt;Natal&lt;br /&gt;     malam (24 Desember)        nyanyian malaikat&lt;br /&gt;     fajar (25 Desember)            para gembala&lt;br /&gt;     siang                                  terang dunia&lt;br /&gt;Tahun baru                             zaman lama dan baru, perputaran waktu,&lt;br /&gt;                                                pengharapan, Yesus disunat&lt;br /&gt;Epifania                                  bintang di Timur, orang majus&lt;br /&gt;Yesus dibaptis&lt;br /&gt;Minggu-minggu biasa             pengajaran Yesus, mujizat&lt;br /&gt;Prapaska dan sengsara           pertobatan, pencobaan&lt;br /&gt;Minggu Palem                         Hosana, Yesus masuk Yerusalem&lt;br /&gt;Kamis Putih                            perintah baru, penatalayanan&lt;br /&gt;Jumat Agung                          Golgota, kematian Yesus, merasa ditinggal&lt;br /&gt;                                                Allah&lt;br /&gt;Paska                                       Haleluya, kebangkitan Yesus, hari yang&lt;br /&gt;                                                dijadikan Tuhan, fajar baru&lt;br /&gt;Minggu-minggu Paska            Gembala yang baik, nyanyian baru bagi Tuhan&lt;br /&gt;Kenaikan Yesus ke Sorga       Allah sebagai Raja dunia, Yesus dimuliakan&lt;br /&gt;Pentakosta                              hari kelima puluh, persembahan panen,&lt;br /&gt;                                      ucapan syukur, Roh Kudus, pengutusan,&lt;br /&gt;                                      gereja&lt;br /&gt;Trinitatis                                  Allah Tritunggal&lt;br /&gt;Minggu-minggu biasa             Kerajaan Allah&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga pedoman singkat sederhana ini memudahkan pemilihan nyanyian. Tetapi yang ideal adalah mempelajari makna tahun liturgis dengan seksama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keperluan nyanyian untuk  unsur-unsur liturgi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Menentukan nyanyian untuk unsur-unsur liturgi sedikit lebih rumit tetapi lebih bebas daripada untuk hari raya liturgi. Masalahnya terletak pada latar belakang liturgi itu sendiri. Bahwasanya perkumpulan umat Kristen – yang disebut liturgi – muncul lebih dahulu (dan secara wajar) daripada penamaan unsur-unsur liturgi. Unsur-unsur liturgi (votum, salam, Kyrie–Gloria, khotbah, dan seterusnya) adalah nama yang diberikan oleh kaum gerejawan kemudian hari.&lt;br /&gt;Beberapa buku nyanyian yang ada (Kidung Jemaat, Nyanyikanlah Kidung Baru, Puji Syukur) juga telah menyediakan kemudahan melalui rubrikasi nyanyian untuk keperluan ini. Memang kita tidak perlu selalu mengikuti secara ketat dan kaku tanpa kreativitas sama sekali. Namun, kenyataannya, tidak sedikit nyanyian yang disusun secara keliru sama sekali. Masih banyak dijumpai penyusunan yang tidak kreatif dan tidak baik secara liturgis. Nyanyian pagi (KJ 2 “Suci, Suci, Suci,” atau KJ 322 “Terang Matahari”) dinyanyikan untuk kebaktian malam atau senja. Nyanyian penutup (KJ 405 “Kaulah, Ya Tuhan, Surya Hidupku,” terutama pada kalimat Bila saatnya kelak ‘ku menang) dinyanyikan di awal ibadah. Nyanyian yang sama (misalnya untuk persembahan, KJ 287 “Sekarang Bersyukur,” NKB 199 “Sudahkah Yang Terbaik Kuberikan”) digunakan setiap Minggu selama bertahun-tahun.&lt;br /&gt;Berikut ini adalah pedoman susunan nyanyian yang sedapat mungkin sesuai dengan unsur-unsur liturgi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur-unsur                           Tema-tema liturgi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosesi dan introitus                penantian, persiapan, hari Minggu&lt;br /&gt;                   (sesuaikan tahun liturgi)&lt;br /&gt;Tata waktu&lt;br /&gt;      Pagi                                     surya bersinar, hari baru&lt;br /&gt;      Siang                                  terang dunia&lt;br /&gt;      Malam                          siang telah berlalu, hari telah berakhir,&lt;br /&gt;                                    istirahat, tidur, menantikan fajar, berjaga-&lt;br /&gt;                                    jaga, perlindungan Tuhan&lt;br /&gt;Pengakuan dosa                       penyesalan&lt;br /&gt;Berita anugerah                       ucapan syukur, pengampunan dari Tuhan&lt;br /&gt;Kyrie dan Gloria                      Tuhan kasihanilah, Tuhan ampunilah,&lt;br /&gt;                                       kemuliaan bagi Allah&lt;br /&gt;Mazmur antar pembacaan       sesuaikan dengan hari raya dan pembacaan&lt;br /&gt;                                                  Perjanjian Lama&lt;br /&gt;Litani Kyrie                               Tuhan kasihanilah&lt;br /&gt;Persembahan syukur                bersyukur, berkat Tuhan&lt;br /&gt;Sanctus                                     kudus, suci&lt;br /&gt;Anakdomba Allah                     Anakdomba Allah&lt;br /&gt;Pengutusan dan penutup        penginjilan, kabar baik, tuaian dan pekerja,&lt;br /&gt;                                       tiba di seberang, berlabuh, akhir kerja dunia&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diperhatikan bahwa antara setiap unsur tidak perlu selalu diselingi oleh nyanyian jemaat. Namun pada pihak lain, ada pula yang hampir-hampir tidak memberikan pilihan lain daripada menyanyikan yang sama. Menurut kebiasaan liturgis, ada nyanyian jemaat yang bersifat proprium, dan ada pula yang bersifat ordinarium.&lt;br /&gt;Proprium adalah nyanyian yang selalu berlainan dinyanyikan dari satu ibadah ke ibadah berikut. Bagian ini selalu menyesuaikan dengan masa atau hari raya. Juga dimungkinkan jika tidak ada nyanyian di sana. Nyanyian-nyanyian pengakuan dosa, persembahan, penghiburan, litani Kyrie, berada di sini. Hampir semua nyanyian di liturgi Gereja-gereja Protestan adalah proprium.&lt;br /&gt;Ordinarium merupakan keharusan menyanyikan nyanyian yang sama (atau hampir tanpa pilihan) pada setiap ibadah. Kyrie-Gloria pada liturgi pembuka. Graduale, haleluya, amin untuk menyambut pembacaan Injil atau menyambut Berkat. Sanctus, Agnus Dei (Anakdomba Allah) pada perjamuan kudus. Doksologi menyambut berkat, berada di sini.&lt;br /&gt;Dengan demikian kita tidak perlu mati-matian mempertahankan proprium (atau disebut pula: unsur sekunder) hanya karena kebiasaan sehingga terjadi embel-embel. Atau seenaknya mengacak-acak ordinarium (atau disebut pula: unsur utama) karena ketidakmengertian, sehingga liturgi menjadi tidak normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Catatan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Menurut Chupungco, h 107. dan H.A. Pandopo, h 28-30.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-1334436774295823949?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/1334436774295823949/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=1334436774295823949&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/1334436774295823949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/1334436774295823949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2007/12/mengenali-nyanyian-jemaat.html' title='MENGENALI NYANYIAN JEMAAT'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-6032305579842028057</id><published>2007-12-10T21:36:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T21:37:44.854+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyanyian jemaat'/><title type='text'>PEMAHAMAN HISTORIS</title><content type='html'>(7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain soal membaca syair, pengetahuan sejarah nyanyian jemaat pun cukup berperan dalam pengajaran dan pemberitaan. Seseorang atau Komisi Musik Gereja perlu melengkapi keahliannya dalam hal memahami sejarah musik Gereja.&lt;br /&gt;Perjalanan nyanyian jemaat di Indonesia  (dan di banyak negara) didominasi oleh musik Gereja Barat. Mayoritas dari daratan Inggris, Jerman, Belanda, dan Perancis antara abad ke-16 dan ke-19. Musik Amerika Utara muncul bersama dengan gerakan kebangunan antara abad ke-18 dan ke-19. Ada beberapa nyanyian di luar keempat negeri tersebut, misalnya: Swedia, Denmark, Spanyol, namun sedikit jumlahnya.&lt;br /&gt;Asal nyanyian-nyanyian ini dapat dilihat dari buku-buku: Mazmur dan Nyanyian Rohani, Mazmur dan Tahlil, Dua Sahabat Lama, dan sebagainya. Ini adalah buku-buku nyanyian yang disusun hingga tahun 1960-an. Juga di buku-buku terbitan setelah 1980-an, masih terasa dominannya nyanyian-nyanyian tersebut.&lt;br /&gt;Musik Gereja Barat tersebut – terutama syairnya – menjadi ekspresi umat Kristen di Indonesia selama beberapa abad, bahkan sampai sekarang. Ikut pula pergumulan, teologi, dan idealisme Gereja Barat sesuai locusnya (lokasinya). Pemahaman tersebut ada yang tidak cocok dengan kondisi di locus kita, ada pula yang sudah tidak relevan lagi karena zaman. Tak tertutup bagi teologi triumphans (kejayaan), kerajaan yang imperialis (penguasaan), dan pietisme (kesalehan dan mengutamakan devosi personal) yang tersurat dan tersirat dalam nyanyian antara abad ke-16 dan abad ke-19.&lt;br /&gt;Memperhatikan syair-syair “kaum kudus tersungkur di depan takhta-Mu,” “mari sembah Yang Mahabesar,” “isi dunia sujud,” dan sebagainya, tersirat dan sangat terasa bahwa ada yang di “singasana” raja dan ada yang di “teras” rakyat. Di balik pemahaman dualisme ini, peran para penyair cukup besar. Mereka berasal dari negara-negara Inggris, Skotlandia, Jerman.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Kemungkinan besar bahkan di negara asalnya, nyanyian-nyanyian ini tidak lagi dinyanyikan sekarang. Atau setidaknya, mereka tidak lagi menjadi konsentrasi para ahli musik Gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema kejayaan dan kerajaan imperialis dapat dipahami melalui pergumulan Inggris, Perancis, Austria, dan Jerman. Inggris adalah satu-satunya negara yang telah berjaya di Eropa sejak abad ke-16 tanpa kerusuhan agama. Ada perseteruan dalam gereja (antara Anglican dan Puritan), tetapi tidak menyulut dunia politik.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh ini sangat besar dan terasa hingga kini. Konotasi bahwa musik gereja adalah prototipe musik Barat masih ada. Bahkan paduan suara gereja masih saja hanya menyanyikan nyanyian dengan tema-tema tersebut. Rasanya hampir tidak ada paduan suara yang memulai “gelombang baru” dalam nyanyian jemaat.&lt;br /&gt;Corak pietisme termasuk dominan sebagai nyanyian gereja di Indonesia. Pemunculannya seiring dengan lahirnya pietisme di Eropa dan berkembangnya kebangunan rohani di Amerika. Pietisme Eropa abad ke-17 berbeda daripada pietisme Amerika abad ke-19. Hal itu, setidaknya terlihat melalui syairnya. Syair-syair untuk kebutuhan devosi personal sangat terasa dalam nyanyian Eropa. Misalnya KJ 300 “Andaikan, Yesus, Kau Bukan Milikku,” KJ 324 “Kau Mutiara Hatiku,” KJ 329 “Tinggal Sertaku,” dan lain-lain. Dari Amerika, kesalehan pribadi dan pementingan kehidupan setelah kematian tersurat di dalamnya. Lihat saja syair-syair KJ 26 “Mampirlah, Dengar Doaku,” KJ 401 “Makin Dekat, Tuhan,” NKB 104 “Api-Nya Berkobar dalam Hatiku,” dan lain-lain.&lt;br /&gt;Dari masa ini tidak lagi tercipta syair semacam Doksologi, Gloria Patri, yakni syair yang mengungkapkan keagungan makhluk-makhluk sorgawi, dan untuk keperluan liturgi. Atau dengan kata lain, syair yang bersifat horisontal bagian atas. Sebaliknya, kesalehan manusia secara individu mulai dimunculkan di sini. Syair nyanyiannya banyak yang bersifat devosi personal. Dari bumi (kesalehan manusia) dinaikkan secara vertikal menuju keagungan Ilahi. Ada dialog antara manusia dan Allah dalam ungkipan “aku dan Engkau”, antara kesalehan dan hidup beriman.&lt;br /&gt;Beberapa nyanyian tersebut dibuat oleh (dari Eropa) Lyte, (dari Amerika) John W. Peterson 1921-…, Sarah Flower Adams 1841, Fanny Jane Crosby (1875), Doane, dan sebagainya. Melihat betapa besar pengaruhnya bagi Gereja di Indonesia, apakah tidak mungkin banyak penyair kita yang dipengaruhi oleh mereka?&lt;br /&gt;Bagaimanakah sikap kita? Dilihat dari sudut khazanah musik, maka nyanyian jemaat tersebut cukup baik. Ini terbukti melalui kebertahanannya terhadap tempaan zaman selama berabad-abad, sehingga tetap eksis. Menurut karya seni musik, banyak dari nyanyian tersebut yang sangat bermutu sebagai nyanyian jemaat. Misalnya, tak seorang pun mengatakan bahwa “Kepala Yang Berdarah” (KJ 170) dan “Malam Kudus” (KJ 92) adalah lagu tak bermutu. Kenyataannya, memang tidak sedikit dari sekitar 800-an nyanyian tersebut yang mampu meramaikan gedung-gedung konser dan menimbulkan kesan mendalam bagi banyak orang.&lt;br /&gt;Namun dilihat dari segi pengajaran dan pemberitaan, Gereja perlu membuka cakrawala berpikir umatnya akan tema-tema yang lain. Bukan tema-tema syair yang “itu-itu saja”, yang menjadi pengajaran dan pemberitaan Gereja. Ada berbagai syair yang lain. Ada fungsi yang lain dari nyanyian jemaat, yakni sebagai nyanyian liturgi. Misalnya dari Musik Gereja Asia atau musik Gereja zaman modern yakni musik Gereja yang muncul pada pertengahan kedua abad ke-20 ini. Bagian ini akan dijelaskan tersendiri pada uraian berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Catatan-catatan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Uraian panjang lebar, lihat Rasid Rachman, Sejarah Musik Gereja: Gelombang Baru Nyanyian Jemaat Abad ke-20, Jurnal Gema: Musik Gereja, Fakultas Teologi Duta Wacana 1995.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; ibid, berdasarkan Geoffrey Hindley (editor), The Larousse Encyclopedia of Music. Hamlyn Publishing Group Limited 1971, h 153-154&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-6032305579842028057?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/6032305579842028057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=6032305579842028057&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/6032305579842028057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/6032305579842028057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2007/12/pemahaman-historis.html' title='PEMAHAMAN HISTORIS'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-6278959533264268251</id><published>2007-12-10T21:34:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T21:36:04.232+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyanyian jemaat'/><title type='text'>SETELAH SYAIR, LAGU PUN PENTING</title><content type='html'>(8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah secara panjang lebar kita membicarakan syair, maka yang juga penting adalah lagu. Syair tanpa lagu, belum menjadi nyanyian. Syair yang telah tersusun harus dilagukan, agar dapat dinyanyikan.&lt;br /&gt;Jika syair mengungkapkan pengajaran dan pemberitaan, maka lagu memberikan ciri, rasa, dinamika, asal-usul, dan kebersamaan. Jika syair adalah baju, maka lagu adalah model dan aksesorinya. Syair yang sama dapat dinyanyikan dengan lagu yang berbeda menurut asal-usulnya, misalnya Kyrie eleison. Karena lagulah sebuah nyanyian akan dinyanyikan secara serupa dan serempak oleh siapa saja, dari tempat mana pun, dan secara bersama-sama. Ketika bernyanyi kita merasa bersatu dengan gereja-gereja masa lalu di belahan bumi dan zaman yang berbeda. Ini berbeda dengan puisi, di mana setiap orang dapat melagukannya sesuai penghayatan masing-masing dan tidak dapat dipuisikan secara bersama.&lt;br /&gt;Berikut adalah contoh konkret tentang terciptanya sebuah nyanyian,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; baik syair maupun lagu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dave Dargie, seorang musikolog dari Afrika Selatan, hanya diberi waktu tiga puluh menit untuk sebuah komposisi bersama enam puluhan peserta. Ia berbicara sebentar tentang apa-apa yang perlu untuk sebuah nyanyian, lalu meminta usul kalimat syair dari peserta.&lt;br /&gt;Samson Prabhakar, seorang teolog dari India, mengusulkan The Spirit of the Lord is Upon Me (Luk 4:18) sebagai syair tema sebagaimana yang dimintakan oleh Dargie. Lalu peserta secara antifonal mengucapkan kalimat tersebut berulang-ulang. Kelompok kiri mengucapkan “the Spirit of the Lord is upon me”, lalu kelompok kanan mengucapkan kalimat yang sama sesudahnya; begitu seterusnya susul menyusul dan sambung menyambung selama beberapa saat. Dengan tanggap Lu Chen Tiong, musikolog dari Malaysia, merekam suara-suara pra-lagu tersebut.&lt;br /&gt;Pengucapan prosa menciptakan aksentuasi. Aksentuasi menghasilkan lagu. Itu tercipta sebelum tiga puluh menit. Maka menit-menit terakhir itu digunakan untuk beberapa “sentuhan akhir” dan memberi tambahan bait. Terciptalah sebuah nyanyian baru yang pendek berbentuk refrein, demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;THE SPIRIT OF THE LORD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 5 │ 3  3   3  4 │  5  4  3 │ 4  2 │ 2 .&lt;br /&gt; .&lt;br /&gt;The spirit of the Lord is up-on  me,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 5 │ 2  2   2  3 │  4  3  2 │ 2  1 │ 1 . :│▌&lt;br /&gt; .&lt;br /&gt;the spirit of the Lord is up–on  me.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syair membutuhkan lagu untuk menjadi sebuah nyanyian. Kyrie eleison dapat dinyanyikan dengan puluhan lagu. Ada yang cepat, ada yang lambat. Ada yang bernada dasar “la”, ada pula “mi” atau “do”. Semuanya memberikan ciri, warna, dan asal-usul. Haleluya, Pujilah merupakan syair umum, seperti halnya Kyrie eleison. Bagaimana menyanyikannya? Nah, lagulah yang membimbing umat menyanyikannya secara bersama. Oleh sebab itu, “Haleluya, Pujilah Tuhanmu” (KJ 328) dapat dinyanyikan sambil menarikan berdasarkan lagu Tebe O Nana ini. Suatu cara bernyanyi (dalam arti mengucapkan syair) yang berbeda daripada “biasanya”. Adalah baik apabila kita mengetahui sedikit tentang lagu dalam musik gereja.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Pengalaman ini terjadi pada awal Maret 1997 dalam seminar  tentang Kontekstualisasi Liturgi dan Musik, di Sekolah Tinggi Teologi Tainan, Taiwan. Diselenggarakan oleh Dewan Gereja se-Dunia, Konferensi Gereja Asia, dan STT Tainan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-6278959533264268251?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/6278959533264268251/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=6278959533264268251&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/6278959533264268251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/6278959533264268251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2007/12/setelah-syair-lagu-pun-penting.html' title='SETELAH SYAIR, LAGU PUN PENTING'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-1294297508152000991</id><published>2007-12-10T21:31:00.000+07:00</published><updated>2007-12-10T21:34:21.925+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyanyian jemaat'/><title type='text'>TANGGA NADA DALAM MUSIK GEREJA</title><content type='html'>(9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita telah mengenal nada diatonik, seperti lagu-lagu gereja yang berasal dari Barat, seperti yang banyak kita miliki. Nada ini terdiri dari dua skala nada (It: scala),&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; artinya tangga. Ada tangga nada mayor atau skala mayor, misalnya KJ 30 “Angin Ribut Menyerang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;do – re – mi – fa – sol – la – si –do&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula tangga nada minor atau skala minor, misalnya KJ 29 “Di Muka Tuhan Yesus”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;la – si – do – re – mi – fa – sol – la&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua sistem ini berasal dan digunakan di Eropa, baik sebagai lagu gereja maupun sebagai lagu rakyat.&lt;br /&gt;Kemudian, tangga nada pokok ini diberi warna-warni, sehingga menjadi tangga nada kromatik, atau dodecaphonic scale. Tangga nada ini terdiri dari dua belas nada (dodeca),&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; sehingga mewarnai (chroma, warna) nada yang ada. Setiap nada dihubungkan secara semiton atau setengah nada. Kecuali antara nada mi – fa dan nada si – do yang memang bernilai semiton, pada nada antara di tempat lain diberikan nada kromatik. Jadi yang terdengar dalam tangga nada ini adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                         ra       ma             fi         le       sa&lt;br /&gt;do &amp;amp;    re &amp;amp;    mi – fa &amp;amp;    sol &amp;amp;    la &amp;amp;     si – do&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa nyanyian gereja yang kita kenal memakai hiasan kromatik ini. KJ 327 “Hari Pun Berlalu” dan KJ 53 “Tuhan Allah T’lah Berfirman” dengan sel. KJ 329 “Tinggal Sertaku” dengan fi. KJ 254 “Kristus Penolong Umat Yang Percaya” dengan ri. KJ 341 “Kuasa-Mu dan Nama-Mulah” dengan sa, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Selain itu, ada pula tangga nada pentatonik,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; artinya lima nada. Tangga nada pentatonik atau panca nada umum dikenal sejak lama, baik di Timur maupun di Barat. Disebut demikian sebab memang hanya mengunakan lima nada. Setiap nada dapat menjadi tonika. Ada berbagai model pentatonik. Antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;do – re – mi – sol – la –do&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nada fa dan si tidak digunakan, seperti dalam NKB 217 “Semua yang Tercipta”, KJ 291 “Mari Bersyukur Semua”, dan lagu-lagu dari Cina. Sebenarnya ini adalah tangga nada paling umum. Tangga nada berikut adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;do – mi – fa – la – si – do&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;do – mi – fa – sol – si – do&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, KJ 244 “Puji Allah Pencipta”, dari Jawa. Sedangkan KJ 1 “Haleluya! Pujilah!” menggunakan kedua tangga nada ini. Perhatikanlah ada bunyi berbeda antara refrein dan bait nyanyian tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, juga ada tangga nada yang menggunakan enam nada, yakni :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;do – re – mi – fa – la – si –do&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa nada sol. Tangga nada ini digunakan dalam KJ 52 “Sabda Tuhan Allah” atau KJ 333 “Sayur Kubis Jatuh Harga” dari Batak Karo. Sepintas terdengar lima nada, tetapi lagu ini terdiri dari enam nada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Catatan-catatan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Kennedy, Diatonic Scale, Scale, h 179, 563-564.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; ibid, Microtones, h 417. Para ahli musik abad ke-20 menemukan ada lebih dari 12 nada dalam satu oktav. Ada yang menemukan 19 nada (Yoseph Yasser) atau bahkan 31 nada (Adriaan Fokker) dalam satu oktav, yang disebut nada-nada mikro. Namun, jumlah partitur lagu untuk ini masih langka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Lihat uraian lengkap pada H.A.Pandopo&lt;/span&gt;, h 75-78.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5394772993024183396-1294297508152000991?l=rasidrachman-volunteer.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/feeds/1294297508152000991/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5394772993024183396&amp;postID=1294297508152000991&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/1294297508152000991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5394772993024183396/posts/default/1294297508152000991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rasidrachman-volunteer.blogspot.com/2007/12/tangga-nada-dalam-musik-gereja.html' title='TANGGA NADA DALAM MUSIK GEREJA'/><author><name>Rasid Rachman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14640068712845062579</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R8OFBrQOqBI/AAAAAAAAAH8/5vGEpbnu8J0/S220/Copy+of+babe.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5394772993024183396.post-6840767084846907508</id><published>2007-12-10T19:38:00.000+07:00</published><updated>2008-02-12T13:07:18.414+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liturgical year'/><title type='text'>SEKITAR TANGGAL PASKA</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R14NbfS8LpI/AAAAAAAAACk/jNp1qdrB-Io/s1600-h/100_1519.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5142562590412254866" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_08CIoQ3qF5A/R14NbfS8LpI/AAAAAAAAACk/jNp1qdrB-Io/s200/100_1519.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam melihat tanggal Paska, kita seringkali dibingungkan oleh karena “tidak tetapnya tanggal Paska sebagaimana tanggal Natal”. Hal kebingungan tersebut dapat dipahami apabila melihat sistem kalender. Bahwasanya ada perbedaan kalender dalam menentukan hari raya Paska dan hari raya Natal. Tanggal Natal 25 Desember adalah tetap menurut kalender Gregorian, yakni kalender internasional yang digunakan di rumah-rumah kita. Tanggal Paska Yahudi 14 Nisan adalah juga tetap menurut kalender Yahudi yang tidak terdapat di rumah-rumah kita. Namun demikian, bukan berarti kita tidak dapat menentukan tanggal Paska tahun-tahun mendatang, walaupun tidak terlalu mudah.&lt;br /&gt;Oleh karena menetapkan tanggal Paska merupakan perpaduan antara kalender Yahudi (sistem lunisolar atau perpaduan antara sistem bulan dan sistem matahari) dan kalender Gregorian (sistem solar, yakni sistem matahari), sementara jemaat kita menggunakan kalender Gregorian,&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; maka penyusun kalender perlu memperhitungkan beberapa hal untuk menetapkan tanggal Paska agar seragam dirayakan di seluruh dunia.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Secara sederhana dikatakan bahwa hari raya Paska jatuh pada hari Minggu pertama setelah Paska Yahudi (14 Nisan) pada bulan pertama dimulainya musim semi di tanah Palestina), atau setelah bulan purnama yang pertama tahun itu. Namun hal ini tetap saja menimbulkan kesulitan, sebab kelender Gregorian menggunakan sistem solar, berpatokan pada terbit-terbenamnya matahari, sehingga tak jelas kapan tanggal bulan purnama tersebut. Di samping itu, minimnya pengetahuan tentang orbit bulan secara akurat, baik bagi kebanyakan orang waktu itu maupun terpengaruhnya orbit bulan dengan perubahan orbit matahari dan planet-planet.&lt;br /&gt;Ada dua pertemuan besar yang membahas dan menentukan tanggal Paska dalam sejarah. Yaitu Konsili Nicea abad ke-4 dan Pertemuan Aleppo abad ke-20. Konsili Nicea – bertujuan untuk menetapkan perhitungan tanggal Paska – dilatarbelakangi oleh keberbagaian tanggal Paska yang telah berkembang waktu itu. Gereja Roma dan Aleksandria telah tetap merayakan Paska pada hari Minggu pertama setelah bulan purnama pada equinox musim semi. Sementara Gereja Gallia telah menetapkan tanggal Paska pada 27 Maret dan kematian Yesus pada 25 Maret. Hal tanggal Paska yang tetap ini berlangsung sejak abad ke-3 hingga Abad-abad Pertengahan. Kaum Montanis di Asia kecil merayakan Paska pada hari Minggu setelah tanggal 6 April.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Konsili ekumenis pertama di Nicea 325&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Konsili Nicea – berdasarkan rekomendasi para astronom –memutuskan untuk menentukan tanggal Paska dengan imaginary moon, atau dikenal pula dengan ecclesiastic moon. Dalam keputusan itu, tanggal equinox musim semi ditetapkan pada tanggal 21 Maret. Perayaan kebangkitan Kristus selalu jatuh pada hari Minggu setelah bulan purnama, setelah 21 Maret dan sebelum 25 April. Maka tanpa bantuan astronomi canggih, orang dapat menetapkan tanggal Paska, sehingga setiap tahun Paska Gereja berlangsung antara 22 Maret dan 25 April.&lt;br /&gt;Perayaan Paska Gereja (dalam hal ini Gereja Roma) yang selalu dirayakan pada hari Minggu merupakan keinginan konsili untuk menggunakan cara lain yang berbeda dengan orang Yahudi. Namun konsili berkeinginan untuk bersama-sama merayakan Paska di antara Gereja Kristen. Beberapa denominasi Gereja selain Roma yang disebut dalam konsili, yaitu: Afrika, seluruh Italia, Mesir, Spanyol, Gallia, Inggris, Libya, dan seluruh Akhaia, Diosis Asia, Pontus, dan Sisilia.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=5394772993024183396#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Namun kemudian keinginan ini tidak mudah terwujud. Pada abad ke-4 dan ke-5 kembali terjadi ketidaksepahaman antara Roma dan Aleksandria. Waktu itu, Gereja Aleksandria menggunakan sistem kalender yang berbeda dengan kalender Julian, sehingga:&lt;br /&gt;1) feria prima (hari raya pertama) tidak dimulai pada 1 Januari&lt;br /&gt;2) perhitungan bulan purnama Roma sedikit lebih cepat, sementara Aleksandria agak terlambat&lt;br /&gt;3) equinox di Roma jatuh pada 18 Maret, sementara Aleksandria pada 21 Maret.&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogg
